You are here Info Buku Di Balik Diamnya Seorang Introver

Di Balik Diamnya Seorang Introver

Surel Cetak PDF

Resensi buku Introver karya MF Hazim

Harian Blora | Kamis, 13 Juli 2017 | Al-Mahfud

 

Menurut sebuah riset, sekitar 25% dari total jumlah manusia di bumi memiliki kepribadian introver. Kepribadian tertutup dan sulit bersosialisasi dengan orang lain. Mereka menjadi “minoritas” di tengah kebanyakan manusia ekstrover. Mereka terdiam dan membisu di tengah riuh-rendah orang-orang ekstrover yang gemar berbicara dan berinteraksi dengan sesama. Namun, bukan berarti para introver tak memiliki perhatian pada sekelilingnya. Justru, mereka memiliki perhatian mendalam tentang banyak hal, namun tersimpan dalam pikiran mereka sendiri.

Orang introver juga memiliki potensi besar yang jika disalurkan dengan tepat akan membawa pada kesuksesan hidup dan kemanfaatan banyak orang. Banyak tokoh-tokoh besar yang ternyata berkepribadian introver. Sebut saja penulis kenamaan JK Rowling, triliuner Bill Gates, Warren Buffet, sampai mantan presiden AS Abraham Lincoln. Maka, mengenal dan mendalami kepribadian seorang introver menjadi penting. Dari sana, kita akan mengenal karakteristik mereka, sehingga jika diperlukan, bisa membantu mereka untuk aktualisasi diri dan keluar dari kurungan yang menyulitkan mereka dalam berinteraksi dengan orang lain.

Melalui novel karya MF. Hazim ini, kita diajak mengenal dan mendalami kepribadian dan kehidupan seorang introver. Adalah lelaki bernama Nawawi, anak pendiam yang nyaris tak punya teman di sekolah. Baik sejak SMP maupun setelah menginjak SMA. Di kelas, ia melihat siswa-siswa lain yang sering berisik dan gemar berbincang sebagai orang-orang yang hanya membuang-buang waktu untuk hal tak berguna. Terlebih, ketika mendengar teman perempuan yang sering membicarakan model pakaian, tas, atau sepatu terbaru, atau keranjingan berforo selfie. “Sesekali, seharusnya kalian membicarakan perdamaian dunia, global warming, masalah sosial, dan para koruptor itu,” batin Nawawi.

Kehidupan Nawawi hanya berkutat di rumah, sekolah, dan perpustakaan. Ia bahkan tak ingin keluar rumah di masa liburan sekolah seperti yang dilakukan kebanyakan teman-temannya. Ia gemar menghabiskan hari dengan membaca buku, mendengarkan musik, dan bermain game di rumah. Untuk refreshing, ia memilih bersepeda sendirian menyusuri jalan di sekitar daerahnya. Itu pun dilakukan pada malam hari agar terhindar dari tatapan orang-orang sepanjang jalan.

Seorang introver tak tertarik dengan kehidupan populer yang digemari remaja umumnya. Ia memiliki idealisme tinggi dan perhatian pada hal-hal besar. Nawawi bahkan memiliki gagasan tentang konsep dunia yang ideal. Menurutnya, dunia saat ini tak adil terhadap orang-orang introver seperti dirinya. Sebab, banyak sistem dan tata nilai yang dibuat berdasarkan standar orang-orang ekstrover. Orang pendiam dianggap “tidak normal” dan harus berubah menjadi seperti orang ekstrover. “Sistem yang mereka buat hanya akan memaksa orang-orang introver melakukan hal-hal menakutkan dan tertekan” (hlm 210).

Pemikiran besar dan perhatian pada pelbagai persoalan penting kehidupan yang didapatkan dari membaca buku dan berita-berita di media, membuat Nawawi memiliki semacam kebanggaan pada idealisme dalam dirinya. Hal yang tak dimiliki kebanyakan remaja yang lebih disibukkan oleh kesenangan dan hal-hal material. Namun, pada saat-saat tertentu Nawawai mengaku kesepian. Jauh dalam hatinya, ia berharap bisa mendapatkan teman yang mengerti dirinya dan bisa diajak berbicara. Ia kemudian bertekad untuk belajar berbicara dan ramah terhadap orang lain.

Ambiver Menjembatani
Pada kenyataannya, mendapatkan seorang teman bukan perkara mudah bagi seorang introver. Egoisme dan rasa sungkan beramah-tamah dan basa-basai pada orang lain mempersulit mendapatkan teman. Sampai kemudian, Nawawi bertemu seseorang yang berbeda. Seorang gadis yang mengerti pemikirannya, sehingga memancingnya untuk berbicara panjang lebar—hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidup. Gadis itu bertanya padanya soal hal-hal filosofis yang mendalam; arti kehidupan, penderitaan, sampai buku-buku karya penulis besar. “Seolah ia bisa menjadi pemintal benang. Ia menarik bagian dari diriku yang menggumpal, lalu menata dan menggulungnya ulang dengan lebih rapi,” batin Nawawi (hlm 244).

Gadis tersebut ternyata seorang ambiver, campuran antara introver dan ekstrover. Kepribadian yang membuat seseorang bisa menempatkan diri menjadi introver maupun ekstrover. Gadis tersebut kemudian menjadi teman dekat Nawawi. Tak sekadar menerima kapribadiannya, ia juga telah membuat Nawawi bisa membuka pintu-pintu dalam dirinya yang selama ini tertutup, sehingga bisa lebih ramah terhadap dunia di sekitarnya. “Dia menjadi jembatan bagiku untuk mengenal dunia. Membawaku dari satu titik ke titik lainnya” (hlm 251)

Membaca kisah ini membuat kita menyadari bahwa tak ada seorang pun yang bisa hidup sendiri. Meskipun memiliki gagasan besar dan pengetahuan yang luas, seorang introver tetap membutuhkan orang lian. Orang yang bisa menghubungkan alam ide dan gagasan-gagasan dalam pikirannya dengan realistis kehidupan, agar ide tersebut bisa tertuang, terwujud, dan berbuah kemanfaatan. Orang diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal dan melengkapi satu sama lain, untuk bersama-sama mengupayakan kehidupan yang lebih baik.