You are here Info Buku

Resensi Buku

Makam Leluhur dan Kemuliaannya

Surel Cetak PDF

Resensi buku Tarian Dua Wajah karya S. Prasetyo Utomo

Jawa Pos | Minggu, 31 Juli 2016 | Setia Naka Andrian


Prasetyo memilih pengisahan novelnya ini dengan gaya realis-imajinatif. Membaca novel ini, sederhana memang, namun sadar atau tidak, pembaca akan disuguhi seabrek goncangan batin terkait bergelimang fenomena spiritual.

Novel diyakini menjadi cara ampuh bagi sebagian pengarang untuk lebih dalam menemui pembacanya, ketimbang melalui karya sastra lain termasuk puisi dan cerpen.

Itu disebabkan novel setidaknya lebih lantang menyuarakan pengisahannya, dengan tidak perlu banyak mengerutkan dahi pembaca. Seperti yang dapat pula kita rasakan ketika membaca novel S. Prasetyo Utomo, Tarian Dua Wajah (Alvabet, Juni 2016).

Prasetyo menggiring pembaca dengan suguhan persoalan makam leluhur di sebuah perkampungan dengan begitu bergejolak. Pertanyaan-pertanyaan di benak pembaca pelan-pelan menyambar tanpa henti, tatkala tokoh-tokoh mulai dihadirkan.

Termasuk tokoh Sukro yang begitu sentral sebagai salah satu keturunan Nyai Laras, leluhur kampung yang sudah meninggal. Nyai Laras adalah penari istana pada masa silam yang tenar seantero negeri. Yang kemudian diyakini terdapat titisannya, Dewi Laksmi, penari muda berbakat yang berkesempatan berkeliling dunia karena lenggok tubuhnya yang memukau.

Prasetyo memilih pengisahan novelnya ini dengan gaya realis-imajinatif. Sebuah ikhtiar tersendiri untuk lebih luas mencapai semua kalangan pembaca. Cerita awal dibuka dengan begitu getir, terkait kehidupan keluarga kecil Sukro yang tengah mempersiapkan proses melahirkan dari istrinya, Aya.

Masalah klise menghadang mereka, perihal kekurangan uang untuk biaya kelahiran. Akhirnya, Sukro, sang suami harus menagih kekurangan uang yang belum diberikan oleh pembeli. Seorang pengusaha yang membayar tanah Sukro, tanah bukit warisan leluhur yang terdapat makam leluhurnya, Nyai Laras.

Makam yang berangsur-angsur menjadi perdebatan bagi barga sekitar. Sebab, makam tersebut kerap digunakan sebagai tempat pemujaan bagi orang-orang di luar daerah yang setiap hari hilir-mudik berdatangan.

Membaca novel ini, sederhana memang, namun sadar atau tidak, pembaca akan disuguhi seabrek goncangan batin terkait gelimang fenomena spiritual. Prasetyo begitu pelan mengaduk-aduk batin pembaca, dengan nuansa realis-imajinatifnya, seakan menggiring keberhasilan dalam menguasai keyakinan pembaca.

Di situ, mulailah sejarah manusia baru diciptakan atas pergulatan persoalan yang sudah sangat sering kita jumpai dalam keseharian. Namun pengisahan-pengisahannya seakan diombang-ambing hingga menuju penyelesaikan yang tak terduga. Atau bahkan jawaban-jawaban atas segenap persoalan tersebut sangat sulit dipijaki dalam keseharian kita.

Misalnya saja, dalam pengisahan tokoh Aji, anak dari Sukro (dituduh merampok,  membunuh) dan seorang ibu bernama Aya (penyanyi kelab malam). Aji yang sejak lahir sudah ditinggal ayahnya mendekam di penjara, kemudian ketika usia satu tahun, ia dititipkan kepada pakde Rustam (kakak kandung Sukro).

Aji tumbuh dalam penuh tekanan. Hari-harinya yang sangat jauh dengan kasih sayang kedua orang tua. Ditambah kekerasan fisik dan mental yang terus dilakukan oleh bude dan anak-anak pakdenya.

