You are here Home

Melestarikan Cerita-cerita yang Nyaris Terlupakan

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Indonesia Bercerita Karya Yoana Dianika, Redy Kuswanto, Ruwi Meita, dkk.

Koran Jakarta | Rabu, 07 Juni 2017 | Yudadi BM Tri Nugraheny


Indonesia kaya berbagai ragam budaya, kesenian, makanan, tarian, suku, agama, dan cerita rakyat. Mereka banyak tak terpublikasikan. Salah satunya cerita rakyat. Yang sudah popular seperti cerita Malin Kundang, Bawang Putih dan Bawang Merah, Keong Mas, Legenda Tangkuban Perahu, Danau Toba, dan Timun Mas. Tapi, pernahkan mendengar cerita Mentiko Betuah, Piso Sumalim, Sultan Titisan Bidadari?

Buku Indonesia Bercerita menggali kembali kebudayaan melalui cerita-cerita rakyat yang hampir terlupakan. Mungkin karena kurang populer maka cerita-cerita rakyat ini hampir terlupakan. Banyak pesan moral, maksud, dan tujuan mulia dari kisah-kisah ini. Dari cerita rakyat, pembaca bisa menggali kembali kebudayaan dan peradaban suku-suku bangsa. Kebinekaan terasa lebih nyata terpancar dari cerita rakyat tersebut.

Buku ini merupakan antologi 41 kisah rakyat yang tumbuh dan berkembang dari zaman ke zaman. Buku ini mengajak pembaca berkeliling Nusantara dari Aceh sampai Papua untuk menjelajahi dan mengangkat kisah-kisah yang terlupakan. Para penulis berusaha melestarikan budaya daerah.

Ada kisah awal mula kucing dan anjing memusuhi tikus. Rupanya ini bersumber dari cerita rakyat Aceh: Mentiko Betuah. Alkisah, pasangan raja dan permaisuri Kerajaan Simelue, Aceh, berikhtiar untuk mendapat momongan.

Dengan segala daya, cara, dan upaya pasangan ini pergi ke hulu sungai berdoa agar diberi anak. Halangan dan rintangan diterjang untuk mencapai tempat. Singkat cerita, doa mereka dikabulkan. Sembilan bulan kemudian, permaisuri melahirkan seorang putra bernama Rohib (halaman 2).

Rohib sangat dimanja. Menginjak dewasa, Rohib dikirim ke kota untuk menuntut ilmu. Namun, kebiasaan malas dan manja menghambat belajar. Ia lebih suka berhura-hura. Hingga akhirnya, Raja menyuruh pengawalnya menggantung Rohib karena dirasa tidak berguna (halaman 4).

Namun, permaisuri mencegahnya. Ia mengingatkan dulu mereka bersusah payah mendapatkannya. Singkat cerita, raja memberi sekantung uang pada Rohib dan menyuruhnya berdagang. Suatu hari, Rohib menolong burung yang dianiaya sekelompok anak dan ular yang hampir dibunuh beberapa orang.

Ia menukar dengan uangnya sehingga uangnya habis dan ia sedih. Rohib ketakutan ketika ada ular raksasa bertanya kepadanya. Ular itu berterima kasih karena Rohib telah menyelamatkan penghuni hutan, seperti burung dan ular tadi.

Ia memberikan mustika bernama mentiko betuah yang bisa mengabulkan segala permintaan Rohib. Dia minta uang banyak dan kembali ke istana. Tapi, Rohib ketakutan kehilangan mentiko betuahnya. Ia pergi ke tukang cincin. Namun, tukang cincin menipunya. Rohib minta tolong pada ular raksasa yang kemudian menyuruh anjing, kucing, dan tikus menemukan mentiko itu.

Anjing, kucing, dan tikus bekerja sama untuk mendapatkannya. Namun, tikus licik mengatakan bahwa cincin itu hilang. Anjing dan kucing terus mencari di sungai tempat hilangnya cincin seperti dikatakan tikus. Namun, cincin itu tidak ditemukan. Tikus menyerahkan cincin yang disimpan di mulutnya kepada Rohib dan menerima hadiah. Kucing dan anjing merasa tertipu. Sejak itu, mereka selalu memusuhi kucing.

Dari kisah-kisah yang terlupakan, pembaca bisa belajar banyak nilai moral yang baik. Misalnya berdoa, menolong, berusaha keras, dan belas kasihan. Hal-hal yang kurang baik seperti memanjakan berlebihan, malas, suka berbohong, licik, dan menipu harus dihindari.