You are here Home

Misi Mustahil Menggagalkan Proyek Neraka

Surel Cetak PDF

Resensi Buku The Hades Project Karya Lynn Sholes & Joe Moore

Kabar Madura | Selasa, 21 Maret 2017 | Arinhi Nursecha


COTTON Stone, satu-satunya keturunan Malaikat Terusir yang dimaafkan. Tuhan membuat perjanjian dengan ayahnya, Furmiel, Malaikat Jam Kesebelas. Atas pertobatannya, Furmiel diberi kefanaan dan dianugerahi dua orang putri kembar. Satu putrinya diambil ke surga untuk menggantikan posisi sang ayah. Putri kedua ditakdirkan hidup di bumi dan berjuang atas nama-Nya. Keberadaan Cotten memicu dendam lama Lucifer dan keturunannya, Nephilim, yang menganggap Furmiel pengkhianat.

Cotten bekerja sebagai koresponden senior di Satellite News Network. Ia tengah mewawancarai Presiden Rusia di Katedral Assumption ketika datang serangan membabi buta yang diduga berasal dari pemberontak Chechnya. Cotten dan sang Presiden berhasil menyelamatkan diri usai menembus labirin yang berujung di makam Lenin. Insiden itu dengan cepat melambungkan nama Cotten. Lindsay Jordan, sahabat di kampung halaman meneleponnya penuh kepanikan. Lindsay mengkhawatirkan keselamatan Tera, putri tunggalnya. Cotten berjanji akan datang dalam beberapa minggu, tetapi Lindsay tak bisa menunggu.

“Tera itu… berbeda, Cotten. Aku sudah mengetahuinya sejak dia masih bayi. Spesial. Aku tahu itulah yang dikatakan setiap ibu, tapi Tera benar-benar spesial. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya kepadamu di telepon. Aku ingin kau datang ke sini. Menemui Tera. Maka kau akan mengerti.” (Halaman 25)

Cotten mendatangi kediaman Lindsay di Loretto, Kentucky. Namun ibu dan anak itu sudah menghilang, menyisakan banyak keganjilan di rumah mereka. Sedikit petunjuk berasal dari pesan Pastor Albrecht di telepon Lindsay. Di dalam negeri, Presiden memanggil Rizben Mace, pimpinan Departemen Dalam Negeri, dan Phillip Miller, Penasihat Keamanan Nasional, untuk membahas insiden yang terjadi di Rusia. Meski menyimpan dendam pribadi, Mace dan Miller tetap berusaha bersikap professional.

Di tempat lain, Alan Olsen sedang cemas memikirkan Devin, putra semata wayangnya yang menderita genius autis hilang saat menonton pertandingan futbol. Benjamin Ray diam-diam mengatur pembelian kabin dan daerah seluas delapan puluh hektar saat bisnis Presidium Health Care yang dikelola bersama rekannya bangkrut. Agar terbebas dari dakwaan, Ben merekayasa kematian palsu, mengubah identitas menjadi Ben Jackson, dan mengasingkan diri di hutan. Suatu hari Ben melihat seorang anak lelaki korban penculikan tak jauh dari kabinnya. Terdorong rasa penasaran, ia mengikuti jejak si penculik menuju hutan.

Ditemani John Tyler, sahabatnya, Cotten datang menemui Pastor Albrecht. Jawaban sang Pastor membuat mereka waspada. Selama pelarian, celotehan Tera kian terasa tak masuk akal bagi Lindsay. Sementara itu, Ben berhasil menemukan Devin, bocah malang yang dilihatnya tempo hari di hutan. Ben berusaha mengorek informasi lewat Devin. Perlahan segalanya menjadi jelas. Sekelompok orang berusaha mencuri kode Destiny di CyberSys, perusahaan berbasis komputasi kuantum milik Alan. Mereka memanfaatkan kecerdasan Devin untuk meretas kode tersebut dan mencuri thodium, zat langka yang kelak akan digunakan dalam proyek konspirasi skala besar bernama Hades.

“Destiny adalah nama kode untuk apa yang kita harapkan akan menjadi komputer kuantum pertama di seluruh dunia.” (Halaman 204)

Ben berencana kabur bersama Devin. Sayang, harga yang harus dibayar begitu mahal. Kecurigaan Cotten mengarah pada Phillip Miller. Namun bukti penting di tangan Miller lenyap akibat tragedi tak terduga. Kabar tentang Devin sampai juga ke telinga Tera. Mata rantai yang hilang mulai terkuak. Alan merasa kecewa dikhianati oleh orang terdekatnya. Bersama John, Cotten berpacu dengan waktu untuk menemukan Tera dan merebut kembali thodium sebelum kekuatan gelap mendapatkannya.

Paduan fantasi, thriller, dan dogma Kristiani akan membuat pembaca berdebar menahan napas sepanjang halaman. Plot bolak-balik membuat cerita tak mudah ditebak. Novel ini mengingatkan kita pada The Da Vinci Code karya Dan Brown, namun tulisan Sholes dan Moore tetap memikat dengan cara mereka sendiri.