You are here Info Buku

Resensi Buku

Akar Sejarah Terorisme Global

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kudeta Mekkah Karya Yaroslav Trovimov

Koran Jakarta | Senin, 12 Februari 2018 | Arinhi Nursecha


Pada 20 November 1979, pagi Mekah yang damai berubah menjadi teror mencekam karena kedatangan komplotan bersenjata di bawah pimpinan Juhaiman al-Utaibi. Mulailah peperangan yang membuat Mekah berlumuran darah. Ini menandai peristiwa krusial bagi dunia Islam dan barat. Kebanyakan muslim Arab Saudi dan sekitarnya, termasuk Osama bin Laden muda, menolak keras pembantaian tersebut dan meruntuhkan loyalitas mereka. Ideologi berapi-api yang diinspirasi orang-orang Juhaiman mencapai puncaknya dalam kelompok bunuh diri al-Qaeda.

Latar belakang 11 September, bom-bom teroris di London dan Madrid, hingga kekerasan mengerikan kaum militan Islam yang merusak Afghanistan dan Irak, semuanya dimulai di pagi November yang panas itu, di bawah bayang-bayang Kabah (Halaman 12).

Kaum nomaden Badui hidup dari menggembala unta dan merampas secara brutal suku-suku lain. Pada pertengahan 1700-an, mereka disebut Wahhabi, lantaran orang-orang berjenggot ini mengikuti seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahhab. Ajarannya tidak rumit. Mereka menuntut kembali pada keyakinan murni sesuai dengan praktik Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Pengikut awal Ibn Abdul Wahhab adalah Muhammad al-Saud. Kombinasi keberanian dan fanatisme dengan cepat menjadi kekuatan utama jazirah Arab. Tahun 1802, mereka menyerang Kota Karbala di wilayah kekuasaan Usmani Irak. Tidak sampai 1813, pasukan ekspedisi Mesir berhasil merebut kembali Mekah dari Wahhabi Saudi atas nama Imperium Usmani.

Januari 1902, Abdul Aziz, kepala suku Bani Saud yang masih muda, memimpin razia kecil dekat Riyadh. Akhir 1920, Abdul Aziz mengokohkan kekuasaannya di hampir semua jazirah Arab. Masalah muncul ketika kaum Ikhwan marah karena Raja Abdul Aziz memberi keleluasaan kaum Syiah dan minta menghentikan jihad melawan kaum heretik. Puncaknya, Raja mulai memperkenalkan barang-barang yang belum pernah ada di Arab, seperti telegraf, telepon, radio, dan mobil.

Tahun 1927, kaum Ikhwan menyerang Irak dan Kuwait yang berada di bawah kendali Inggris. Atas persetujuan Raja Abdul Aziz, Angkatan Udara Inggris mengebom kemah kaum Ikhwan dan Muhajir. Maret 1929, kaum Ikhwan di bawah komando Faisal al-Duwaish dan Sultan al-Bijad kalaha perang Sbala. Tujuh tahun kemudian, seorang veteran Muhammad bin Saif al-Utaibi merayakan kelahiran anak lelakinya. Bayi itu dinamai Juhaiman yang berarti sang pemberenggut (Halaman 25).

Juhaiman berkawan dengan Muhammad Abdullah al-Qahtani. Juhaiman menulis pemikirannya dalam bentuk manuskrip. Satu-satunya penerbit yang mau menerbitkan tulisan Juhaiman adalah Dar al-Talia. Segera, buku kecil biru-hijau setebal 170 halaman berjudul Tujuh Risalah diselundupkan ke Mekah, Madinah, Irak, Iran, dan Mesir. Kaum muda sangat tertaruk pemikirannya.

Terobsesi kedatangan Al Mahdi, Juhaiman membaiat Muhammad Abdullah al-Qahtani sebagai Al Mahdi. Kudeta Mekah berlangsung selama dua pekan dengna korban 270 orang. Namun, pengamat independen mengatakan, jumlah korban lebih dari 1.000. Juhaiman berhasil diringkus. Sedang Muhammad Abdullah al-Qahtani tewas tertembak. Pemerintah Arab Saudi berusaha menghapus tragedi itu dari memori publik.

