You are here Info Buku Membentengi Remaja dari Konten Negatif

Membentengi Remaja dari Konten Negatif

Surel Cetak PDF

Resensi buku 30 Cara dalam 30 Hari Menyelamatkan Keluarga Anda karya Rebecca Hagelin

Samarinda Pos | Sabtu, 19 November 2016 | Al-Mahfud


Di era kecepatan teknologi informasi sekarang ini, bisa dikatakan konten media digital menjadi hal yang paling memengaruhi kehidupan remaja. Hampir setiap saat, remaja kita melihat berbagai konten dari perangkat di genggaman mereka; gadget, iPods, tablet, dll. Konten-konten digital itu beragam, mulai berbentuk gambar, video, lagu atau suara, teks, dll. Masalahnya, tak sedikit konten yang cenderung berisi hal-hal negatif seperti kekerasan, percintaan yang mengarah ke seks, pornografi, peperangan dan kejahatan.

Lewat buku ini, Rebecca Hagelin, seorang kolumnis masalah keluarga, budaya, dan isu-isu media, berusaha membuka mata kita untuk menyadari bahaya berbagai konten media dewasa ini. Menurut sebuah laporan yang dikutip buku ini, remaja masa kini menghabiskan waktu 6,5-8,5 jam setiap hari di media dengan beberapa hal yang dilakukan sekaligus (misalnya, mendengarkan iPods sambil berselancar di internet atau bermain game sambil menonton televisi). Masalahnya, banyak orang tua yang tak tahu dengan bahaya yang mengancam anak remaja mereka lewat interaksinya dengan berbagai konten media tersebut.

Untuk mengungkap hal tersebut, Hagelin tak sekadar menyebutkan bahaya konten media bagi remaja, namun ia mencoba merunut persoalan dari akarnya; yakni mengajak kita memahami bagaimana cara atau strategi para pemasar produk atau konten media dalam membidik para anak muda kita. Dari sana, orang tua akan melihat inti persoalan dan bisa menentukan langkah yang bisa diambil secara lebih tepat dan efektif agar anak terhindar dari dampak buruknya.

Menurut Hagelin, kebanyakan pemasar membidik remaja dengan membangkitkan hormon mereka yang masih menggelora dan emosi yang mudah menggelegak dengan membuat acara-acara atau konten yang merangsang hingga memicu adrenalin dan membuat ketagihan. Para pemasar juga mengajarkan pandangan hidup yang sangat materialis, yang membuat anak-anak muda percaya bahwa kebahagiaan bisa ditemukan lewat pakaian baru yang bergaya, musik “panas” terbaru, permainan (game) baru yang mengasyikkan, dll (hlm 54-57).

Iklan memiliki andil besar dalam memengaruh remaja. Jadi, Setiap orang tua perlu memberi bekal anak dalam memandang iklan. Menangkal pengaruh iklan media bisa dilakukan dengan membantu anak mempelajari iklan itu sendiri. Penulis memberi beberapa pertanyaan yang bisa diajukan orang tua pada anak remaja mereka dalam mempelajari iklan. Misalnya, “Apa yang sebenarnya dijual pihak sponsor? Apakah produk itu sendiri? Atau hanya image yang dikaitkan pada produk tersebut?” atau “Apakah saya benar-benar membutuhkan produk ini? Atau pihak sponsor sekadar menciptakan kebutuhan untuk produk ini?” (hlm 60-61).

Selain iklan, remaja juga sangat dipengaruhi otokoh idola mereka. Penting bagi orang tua memberi pengertian tentang makna pahlawan yang patut diidolakan anak. Janet, pengajar sistem sekolah di New York pernah melakukan penelitian dengan meminta anak-anak didiknya menggambar wajah sosok idola yang ingin mereka tiru ketika dewasa. Janet terkejut melihat gambar-gambar yang muncul; Madona, 50 Cent, James Bond, dll. Bahkan ada murid yang ingin menjadi “pembunuh bayaran” (hlm 254). Betapa mengkhawatirkan pengaruh konten media bagi perkembangan anak.

Membangun karakter

Orang tua sebaiknya bukan fokus pada membolehkan atau melarang. Namun lebih pada menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai moral yang harus dipegang agar menjadi karakternya hingga dewasa. Orang tua harus banyak berkomunikasi untuk membangun kesadaran agar anak menjauhi sesuatu bukan karena dilarang, namun karena memang sadar dampak negatifnya. Misalnya, saat mendampingi anak menonton televisi dan muncul adegan tak layak ditonton, orang tua harus menjelaskan pada anak. “Tujuan Anda adalah membantu mereka (anak) menumbuhkan pemahaman dan penilaian secara bertahap agar mereka mampu berdiri sendiri dalam mengambil keputusan-keputusan yang dilandasi moral” (hlm 24-25).

Penulis juga menekankan pentingnya orang tua agar aktif mengambil peran dalam pendidikan anak. Orang tua tak boleh lepas tangan dengan hanya membiayai anak sekolah dan menyerahkan anak sepenuhnya pada guru. Selain membangun lingkungan keluarga yang hangat dan komunikatif, penting bagi orang tua melakukan tindakan-tindakan detail. Seperti memastikan keamanan konten-konten dalam perangkat yang dipakai anak remaja, membaca isi buku pelajaran anak, sampai berinteraksi dan berkoordinasi dengan para guru di sekolah.

Buku ini merupakan panduan penting bagi para orang tua modern dalam mendidik anak, terutama dalam menghindari dampak negatif konten media. Rebecca memberi pahaman mendalam; meneropong masalah dari akarnya kemudian memberikan solusi cerdas berbekal pengalaman sebagai penulis sekaligus orang tua dari 3 anak. Meski latar permasalahan yang diteropong penulis adalah di negara Amerika Serikat, namun informasi, pengetahuan, dan berbagai kiat yang diberikan sangat relevan dijadikan bacaan bagi siapa pun dan di negara mana pun—untuk menghadapi derasnya arus informasi di media saat ini.