You are here Info Buku Kajian Kritis tentang Konsep Negara Islam

Kajian Kritis tentang Konsep Negara Islam

Surel Cetak PDF

Resensi bukuĀ Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam karya Dr. Abdul Aziz, MA

Suara Merdeka | Selasa, 08 November 2016 | Supriyadi


KAJIAN tentang Islam telah menorehkan berbagai disiplin keilmuan. Agama yang dibawa oleh Muhammad saw dari Jazirah Arab, ini memang menarik perhatian para pakar, baik muslim maupun nonmuslim.

Tidak hanya dari segi religius-spiritual, Islam juga menyentuh ranah sosial, bahkan politik kenegaraan. Ranah politik kenegaraan itulah yang diuraikan Dr Abdul Aziz, MAdalam bukunya yang berjudul Chiefdom Madinah; Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam, ini.

Dengan menggunakan pendekatan sejarah yang kritis serta berdasarkan literatur-literatur yang kaya data, buku ini memberikan gambaran cukup jelas perihal isu-isu negara Islam yang didengungkan oleh beberapa gerakan umat Islam, termasuk di Indonesia.

Buku ini menguji kesahihan konsep negara Islam melalui kajian historis secara kritis. Jika pandangan tertuju pada sejarah Muhammad saw dalam membangun umat, maka keteladanan dalam hal itulah yang berusaha diimplementasikan di era kini. Perbedaan memang suatu keniscayaan. Tapi keteladanan dari Nabi Muhammad untuk merangkul perbedaan tersebut tidak boleh ditinggalkan.

Berbagai kabilah (yang berbeda-beda) di semenanjung Arabia bersatu di bawah komando sang pewarta risalah untuk membentuk masyarakat berlandaskan hukum dari Tuhan. Gugatan terhadap bentuk negara kekhalifahan/kesultanan tidak terbatas berkembang di antara para pemikir Arab, melainkan di banyak kalangan pemikir Muslim yang telah bersentuhan dengan gagasan nasionalisme.

Ketegangan antara pemikir kekhalifahan/kesultanan dengan nasionalisme bisa jadi berbeda intensitasnya antara satu dengan lain wilayah sesuai pengalaman sejarah kaum Muslim sendiri di masing-masing wilayah mereka. (hal 94). Polemik tersebut cukup menguras pikiran. Tidak jarang pula masyarakat awam mengalami kebingungan tentang gerakan khilafah atau realisasi negara Islam tersebut.

Meski demikian, hal itu tetap menjadi magnet bagi para pakar dan pemikir untuk turut berkomentar. Pada dasarnya, perbedaan utama adalah tentang pemahaman kesejarahan Islam di era awal, yakni ketika Muhamamd menyeru umat manusia untuk memeluk Islam.

Ajaran yang disampaikannya sangat cepat menyebar sehingga pengikutnya semakin banyak. Tidak sedikit yang menilai bahwa hal itulah yang menjadi muara pemahaman bahwa Muhammad tengah membangun sebuah negara Islam di Madinah (negara Madinah).

Bagi pengusung negara Islam, mereka menganggap bahwa penegakan kekhilafahan/ kesultanan atau negara Islam adalah keteladanan dari Nabi Muhammad. Dengan begitu, mereka beranggapan membentuk negara Islam adalah tuntutan dari iman.

Aspek Historis

Perlu digarisbawahi bahwa Islam sesungguhnya bukan negara, melainkan agama. Perlu dibedakan pula mana aspek teologis-spiritual dengan aspek historis. Upaya Nabi Muhammad membentuk komunitas sejatinya adalah aspek historis.

Sementara itu, aspek teologis-spiritual dalam hal ini adalah dakwah dan syiar ajaran Islam agar terinternalisasi di hati umat manusia. Hanya saja, dua hal ini sering sekali dipersepsikan sama.

Dengan pendekatan sejarah, buku ini pun turut memberi kritikan terhadap gerakan yang berupaya mendirikan negara Islam. Tentu saja dilakukan dengan analisis berdasarkan data-data yang tidak sedikit.

Analisis kesejarahan memang penting adanya karena untuk mengetahui asbab al-nuzul dan asbab al-wurud guna menguji autentisitas ajaran dari teks-teks keislaman tentunya juga menggunakan pendekatan sejarah.

Buku ini mengajak para pembaca untuk lebih kritis terhadap kajian tentang Islam sebagai negara. Lebih spesifik lagi, buku ini menjadi referensi yang patut dikembangkan lebih lanjut guna menguji kesahihan negara Islam yang coba diterapkan di era kini dan mendatang.