Materinya sangat sensitif di Arab Saudi. Pemerintah sama sekali tidak mengizinkan akses untuk arsip-arsipnya dan menghentikan penelitian mengenai topik ini (Halaman 322). Ketika Bin Laden berpisah dengan rezim Arab pada 1990-1991, mulai mengulang penolakan Juhaiman terhadap keluarga raja. Invasi Juhaiman merangsang kalangan radikal muslim seluruh dunia dengan banyak cara. Setelah bebas dari penjara Arab, beberapa pengikut Juhaiman bergabung al-Qaeda.

Panduan Mengatasi Luka Psikologis

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Pertolongan Pertama pada Emosi Anda Karya Guy Winch, Ph. D.

Kabar Madura | Rabu, 10 Januari 2018 | Arinhi Nursecha


JIKA Anda bertanya pada seorang anak tentang penanganan demam, ia mungkin akan menyarankan untuk beristirahat dan menghirup sup ayam. Tetapi, tanyalah orang dewasa tentang penanganan rasa sakit akibat penolakan, kesepian, dan kegagalan. Sebagian orang akan menjawab cara terbaik adalah dengan mengungkapkan perasaan kepada keluarga atau teman. Namun bagi sebagian lain, cara ini justru berbahaya karena dapat memunculkan kembali rasa tak nyaman.

Buku ini membahas tentang tujuh luka psikologis yang biasa kita alami dalam kehidupan sehari-hari: penolakan, kesepian, kehilangan, rasa bersalah, ruminasi, kegagalan, dan rasa rendah diri. Setiap bab dalam buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama tentang luka psikologis yang disebabkan oleh setiap luka. Bagian kedua berisi berbagai penanganan yang bisa dilakukan sendiri, pedoman penanganan secara umum, kapan teknik yang dianjurkan harus dilakukan, juga ringkasan penanganan dan “dosis” yang disarankan. (Halaman 8)

Dari semua luka emosional dalam hidup, mungkin penolakan adalah yang paling sering kita alami. Penolakan dapat menyebabkan empat luka psikologis, seperti rasa sakit emosional, kemarahan dan serangan, rasa percaya diri yang jatuh, juga mengancam kebutuhan seseorang untuk menjadi bagian dari suatu kelompok. Beberapa penanganan yang dapat dilakukan di antaranya berdebat dengan kritik terhadap diri sendiri, membangkitkan kembali harga diri Anda, memulihkan perasaan akan hubungan sosial, dan peka terhadap diri sendiri.

Media sosial memudahkan kita terhubung dengan puluhan bahkan ratusan orang sekaligus. Namun orang yang menderita karena kesepian justru semakin banyak. Kesepian memiliki pengaruh yang memprihatinkan terhadap kesehatan secara umum. Rasa kesepian mampu mengubah sistem kardiovaskular (mengakibatkan tekanan darah tinggi, meningkatkan indeks massa tubuh, dan kolesterol tinggi), sistem endokrin (meningkatkan hormon stres), dan bahkan sistem imunitas kita. Kesepian mempunyai faktor risiko yang sama besar dengan merokok. (Halaman 69)

Kesepian dapat diatasi dengan menyingkirkan kacamata Anda yang diwarnai pikiran negatif, mengenali perilaku yang mengalahkan diri sendiri, menggunakan perspektif orang lain, mempererat ikatan emosional, menciptakan peluang untuk menjalin hubungan sosial, dan mengadopsi teman baik. Rasa kehilangan dan trauma menciptakan empat luka psikologis. Mereka menyebabkan munculnya rasa sakit emosional, meruntuhkan rasa identitas kita yang mendasar, serta peran yang kita mainkan dalam hidup, mereka mengganggu sistem keyakinan dan pemahaman kita tentang dunia, mereka juga meragukan kemampuan kita untuk tetap ada dan terlibat di dalam hubungan yang penting. (Halaman 144)

Penanganan yang dilakukan dapat berupa menenangkan diri lewat cara Anda, memulihkan aspek yang hilang dari “diri” Anda, dan menemukan makna di dalam tragedi.

