You are here Info Buku Mencintailah Sewajarnya

Mencintailah Sewajarnya

Surel Cetak PDF

Resensi buku Dua Wajah Dua Cinta karya Abhie Albahar

Koran Sindo | Minggu, 18 Desember 2016 | Al-Mahfud

 

Cinta bisa membawa seseorang pada kebahagiaan, namun tak jarang menjerumuskan ke lubang penderitaan. Karena cinta, orang bisa mendapatkan tenaga dan kekuatan lebih dalam menghadapi kesulitan apa pun.

Dengan cinta pula, orang bisa menjadi sangat lemah dan seakan tak berdaya. Abhie Albahar, penulis novel yang sudah menulis lebih dari 300 naskah FTV, lewat novel ini menghadirkan kisah yang bisa membuat kita lebih bijak dalam mencintai. Kita tak disuguhi perjuangan meraih cinta sejati atau haru-biru cinta yang tak bisa menyatu. Dengan kemampuannya merangkai alur kisah yang mengaduk-aduk perasaan, Abhie membawa kita pada kegalauan seorang lelaki yang terjebak di antara cinta ibundanya dan istrinya.

Adalah Haikal, seorang dokter berparas tampan. Ia sangat menyayangi ibundanya, Ibu Aminah. Ibu yang sudah merawatnya sejak kecil seorang diri sejak ayahnya meninggal. Ibu Aminah juga sangat mencintai Haikal dan tak pernah mau berpisah dengan putra yang sangat dicintainya tersebut. Ketika tiba saatnya Haikal menikah dan memiliki seorang istri, kecintaan sang ibu yang sangat besar mulai memunculkan persoalan. Naia, istri Haikal, mulai merasa aneh sejak hari pertama. Sebagai istri, ia ingin menunaikan kewajiban mengurus rumah tangga. Namun, mertuanya, Ibu Aminah, seperti tak mau kalah dan selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.

Bahkan, saat malam hari, ketika Naia bersiap melayani suami, Ibu Aminah sering tiba-tiba mengetuk pintu. ”Kalau boleh, izinkan ibu tidur bersama kalian. Ibu merasa kesepian. Lagian, ibu kurang enak badan. Kalian tak keberatan kan kalau ibu tidur beesama kalian?” (h 23). Haikal tak bisa berbuat banyak. Lagipula, ia sangat menyayangi ibunya. Keadaan tersebut terus berlangsung dan membuat Naia semakin gelisah. Naia awalnya mencoba memahami keadaan ibu mertuanya yang kesepian. Namun, semakin lama ia tak betah. Naia merasa disiasiakan oleh suaminya sendiri.

Puncaknya, saat para tetangga mulai menggunjingkan Naia yang tak kunjung hamil dengan dugaan-dugaan yang tak sedap didengar. ”Semua ini karena ibu! Kalau saja ibu tak terlalu posesif pada Mas Haikal, saya pasti sudah hamil. Sekarang bagaimana saya bisa hamil kalau Mas Haikal tak pernah menyentuh saya. Dan, itu semua gara-gara Ibu yang selalu hadir di kamar kami setiap malam,” ucap Naia tak tahan. Namun, Ibu Aminah tak mau kalah. Ia merasa sikapnya merupakan hal yang wajar sebagai ibu. Konflik tak bisa dihindari.

Akhirnya, Naia pergi dari rumah Haikal dan pulang ke rumah ibunya. Setelah mendapatkan nasihat dari dua orang tuanya, Naia akhirnya sadar dan kembali pulang, kemudian rujuk dengan ibu mertuanya. Haikal dan Naia bahkan kemudian berbulan madu dengan menyewa vila sehingga bisa menikmati masa indah berdua. Namun, cobaan seakan tak berhenti mendera rumah tangga Haikal dan Naia. Suatu malam, saat Haikal mendapat tugas jaga malam di rumah sakit, Naia mengalami kejadian memilukan saat tidur sendirian. Sesosok tak dikenal berhasil mencongkel jendela dan masuk ke kamarnya, kemudian menodainya. Musibah tersebut sempat tepergok Ibu Aminah. Naia merasa dirinya sangat kotor.

Meskipun mereka sepakat merahasiakan kejadian tersebut pada Haikal, Naia tetap merasa sangat bersalah sudah mengecewakan suaminya. Tak lama kemudian, Naia pun hamil. Naia dan Haikal bahagia mengetahuinya. Namun, tidak dengan Ibu Aminah. Ia merasa, janin yang dikandung menantunya bukan darah daging Haikal. Ibu Aminah masih sering terbayang kejadian suatu malam yang menimpa menantunya sehingga trauma dan mengganggu psikologisnya. Sampai-sampai Ibu Aminah sering berhalusinasi tentang ihwal buruk dalam rumah tangga putranya.

Keterpurukan membuat Ibu Aminah nekat pergi dari rumah, dan membuat Haikal marah besar karena menganggap Naia telah mengusirnya. Naia kemudian berhasil menemukan Ibu Aminah di sebuah panti jompo dan memohon agar menjelaskan semua kepada Haikal agar rumah tangganya bisa diselamatkan. Novel ini menguras emosi. Kita diajak melihat cinta seorang ibu kepada anaknya yang harus dibenturkan dengan cinta seorang istri kepada suaminya— yang membuat dilema seorang lelaki ketika ibunda dan istrinya bertikai. Tak ada yang sepenuhnya salah dan tak ada yang sepenuhnya benar.

Sebagai seorang ibu, Ibu Aminah wajar mencintai putra satu-satunya. Terlebih, ia membesarkannya sejak kecil seorang diri. Di sisi lain, sebagai istri, Naia memiliki kewajiban melayani suaminya dan mendapatkan kasih sayang darinya.