You are here Info Buku

Resensi Buku

Menyelesaikan Masalah dengan Kasih

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Maysuri Karya Nadjib kartapati Z.

Koran Seputar Indonesia | Minggu, 12 Februari 2017 | Al Mahfud

 

BENCI, amarah, dan dendam tak akan bisa mengatasi persoalan. Kita mesti memiliki kemampuan memandang setiap problem dengan pikiran jernih dan cinta.

Cinta membuat seseorang berpikir positif dan memandang setiap persoalan hidup sebagai tangga menuju kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut bisa dikatakan merupakan garis besar yang tersirat dari novel berjudul Maysuri karya Nadjib Kartapati. Nadjib, sastrawan sekaligus penulis skenario film yang telah memenangkan bermacam penghargaan ini menyuguhkan kisah menarik tentang pergulatan manusia dalam memandang persoalan hidupnya. Maysuri, gadis muslimah cerdas yang dihadapkan pada persoalan hidup rumit sekaligus menyakitkan.

Seorang perempuan paruh baya bernama Suryani tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ibunya. Pak Fandi, ayah Maysuri yang melihat kedatangan perempuan tersebut, segera mengusirnya. Itu membuat Maysuri makin penasaran, siapa perempuan paruh baya itu sebenarnya? Setelah terusmenerus didesak, Pak Fandi akhirnya mengaku jujur bahwa perempuan tersebut memang ibu kandung Maysuri. Namun, Pak Fandi melarang keras Maysuri berhubungan dengan Suryani.

Sebab, mantan istrinya tersebut dulu telah berkhianat padanya dan lebih memilih menjadi perempuan penghibur demi materi berlimpah—hal yang waktu itu belum bisa diberikan Pak Fandi sebagai seorang guru. Suryani lupa diri sebagai seorang istri dan memilih meninggalkan suami dan anaknya demi kesenangan dan kemewahan. Maysuri jelas terpukul mengetahui bahwa Asruni, ibu yang telah mengasuhnya sejak kecil sampai lulus kuliah, ternyata bukan ibu kandungnya. Ibu kandungnya adalah Suryani, wanita penghibur yang meninggalkannya sejak kecil.

Kegalauan Maysuri tak berhenti di sana. Ia sedang menjalin hubungan dengan Buroqi, pemuda yang berasal dari keluarga terhormat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana harus menjelaskan kepada Buroqi, terutama kepada keluarganya, tentang latar belakang ibu kandungnya tersebut. Tentu itu akan sangat memalukan bagi keluarga Buroqi yang menganggap Maysuri berasal dari keluarga baikbaik. Kisah kemudian bergulir ke bagian-bagian menegangkan ketika persoalan-persoalan yang mendera Maysuri mulai diketahui Buroqi dan kedua orang tuanya.

Cinta

Setelah perdebatan panjang dengan ayahnya, Maysuri dihadapkan pada pilihan dilematis; melupakan Suryani, ibu kandungnya, dan tetap tinggal bersama ayahnya (dan Asruni, ibu tirinya), atau mencari Suryani dan meninggalkan rumah. Dengan dorongan cinta dan kesadaran berbuat sesuatu untuk orang yang telah melahirkannya, Maysuri memilih mencari ibunya. Ia tak ingin ikut membenci ibu kandungnya seperti yang dilakukan sang ayah.

Meski sudah ditinggal seperempat abad oleh ibunya hanya untuk mengejar kesenangan dan harta, Maysuri tetap terdorong untuk menemuinya. Maysuri mengambil langkah berani. Setelah meyakinkan Suryani, ibu kandungnya, agar meninggalkan dunia hitam, ia meninggalkan ayahnya dan ibu tirinya, kemudian bekerja sebagai seorang tutor privat, utang dari yayasan tempatnya bekerja untuk menyewa rumah dan tinggal bersama ibu kandungnya tersebut. Maysuri tak sekadar mengajak Suryani meninggalkan kemaksiatan. Sebagai seorang gadis muslimah yang taat, ia juga menuntun ibu kandungnya tersebut ke jalan yang benar; mengajarinya salat, mengaji, memakai pakaian yang lebih sopan, dll. Keberanian tersebut membuka mata hati sang ayah.

Pak Fandi kagum dan sadar bahwa putrinya telah mengajarinya sesuatu. “Ayah menyadari bahwa orang tak boleh memandang sesuatu dengan kebencian” (hlm 298). Kisah berakhir bahagia (happy ending). Bersama Suryani, ibu kandungnya, Maysuri menerima kedatangan sang ayah dan Asruni, ibu angkatnya. Mereka saling memaafkan dan menerima satu sama lain. Kemudian, kedua orang tua Buroqi yang sempat melarang hubungan mereka— sebab tahu latar belakang kelam ibu kandung Maysuri, akhirnya merestui hubungan keduanya.

Novel ini seperti paket lengkap yang dipersembahkan penulis. Selain tentang pentingnya mengesampingkan ego dan kebencian serta mengedepankan cinta dan nurani kemanusiaan dalam memandang persoalan, kisah ini juga menyimpan berbagai pesan penting lain tentang kehidupan.

Menelusuri Penjelajahan China Menemukan Dunia

Surel Cetak PDF

Resensi Buku 1421: Saat China Menemukan Dunia Karya Gavin Menzies

Harian Bhirawa | Jumat, 23 Desember 2016 | Muhammad Khambali


Bermula dari keisengan Gavin Menzies menggumuli peta-peta kuno, secara kebetulan saat berkunjung ke Perpustakaan James Ford Bell di Universitas Minnesota, Amerika Serikat, menemukan sebuah peta bertuliskan tahun 1424 dan ditandatangani oleh seorang pembuat peta dari Venesia bernama Zuane Pizzigano. Peta tersebut memperlihatkan beberapa pulau yang setelah ia telisik merupakan pulau-pulau di kepulauan Karibia, Puerto Rico dan Guedepole. Hal itu mengejutkannya karena berarti seseorang telah menjelajah kepulauan tersebut sebelum Columbus singgah di Karibia. Tetapi siapakah yang telah melakukan penjelajahan sebelum Columbus?

China telah berlayar ke Amerika sekitar tujuh puluh tahun sebelum Columbus. Demikianlah sebuah klaim yang bukan saja mengundang kontroversi, tetapi tentu menjengkelkan para sejarawan dan akademisi. Bukan hanya Amerika, tetapi pada abad ke XV, tepatnya dalam rentang tahun 1421-1423, yang artinya jauh sebelum orang-orang Eropa, armada laut China telah berlayar selama dua tahun mengelilingi pantai Afrika, Australia, Selandia Baru dan Antartika. Bahkan, ketika Columbus dan para tokoh penjelajah Eropa lain datang ke dunia baru tersebut, dikatakan hanya mengekor jalur pelayaran berdasarkan salinan peta China.

Semua itu diutarakan Gavin Menzies lewat bukunya, 1421: Saat China Menemukan Dunia. Dalam pandangan Menzies, luputnya catatan sejarah mengenai penjelajahan China disebabkan pada pertengahan abad ke XV hampir semua peta dan dokumentasi China pada saat itu dengan sengaja dimusnahkan oleh pengadilan China karena perubahan politik luar negeri yang terjadi tiba-tiba. Jauh dari mengarungi dunia luar, setelah momen tersebut China berkonsentrasi dengan dirinya. Segala sesuatu untuk mengenang para penjelajah China terdahulu telah terlupakan dalam sejarah (hlm. 7).

Pada tahun 1421, China dipimpin seorang kaisar bernama Zhu Di. Ia adalah seorang megalomaniak yang ingin menjadikan China sebagai, “Kerajaan maritim, yang merentang samudra” (hlm. 22). Zhu Di memilih Zheng He atau yang dikenal sebagai Cheng Ho sebagai kepala komandan armada laut China. Untuk mewujudkan ambisinya, Zhu Di menyiapkan ribuan kapal baru. Ketika itu, nyaris dalam setiap hal, kapal-kapal China berada satu abad di depan Eropa.

Laksamana Cheng Ho tidak akan kesulitan untuk memusnahkan armada laut yang menghalangi jalannya. Peperangan armada China dengan armada lain di dunia bagaikan sekumpulan hiu menghadapi gerombolan ikan teri (hlm. 39). Bukan itu saja, China telah mempunyai pengalaman lebih dari enam abad dalam navigasi lautan. Pada abad ke XV, kapal paling kuat, bahkan terbesar, adalah kapal layar China (hlm. 56). Dibawah komando laksamana Cheng Ho, buku ini mengisahkan pelayaran Hong Bao, Zhou Man, Zhou Wen dan Yang Qing menjelajahi samudra dan benua.

Dalam buku ini diutarakan bahwa terbatasnya bukti-bukti kuat yang mendukung armada laut China telah menjelajahi bumi sebelum bangsa Eropa sempat membuat Menzies khawatir. Menzies menyatakan telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengelilingi dunia di jalur perjalanan eksplorasi bangsa China. Ia meneliti arsip, museum dan perpustakaan, mengunjungi monumen kuno dan pelabuhan tua, serta mengeksplorasi tanjung berbatu, karang koral, pantai dan pulau terpencil. Tak hanya itu, ia juga mendapati pelbagai bukti fisik seperti porselen China, sutera, artefak, batu pahatan, dan bangkai kapal China yang ditemukan di pesisir Amerika, Australia, dan Kepulauan Pasifik. Selain itu, bagi Menzies bukti yang paling nyata, bahwa hampir semua tanaman penting pertanian telah menyebar ke seluruh dunia sebelum Columbus memulai pelayaran pertamanya (hlm. 353).

Sayangnya buku ini banyak berupa klaim dan asumsi subjektif Menzies, serta terbatasnya catatan kaki dari sumber-sumber primer. Menzies sendiri tanpa sungkan mengakui pengetahuannya tentang sejarah dan budaya China sangat terbatas. Tetapi pengetahuan dan keterampilan yang ia peroleh bertahun-tahun sebagai navigator dan penjabat komando di laut menjadi berguna, yang menurutnya tidak dimiliki para akademisi dan sejarawan. Menzies berdalih, “Jika saya bisa menjelaskan dengan gamblang jalur yang telah dilalui oleh armada laut China, itu karena peta dan bagan yang masih ada dan pengetahuan saya tentang arah angin dan kondisi laut yang mereka hadapi menjelaskan rutenya dengan tepat kepada saya, seakan-akan ada petunjuk yang tertulis di sana” (hlm. 74).

Tidak kurang dari lima puluh tahun waktu yang Menzies habiskan untuk merampungkan buku ini. Barangkali semua klaim Menzies patut diperdebatkan dan untuk dapat dianggap sebagai kebenaran sejarah yang utuh masih membutuhkan bukti-bukti sahih. Tetapi setidaknya, buku ini adalah upaya mendobrak sejarah yang melulu sudut pandang Barat (Western). Melalui buku ini, Menzies mencoba menulis ulang sejarah, bahwa bukan Columbus, da Gama, Magellan dan Cook yang pertama kali menjelajah dunia. Dan seturut Menzies, jika mereka dapat melihat lebih jauh dari yang lain, itu karena mereka berdiri di atas pundak raksasa!

Mencintailah Sewajarnya

Surel Cetak PDF

Resensi buku Dua Wajah Dua Cinta karya Abhie Albahar

Koran Sindo | Minggu, 18 Desember 2016 | Al-Mahfud

 

Cinta bisa membawa seseorang pada kebahagiaan, namun tak jarang menjerumuskan ke lubang penderitaan. Karena cinta, orang bisa mendapatkan tenaga dan kekuatan lebih dalam menghadapi kesulitan apa pun.