Rasa bersalah adalah tekanan emosional yang sangat umum, disebabkan oleh keyakinan bahwa kita akan atau telah melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada orang lain. Fungsi utama rasa bersalah tak ubahnya sinyal. Kita menanggapi sinyal ini dengan mengevaluasi kembali rencana perbuatan atau meminta maaf kepada mereka yang tersakiti.

Tetapi, ada saatnya rasa bersalah bertahan dan menjadi penghuni yang tidak diinginkan. Meskipun perasaan bersalah bisa menjadi pahlawan untuk kesalahan kecil, untuk kesalahan besar ia justru menjadi penjahat psikologis yang meracuni ketenangan maupun suatu hubungan. Banyak di antara mereka yang diliputi rasa bersalah sangat berat juga menderita gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder). Rasa bersalah yang bertahan sering kali diperparah oleh keadaan. Rasa bersalah dapat menyebabkan seseorang menyalahkan diri sendiri dan hubungan yang diblokir.

Sejumlah bab lain yang tak kalah menarik untuk disimak yaitu ruminasi, kegagalan, dan rasa rendah diri. Setiap bab dijelaskan dengan gamblang, beserta contoh peristiwa yang dialami langsung pasien si penulis atau refleksi kejadian di sekitar kita. Penanganan masalah di masing-masing bab dibagi dalam beberapa kategori alfabetis tergantung tingkat keparahannya. Menjadi dokter-diri yang baik berarti harus menyusun pedoman pemeliharaan kesehatan jiwa, dan bila memungkinkan berusaha membuat lemari obat Anda sendiri. Jika luka emosional Anda begitu berat sehingga mendorong untuk melukai diri sendiri maupun orang lain, segeralah berkonsultasi dengan ahli kesehatan jiwa.

Memanfaatkan Kisah-Kisah Inspiratif sebagai Peneguh Iman

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Si Markum dan Kisah-kisah Peneguh Iman Karya Zaenal Radar T.

Kabar Madura | Rabu, 22 November 2017 | Izzatul Maula Shalehah

 

Akhir-akhir ini, pola kesukaan keterbacaan generasi Indonesia rupanya mengalami perubahan cukup signifikan. Jika generasi saya yang lahir tahun 1980-an mempunyai kecenderungan membaca buku-buku ilmiah dan sastra yang cukup serius, maka generasi milenia kini cenderung meninggalkan buku-buku serius dan beralih pada kisah-kisah ringan namun tetap penuh gugah. Disinyalir, perubahan alur keterbacaan tersebut karena dipengaruhi oleh kondisi zaman yang penuh teknologi cyber, lebih-lebih hadirnya situs-situs keterbacaan yang membantu memudahkan mengakses literasi sesuai selera mereka, walau cara ini membikin pola pikir menjadi instan.

Fenomena di atas ternyata disikapi dengan sigap oleh penulis-penulis buku dan penerbit-penerbit di negeri ini. Lihat saja di gerai-gerai buku terkenal tanah air, stok buku yang berjejer di situ sebagian besar adalah buku-buku kisah penuh inspiratif yang selalu menggugah jiwa pembacanya. Dan tentus saja, selalu mencapai best seller.

Tanpa disadari, peralihan pola baca tersebut telah mengangkat konten keterbacaan yang berisi sejarah pada kondisi yang cukup mendalam. Tahap inilah, sejarah mempunyai minat tersendiri tanpa harus berkutat dengan pembelajaran dalam kelas yang terkadang bikin dongkol peserta didik. Dan secara bertahap pula, ibroh-ibroh dalam al-Qur’an, yang dengannya al-Qur’an berisi konten terbesar, mulai menjadi menu keterbacaan menghibur yang pengaruhnya begitu kuat dalam era ini. Tentus saja, hal ini akan berdampak positif untuk generasi digital, yang bisa meneguhkan iman labil mereka.

