You are here Info Buku Kisah Kekayaan Nusantara

Kisah Kekayaan Nusantara

Surel Cetak PDF

Resensi buku Pulau Run karya Giles Milton

Koran Sindo | 06 Desember 2015 | Lusiana Dewi


Kolonialisme yang dialami oleh Indonesia pada era dahulu memang tidak lepas dari sumber daya alamnya yang aduhai.
Bangsa-bangsa kolonial melirik potensi alam Indonesia yang bagai surga dunia lantaran kekayaan alam yang luar biasa. Salah satu daya tarik tersendiri bagi bangsa-bangsa kolonial adalah rempahrempah yang tidak ada duanya. Nusantara adalah gudang rempah-rempah yang menggiurkan, bahkan ketika itu jauh lebih mahal dari emas. Salah satu tempat yang kaya akan rempah-rempah, terutama pala, di Nusantara adalah Pulau Run.
Karena itu, pulau ini menjadi magnet yang sangat memikat bangsa-bangsa penjajah untuk merebut ”tanah surga” tersebut. Hal itulah yang dikisahkan secara naratif oleh Giles Milton dalam buku yang dalam edisi bahasa Indonesianya bertajuk Pulau Run ini. Pulau Run terbentang di perairan yang tenang di Hindia Belanda, sebuah titik karang yang terpencil dan retak yang terpisah dari kumpulan daratan terdekat, Australia, dengan jarak lebih dari enam ratus mil di lautan.
Pada masa kini, itu merupakan tempat yang begitu tak penting sehingga bahkan tidak bisa masuk dalam peta; The Times Atlas of The World abai untuk mencatat keberadaannya dan para kartografer Atlas of South East Asia terbitan Macmillan telah menguranginya menjadi hanya sebuah catatan kaki. Tak ada yang peduli, Run barangkali telah tenggelam di bawah perairan tropis Hindia (hlm. 3).
Meski kondisi sekarang sebegitu terabaikan, pada zaman dulu Run adalah magnet rempah- rempah yang banyak diincar oleh orang-orang Barat. Bukan tanpa alasan pula rempahrempah, khususnya pala, banyak dicari. Selain harganya mahal lantaran susah didapatkan dan menjadi komoditas yang rahasia di pasaran dunia, para dokter juga merekomendasikan pala dan jenis rempah-rempah lain untuk kesehatan dan mempunyai serentetan manfaat.
Para doktor fisika terkemuka di London makin sering membuat klaim-klaim yang keterlaluan tentang kemanjuran pala, menganggap rempah tersebut bisa menyembuhkan segalanya mulai dari wabah sampar hingga berak darah. Bukan hanya penyakitpenyakit pengancam nyawa yang dikabarkan bisa disembuhkan pala.
Minat yang meningkat dalam nilai pengobatan pada tanaman tersebut telah menyebabkan meledaknya jumlah buku-buku diet dan herbal, dan semua mengklaim bahwa pala serta rempah-rempah lain bermanfaat dalam melawan penyakit-penyakit sepele (halaman 24-25). Wajar saja jika Pulau Run yang di atasnya ditumbuhi hutan pala menjadi rebutan beberapa bangsa: Portugis, Belanda, Spanyol, dan Inggris. Hanya, beberapa pulau yang kini membentuk Kepulauan Maluku itu telah dikuasai oleh Belanda, khususnya Banda.
Tersisalah Pulau Run yang belum terjangkau Belanda karena selain masyarakat lokal di Pulau Run yang gemar mengoleksi kepala manusia, rute ke pulau tersebut juga disulitkan oleh tebing, bebatuan, dan kondisi alam lainnya yang menyulitkan kapal berlabuh. Adalah Nathaniel Courthope, seorang komandan yang dalam buku ini dijadikan sebagai tokoh utama dalam perebutan Pulau Run. Dia komandan utusan dari Inggris yang perjalanannya menentukan sejarah besar Pulau Run.
Dia ditunjuk sebagai komandan pada Oktober 1616 oleh John Jourdain yang telah lama mengenali kemampuan Courthope dan kini mengirim temannya pada sebuah misi yang sangat penting. Courthope berlayar dengan kapal-kapalnya ke Makassar untuk membeli beras dan perbekalan, kemudian langsung pergi ke Run, di mana diperkirakan orang-orang pribumi mengharapkannya dan akan siap menerimanya.
Penting bahwa ia harus berhasil menguasai pulau itu karena dari enam pulau utama Banda, hanya Run yang masih berada di luar cengkeraman Belanda (halaman 355). Dengan segenap keyakinan dan sikap antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi, Courthope tiba di Run. Benar saja, hanya menguasai Pulau Run suplai pala dunia berada di genggaman tangan.
Tidak berlebihan karena pala memang dibutuhkan oleh orang-orang di dunia, baik mereka yang tinggal di Barat, Arab, maupun Konstantinopel– jauh sebelum kejatuhannya di tangan Sultan Mehmet II (1453). Ternyata, reaksi Belanda yang menguasai wilayah Banda kecuali Run sungguh kejam. Belanda membantai orang-orang Inggris di Banda dengan begitu keji dan kejamnya.
Terutama di Ambon, Belanda banyak menumpahkan darah orang-orang Inggris. Inggris pun tersulut. Mereka kemudian menyerang Manhattan yang dikuasai Belanda dan berhasil merebutnya. Manhattan merupakan daratan subur, ketika itu diduduki oleh Belanda namun berhasil dikuasai Inggris dengan segera setelah Belanda membantai orang-orang Inggris di Banda.
Kesepakatan besar pun terjadi. Akhirnya, Pulau Run yang kecil itu ditukar dengan Manhattan (kini membentuk New York) yang bertanah subur, berharga, dan menjadi banyak destinasi orang-orang Eropa. Dengan demikian, tidak berlebihan jika Andrew Roberts (The Wall Street Journal) mengungkapkan sebuah catatan (endorsement) pada buku ini bahwa New York akan memakai bahasa Belanda hingga hari ini, bukan bahasa Inggris, jika peristiwa dalam buku ini tidak terjadi.
Hal itu pun mengubah jalannya sejarah yang menyertakan kesepakatan besar untuk masa kini dan masa depan yang terbentuk oleh sejarah. Buku setebal 512 halaman ini mengajak para pembaca untuk melihat sejarah lebih dalam, terutama wilayah Run yang diperebutkan oleh dunia.
Hal itu mengindikasikan bahwa Nusantara adalah wilayah subur dan sangat kaya lantaran berlimpah sumber daya alamnya. Akan menjadi hal yang lucu jika rakyat Indonesia di masa kini tidak menyadari kekayaannya sehingga membiarkan orangorang asing menjamahnya.