You are here Info Buku Menelusuri Penjelajahan China Menemukan Dunia

Menelusuri Penjelajahan China Menemukan Dunia

Surel Cetak PDF

Resensi Buku 1421: Saat China Menemukan Dunia Karya Gavin Menzies

Harian Bhirawa | Jumat, 23 Desember 2016 | Muhammad Khambali


Bermula dari keisengan Gavin Menzies menggumuli peta-peta kuno, secara kebetulan saat berkunjung ke Perpustakaan James Ford Bell di Universitas Minnesota, Amerika Serikat, menemukan sebuah peta bertuliskan tahun 1424 dan ditandatangani oleh seorang pembuat peta dari Venesia bernama Zuane Pizzigano. Peta tersebut memperlihatkan beberapa pulau yang setelah ia telisik merupakan pulau-pulau di kepulauan Karibia, Puerto Rico dan Guedepole. Hal itu mengejutkannya karena berarti seseorang telah menjelajah kepulauan tersebut sebelum Columbus singgah di Karibia. Tetapi siapakah yang telah melakukan penjelajahan sebelum Columbus?

China telah berlayar ke Amerika sekitar tujuh puluh tahun sebelum Columbus. Demikianlah sebuah klaim yang bukan saja mengundang kontroversi, tetapi tentu menjengkelkan para sejarawan dan akademisi. Bukan hanya Amerika, tetapi pada abad ke XV, tepatnya dalam rentang tahun 1421-1423, yang artinya jauh sebelum orang-orang Eropa, armada laut China telah berlayar selama dua tahun mengelilingi pantai Afrika, Australia, Selandia Baru dan Antartika. Bahkan, ketika Columbus dan para tokoh penjelajah Eropa lain datang ke dunia baru tersebut, dikatakan hanya mengekor jalur pelayaran berdasarkan salinan peta China.

Semua itu diutarakan Gavin Menzies lewat bukunya, 1421: Saat China Menemukan Dunia. Dalam pandangan Menzies, luputnya catatan sejarah mengenai penjelajahan China disebabkan pada pertengahan abad ke XV hampir semua peta dan dokumentasi China pada saat itu dengan sengaja dimusnahkan oleh pengadilan China karena perubahan politik luar negeri yang terjadi tiba-tiba. Jauh dari mengarungi dunia luar, setelah momen tersebut China berkonsentrasi dengan dirinya. Segala sesuatu untuk mengenang para penjelajah China terdahulu telah terlupakan dalam sejarah (hlm. 7).

Pada tahun 1421, China dipimpin seorang kaisar bernama Zhu Di. Ia adalah seorang megalomaniak yang ingin menjadikan China sebagai, “Kerajaan maritim, yang merentang samudra” (hlm. 22). Zhu Di memilih Zheng He atau yang dikenal sebagai Cheng Ho sebagai kepala komandan armada laut China. Untuk mewujudkan ambisinya, Zhu Di menyiapkan ribuan kapal baru. Ketika itu, nyaris dalam setiap hal, kapal-kapal China berada satu abad di depan Eropa.

Laksamana Cheng Ho tidak akan kesulitan untuk memusnahkan armada laut yang menghalangi jalannya. Peperangan armada China dengan armada lain di dunia bagaikan sekumpulan hiu menghadapi gerombolan ikan teri (hlm. 39). Bukan itu saja, China telah mempunyai pengalaman lebih dari enam abad dalam navigasi lautan. Pada abad ke XV, kapal paling kuat, bahkan terbesar, adalah kapal layar China (hlm. 56). Dibawah komando laksamana Cheng Ho, buku ini mengisahkan pelayaran Hong Bao, Zhou Man, Zhou Wen dan Yang Qing menjelajahi samudra dan benua.

Dalam buku ini diutarakan bahwa terbatasnya bukti-bukti kuat yang mendukung armada laut China telah menjelajahi bumi sebelum bangsa Eropa sempat membuat Menzies khawatir. Menzies menyatakan telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengelilingi dunia di jalur perjalanan eksplorasi bangsa China. Ia meneliti arsip, museum dan perpustakaan, mengunjungi monumen kuno dan pelabuhan tua, serta mengeksplorasi tanjung berbatu, karang koral, pantai dan pulau terpencil. Tak hanya itu, ia juga mendapati pelbagai bukti fisik seperti porselen China, sutera, artefak, batu pahatan, dan bangkai kapal China yang ditemukan di pesisir Amerika, Australia, dan Kepulauan Pasifik. Selain itu, bagi Menzies bukti yang paling nyata, bahwa hampir semua tanaman penting pertanian telah menyebar ke seluruh dunia sebelum Columbus memulai pelayaran pertamanya (hlm. 353).

Sayangnya buku ini banyak berupa klaim dan asumsi subjektif Menzies, serta terbatasnya catatan kaki dari sumber-sumber primer. Menzies sendiri tanpa sungkan mengakui pengetahuannya tentang sejarah dan budaya China sangat terbatas. Tetapi pengetahuan dan keterampilan yang ia peroleh bertahun-tahun sebagai navigator dan penjabat komando di laut menjadi berguna, yang menurutnya tidak dimiliki para akademisi dan sejarawan. Menzies berdalih, “Jika saya bisa menjelaskan dengan gamblang jalur yang telah dilalui oleh armada laut China, itu karena peta dan bagan yang masih ada dan pengetahuan saya tentang arah angin dan kondisi laut yang mereka hadapi menjelaskan rutenya dengan tepat kepada saya, seakan-akan ada petunjuk yang tertulis di sana” (hlm. 74).

Tidak kurang dari lima puluh tahun waktu yang Menzies habiskan untuk merampungkan buku ini. Barangkali semua klaim Menzies patut diperdebatkan dan untuk dapat dianggap sebagai kebenaran sejarah yang utuh masih membutuhkan bukti-bukti sahih. Tetapi setidaknya, buku ini adalah upaya mendobrak sejarah yang melulu sudut pandang Barat (Western). Melalui buku ini, Menzies mencoba menulis ulang sejarah, bahwa bukan Columbus, da Gama, Magellan dan Cook yang pertama kali menjelajah dunia. Dan seturut Menzies, jika mereka dapat melihat lebih jauh dari yang lain, itu karena mereka berdiri di atas pundak raksasa!