Suksesnya buku-buku kisah inspiratif mencapai pangsa pasar pada generasi milenia, telah menyebabkan buku-buku jenis ini laris manis. Apalagi, sang penulis dan penerbitnya, mengemas kisah-kisah tersebut dalam bentuk novel atau cerpen, sehingga generasi ini telah terbantu mencintai dunia sastra, walau dengan aliran tersendiri, yaitu sastra beraliran tasawuf, yang menekankan pada ketergugahan jiwa-jiwa pembacanya. Rupanya, kelekar Prof. Robert T. Kiyosaki, yang mengatakan bahwa cerita atau kisah itu adalah daya ungkit, telah dipahami secara baik oleh para penulis dan penerbit, sehingga berbondong-bondong menulis dan menerbitkan berbagai kisah penuh inspiratif itu.

Dalam hal ikut menyemarakkan buku-buku penuh kisah menarik yang sedang bomming tersebut, seorang penulis cerpen terkenal secara nasional, ikut menyuguhkan ide-ide kreatifnya untuk dinikmati bersama. Inilah buku ‘Si Markum dan Kisah-Kisah Peneguh Iman’ hadir di tengah kita. Buku karya Zaenal Radar T. ini mengelaborasi berbagai kisah bersumber pada nilai-nilai agama secara menarik yang dikemas secara fiktif dalam bentuk cerita pendek.

Buku ini dibagi dalam dua shaf, demikian penulis menamakannya. Shaf pertama, berisi 17 kisah berlandaskan pada nilai-nilai agama Islam yang sangat kental, baik secara akidah, syariah dan tasawuf/akhlak. Adapun shaf kedua, berisi 17 kisah inspiratif, plot dan setting cerita berupa kritik sosial dan perilaku sosial lainnya, namun nuansa keagamannya tetap kuat. Maka wajar, Zaenal mengatakan bahwa bukunya dapat meneguhkan iman pembacanya, sebab ke-34 cerita yang ada dalam buku ini memang sangat menggugah jiwa orang-orang yang haus akan keimanan itu sendiri.

Suatu misal, dalam shaf pertama, Zaenal menulis cerita dengan judul ‘Markum Mengejar Laitaul Qadar’ (hal. 108). Digambarkan betapa si Markum ingin sekali bertemu dengan malam seribu bulan itu. Berbagai upaya telah Markum siapkan, namun setelah beri’tikaf di masjid Markum malah ngorok, tertidur. Markum sedih tak bertemu malam yang paling mulai itu. Namun, ia tak mudah putus asa, di malam 27 Ramadhan ia beri’tikaf lagi. Kali ini ia tak tertidur, namun tiba-tiba listrik PLN mati. Dalam kegelapan malam, ia khusu’ berdoa minta apa saja selagi ia ingat. Ia ingin menguji betul keampuhan lailatul qadar tersebut (hal. 113-114).

Dalam shaf kedua, Zaenal menulis kisah dengan judul ‘Pernikahan Ibu’ (hal. 269). Kisah ini menggelitik sebab sang ibu yang mau menikah itu telah berusia senja. Mempunyai sebelas cucu, bahkan beberapa anaknya telah memiliki menantu (hal. 271). Namun, karena alasan sang ibu merasa kesepian hidup menjanda seorang diri, akhirnya sang ibu tetap ngotot mau menikah lagi. Akan tetapi, di alur cerita terakhir, sang ibu sebenarnya mau bikin kejutan pada anak bungsunya yang sampai menjelang umur 30 tahun masih tak ada kaum lelaki mendekat hal. 278). Artinya, pesta pernikahan itu bukan pesta penikahan ibunya, tapi semata-mata hanya untuk anak bontotnya yang penakut untuk kenal pada laki-laki, apa lagi hendak berpacaran. Akhirnya, sang anak berjodoh dengan lekaki pilihan sang ibu, dan hidup bahagia, persis gadis-gadis Madura yang ditunangkan oleh orang tua mereka, menikah dan berakhir bahagia.