Dengan cinta pula, orang bisa menjadi sangat lemah dan seakan tak berdaya. Abhie Albahar, penulis novel yang sudah menulis lebih dari 300 naskah FTV, lewat novel ini menghadirkan kisah yang bisa membuat kita lebih bijak dalam mencintai. Kita tak disuguhi perjuangan meraih cinta sejati atau haru-biru cinta yang tak bisa menyatu. Dengan kemampuannya merangkai alur kisah yang mengaduk-aduk perasaan, Abhie membawa kita pada kegalauan seorang lelaki yang terjebak di antara cinta ibundanya dan istrinya.

Adalah Haikal, seorang dokter berparas tampan. Ia sangat menyayangi ibundanya, Ibu Aminah. Ibu yang sudah merawatnya sejak kecil seorang diri sejak ayahnya meninggal. Ibu Aminah juga sangat mencintai Haikal dan tak pernah mau berpisah dengan putra yang sangat dicintainya tersebut. Ketika tiba saatnya Haikal menikah dan memiliki seorang istri, kecintaan sang ibu yang sangat besar mulai memunculkan persoalan. Naia, istri Haikal, mulai merasa aneh sejak hari pertama. Sebagai istri, ia ingin menunaikan kewajiban mengurus rumah tangga. Namun, mertuanya, Ibu Aminah, seperti tak mau kalah dan selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.

Bahkan, saat malam hari, ketika Naia bersiap melayani suami, Ibu Aminah sering tiba-tiba mengetuk pintu. ”Kalau boleh, izinkan ibu tidur bersama kalian. Ibu merasa kesepian. Lagian, ibu kurang enak badan. Kalian tak keberatan kan kalau ibu tidur beesama kalian?” (h 23). Haikal tak bisa berbuat banyak. Lagipula, ia sangat menyayangi ibunya. Keadaan tersebut terus berlangsung dan membuat Naia semakin gelisah. Naia awalnya mencoba memahami keadaan ibu mertuanya yang kesepian. Namun, semakin lama ia tak betah. Naia merasa disiasiakan oleh suaminya sendiri.

Puncaknya, saat para tetangga mulai menggunjingkan Naia yang tak kunjung hamil dengan dugaan-dugaan yang tak sedap didengar. ”Semua ini karena ibu! Kalau saja ibu tak terlalu posesif pada Mas Haikal, saya pasti sudah hamil. Sekarang bagaimana saya bisa hamil kalau Mas Haikal tak pernah menyentuh saya. Dan, itu semua gara-gara Ibu yang selalu hadir di kamar kami setiap malam,” ucap Naia tak tahan. Namun, Ibu Aminah tak mau kalah. Ia merasa sikapnya merupakan hal yang wajar sebagai ibu. Konflik tak bisa dihindari.

Akhirnya, Naia pergi dari rumah Haikal dan pulang ke rumah ibunya. Setelah mendapatkan nasihat dari dua orang tuanya, Naia akhirnya sadar dan kembali pulang, kemudian rujuk dengan ibu mertuanya. Haikal dan Naia bahkan kemudian berbulan madu dengan menyewa vila sehingga bisa menikmati masa indah berdua. Namun, cobaan seakan tak berhenti mendera rumah tangga Haikal dan Naia. Suatu malam, saat Haikal mendapat tugas jaga malam di rumah sakit, Naia mengalami kejadian memilukan saat tidur sendirian. Sesosok tak dikenal berhasil mencongkel jendela dan masuk ke kamarnya, kemudian menodainya. Musibah tersebut sempat tepergok Ibu Aminah. Naia merasa dirinya sangat kotor.

Meskipun mereka sepakat merahasiakan kejadian tersebut pada Haikal, Naia tetap merasa sangat bersalah sudah mengecewakan suaminya. Tak lama kemudian, Naia pun hamil. Naia dan Haikal bahagia mengetahuinya. Namun, tidak dengan Ibu Aminah. Ia merasa, janin yang dikandung menantunya bukan darah daging Haikal. Ibu Aminah masih sering terbayang kejadian suatu malam yang menimpa menantunya sehingga trauma dan mengganggu psikologisnya. Sampai-sampai Ibu Aminah sering berhalusinasi tentang ihwal buruk dalam rumah tangga putranya.

Keterpurukan membuat Ibu Aminah nekat pergi dari rumah, dan membuat Haikal marah besar karena menganggap Naia telah mengusirnya. Naia kemudian berhasil menemukan Ibu Aminah di sebuah panti jompo dan memohon agar menjelaskan semua kepada Haikal agar rumah tangganya bisa diselamatkan. Novel ini menguras emosi. Kita diajak melihat cinta seorang ibu kepada anaknya yang harus dibenturkan dengan cinta seorang istri kepada suaminya— yang membuat dilema seorang lelaki ketika ibunda dan istrinya bertikai. Tak ada yang sepenuhnya salah dan tak ada yang sepenuhnya benar.

Sebagai seorang ibu, Ibu Aminah wajar mencintai putra satu-satunya. Terlebih, ia membesarkannya sejak kecil seorang diri. Di sisi lain, sebagai istri, Naia memiliki kewajiban melayani suaminya dan mendapatkan kasih sayang darinya.

Membentengi Remaja dari Konten Negatif

Surel Cetak PDF

Resensi buku 30 Cara dalam 30 Hari Menyelamatkan Keluarga Anda karya Rebecca Hagelin

Samarinda Pos | Sabtu, 19 November 2016 | Al-Mahfud


Di era kecepatan teknologi informasi sekarang ini, bisa dikatakan konten media digital menjadi hal yang paling memengaruhi kehidupan remaja. Hampir setiap saat, remaja kita melihat berbagai konten dari perangkat di genggaman mereka; gadget, iPods, tablet, dll. Konten-konten digital itu beragam, mulai berbentuk gambar, video, lagu atau suara, teks, dll. Masalahnya, tak sedikit konten yang cenderung berisi hal-hal negatif seperti kekerasan, percintaan yang mengarah ke seks, pornografi, peperangan dan kejahatan.

Lewat buku ini, Rebecca Hagelin, seorang kolumnis masalah keluarga, budaya, dan isu-isu media, berusaha membuka mata kita untuk menyadari bahaya berbagai konten media dewasa ini. Menurut sebuah laporan yang dikutip buku ini, remaja masa kini menghabiskan waktu 6,5-8,5 jam setiap hari di media dengan beberapa hal yang dilakukan sekaligus (misalnya, mendengarkan iPods sambil berselancar di internet atau bermain game sambil menonton televisi). Masalahnya, banyak orang tua yang tak tahu dengan bahaya yang mengancam anak remaja mereka lewat interaksinya dengan berbagai konten media tersebut.

Untuk mengungkap hal tersebut, Hagelin tak sekadar menyebutkan bahaya konten media bagi remaja, namun ia mencoba merunut persoalan dari akarnya; yakni mengajak kita memahami bagaimana cara atau strategi para pemasar produk atau konten media dalam membidik para anak muda kita. Dari sana, orang tua akan melihat inti persoalan dan bisa menentukan langkah yang bisa diambil secara lebih tepat dan efektif agar anak terhindar dari dampak buruknya.

Menurut Hagelin, kebanyakan pemasar membidik remaja dengan membangkitkan hormon mereka yang masih menggelora dan emosi yang mudah menggelegak dengan membuat acara-acara atau konten yang merangsang hingga memicu adrenalin dan membuat ketagihan. Para pemasar juga mengajarkan pandangan hidup yang sangat materialis, yang membuat anak-anak muda percaya bahwa kebahagiaan bisa ditemukan lewat pakaian baru yang bergaya, musik “panas” terbaru, permainan (game) baru yang mengasyikkan, dll (hlm 54-57).

Iklan memiliki andil besar dalam memengaruh remaja. Jadi, Setiap orang tua perlu memberi bekal anak dalam memandang iklan. Menangkal pengaruh iklan media bisa dilakukan dengan membantu anak mempelajari iklan itu sendiri. Penulis memberi beberapa pertanyaan yang bisa diajukan orang tua pada anak remaja mereka dalam mempelajari iklan. Misalnya, “Apa yang sebenarnya dijual pihak sponsor? Apakah produk itu sendiri? Atau hanya image yang dikaitkan pada produk tersebut?” atau “Apakah saya benar-benar membutuhkan produk ini? Atau pihak sponsor sekadar menciptakan kebutuhan untuk produk ini?” (hlm 60-61).

Selain iklan, remaja juga sangat dipengaruhi otokoh idola mereka. Penting bagi orang tua memberi pengertian tentang makna pahlawan yang patut diidolakan anak. Janet, pengajar sistem sekolah di New York pernah melakukan penelitian dengan meminta anak-anak didiknya menggambar wajah sosok idola yang ingin mereka tiru ketika dewasa. Janet terkejut melihat gambar-gambar yang muncul; Madona, 50 Cent, James Bond, dll. Bahkan ada murid yang ingin menjadi “pembunuh bayaran” (hlm 254). Betapa mengkhawatirkan pengaruh konten media bagi perkembangan anak.

Membangun karakter

Orang tua sebaiknya bukan fokus pada membolehkan atau melarang. Namun lebih pada menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai moral yang harus dipegang agar menjadi karakternya hingga dewasa. Orang tua harus banyak berkomunikasi untuk membangun kesadaran agar anak menjauhi sesuatu bukan karena dilarang, namun karena memang sadar dampak negatifnya. Misalnya, saat mendampingi anak menonton televisi dan muncul adegan tak layak ditonton, orang tua harus menjelaskan pada anak. “Tujuan Anda adalah membantu mereka (anak) menumbuhkan pemahaman dan penilaian secara bertahap agar mereka mampu berdiri sendiri dalam mengambil keputusan-keputusan yang dilandasi moral” (hlm 24-25).

Penulis juga menekankan pentingnya orang tua agar aktif mengambil peran dalam pendidikan anak. Orang tua tak boleh lepas tangan dengan hanya membiayai anak sekolah dan menyerahkan anak sepenuhnya pada guru. Selain membangun lingkungan keluarga yang hangat dan komunikatif, penting bagi orang tua melakukan tindakan-tindakan detail. Seperti memastikan keamanan konten-konten dalam perangkat yang dipakai anak remaja, membaca isi buku pelajaran anak, sampai berinteraksi dan berkoordinasi dengan para guru di sekolah.

Buku ini merupakan panduan penting bagi para orang tua modern dalam mendidik anak, terutama dalam menghindari dampak negatif konten media. Rebecca memberi pahaman mendalam; meneropong masalah dari akarnya kemudian memberikan solusi cerdas berbekal pengalaman sebagai penulis sekaligus orang tua dari 3 anak. Meski latar permasalahan yang diteropong penulis adalah di negara Amerika Serikat, namun informasi, pengetahuan, dan berbagai kiat yang diberikan sangat relevan dijadikan bacaan bagi siapa pun dan di negara mana pun—untuk menghadapi derasnya arus informasi di media saat ini.

Kajian Kritis tentang Konsep Negara Islam

Surel Cetak PDF

Resensi buku Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam karya Dr. Abdul Aziz, MA

Suara Merdeka | Selasa, 08 November 2016 | Supriyadi


KAJIAN tentang Islam telah menorehkan berbagai disiplin keilmuan. Agama yang dibawa oleh Muhammad saw dari Jazirah Arab, ini memang menarik perhatian para pakar, baik muslim maupun nonmuslim.

Tidak hanya dari segi religius-spiritual, Islam juga menyentuh ranah sosial, bahkan politik kenegaraan. Ranah politik kenegaraan itulah yang diuraikan Dr Abdul Aziz, MAdalam bukunya yang berjudul Chiefdom Madinah; Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam, ini.

Dengan menggunakan pendekatan sejarah yang kritis serta berdasarkan literatur-literatur yang kaya data, buku ini memberikan gambaran cukup jelas perihal isu-isu negara Islam yang didengungkan oleh beberapa gerakan umat Islam, termasuk di Indonesia.

Buku ini menguji kesahihan konsep negara Islam melalui kajian historis secara kritis. Jika pandangan tertuju pada sejarah Muhammad saw dalam membangun umat, maka keteladanan dalam hal itulah yang berusaha diimplementasikan di era kini. Perbedaan memang suatu keniscayaan. Tapi keteladanan dari Nabi Muhammad untuk merangkul perbedaan tersebut tidak boleh ditinggalkan.

Berbagai kabilah (yang berbeda-beda) di semenanjung Arabia bersatu di bawah komando sang pewarta risalah untuk membentuk masyarakat berlandaskan hukum dari Tuhan. Gugatan terhadap bentuk negara kekhalifahan/kesultanan tidak terbatas berkembang di antara para pemikir Arab, melainkan di banyak kalangan pemikir Muslim yang telah bersentuhan dengan gagasan nasionalisme.

Ketegangan antara pemikir kekhalifahan/kesultanan dengan nasionalisme bisa jadi berbeda intensitasnya antara satu dengan lain wilayah sesuai pengalaman sejarah kaum Muslim sendiri di masing-masing wilayah mereka. (hal 94). Polemik tersebut cukup menguras pikiran. Tidak jarang pula masyarakat awam mengalami kebingungan tentang gerakan khilafah atau realisasi negara Islam tersebut.

Meski demikian, hal itu tetap menjadi magnet bagi para pakar dan pemikir untuk turut berkomentar. Pada dasarnya, perbedaan utama adalah tentang pemahaman kesejarahan Islam di era awal, yakni ketika Muhamamd menyeru umat manusia untuk memeluk Islam.

Ajaran yang disampaikannya sangat cepat menyebar sehingga pengikutnya semakin banyak. Tidak sedikit yang menilai bahwa hal itulah yang menjadi muara pemahaman bahwa Muhammad tengah membangun sebuah negara Islam di Madinah (negara Madinah).

Bagi pengusung negara Islam, mereka menganggap bahwa penegakan kekhilafahan/ kesultanan atau negara Islam adalah keteladanan dari Nabi Muhammad. Dengan begitu, mereka beranggapan membentuk negara Islam adalah tuntutan dari iman.

Aspek Historis

Perlu digarisbawahi bahwa Islam sesungguhnya bukan negara, melainkan agama. Perlu dibedakan pula mana aspek teologis-spiritual dengan aspek historis. Upaya Nabi Muhammad membentuk komunitas sejatinya adalah aspek historis.

Sementara itu, aspek teologis-spiritual dalam hal ini adalah dakwah dan syiar ajaran Islam agar terinternalisasi di hati umat manusia. Hanya saja, dua hal ini sering sekali dipersepsikan sama.

Dengan pendekatan sejarah, buku ini pun turut memberi kritikan terhadap gerakan yang berupaya mendirikan negara Islam. Tentu saja dilakukan dengan analisis berdasarkan data-data yang tidak sedikit.

Analisis kesejarahan memang penting adanya karena untuk mengetahui asbab al-nuzul dan asbab al-wurud guna menguji autentisitas ajaran dari teks-teks keislaman tentunya juga menggunakan pendekatan sejarah.

Buku ini mengajak para pembaca untuk lebih kritis terhadap kajian tentang Islam sebagai negara. Lebih spesifik lagi, buku ini menjadi referensi yang patut dikembangkan lebih lanjut guna menguji kesahihan negara Islam yang coba diterapkan di era kini dan mendatang.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL