You are here Info Buku Proyek Manusia Ilahiah

Proyek Manusia Ilahiah

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia Karya Yoval Noah Harari

Jawa Pos | Minggu, 24 Juni 2018 |  Royyan Julian


Homo Deus merupakan gabungan rumit berbagai disiplin. Tapi, Yuval Noah Harari bisa menarasikannya dengan sistematis, menggunakan bahasa yang segar.

APA yang terjadi pada manusia di masa yang akan datang? Apakah manusia bisa hidup selamanya? Apakah manusia bakal memiliki kekuatan dewata? Atau sebaliknya, apakah Homo sapiens akan mengalami kejatuhan?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dijawab buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia karya sejarawan yang sedang hit, Yuval Noah Harari. Buku tersebut dibuka dengan eksplanasi tentang agenda baru umat manusia: imortalitas, kebahagiaan, dan keilahian.

Proyek ambisius tersebut dipicu karakter asali manusia yang tak pernah puas. Hipotesis Harari bukan dugaan-dugaan kosong. Asumsinya dilandasi situasi faktual manusia yang mendambakan kesempurnaan dan secara intensif berikhtiar mewujudkannya. Sayang, obsesi tersebut akan menggiring manusia ke tubir ”kepunahan”.

Memang tidak bisa disangkal bahwa manusia saat ini tengah menguasai dunia. Rezim antroposen dimulai sekitar dua belas ribu tahun yang lalu, saat era berburu-meramu memasuki senjakala dan dadu waktu bergulir ke zaman revolusi agrikultur.

Saat itulah ekualitas antarkomunitas biotik lenyap. Diganti hierarki-hierarki. Manusia tak lagi merasa sejajar dengan mamut, karibu, dan pohonpohon. Domestifikasi binatang buruan menjadi hewan ternak mengubah makhluk-makhluk tersebut sekadar properti.

Namun, pada saat itu manusia belum menduduki puncak piramida. Mereka masih tunduk kepada patron yang posisinya lebih tinggi: Tuhan dan dewa-dewa. Kelak, ketika fajar humanisme bersinar, tuan-tuan adimanusia tersebut terkikis perlahan- lahan dan ditaklukkan oleh sapiens.

Keberhasilan manusia mewujudkan impian-impiannya dipaparkan melalui argumentasi tentang perbedaan ontologis antara manusia dan binatang lainnya. Menurut Harari, yang membedakan manusia dengan hewan lainnya bukanlah morfologi dan fisiologi.

Bukan pula kemampuan berpikir dan kesadaran. Bagi dia, yang membuat manusia sukses menguasai dunia adalah kemampuan bekerja sama secara masif-global untuk menyepakati imajinasi tentang Tuhan, negara, uang, dan lain-lain.

Risalah Harari tentang masa depan manusia tidak bisa dilepaskan dari teori algoritma. Algoritma adalah seperangkat langkah metodis yang bisa digunakan untuk melakukan kalkulasi, pemecahan masalah, dan mencapai keputusan-keputusan.

Proyek imortalitas, kebahagiaan, dan keilahian melibatkan alat-alat biometrik yang ditanam ke dalam jasad, organ-organ bionik yang dicangkokkan pada tubuh, dan robotrobot nano yang merasuk ke pembuluh darah.

Visi teknohuman tersebut dirancang untuk meningkatkan kesehatan, ketahanan, kemampuan seks, mutasi, dan rekayasa genetika; memperbarui sel-sel mati; bertempur melawan penyakit yang menyerang tubuh; serta pada akhirnya menjadikan manusia sekekal Ilahi.

Di sisi lain, kecerdasan artifisial dalam program-program komputer juga kian ditingkatkan. Di sinilah terancamnya spesies sapiens. Pada masa revolusi teknologi, manusia tidak lagi memiliki nilai militer dan ekonomi. Seluruh peran manusia akan digantikan oleh algoritma komputer.

Celakanya, kecerdasan artifisial tersebut akan lebih unggul daripada manusia dari segi kemampuan, presisi, dan pengurangan dampak buruk. Pendekatan algoritmik pada seluruh aspek kehidupan membuat Homo sapiens kehilangan kontrol dan tersingkir. Sebagaimana Nietzsche telah membunuh Tuhan –yang menciptakan manusia–, algoritma komputer akan melenyapkan manusia yang telah menciptakannya. Masa depan bumi berada dalam genggaman imperium algoritma komputer yang telah bermutasi dan memanipulasi manusia.

Harari telah menarasikan Homo Deus dengan sistematis, menggunakan bahasa yang segar, dan humor –hal yang jarang dimiliki akademisi cum penulis. Magnum opus tersebut merupakan gabungan rumit berbagai disiplin.

Harari bisa berbicara neurologi sebaik ketika menulis tentang perang, politik, saham, saraf sensoris kelelawar, dan teknologi informasi. Kemampuannya memprediksi masa depan secara ilmiah, agak apokaliptik, dan disertai refleksi filosofis membuat kita bertanya, akankah masa itu bakal terjadi? Apakah takdir scientific tersebut bisa dibelokkan? (*)