You are here Info Buku

Resensi Buku

Zaman Now Edan, Perlu Teladan

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Samudra Keteladanan Muhammad Karya Nurul H. Maarif

Kedaulatan Rakyat | Minggu, 01 April 2018 | Fatoni Prabowo Habibi

 

Pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873 M) pernah bilang, zaman ini adalah zaman edan. Yang tidak ikutan edan, tidak akan kebagian. Aturan mana yang baik dan mana yang buruk, sudah tidak jelas, atau setidaknya telah samar garis demarkasinya. Dalam hal mengais rezekipun umpamanya, orang tak peduli lagi mana yang jalan yang hakak dan mana jalan yang haram.

Benar belaka ungkapan yang menyatakan 1001 macam cara mencari makan. Para pemimpin, bukannya meneladankan kejujuran dan kesederhanan, melainkan malah mempertontonkan perilaku korupsi dan hedonisme di depan mata rakyatnya. Dalam hal sikap keberagamaanpun, para pemimpin juga banyak yang tidak layak menjadi panutan, melainkan lebih pantas menjadi referensi keburukan. Ringkasinya, tak salah jika dikatakan, hari ini kita miskin keteladanan.

Di zaman ini, keteladanan ibarat barang mewah yang mahal harganya, karena tidak banyak lagi yang memilikinya. Karena itu, jika kita hendak merunut ke belakang mencari sosok yang paling pantas dan paling layak dijadikan teladan dalam segala aspek kehidupan, maka tak ada alasan lain kecuali kita harus kembali ada sosok Muhammad Saw. yang tanpa cela. Keteladanan begitu melekat dalam dirinya. Sosok insan kamil (manusia sempurna) yang menampakkan karakter ilahiah tersirat jelas dalam tuturan kata dan tingkah polahnya. Muhammad Saw.-lah yang paling layak dijuluki teladan sepanjang masa dan khalifah ma’nawiyah (wakil Allah SWT di bumi dalam arti sesungguhnya), yang mencerminkan dualisme sikap positif sekaligus; sikap agung kemanusiaan dan sikap luhur ketuhanan. Itu sebabnya, al-Qur’an melabelinya dengan uswah hasanah (teladan kebaikan), selain Ibrahim a.s. (hlm. 131)

Banyak kisah keteladanan luhur yang dengan gamblang menunjukkan sifat keagungan Muhammad Saw. Misalnya, ketika Muhammad Saw. hijrah dari Mekkah menuju Yatsrib  (yang kemudian disebut Madinah). Kala itu, beliau bersama Abu Bakar ash-Shiddiq, dikawal sahaya Abu Bakar bernama Amr bin Fuhairah, dan Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi, seorang pemuda pagan alias musyrik yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Di tengah perjalanan, Muhammad Saw. hendak membeli makanan dan minuman. Lantas beliau mampir di sebuah kemah kepunyaan Ummu Ma’bad al-Khuzaiyyah. Sayangnya, saat itu tiada minuman dan makanan.

Muhammad Saw. lantas melihat seekor kambing betina di sekitar kemah. Muhammad Saw. pun kemudian memegang susu kambing tiada berair itu seraya berdoa: Ya Allah, berkahilah Ummu Ma’bad melalui kambingnya. Maka, tiba-tiba, kambing yang air susunya kering kerontang itu memancarkan air susu dengan derasnya. (hlm. 148)

Muhammad Saw. meminta wadah guna menampung air susu yang melimpah itu. Beliau mempersilakan tiga rekan hijrahnya, yang dengan setia menyertai perjalanan beliau, untuk meminumnya satu per satu, hingga semuanya merasa segar kembali dan hilang dahaganya. Setelah semuanya kebagian, barulah Muhammad Saw. meminumnya paling akhir.

Dalam sabda Nabi menyatakan: Orang yang memberikan minuman kepada kaum itu dia minum yang paling akhir. Inilah pemimpin sesungguhnya, yang bertanggungjawab untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Ini pulalah tipe pemimpin yang tidak egois, yang tidak mendahulukan kepentingan pribadi, keluarga atau golongannya dengan mengabaikan kepentingan dan kemaslahatan rakyatnya. Pemimpin ini bahkan rela mendapatkan sisa-sisa dari rakyatnya.