Namun setelah beranjak dewasa, Aji memilih untuk meninggalkan rumah pakdenya. Dia meyakinkan diri untuk belajar di pesantren Kiai Sodik. Setelah berproses di pesantren, ternyata nampak kemuliaan-kemuliaan jiwa Aji. Hingga akhirnya, dia dinikahkan dengan Salma, anak Kiai Sodik yang jernih hatinya. Walaupun awalnya, hal tersebut kurang disetujui oleh istri Kiai Sodik, mengingat siapa Aji, siapa orangtuanya.

Prasetyo, dalam novel ini pun mengisahkan sosok Kiai Sodik dalam sisi kebimbangan-kebimbangannya. Menggambarkan betapa diri manusia, entah seberapa tinggi derajat dan kemuliaannya di mata masyarakat, tetap saja masih ada celah-celah kekurangannya.

Kerap dikisahkan Kiai Sodik mengadu kepada ibunya, ia meminta pendapat, atas kekhilafan yang dilakukan. Misalnya saja ketika dia sempat mampu menyembuhkan orang sakit keras, namun lain waktu dia gagal meski sempat begitu yakin mampu mengulangi keberhasilan sebelumnya.

Orang sakit kedua yang berusaha disembuhkannya meninggal. Proses persiapan pemakaman pun akhirnya dilakukan di lingkungan pesantren, masyarakat dan santri menyaksikan, menghadiri ritual pemakaman.

Hal itu seakan diciptakan Prasetyo untuk mengajak kita melihat bagaimana kondisi masyarakat saat ini. Biasanya segala sesuatu bermuara pada ruang-ruang santri, lingkaran-lingkaran kiai. Namun, tatkala waktu terus bergerak, masyarakat kita seakan bergerak pula kepandaian pemahamannya dalam menyikapi kehidupan.

Semua bisa goyah, semua memiliki celah kebimbangan jika dipertemukan dengan segenap peranti duniawi. Begitu kiranya sedikit kemuliaan yang dikisahkan dalam novel. Karya Prasetyo ini setidaknya memberi beberapa pandangan terhadap kita, mengajak kita menelusuri ruang-ruang kecil yang melimpah nilai.

Roh Spiritual di Jagat Fiksi

Surel Cetak PDF

Resensi buku Tarian Dua Wajah karya S. Prasetyo Utomo

Suara Merdeka | Minggu, 31 Juli 2016 | Setia Naka Andrian


Novel terbaru S Prasetyo Utomo, Tarian Dua Wajah (2016) seakan menyeret saya memaknai gelimang kisah manusia dari tokoh-tokoh yang dihadirkannya. Benak saya diguyur aroma spiritual yang memadukan seni dan moralitas, seperti ditegaskan sampul apik bergambar penari cantik dengan dua topeng di kedua tangannya. Nyai Laras, seorang penari istana, yang diyakini sebagai leluhur sebuah daerah dalam latar novel.

Prasetyo, membuka dengan kisah getir lelaki muda kekar bernama Sukro, keturunan Nyai Laras yang dihadapkan persoalan ekonomi. Sukro berupaya keras memenuhi biaya kelahiran istrinya. Ia harus menjual tanah warisan yang terdapat pekuburan leluhurnya yakni, makam Nyai Laras. Persoalan muncul, ketika tak semua uang pembayaran tanah diberikan. Sukro membunuh pengusaha yang membeli tanahnya, karena tidak melunasi kekurangan penjualan tanah tersebut.

Sukro dipenjara 15 tahun atas tuduhan perampokan dan pembunuhan. Keluarga kecil Sukro menjadi berantakan. Aya, istri Sukro, selepas melahirkan anaknya, Aji, kembali menjadi penyanyi di sebuah kelab malam. Aji dititipkan kepada kakak iparnya di kota. Aji tumbuh meremaja dengan penuh tekanan dari istri kakak ipar beserta anak-anaknya.

***

Prasetyo pelan-pelan menyuguhkan roh spiritual selebar-lebarnya dalam segenap pengisahannya. Spiritual di sini memberi arah serta melakukan kritik atas realitas yang ada. Pun terkait pengisahan nilai-nilai kemuliaan begitu leluasa disuguhkan melalui tokoh-tokohnya dengan lantang, panjang dan saling berkaitan. Gelimang gerak manusia ditawarkan melalui tema, karakter dan ideologi tertentu. Prasetyo seakan menekuri catatan keyakinan yang bertebaran dalam keseharian hidupnya. Aktivitas kemanusiaan yang luhur pun sedemikian rupa ditawarkan tanpa mengerutkan dahi pembaca. Siapa pun seolah tergerak untuk tak habis-habis menemukan diri sendiri dalam pengisahannya.

Misalnya Aji, santri muda yang merupakan anak Sukro (pembunuh, perampok) dan Aya (penyanyi kelab malam), kemudian menjadi menantu kiainya, Kiai Sodik. Ia dinikahkan dengan seorang anaknya yang cantik dan jernih hatinya. Dalam hal ini, Prasetyo mencoba mendobrak kelaziman yang barangkali sangat jarang ditemukan dalam kehidupan kita. Prasetyo mengupayakan keyakinan Barker (2013) dalam melaksanakan kerja empiris yang ditekankan dalam tradisi kulturalis, mengeksplorasi cara manusia menciptakan makna kultural.

Dikisahkan pula, sosok Kiai Sodik, yang tetap teguh tidak mengusik sarang lebah madu di pesantrennya. Ada pembeli yang berkali-kali datang namun tetap saja tidak diberikan. Hingga suatu ketika, Kiai Sodik jatuh sakit, istrinya menyarankan agar salah seorang santri mengambil sarang lebah madu untuk Kiai Sodik. Namun ia menolak, katanya masih banyak obat dari dokter yang belum diminum. Suatu saat, lebah ratu dan gerombolannya berterbangan memasuki kamar Kiai Sodik dan bersarang di usuk kamar sang kiai. Madu memenuhi tiap-tiap liang sarang, hingga madu leleh, menetes tepat di bibir Kiai Sodik yang terbaring di bawahnya. Kiai Sodik berangsur membaik, hingga akhirnya sembuh.

Kiai Sodik pun mampu menerawang gerak manusia. Termasuk Aji dan ayahnya, Sukro. Bahkan ia mampu menyembuhkan orang sakit. Namun, tidak semua yang dijalani dan kemampuan yang dimilikinya berjalan mulus. Suatu saat ia bisa menyembuhkan orang sakit, lain waktu tidak, ketika ia lalai dan takabur, seakan mendahului kehendak tuhannya.

***

Prasetyo seakan membangun realitasnya sendiri melalui persoalan-persoalan pelik yang belum tentu dapat diselesaikan dalam dunia nyata. Konflik dimunculkan dengan mengejutkan dan diselesaikan sedemikian panjang dan tak terduga. Ini menjadi kekuatan tersendiri, sebagaimana Kuntowijoyo (2013) menyatakan sastra menjadi sistem simbol yang fungsional, bukan sekadar trivialitas rutin sehari-hari dan biasa-biasa saja. Prasetyo mencoba melarikan pengisahannya jauh dari kedangkalan persoalan keseharian yang membosankan dan tidak terselesaikan, yang sering kita temui dalam kehidupan nyata.

Prasetyo menciptakan penjara apik antara diri pembaca, moralitas, dan dunia teksnya sendiri. Ia mencoba mengurai persoalan sederhana di sekitar kita yang diselesaikan dengan takjub. Walaupun, lagi-lagi ia mengulang kegetiran yang hampir sama dalam novel pertamanya, Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (2009).

Menyelusuri Kota Suci Penuh Konflik

Surel Cetak PDF

Resensi buku Jerusalem: The Biography karya Simon Sebag Montefiore

Radar Sampit | Minggu, 17 juli 2016 | Ngarjito Ardi Setyanto


Ketika membicarakan kota yang penuh meisteri di dunia, maka salah satu kota terlintas dalam benak kita adalah Yerusalem. Sebuah kota yang memiliki luas teritori hanya 100 x 150 mil, terbentang di antara sudut tenggara Mediterania dan Sungai Yordan. Kota yang melahirkan sebuah peradaban yang penting bagi dunia. Di kota inilah, ketiga agama yang menguasai dunia menyucikannya. Tetapi di satu sisi, Kota ini menimbulkan konflik yang menumpahkan darah-darah yang tidak bersalah.

Dari Raja Dawud hingga Barack Obama, dari kelahiran Yudaisme, Kristen, dan Islam hingga konflik Palestina-Israel, inilah epos sejarah 3.000 tahun ihwal kesucian, keimanan, fanatisme, identitas, nasionalisme, pembantaian, dan koeksistensi. Inilah kisah tentang bagaimana Yerusalem menjadi Yerusalem; satu-satunya kota yang hidup dua kali—di surga dan di bumi.

Buku berjudul lengkap Jerusalem: The Biography ini, menceritakan secara kronologis melalui kehidupan laki-laki dan perempuan, tentara dan nabi, penyair dan raja, petani dan musisi, dan keluarga-keluarga yang telah membentuk dan menjaga serta memelihara Yerusalem selama beberapa milenia. Ditulis berdasarkan sebuah sintesis hasil pembacaan luas terhadap sumber-sumber primer, kuno dan modern, melalui seminar-seminar pribadi dengan para spesialis, professor, arkeolog, serta berdasarkan pada kunjungan-kunjungan langsung Simon Sebag Montefiore, penulisnya, ke Yerusalem yang tak terhitung jumlahnya.

Harus diakui, Yerusalem ini memiliki pengaruh daya tarik yang luar biasa. Bahkan dalam literatur sakral Yahudi dijelaskan bagaimana kota ini. Kesucian kota ini tumbung dari eksepsioonalisme Yahuddi sebagai Umat Terpilih. Yerusalaem menjadi Kota Terpilih. Palestina menjadi Tanah Terpilih, dan eksepsionalisem ini diwariskan dan pipeluk oleh umat Kristen dan Musliam.

Kesucian tertinggi dari Yerusalem dan tanah Israel tercermin dalam peningkatan obsesi keagamaan akan pemulangan kaum Yahuddi ke Israel dan antusiasem barat padda Zionisme, yang menjadikan ekuivalen sekularnya, antara Reformasi abad ke-16 di Eropa dan tahun 1970-an. Sejak itu, narasi tragis Palestina, dengan Yerusalem sebagai Kota Suci mereka yang hilang, telah mengubah persepsi terhadap Israel.

Yerusalem memang kota suci, sayangnya ia selalu menjadi sarang takhayul dan kefanatikan; dambaan dan sasaran rebutan aneka kekaisaran, walau tak punya nilai startegis; rumah kosmopolitan bagi banyak sekte, dan masing-masing yakin kota itu hanya milik mereka, sebuah kota dengan banyak tradisi yang masing-masing begitu sektarian sehingga menihilkan yang lain.

Kematian selalu menjadi sahabat di Tanah Suci. Sejak lama, para peziarah berdatangan ke Yerusalem untuk mati dan dikunur di sekitara Bukit Kuil (Temple Mount) untuk siap bangkit kembali pada saat Apokalips, dan mereka masih terus berdatangan. Kota ini dikelilingi dan bangungan di atas kuburan-kuburan. Bahkan Aldaous Huxley, mengatakan rumah jagal agama-agama, dalam ungkapan Flaubert sebagai rumah kuburan. Melville menyebut kota itu sebuah “tengkorak” yang dikepung oleh “angkatan perang mati”; sementara Edward Said mengenang ayahnya memberikan Yerisalem karena ia “mengingatkannya kepada kematian.”

Buku setebal delapan ratus dua puluh dua halaman ini, berisi sejarah Yerusalem sebagai pusat dunia. Kendati demikian, tidak dimaksudkan sebagai ensiklopedia dari setiap aspek Yerusalem, atau buku panduan yang utuh. Dengan kata lain, buku ini tidak berisi tentang Yudaisme, Kristen atau Islam, juga bukan studi tentang sifat Tuhan. Melainkan sejarah Yerusalem dalam pengertian yang paling luas untuk pembaca umum, apakah mereka atheis, beriman, Yahudi, Kristen atau Muslim, tanpa satu agenda politis.

Dilengkapi dengan hampir seratus halaman catatan kaki, peta, serta pohon keluarga para penguasa Yerusalem yang terbentang mulai dari kisah Raja Daud sebagai pendiri Yerusalem, hingga keluarga-keluarga bangsawan yang masih eksis hingga kini, kuat dugaan bahwa buku ini merupakan hasil kerja sangat serius dan sangat panjang dari penulisnya.

Dikemas dengan detail yang menarik. Kisah mencekam tentang perang, pengkhianatan, pemerkosaan, pembantaian, penyiksaan sadis, fanatisme, permusuhan, korupsi, kemunafikan, sekaligus spiritualitas, memungkinkan pembaca untuk merasakan berbagai emosi; baik simpati maupun amarah, pada setiap penggalan kisahnya. Buku ini seolah mengajak pembaca untuk melakukan ziarah ke Yerusalem.

Menggali Inspirasi dari Sepak Bola

Surel Cetak PDF

Resensi buku Inspirasi Sukses dari Sepak Bola karya Iwel Sastra

Wasathon | Minggu, 08 Mei 2016 | Lusiana Dewi

 

Sepak bola merupakan sebuah disiplin olah raga yang paling populer di dunia. Setiap pertandingan senantiasa ramai penonton. Terlebih lagi tahun ini masyarakat dunia akan dihibur dengan helatan Euro Cup 2016 di Prancis, maka stasiun televisi dunia pun berebut menayangkan pertandingan-pertandingannya.

Animo masyarakat untuk menonton klub sepak bola kesayangan pun seakan tak bisa dibendung. Yel-yel yang menggema setiap pertandingan di stadion selalu bergemuruh hebat. Hal itu bahkan membuat para pemain termotivasi untuk menang.

Lihatlah klub-klub top mapan di Eropa, mereka mempertunjukkan gaya permainan dan taktik yang bagus. Di Eropa, sepak bola menjadi mata pencaharian dan dikomersialisasi. Para investor dan pemegang modal konglomerat menanam saham untuk keuangan klub-klub sepak bola di Eropa. Dengan demikian, sepak bola adalah kehidupan di sana. Bahkan ada yang menyebut secara hiperbola bahwa sepak bola adalah “agama” lantaran fanatisme supporter terhadap klub kesayangannya melebihi apapun.

Olah raga sepak bola memang banyak menginspirasi. Mulai inspirasi dalam bidang olah raga itu sendiri hingga inspirasi perekonomian yang memutarkan roda bisnis suatu konglomerasi. Bahkan, Iwel Sastra pun menulis buku berjudul “Inspirasi Sukses dari Sepak Bola” ini terinspirasi dari olah raga yang paling banyak digemari masyarakat dunia tersebut.

Dalam buku setebal 204 halaman ini, Iwel Sastra mengambil banyak pelajaran atau inspirasi dari sepak bola untuk dijadikan motivasi kehidupan. Salah satunya adalah tentang kedisiplinan para pemain yang meneken kontrak untuk klub-klub profesional. Kedisiplinan merupakan harga mati bagi para pemain, baik ketika latihan, pertandingan, maupun di luar lapangan.

Para pemain tidak boleh sesuka hati mengentengkan kontrak dengan klub. Semisal datang latihan tidak boleh telat, tidak boleh mengeluarkan kata-kata kasar, dan lain sebagainya. Disiplin waktu dan disiplin moral begitu ditekankan dalam sepak bola. Jika pemain melakukan tindakan yang melanggar kedisiplinan, maka ia pantas untuk menerima sanksi berupa denda atau larangan bermain.

Disiplin dalam pertandingan sepak bola juga bisa dijadikan inspirasi disiplin dalam berkarier. Disiplin dalam berkarier yakni dengan menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab serta mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh tempat bekerja. Disiplin adalah ketaatan kepada peraturan. Disiplin dalam berkarier bisa mengantarkan seseorang menuju posisi puncak karier. Rasanya mustahil kalau ada orang yang bekerja tidak disiplin kariernya bisa meningkat. (hlm. 152).

Selain itu, dalam pertandingan sepak bola juga mengandalkan kerja sama dengan sesama rekan setim. Untuk bisa menang, kerja sama juga harus solid selain skil yang mumpuni. Umpan-umpan akurat, peluang emas untuk menciptakan gol, hingga tendangan ke arah gawang lawan harus dilakukan dengan sabar dan cermat. Intinya, dalam pertandingan sepak bola harus ada hal-hal positif untuk bisa mencetak gol, mulai dari kerja sama hingga kemampuan personal yang bagus.

Semua itu menjadi inspirasi dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin bisa hidup sendirian di tengah-tengah masyarakat. Manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan, oleh karena itu mereka harus saling membantu (baca: kerja sama) untuk mewujudkan hidup yang layak.

Tidak semua manusia itu mempunyai kemampuan yang sama untuk menjalani kehidupan. Mereka harus saling membantu. Sebagaimana dalam satu tim sepak bola. Ada yang berposisi sebagai kiper, bek, gelandang, dan penyerang. Mereka menempati pos masing-masing dan kemampuan serta tugas mereka pun tidak bisa disamakan.

Begitu pula manusia. Satu dengan yang lainnya itu berbeda kemampuan. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa dipaksakan untuk melakukan pekerjaan yang bukan ahlinya. Bukankah petani itu tidak bisa bekerja sebagai dokter? Demikian pula sebaliknya, dokter akan merasa sangat tidak sesuai jika harus mengelola sawah sebagaimana petani.

Adanya, keduanya itu saling membantu. Jika petani sakit, maka ia pergi ke dokter untuk berobat. Jika dokter kelaparan, maka ia membutuhkan bahan makanan dan bahan makanan itu dihasilkan oleh petani. Hal itu seperti dalam sepak bola, antara pemain satu dengan lainnya yang satu tim harus saling membantu dan kerja sama.

Selain mengandalkan kerja sama dan skil individu, sepak bola adalah olah raga yang mengandalkan konsentrasi. Lengah sedikit, maka lawan akan mudah mengacak daerah pertahanan hingga mencetak gol. (hlm. 195).

Hal itu juga bisa dijadikan sebagai inspirasi dalam kehidupan. Dalam menjalani suatu pekerjaan, apa pun pekerjaannya, konsentrasi senantiasa dibutuhkan. Koki jika kehilangan konsentrasi maka racikan masakannya gagal. Penjahit jika kehilangan konsentrasi maka jahitannya tidak berhasil. Guru jika tidak konsentrasi maka materi yang disampaikan malah salah. Begitu pula dengan yang lainnya. Dengan demikian, konsentrasi merupakan hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik.

Akhirnya, dengan membaca buku setebal 204 halaman ini, para pembaca diajak untuk menyelami dunia sepak bola sekaligus mengampil banyak pelajaran dan inspirasi darinya. Sepak bola bukan olah raga semata, melainkan juga disiplin yang banyak memberikan inspirasi. Dalam realitasnya, sepak bola menjadi salah satu denyut nadi gaya hidup umat manusia di dunia. Tidak mengherankan jika sepak bola menjadi olah raga yang paling populer di dunia.

Menjaga Keseimbangan Sebagai Mata Air Kebahagiaan

Surel Cetak PDF

Resensi buku Hidup Seimbang Hidup Bahagia karya Akhirudin DC, MA

Wasathon | Senin, 02 Mei 2016 | Al Mahfud

 

Seiring laju zaman, manusia semakin terdorong memperkuat dirinya untuk bisa bertahan dan eksis dalam kehidupan. Sebab, perkembangan pesat dalam berbagai sendi kehidupan menuntut setiap orang bisa menyesuaikan. Hanya saja, dorongan tersebut tidak jarang membuat orang terjebak dalam sikap hidup berlebihan. Sikap hidup di sini bermakna luas, mulai soal kedirian sebagai individu, kehidupan sosial, sampai hal-hal khusus tentang pekerjaan.

Kita tahu, sesuatu yang berlebihan bukanlah hal yang baik. Begitu juga dengan sikap yang selalu meremehkan. Jadi, kita perlu konsep hidup seimbang (balance) atau pertengahan antara keduanya (berlebihan dan meremehkan). Di titik inilah kemudian, buku berjudul Hidup Seimbang Hidup Bahagia ini menjadi menarik disuguhkan. Di dalamnya, Akhirudin DC MA menyuguhkan kepada pembaca panduan menjalani hidup yang seimbang untuk menuju kepada kebahagiaan.

Di buku ini dijelaskan bahwa keseimbangan dimulai dengan mencari tahu apa yang paling penting dalam hidup; prioritas. Seseorang tak akan pernah merasa seimbang jika tak memiliki visi pribadi. Konsep seimbang dimulai dengan mengidentifikasi nilai-nilai yang paling penting dipegang, kemudian menjelaskan visi pribadi (hlm 8-9). Di mana letak pentingnya visi pribadi? Visi atau nilai pribadi memberikan ukuran yang konstan meski kehidupan dinamis atau terus berubah. Jadi, kita selalu memiliki pegangan dalam menentukan apakah akan bergerak--lebih dekat atau lebih jauh dari definisi kita tentang keseimbangan.

Hidup seimbang juga berarti menjaga dua bentuk keseimbangan. Yaitu keseimbangan internal dan eksternal. Keseimbangan internal berarti keseimbangan dalam memenuhi hak diri kita sendiri yang terdiri dari empat dimensi; fisik, emosional, mental, dan spiritual. Masing-masing dimensi perlu dipenuhi haknya agar diri kita seimbang. Dimensi fisik berhak untuk sehat, misalnya. Atau hak dimensi spiritual adalah kedekatan dengan Allah Swt. Sementara keseimbangan eksternal adalah keseimbangan dalam memenuhi hak orang-orang di sekitar kita, bergantung pada peran kita dalam kehidupan.

Pekerjaan

Satu hal penting lainnya yang sering menjadi dilema dalam kehidupan manusia modern yang serba cepat adalah keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. Di satu sisi, orang ingin menikmati hidup yang nyaman dan tenang. Namun di saat bersamaan, tanggung jawab pekerjaan terus membuntuti untuk dilaksanakan. Dalam buku ini, kita diberi kiat menjaga keseimbangan kehidupan dan pekejaan (work life balance). Diantaranya adalah dengan mengerjakan pekerjaan tepat waktu agar tak terlalu sering bekerja sampai larut malam sehingga mengurangi interaksi dengan keluarga, pandai mengatur waktu berlibur bersama keluarga, sampai dengan membuat skala prioritas (hlm 101-102).

Sedikit catatan untuk buku ini, bahwa penulis membicarakan keseimbangan namun di saat bersamaan, ulasan buku ini kurang seimbang dalam memberikan panduan. Penulis lebih banyak menyuguhkan hal-hal yang bersifat konsep dan terasa minim ide-ide konkret yang bisa dipraktikkan. Di luar semua itu, apa yang diulas dalam buku ini sangat berguna bagi kita yang sedang mengupayakan kehidupan seimbang dari berbagai aspek. Baik dalam konteks pribadi, kehidupan sosial, sampai soal pekerjaan. Selamat membaca!

Akhirudin DC, MA

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL