You are here Info Buku Menyelesaikan Masalah dengan Kasih

Menyelesaikan Masalah dengan Kasih

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Maysuri Karya Nadjib kartapati Z.

Koran Seputar Indonesia | Minggu, 12 Februari 2017 | Al Mahfud

 

BENCI, amarah, dan dendam tak akan bisa mengatasi persoalan. Kita mesti memiliki kemampuan memandang setiap problem dengan pikiran jernih dan cinta.

Cinta membuat seseorang berpikir positif dan memandang setiap persoalan hidup sebagai tangga menuju kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut bisa dikatakan merupakan garis besar yang tersirat dari novel berjudul Maysuri karya Nadjib Kartapati. Nadjib, sastrawan sekaligus penulis skenario film yang telah memenangkan bermacam penghargaan ini menyuguhkan kisah menarik tentang pergulatan manusia dalam memandang persoalan hidupnya. Maysuri, gadis muslimah cerdas yang dihadapkan pada persoalan hidup rumit sekaligus menyakitkan.

Seorang perempuan paruh baya bernama Suryani tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ibunya. Pak Fandi, ayah Maysuri yang melihat kedatangan perempuan tersebut, segera mengusirnya. Itu membuat Maysuri makin penasaran, siapa perempuan paruh baya itu sebenarnya? Setelah terusmenerus didesak, Pak Fandi akhirnya mengaku jujur bahwa perempuan tersebut memang ibu kandung Maysuri. Namun, Pak Fandi melarang keras Maysuri berhubungan dengan Suryani.

Sebab, mantan istrinya tersebut dulu telah berkhianat padanya dan lebih memilih menjadi perempuan penghibur demi materi berlimpah—hal yang waktu itu belum bisa diberikan Pak Fandi sebagai seorang guru. Suryani lupa diri sebagai seorang istri dan memilih meninggalkan suami dan anaknya demi kesenangan dan kemewahan. Maysuri jelas terpukul mengetahui bahwa Asruni, ibu yang telah mengasuhnya sejak kecil sampai lulus kuliah, ternyata bukan ibu kandungnya. Ibu kandungnya adalah Suryani, wanita penghibur yang meninggalkannya sejak kecil.

Kegalauan Maysuri tak berhenti di sana. Ia sedang menjalin hubungan dengan Buroqi, pemuda yang berasal dari keluarga terhormat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana harus menjelaskan kepada Buroqi, terutama kepada keluarganya, tentang latar belakang ibu kandungnya tersebut. Tentu itu akan sangat memalukan bagi keluarga Buroqi yang menganggap Maysuri berasal dari keluarga baikbaik. Kisah kemudian bergulir ke bagian-bagian menegangkan ketika persoalan-persoalan yang mendera Maysuri mulai diketahui Buroqi dan kedua orang tuanya.

Cinta

Setelah perdebatan panjang dengan ayahnya, Maysuri dihadapkan pada pilihan dilematis; melupakan Suryani, ibu kandungnya, dan tetap tinggal bersama ayahnya (dan Asruni, ibu tirinya), atau mencari Suryani dan meninggalkan rumah. Dengan dorongan cinta dan kesadaran berbuat sesuatu untuk orang yang telah melahirkannya, Maysuri memilih mencari ibunya. Ia tak ingin ikut membenci ibu kandungnya seperti yang dilakukan sang ayah.

Meski sudah ditinggal seperempat abad oleh ibunya hanya untuk mengejar kesenangan dan harta, Maysuri tetap terdorong untuk menemuinya. Maysuri mengambil langkah berani. Setelah meyakinkan Suryani, ibu kandungnya, agar meninggalkan dunia hitam, ia meninggalkan ayahnya dan ibu tirinya, kemudian bekerja sebagai seorang tutor privat, utang dari yayasan tempatnya bekerja untuk menyewa rumah dan tinggal bersama ibu kandungnya tersebut. Maysuri tak sekadar mengajak Suryani meninggalkan kemaksiatan. Sebagai seorang gadis muslimah yang taat, ia juga menuntun ibu kandungnya tersebut ke jalan yang benar; mengajarinya salat, mengaji, memakai pakaian yang lebih sopan, dll. Keberanian tersebut membuka mata hati sang ayah.

Pak Fandi kagum dan sadar bahwa putrinya telah mengajarinya sesuatu. “Ayah menyadari bahwa orang tak boleh memandang sesuatu dengan kebencian” (hlm 298). Kisah berakhir bahagia (happy ending). Bersama Suryani, ibu kandungnya, Maysuri menerima kedatangan sang ayah dan Asruni, ibu angkatnya. Mereka saling memaafkan dan menerima satu sama lain. Kemudian, kedua orang tua Buroqi yang sempat melarang hubungan mereka— sebab tahu latar belakang kelam ibu kandung Maysuri, akhirnya merestui hubungan keduanya.

Novel ini seperti paket lengkap yang dipersembahkan penulis. Selain tentang pentingnya mengesampingkan ego dan kebencian serta mengedepankan cinta dan nurani kemanusiaan dalam memandang persoalan, kisah ini juga menyimpan berbagai pesan penting lain tentang kehidupan.