Buku ini menyajikan setitik informasi tentang hayah (sisi historis kehidupan) Muhammad Saw. Kitab klasik pun menjadi sumber informasi terkait, disamping aneka teladan kebaikan terus menyembur dari dirinya, tiada habis-habisnya. Ibarat mata air, tak sebutir keburukan pun yang muncul darinya.

Semua ini menunjukkan betapa akhlak adalah mahkota bagi manusia. Karena itu, sebagai umatnya, sudah seharusnya kita semua menimba dan berusaha meniru sebanyak-banyak mata air akhlak itu dari Muhammad Saw., untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Peniruan atas keteladanannya ini, menjadikan pengharapan menjadi orang yang saleh mudah diraih dan kita pun akan menjadi manusia sukses fi ad-darain, dunia-akhirat. Amin!

Perjuangan Masyarakat Adat Melawan Kuasa Pemodal

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Cermin Jiwa Karya S. Prasetyo Utomo

Majalah Simalaba | Selasa, 20 Februari 2018 | Al-Mahfud


Pendirian pabrik di suatu wilayah sering kali menuai konfik. Terlebih, jika pabrik berpotensi besar merusak lingkungan. Selalu ada pro dan kontra. Hal inilah yang tergambar dalam karya S. Prasetyo Utomo ini. Pengarang peraih penghargaan Acarya Sastra tahun 2015 ini mengisahkan pergulatan kehidupan masyarakat adat di lembah Gunung Bokong di tengah upaya para pemodal yang hendak mendirikan pabrik semen di desa mereka.

Mula-mula, kisah digerakkan dua tokoh, yakni Aryo dan Zahra. Aryo seorang wartawan yang selalu meliput dan mengawal penduduk desa dalam memprotes pembangunan pabrik. Sedangkan Zahra, seorang dokter muda yang mendapat tugas mengabdi di lembah Gunung Bokong. Zahra pandai memetik harpa dan Aryo adalah wartawan yang mencintai alam. Keduanya merupakan pemuda idealis yang mendukung masyarakat adat dalam menolak pendirian pabrik semen yang akan mengeruk batu kapur di lembah Gunung Bokong.

Selanjutnya, kita dihadapkan pada pelbagai konflik yang tercipta di tengah kehidupan masyarakat Gunung Bokong. Kehidupan yang semula aman dan damai, mulai terusik sejak proyek pembangunan pabrik semen mulai berjalan. Masyarakat terbelah. Warga yang pro pendirian pabrik dipimpin Lurah Ngarso yang sudah menjadi kaki tangan para pemodal. Sedangkan, warga yang kontra berdiri satu barisan dengan Kodrat, sang tetua adat desa. Masyarakat adat yang kontra menyadari bahwa pabrik semen bisa merusak lingkungan kawasan Gunung Bokong tempat mereka hidup, bertani, dan mencari kehidupan.

Menariknya, penulis banyak mengeksplorasi nuansa lokal dengan pelbagai tradisi yang mewarnai kisah ini. Misalnya, suatu ketika masyarakat yang kontra berdemo di depan kantor Gubernur dengan menggelar pergelaran kuda lumping, dipimpin Kodrat. Namun, pihak yang pro pabrik tak mau kalah. Dengan disokong Lurah Ngarso, beberapa orang menggelar tari Barongan di sebelah pergelaran kuda lumping. Akhirnya, pergelaran keduanya berakhir ricuh karena dua kubu bertikai. Aryo yang meliput kejadian tersebut terluka, sedangkan Kodrat ditangkap pihak keamanan dan dimintai pertanggungjawaban.

Impian warga Gunung Bokong untuk menolak pabrik semen semakin berat ketika pada pemilihan lurah, yang terpilih adalah Gendon yang pro pabrik semen. Sementara itu, banyak warga yang sudah bersedia menjual tanahnya. “Ladang mereka ditambang dan digiling batu kapurnya, hingga menjadi cekukan danau,” keluh Kodrat pada Aryo ketika bebas dari tahanan (hlm 155). Namun, warga tak putus asa, mereka kembali melakukan demonstrasi dengan menggelar tarian Kuda Lumping. Kali ini langsung di depan istana negara dan menuntut untuk bertemu presiden.

Warga juga meminta bantuan pada Kiai Bisri, pengasuh pesantren di Lembah Bayang-bayang, sebelah desa Gunung Bokong. Kodrat meminta Kiai Bisri untuk berkenan hadir bersama warga yang berdemo di depan istana, agar presiden bersedia menemui mereka. Kiai Bistri pun hadir dan bergabung bersama para demonstran dan mengajak mereka berdzikir dan berdoa agar usaha mereka menemukan hasil. Tak lama kemudian, seorang ajudan presiden datang dan mempersilakan Kiai Bistri menghadap presiden.

Dukungan Kiai Bisri pada warga penolak pabrik semen membuat pihak pengembang gusar, termasuk Lurah Gendon. Ia juga iri karena banyak warga lebih menghargai Kodrat ketimbang ia sebagai lurah. Dalam sebuah pertemuan di rumah Kodrat, Lurah Gendon menunjukkan ketidaksukaannya pada Kiai Bisri. “Kenapa Kiai hadir di sini? Kiai selalu memihak Kodrat. Akulah lurah di desa ini. Apa Kiai tak tahu?” kata Gendon (hlm 195). Lurah Gendon bahkan mendorong Kiai Bisri, sehingga menciptakan kegaduhan. Lurah Gendon diusir warga dari rumah Kodrat, sampai akhirnya didemo ratusan santri di depan kantor Bupati. Namun, Kiai Bisri memaafkan Lurah Gendon.

Meski mendapat dukungan Kiai Bisri, pada kenyataannya warga masih melihat aktivitas pabrik semen di lereng Gunung Bokong. Pabrik itu terus beroperasi, sehingga warga kembali melakukan aksi penolakan. Dengan dipimpin Kodrat, kini warga berjalan kaki selama dua hari dari desa menuju kantor gubernur. Namun, usaha mereka kembali menemui jalan buntu. Mereka ditodong senapan aparat keamanan dan diusir kembai ke lembah Gunung Bokong, tanpa bertemu gubernur karena tengah dinas ke luar kota.

“Cermin Jiwa” menjadi judul yang pas. Sebab, novel ini mencerminkan pelbagai sifat manusia; mulai tentang ketamakan, keangkuhan, keserakahan, juga tentang kebeningan hati yang diekspresikan melalui cinta, pengorbanan, adat dan tradisi. Penulis menuturkan kisah dengan kata-kata sederhana yang lembut dan halus, sehingga mudah membuat pembaca terhanyut dalam pebagai belenggu jiwa para tokoh di dalamnya.

Perjuangan warga lembah Gunung Bokong menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Aryo dan Zahra. “Mereka tak bakal kulupakan. Kehidupan mereka serupa dongeng,” ucap Aryo pada Zahra (hlm 244). Di akhir kisah, mereka berdua menikah dan meninggalkan lembah Gunung Bokong. Namun mereka terus mengenang. Mereka menyaksikan bagaimana perjuangan masyarakat dalam membendung kuasa pemodal yang hendak mendirikan pabrik yang bisa merusak bumi tempat mereka menyambung hidup dan bertani.

Akar Sejarah Terorisme Global

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kudeta Mekkah Karya Yaroslav Trovimov

Koran Jakarta | Senin, 12 Februari 2018 | Arinhi Nursecha


Pada 20 November 1979, pagi Mekah yang damai berubah menjadi teror mencekam karena kedatangan komplotan bersenjata di bawah pimpinan Juhaiman al-Utaibi. Mulailah peperangan yang membuat Mekah berlumuran darah. Ini menandai peristiwa krusial bagi dunia Islam dan barat. Kebanyakan muslim Arab Saudi dan sekitarnya, termasuk Osama bin Laden muda, menolak keras pembantaian tersebut dan meruntuhkan loyalitas mereka. Ideologi berapi-api yang diinspirasi orang-orang Juhaiman mencapai puncaknya dalam kelompok bunuh diri al-Qaeda.

Latar belakang 11 September, bom-bom teroris di London dan Madrid, hingga kekerasan mengerikan kaum militan Islam yang merusak Afghanistan dan Irak, semuanya dimulai di pagi November yang panas itu, di bawah bayang-bayang Kabah (Halaman 12).

Kaum nomaden Badui hidup dari menggembala unta dan merampas secara brutal suku-suku lain. Pada pertengahan 1700-an, mereka disebut Wahhabi, lantaran orang-orang berjenggot ini mengikuti seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahhab. Ajarannya tidak rumit. Mereka menuntut kembali pada keyakinan murni sesuai dengan praktik Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Pengikut awal Ibn Abdul Wahhab adalah Muhammad al-Saud. Kombinasi keberanian dan fanatisme dengan cepat menjadi kekuatan utama jazirah Arab. Tahun 1802, mereka menyerang Kota Karbala di wilayah kekuasaan Usmani Irak. Tidak sampai 1813, pasukan ekspedisi Mesir berhasil merebut kembali Mekah dari Wahhabi Saudi atas nama Imperium Usmani.

Januari 1902, Abdul Aziz, kepala suku Bani Saud yang masih muda, memimpin razia kecil dekat Riyadh. Akhir 1920, Abdul Aziz mengokohkan kekuasaannya di hampir semua jazirah Arab. Masalah muncul ketika kaum Ikhwan marah karena Raja Abdul Aziz memberi keleluasaan kaum Syiah dan minta menghentikan jihad melawan kaum heretik. Puncaknya, Raja mulai memperkenalkan barang-barang yang belum pernah ada di Arab, seperti telegraf, telepon, radio, dan mobil.

Tahun 1927, kaum Ikhwan menyerang Irak dan Kuwait yang berada di bawah kendali Inggris. Atas persetujuan Raja Abdul Aziz, Angkatan Udara Inggris mengebom kemah kaum Ikhwan dan Muhajir. Maret 1929, kaum Ikhwan di bawah komando Faisal al-Duwaish dan Sultan al-Bijad kalaha perang Sbala. Tujuh tahun kemudian, seorang veteran Muhammad bin Saif al-Utaibi merayakan kelahiran anak lelakinya. Bayi itu dinamai Juhaiman yang berarti sang pemberenggut (Halaman 25).

Juhaiman berkawan dengan Muhammad Abdullah al-Qahtani. Juhaiman menulis pemikirannya dalam bentuk manuskrip. Satu-satunya penerbit yang mau menerbitkan tulisan Juhaiman adalah Dar al-Talia. Segera, buku kecil biru-hijau setebal 170 halaman berjudul Tujuh Risalah diselundupkan ke Mekah, Madinah, Irak, Iran, dan Mesir. Kaum muda sangat tertaruk pemikirannya.

Terobsesi kedatangan Al Mahdi, Juhaiman membaiat Muhammad Abdullah al-Qahtani sebagai Al Mahdi. Kudeta Mekah berlangsung selama dua pekan dengna korban 270 orang. Namun, pengamat independen mengatakan, jumlah korban lebih dari 1.000. Juhaiman berhasil diringkus. Sedang Muhammad Abdullah al-Qahtani tewas tertembak. Pemerintah Arab Saudi berusaha menghapus tragedi itu dari memori publik.

Materinya sangat sensitif di Arab Saudi. Pemerintah sama sekali tidak mengizinkan akses untuk arsip-arsipnya dan menghentikan penelitian mengenai topik ini (Halaman 322). Ketika Bin Laden berpisah dengan rezim Arab pada 1990-1991, mulai mengulang penolakan Juhaiman terhadap keluarga raja. Invasi Juhaiman merangsang kalangan radikal muslim seluruh dunia dengan banyak cara. Setelah bebas dari penjara Arab, beberapa pengikut Juhaiman bergabung al-Qaeda.

Panduan Mengatasi Luka Psikologis

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Pertolongan Pertama pada Emosi Anda Karya Guy Winch, Ph. D.

Kabar Madura | Rabu, 10 Januari 2018 | Arinhi Nursecha


JIKA Anda bertanya pada seorang anak tentang penanganan demam, ia mungkin akan menyarankan untuk beristirahat dan menghirup sup ayam. Tetapi, tanyalah orang dewasa tentang penanganan rasa sakit akibat penolakan, kesepian, dan kegagalan. Sebagian orang akan menjawab cara terbaik adalah dengan mengungkapkan perasaan kepada keluarga atau teman. Namun bagi sebagian lain, cara ini justru berbahaya karena dapat memunculkan kembali rasa tak nyaman.

Buku ini membahas tentang tujuh luka psikologis yang biasa kita alami dalam kehidupan sehari-hari: penolakan, kesepian, kehilangan, rasa bersalah, ruminasi, kegagalan, dan rasa rendah diri. Setiap bab dalam buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama tentang luka psikologis yang disebabkan oleh setiap luka. Bagian kedua berisi berbagai penanganan yang bisa dilakukan sendiri, pedoman penanganan secara umum, kapan teknik yang dianjurkan harus dilakukan, juga ringkasan penanganan dan “dosis” yang disarankan. (Halaman 8)

Dari semua luka emosional dalam hidup, mungkin penolakan adalah yang paling sering kita alami. Penolakan dapat menyebabkan empat luka psikologis, seperti rasa sakit emosional, kemarahan dan serangan, rasa percaya diri yang jatuh, juga mengancam kebutuhan seseorang untuk menjadi bagian dari suatu kelompok. Beberapa penanganan yang dapat dilakukan di antaranya berdebat dengan kritik terhadap diri sendiri, membangkitkan kembali harga diri Anda, memulihkan perasaan akan hubungan sosial, dan peka terhadap diri sendiri.

Media sosial memudahkan kita terhubung dengan puluhan bahkan ratusan orang sekaligus. Namun orang yang menderita karena kesepian justru semakin banyak. Kesepian memiliki pengaruh yang memprihatinkan terhadap kesehatan secara umum. Rasa kesepian mampu mengubah sistem kardiovaskular (mengakibatkan tekanan darah tinggi, meningkatkan indeks massa tubuh, dan kolesterol tinggi), sistem endokrin (meningkatkan hormon stres), dan bahkan sistem imunitas kita. Kesepian mempunyai faktor risiko yang sama besar dengan merokok. (Halaman 69)

Kesepian dapat diatasi dengan menyingkirkan kacamata Anda yang diwarnai pikiran negatif, mengenali perilaku yang mengalahkan diri sendiri, menggunakan perspektif orang lain, mempererat ikatan emosional, menciptakan peluang untuk menjalin hubungan sosial, dan mengadopsi teman baik. Rasa kehilangan dan trauma menciptakan empat luka psikologis. Mereka menyebabkan munculnya rasa sakit emosional, meruntuhkan rasa identitas kita yang mendasar, serta peran yang kita mainkan dalam hidup, mereka mengganggu sistem keyakinan dan pemahaman kita tentang dunia, mereka juga meragukan kemampuan kita untuk tetap ada dan terlibat di dalam hubungan yang penting. (Halaman 144)

Penanganan yang dilakukan dapat berupa menenangkan diri lewat cara Anda, memulihkan aspek yang hilang dari “diri” Anda, dan menemukan makna di dalam tragedi.

Rasa bersalah adalah tekanan emosional yang sangat umum, disebabkan oleh keyakinan bahwa kita akan atau telah melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada orang lain. Fungsi utama rasa bersalah tak ubahnya sinyal. Kita menanggapi sinyal ini dengan mengevaluasi kembali rencana perbuatan atau meminta maaf kepada mereka yang tersakiti.

Tetapi, ada saatnya rasa bersalah bertahan dan menjadi penghuni yang tidak diinginkan. Meskipun perasaan bersalah bisa menjadi pahlawan untuk kesalahan kecil, untuk kesalahan besar ia justru menjadi penjahat psikologis yang meracuni ketenangan maupun suatu hubungan. Banyak di antara mereka yang diliputi rasa bersalah sangat berat juga menderita gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder). Rasa bersalah yang bertahan sering kali diperparah oleh keadaan. Rasa bersalah dapat menyebabkan seseorang menyalahkan diri sendiri dan hubungan yang diblokir.

Sejumlah bab lain yang tak kalah menarik untuk disimak yaitu ruminasi, kegagalan, dan rasa rendah diri. Setiap bab dijelaskan dengan gamblang, beserta contoh peristiwa yang dialami langsung pasien si penulis atau refleksi kejadian di sekitar kita. Penanganan masalah di masing-masing bab dibagi dalam beberapa kategori alfabetis tergantung tingkat keparahannya. Menjadi dokter-diri yang baik berarti harus menyusun pedoman pemeliharaan kesehatan jiwa, dan bila memungkinkan berusaha membuat lemari obat Anda sendiri. Jika luka emosional Anda begitu berat sehingga mendorong untuk melukai diri sendiri maupun orang lain, segeralah berkonsultasi dengan ahli kesehatan jiwa.

Memanfaatkan Kisah-Kisah Inspiratif sebagai Peneguh Iman

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Si Markum dan Kisah-kisah Peneguh Iman Karya Zaenal Radar T.

Kabar Madura | Rabu, 22 November 2017 | Izzatul Maula Shalehah

 

Akhir-akhir ini, pola kesukaan keterbacaan generasi Indonesia rupanya mengalami perubahan cukup signifikan. Jika generasi saya yang lahir tahun 1980-an mempunyai kecenderungan membaca buku-buku ilmiah dan sastra yang cukup serius, maka generasi milenia kini cenderung meninggalkan buku-buku serius dan beralih pada kisah-kisah ringan namun tetap penuh gugah. Disinyalir, perubahan alur keterbacaan tersebut karena dipengaruhi oleh kondisi zaman yang penuh teknologi cyber, lebih-lebih hadirnya situs-situs keterbacaan yang membantu memudahkan mengakses literasi sesuai selera mereka, walau cara ini membikin pola pikir menjadi instan.

Fenomena di atas ternyata disikapi dengan sigap oleh penulis-penulis buku dan penerbit-penerbit di negeri ini. Lihat saja di gerai-gerai buku terkenal tanah air, stok buku yang berjejer di situ sebagian besar adalah buku-buku kisah penuh inspiratif yang selalu menggugah jiwa pembacanya. Dan tentus saja, selalu mencapai best seller.

Tanpa disadari, peralihan pola baca tersebut telah mengangkat konten keterbacaan yang berisi sejarah pada kondisi yang cukup mendalam. Tahap inilah, sejarah mempunyai minat tersendiri tanpa harus berkutat dengan pembelajaran dalam kelas yang terkadang bikin dongkol peserta didik. Dan secara bertahap pula, ibroh-ibroh dalam al-Qur’an, yang dengannya al-Qur’an berisi konten terbesar, mulai menjadi menu keterbacaan menghibur yang pengaruhnya begitu kuat dalam era ini. Tentus saja, hal ini akan berdampak positif untuk generasi digital, yang bisa meneguhkan iman labil mereka.

Suksesnya buku-buku kisah inspiratif mencapai pangsa pasar pada generasi milenia, telah menyebabkan buku-buku jenis ini laris manis. Apalagi, sang penulis dan penerbitnya, mengemas kisah-kisah tersebut dalam bentuk novel atau cerpen, sehingga generasi ini telah terbantu mencintai dunia sastra, walau dengan aliran tersendiri, yaitu sastra beraliran tasawuf, yang menekankan pada ketergugahan jiwa-jiwa pembacanya. Rupanya, kelekar Prof. Robert T. Kiyosaki, yang mengatakan bahwa cerita atau kisah itu adalah daya ungkit, telah dipahami secara baik oleh para penulis dan penerbit, sehingga berbondong-bondong menulis dan menerbitkan berbagai kisah penuh inspiratif itu.

Dalam hal ikut menyemarakkan buku-buku penuh kisah menarik yang sedang bomming tersebut, seorang penulis cerpen terkenal secara nasional, ikut menyuguhkan ide-ide kreatifnya untuk dinikmati bersama. Inilah buku ‘Si Markum dan Kisah-Kisah Peneguh Iman’ hadir di tengah kita. Buku karya Zaenal Radar T. ini mengelaborasi berbagai kisah bersumber pada nilai-nilai agama secara menarik yang dikemas secara fiktif dalam bentuk cerita pendek.

Buku ini dibagi dalam dua shaf, demikian penulis menamakannya. Shaf pertama, berisi 17 kisah berlandaskan pada nilai-nilai agama Islam yang sangat kental, baik secara akidah, syariah dan tasawuf/akhlak. Adapun shaf kedua, berisi 17 kisah inspiratif, plot dan setting cerita berupa kritik sosial dan perilaku sosial lainnya, namun nuansa keagamannya tetap kuat. Maka wajar, Zaenal mengatakan bahwa bukunya dapat meneguhkan iman pembacanya, sebab ke-34 cerita yang ada dalam buku ini memang sangat menggugah jiwa orang-orang yang haus akan keimanan itu sendiri.

Suatu misal, dalam shaf pertama, Zaenal menulis cerita dengan judul ‘Markum Mengejar Laitaul Qadar’ (hal. 108). Digambarkan betapa si Markum ingin sekali bertemu dengan malam seribu bulan itu. Berbagai upaya telah Markum siapkan, namun setelah beri’tikaf di masjid Markum malah ngorok, tertidur. Markum sedih tak bertemu malam yang paling mulai itu. Namun, ia tak mudah putus asa, di malam 27 Ramadhan ia beri’tikaf lagi. Kali ini ia tak tertidur, namun tiba-tiba listrik PLN mati. Dalam kegelapan malam, ia khusu’ berdoa minta apa saja selagi ia ingat. Ia ingin menguji betul keampuhan lailatul qadar tersebut (hal. 113-114).

Dalam shaf kedua, Zaenal menulis kisah dengan judul ‘Pernikahan Ibu’ (hal. 269). Kisah ini menggelitik sebab sang ibu yang mau menikah itu telah berusia senja. Mempunyai sebelas cucu, bahkan beberapa anaknya telah memiliki menantu (hal. 271). Namun, karena alasan sang ibu merasa kesepian hidup menjanda seorang diri, akhirnya sang ibu tetap ngotot mau menikah lagi. Akan tetapi, di alur cerita terakhir, sang ibu sebenarnya mau bikin kejutan pada anak bungsunya yang sampai menjelang umur 30 tahun masih tak ada kaum lelaki mendekat hal. 278). Artinya, pesta pernikahan itu bukan pesta penikahan ibunya, tapi semata-mata hanya untuk anak bontotnya yang penakut untuk kenal pada laki-laki, apa lagi hendak berpacaran. Akhirnya, sang anak berjodoh dengan lekaki pilihan sang ibu, dan hidup bahagia, persis gadis-gadis Madura yang ditunangkan oleh orang tua mereka, menikah dan berakhir bahagia.

Konten buku ini memang pas diresapi oleh generasi milenia, namun tak tutup kemungkinan, buku ini perlu dimiliki oleh siapa pun juga kalangan pembaca tua, buat cerita anak-anaknya sebagai pengantar tidur. Jelas sekali, bermanfaat sebagai kisah penuh inspiratif untuk meneguhkan iman kita bersama.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL