You are here Info Buku Akar Sejarah Terorisme Global

Akar Sejarah Terorisme Global

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kudeta Mekkah Karya Yaroslav Trovimov

Koran Jakarta | Senin, 12 Februari 2018 | Arinhi Nursecha


Pada 20 November 1979, pagi Mekah yang damai berubah menjadi teror mencekam karena kedatangan komplotan bersenjata di bawah pimpinan Juhaiman al-Utaibi. Mulailah peperangan yang membuat Mekah berlumuran darah. Ini menandai peristiwa krusial bagi dunia Islam dan barat. Kebanyakan muslim Arab Saudi dan sekitarnya, termasuk Osama bin Laden muda, menolak keras pembantaian tersebut dan meruntuhkan loyalitas mereka. Ideologi berapi-api yang diinspirasi orang-orang Juhaiman mencapai puncaknya dalam kelompok bunuh diri al-Qaeda.

Latar belakang 11 September, bom-bom teroris di London dan Madrid, hingga kekerasan mengerikan kaum militan Islam yang merusak Afghanistan dan Irak, semuanya dimulai di pagi November yang panas itu, di bawah bayang-bayang Kabah (Halaman 12).

Kaum nomaden Badui hidup dari menggembala unta dan merampas secara brutal suku-suku lain. Pada pertengahan 1700-an, mereka disebut Wahhabi, lantaran orang-orang berjenggot ini mengikuti seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahhab. Ajarannya tidak rumit. Mereka menuntut kembali pada keyakinan murni sesuai dengan praktik Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Pengikut awal Ibn Abdul Wahhab adalah Muhammad al-Saud. Kombinasi keberanian dan fanatisme dengan cepat menjadi kekuatan utama jazirah Arab. Tahun 1802, mereka menyerang Kota Karbala di wilayah kekuasaan Usmani Irak. Tidak sampai 1813, pasukan ekspedisi Mesir berhasil merebut kembali Mekah dari Wahhabi Saudi atas nama Imperium Usmani.

Januari 1902, Abdul Aziz, kepala suku Bani Saud yang masih muda, memimpin razia kecil dekat Riyadh. Akhir 1920, Abdul Aziz mengokohkan kekuasaannya di hampir semua jazirah Arab. Masalah muncul ketika kaum Ikhwan marah karena Raja Abdul Aziz memberi keleluasaan kaum Syiah dan minta menghentikan jihad melawan kaum heretik. Puncaknya, Raja mulai memperkenalkan barang-barang yang belum pernah ada di Arab, seperti telegraf, telepon, radio, dan mobil.

Tahun 1927, kaum Ikhwan menyerang Irak dan Kuwait yang berada di bawah kendali Inggris. Atas persetujuan Raja Abdul Aziz, Angkatan Udara Inggris mengebom kemah kaum Ikhwan dan Muhajir. Maret 1929, kaum Ikhwan di bawah komando Faisal al-Duwaish dan Sultan al-Bijad kalaha perang Sbala. Tujuh tahun kemudian, seorang veteran Muhammad bin Saif al-Utaibi merayakan kelahiran anak lelakinya. Bayi itu dinamai Juhaiman yang berarti sang pemberenggut (Halaman 25).

Juhaiman berkawan dengan Muhammad Abdullah al-Qahtani. Juhaiman menulis pemikirannya dalam bentuk manuskrip. Satu-satunya penerbit yang mau menerbitkan tulisan Juhaiman adalah Dar al-Talia. Segera, buku kecil biru-hijau setebal 170 halaman berjudul Tujuh Risalah diselundupkan ke Mekah, Madinah, Irak, Iran, dan Mesir. Kaum muda sangat tertaruk pemikirannya.

Terobsesi kedatangan Al Mahdi, Juhaiman membaiat Muhammad Abdullah al-Qahtani sebagai Al Mahdi. Kudeta Mekah berlangsung selama dua pekan dengna korban 270 orang. Namun, pengamat independen mengatakan, jumlah korban lebih dari 1.000. Juhaiman berhasil diringkus. Sedang Muhammad Abdullah al-Qahtani tewas tertembak. Pemerintah Arab Saudi berusaha menghapus tragedi itu dari memori publik.

Materinya sangat sensitif di Arab Saudi. Pemerintah sama sekali tidak mengizinkan akses untuk arsip-arsipnya dan menghentikan penelitian mengenai topik ini (Halaman 322). Ketika Bin Laden berpisah dengan rezim Arab pada 1990-1991, mulai mengulang penolakan Juhaiman terhadap keluarga raja. Invasi Juhaiman merangsang kalangan radikal muslim seluruh dunia dengan banyak cara. Setelah bebas dari penjara Arab, beberapa pengikut Juhaiman bergabung al-Qaeda.