Konten buku ini memang pas diresapi oleh generasi milenia, namun tak tutup kemungkinan, buku ini perlu dimiliki oleh siapa pun juga kalangan pembaca tua, buat cerita anak-anaknya sebagai pengantar tidur. Jelas sekali, bermanfaat sebagai kisah penuh inspiratif untuk meneguhkan iman kita bersama.

Potret Kritik Sosial Penggugah Iman Islam

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Si Markum dan Kisah-kisah Peneguh Iman Karya Zaenal Radar T.

Harian Singgalang | Minggu, 01 Oktober 2017 | Arinhi Nursecha


Si Markum dan Kisah-Kisah Peneguh Iman merupakan kumpulan cerpen karya Zaenal Radar T. yang dikemas unik namun sarat pesan moral. Berisi 32 cerpen, terbagi dalam 2 shaf dan sebagian besar telah dimuat di media. Zaenal menjadi juara satu lomba cerpen tingkat nasional yang diadakan Forum Lingkar Pena pada 2002. Pada 2006, ia membentuk komunitas menulis skenario Bengkel Sastra Pamulang. Beberapa karyanya pernah menghiasi layar televisi seperti Si Entong Abunawas dari Betawi (TPI), Si Mamat Anak Pasar Jangkrik (MNCtv), dan Kecil-Kecil Ngobyek (RCTI). Kumpulan cerpennya yang telah terbit di antaranya Harga Kematian (Mizan, 2003) dan Airmata Lelaki (FBA Press, 2004).

Cerpen Lelaki di Beranda Mesjid bercerita tentang seorang pria yang mengamati lelaki yang kerap tidur di beranda mesjid saat waktu salat Zuhur tiba. Itu membuatnya kesal hingga tak khusuk salat. Ia baru sadar ketika rekan kerjanya menegur.

“Astaghfirullah! Jadi… kamu memikirkan lelaki di beranda itu hingga salat kamu nggak khusuk..?!” (Halaman 8)

Bisul di Kening Pak Ustaz berkisah tentang Sobrak, ustaz seleb yang menderita bisul sebesar telur puyuh di kening. Akibatnya Sobrak tak bisa sujud mencium sajadah. Ia mengeluhkan masalahnya pada sahabatnya, Zack, seorang sutradara sinetron religius. Zack akhirnya mengizinkan Sobrak cuti. Di rumah, keluarganya tak suka pada keputusan Sobrak main sinetron. Menurut mereka sinetron religius di televisi banyak yang menyesatkan. Sementara Sobrak menerima tawaran main sinetron karena merasa mendapat panggilan jiwa. Ingin memberikan tontonan alternatif buat pemirsa televisi yang menyuguhkan percintaan remaja dan perebutan kekuasaan. Sobrak merasa bisulnya adalah azab Tuhan karena tidak mendengarkan pendapat keluarga. Beberapa pekan tak shooting, bisul di kening Sobrak pun mengempis. Namun ketika ia kembali shooting untuk melunasi sisa kontraknya, bisul itu hadir kembali. Kali ini bisulnya pindah ke lutut.

Cerpen Kening Markum bertutur tentang pemuda bernama Markum yang ingin memiliki kening kehitaman. Ia menganggap lelaki berkening hitam identik dengan lelaki alim. Keinginan Markum kian kuat setelah bertemu Elliza, putri tunggal Pak Habib, guru agama di sekolahnya. Untuk mengesankan Elliza, Markum memanjangkan jenggot dan menempelkan kening ke lantai, sementara kakinya menempel di dinding. Namun semua usaha Markum nihil. Suatu hari Markum mendapat undangan perpisahan dari Pak Habib yang akan pindah mengajar. Markum segera memanfaatkan momen itu, mencoret keningnya dengan spidol hitam. Tibalah waktu salat magrib, tanda hitam di kening Markum luntur terkena air wudhu.

Kau tak perlu risau, sekarang aku sadar. Aku tak harus berkenig hitam. Tetapi aku semakin rajin salat. Hanya Tuhan yang tahu. Tanpa ada tanda-tanda pada diriku, atau terlihat oleh manusia lainnya, bahwa aku lelaki yang sering mencium sajadah, baik siang maupun tengah malam. (Halaman 43)

Cerpen Haji Tanah Abang masih berkisah tentang Markum yang hendak berangkat haji dibiayai oleh Pak Barkah, orangtuanya, dengan menjual tanah. Markum merasa bangga akan berangkat haji di usia muda, membiasakan diri mengenakan pakaian ihram sehingga terlihat aneh di mata masyarakat. Ketika ditanya, Markum hanya menyombongkan biaya naik haji yang tak semua orang sanggup membayar. Jelang keberangkatan, Markum iba pada suami-istri calon haji yang terisak karena belum mendapatkan paspor. Saat sepasang suami-istri itu balik bertanya, Markum tersentak teringat dirinya juga belum mendapat paspor. Mereka bertiga telah menjadi korban penipuan calo haji gadungan. Tak mungkin kembali ke rumah, Markum memilih menginap di hotel selama kegiatan haji berlangsung hingga ia hampir terjebak rayuan wanita tuna susila. Sehari sebelum kepulangan, Markum membeli beragam oleh-oleh khas Arab di Tanah Abang. Kedatangan Markum disambut meriah oleh warga. Namun semua tak berlangsung lama setelah polisi menjadikannya saksi atas kasus penipuan calo haji yang menelantarkan jamaahnya.

Masih banyak lagi cerpen lain yang menarik seperti SMS Lebaran, Haji Gusuran, Biduan Dangdut, dan Mat Tonggos. Setiap kisahnya merupakan paduan satir dan humor segar yang dapat dibaca sekali duduk.

Menguak Cerita Rakyat Nusantara yang Terlupakan

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Indonesia Bercerita Karya Yoana Dianika, Redy Kuswanto, Ruwi Meita dkk

Khasanah | Minggu, 01 Oktober 2017 | Arinhi Nursecha

 

Indonesia, dahulu disebut Nusantara, sangat kaya ragam budaya dan etnis. Salah satu kekayaan tersebut di antaranya legenda yang disampaikan secara turun-temurun. Cerita-cerita tersebut sarat pesan moral, etika, spiritualitas, dan kearifan lokal. Sebut saja cerita Malin Kundang, Jaka Tarub, Tangkuban Perahu, Danau Toba, Timun Emas, Bawang Merah dan Bawang Putih, dll. Namun sebenarnya masih banyak cerita menarik yang selama ini tak diketahui. Dengan riset serius, Indonesia Bercerita hadir untuk menguak cerita rakyat yang selama ini nyaris terlupakan. Ditulis oleh sekumpulan penulis yang namanya sudah sering menghiasi media cetak, media elektronik secara global, juga dunia pertelevisian sebagai penulis skenario. Beberapa nama lain menempati rak-rak buku di Indonesia atas karya berupa novel solo, serta aktif menggawangi kegiatan kepenulisan.

Dibuka dengan cerita Mentiko Betuah dari D.I. Aceh, berkisah tentang Raja dan Permaisuri yang menginginkan kehadiran seorang anak. Setelah menempuh aral rintangan, akhirnya doa mereka didengar Tuhan. Sang Permaisuri hamil dan melahirkan anak lelaki bernama Rohib. Begitu besarnya kasih sayang mereka pada Rohib hingga Rohib tumbuh menjadi pemuda manja. Raja murka pada Rohib dan mengancam akan memberi hukuman mati, namun niat itu dicegah Permaisuri.

“Sadarlah, tabiat Rohib yang tidak terpuji itu karena kita terlalu memanjakannya, Kanda. Ini kesalahan kita. Rasanya tidak adil jika kita menimpakan kekesalan kepadanya. Dinda berharap, dia akan lebih baik kelak.” (Halaman 5)

Raja dan Permaisuri melepas Rohib berkelana dibekali uang untuk modal berdagang. Dalam perjalanan, Rohib melihat warga kampung menyiksa hewan. Ia membebaskan hewan-hewan tersebut menggunakan uang jaminan. Tanpa terasa, uangnya pun habis. Dalam penyesalan, Rohib tertidur lalu bermimpi didatangi ular raksasa. Mewakili rasa terima kasih seluruh hewan di hutan, sang ular membalas kebaikan Rohib dengan memberinya mustika bernama Mentiko Betuah. Mustika itu dapat mengabulkan apa pun permintaan tuannya. Rohib meminta uang dalam jumlah banyak dan kembali ke istana.

Menyadari kesaktian mustikanya, Rohib menyuruh tukang emas untuk mengikat mustikanya menjadi cincin. Namun ternyata tukang emas telah mengetahui kesaktian mustika itu dan membawa kabur Mentiko Betuah. Rohib meminta tolong pada ular raksasa agar dapat menemukan kembali mustikanya. Ular memerintahkan anjing, kucing, dan tikus untuk mengejar si tukang emas. Misi anjing, kucing, dan tikus sebenarnya berhasil. Namun tikus berbohong pada anjing dan kucing bahwa dirinya gagal mendapat Mentiko Betuah, lalu pergi sendiri menemui Rohib, sehingga hanya tikus yang mendapat penghargaan dari Rohib.

Cerita Dang Gedunai dari Riau bertutur tentang seorang anak yatim bernama Dang Gedunai. Dang Gedunai tinggal hanya berdua dengan ibunya. Sementara ayahnya telah lama tewas saat melaut. Sang ibu tetap memaksakan diri bertani meski usianya kian renta. Sementara Dang Gedunai tumbuh menjadi anak malas dan pembangkang. Suatu hari langit kelam, Dang Gedunai memutuskan untuk pergi memancing meski telah dilarang ibunya. Benar saja hujan turun, membuat tubuhnya basah kuyup. Setelah lama menunggu tak satu pun ikan berhasil ditangkap. Dang Gedunai justru menemukan sebutir telur besar terapung di sungai. Ia mengambil telur itu dan membawanya pulang. Sekali lagi ibunya berusaha menegur.

“Kamu harus mengembalikan telur itu, Nak.” Pinta Ibu sekali lagi. “Kamu tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milikmu.” (Halaman 69)

Dang Gedunai mengabaikan teguran ibunya. Ia menjadikan telur itu untuk lauk makan. Usai makan ia mengantuk dan tertidur. Dalam tidur, ia bermimpi melihat seekor naga murka padanya. Saat terbangun, Dang Gedunai kehausan. Dahaganya tak kunjung reda meski telah menghabiskan satu tong air dapur, kolam ajaib, juga sungai. Dang Gedunai minum air sungai sampai kering. Saat sang ibu membawanya ke laut, Dang Gedunai menyadari kesalahannya. Namun terlambat, ia telah dikutuk menjadi naga. Sejak itu, masyarakat sekitar tak berani melaut saat ombak lautan menggila karena saat itu Dang Gedunai sedang mencari makan. Mereka baru melaut saat laut tenang, tanda Dang Gedunai telah tertidur.

Masih banyak lagi cerita menarik lainnya seperti Piso Sumalim, Sampuraga yang sekilas kisahnya mirip Malin Kundang, atau Asal-Usul Selat Nasi. Banyak pelajaran yang dapat dipetik, di antaranya jangan membesarkan anak dengan kasih sayang berlebihan, jangan durhaka pada orangtua, larangan melakukan hal mubazir, dan lain sebagainya. Dibalut ilustrasi sampul indah yang melambangkan keberagaman Tanah Air, buku ini sangat layak dimiliki para orangtua sebagai teman pengantar tidur anak, atau bagi kalangan pengajar yang membutuhkan referensi tentang kekayaan budaya bangsa.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL