You are here Info Buku

Resensi Buku

Senjata Perang Kimiawi yang Terkuak

Surel Cetak PDF

Resensi Buku The 731 Legacy Karya Lynn Sholes dan Joe Moore

Radar Surabaya | Minggu, 26 Februari 2017 | Imron Mustofa


Diserang penyakit mengerikan, seorang pria sekarat terhuyung-huyung ke Satellite News Network. Sebelum pria tersebut menghembuskan nafas terakhir, ia menyampaikan pesan misterius kepada wartawan senior Cotten Stone: “Jarum Hitam”, nama sandi untuk eksperimen ultra-rahasia semasa Perang Dunia II.

Beberapa hari setelah pria tersebut sekarat dengan darah keluar dari seluruh lubang yang ada di tubuh, warga kota mulai menurun kesehatannya. Hingga salah satu rumah sakit melaporkan, setiap jamnya menerima pasien dengan gejala yang sama seperti pria tersebut. Hanya dalam waktu 24 jam, ratusan warga dari usia enam sampai enam puluh dua tahun, meninggal mengenaskan.

Novel karya penulis best seller Lynn Sholes & Joe Moore, mengisahkan perjuangan seorang perempuan dalam mengungkap misteri di balik wabah flu mematikan. Perempuan itu bernama Cotten Stone. Instingnya yang kuat mendorong Cotten untuk menyelidiki wabah ini sampai tuntas.

Cotten Stone, sebagai wartawan di Satellite News Network merasakan ada yang aneh dengan penyebaran wabah mematikan ini. Wabah flu yang mirip Ebola, tapi sulit untuk diidentifikasi virus jenis apa. Ia kemudian melakukan observasi kepada mayat pria yang sekarat di kantor kerjanya, Calderon. Namun anehnya, mayat Calderon hilang secara misterius. Pun, ketika Cotton hendak melakukan penyelidikan pada mayat seorang ibu di Virginia Barat, yang menurut laporan mengalami gejala yang sama.

Kecurigaan Cotten kian meningkat. Ia kemudian melibatkan Ted, atasannya, untuk melakukan penyelidikan ini. Ia juga melibatkan John Tyler, seorang Pendeta yang amat disayanginya. Dari hasil pengamatan Cotten, dibantu dengan dua rekannya, menemukan ada keterlibatan Korea Utara atas kasus wabah flu mematikan tersebut.

Berbagai pihak dihubungi, untuk membantu penyelidikan ini. Namun sayangnya, tidak satupun yang percaya, karena Cotten belum memiliki bukti yang kuat. Yang ia bawa hanyalah dugaan dari hasil observasi, yang mengarahkan pada keterlibatan Korea Utara, sebagai negara yang anti Amerika.

Hingga ia bersama John menemui Presiden Amerika, David Brennan. Namun tidak ada hasilnya. David hanya mengatakan, “Jika kau benar, pemikiran itu menakutkan. Tapi, mana buktinya? Aku tidak bisa bertindak berdasarkan dugaan.” (halaman 288).

Keputusasaan mulai menjalar dalam diri Cotten. Terlebih, ketika Pendeta John Tyler, orang yang paling disayangi, terkena wabah tersebut. Ia hanya menatap John terkulai lemas dan pucat di atas ranjang rumah sakit. “Semua ini gara-gara aku,” kara Cotten. “Semua hal buruk yang terjadi dalam hidupmu adalah gara-gara aku.” (halaman 321)

Di sisi lain, Moon, dalang di balik wabah flu mematikan ini, telah mempersiapkan serangan lanjutan untuk memusnahkan Amerika dan sekutunya.

Sementara Cotten, tidak bisa melepaskan diri dari perhatiannya kepada John. Ia tidak ingin orang yang disayangi meninggal mengenaskan. Di saat Cotten putus asa, ia mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Namun, suaranya tidak asing baginya. Dia adalah Nephilim Sang Putra Fajar, musuh bebuyutan Cotten. Dialah yang membuat John sekarat dengan menggunakan tangan terampil Moon.

Di sinilah terlihat kualitas penulis, dalam memadukan ilmu pengetahuan, mitos, sejarah, dan imajinasi menjadi rangkaian cerita menarik. Sehingga, siapa saja yang membaca karya dua penulis bestseller versi Amazon, akan dibuat tenggelam dalam imajinasi.

Di akhir cerita, Cotten pun dengan terpaksa menuruti tawaran Sang Putra Fajar untuk bergabung, demi nyawa John terselamatkan. Dan, setelah John benar-benar terlepas dari jeratan maut, barulah Cotten menceritakan semuanya.

“Aku mendapat kunjungan dari seseorang yang kau kenal betul, Sang Putra Fajar. Dia mengatakan bahwa jika aku pasrah pada warisanku (Nephilim) dan merengkuh sosok diriku yang sebenarnya, nyawamu akan diampuni.”

Dan dari sinilah, dalang di balik wabah flu mematikan terbongkar!

Sukses Berawal dari Diri Sendiri

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kuasai Dirimu Karya Ahmad Dzikran

Koran Seputar Indonesia | Minggu, 26 Februari 2017 | Al Mahfud

 

Setiap orang ingin sukses. Namun, tak semua orang bisa mewujudkannya. Kadang orang sudah berusaha keras untuk mengejar apa yang dia cita-citakan, tapi selalu berakhir dengan kegagalan. Apa yang salah?

Apakah karena usahanya kurang keras? Atau pilihan cita-cita yang dia kejar kurang tepat? Sebelum berbicara lebih jauh tentang usaha mengejar kesuksesan, sebenarnya ada hal mendasar yang harus dijawab setiap orang, yakni sejauh mana dia mengenal diri sendiri. Buku ini memandu meraih kesuksesan bagi siapa pun dengan dasar mengenal diri sendiri. Sebab, sejauh mana orang bisa mengenal dirinya sendiri akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana ia menentukan langkah terbaik dalam mewujudkan impiannya. Filsuf Yunani Aristoteles pernah mengatakan, “Mengenali dirimu sendiri adalah awal dari kebijaksanaan”. Lantas bagaimana cara mengenal diri sendiri?

Dalam hal ini, penulis memaparkan pembahasan dengan sistematis, runtut, dan detail. Di awal, kita diajak mengenal diri kita sendiri dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Seperti dengan mencari sifat baik dan sifat buruk kita. Menariknya, diajukan pula pertanyaan-pertanyaan unik seperti film dan buku apa yang kita tonton dan baca berkalikali, hal-hal apa yang kita takuti di hari tua, sampai hal menarik dalam kisah hidup kita. Pertanyaan-pertanyaan itu akan merangsang kita untuk terus menggali dan mengenal kepribadian diri kita sendiri secara lebih dalam.

Kita diajak lebih memahami kelebihan dan keinginan kita, sebagai modal awal menentukan target kesuksesan. Apa yang pernah kita lakukan dan mendapatkan respons dan apresiasi positif dari orang lain. Jika belum ada, kita harus mengupayakannya. Sebab, kelebihan tak hanya berasal dari bakat alamiah, tapi juga melalui upaya yang tak mudah. Ketika sudah dapat gambaran siapa diri kita, lewat kelebihan, keistimewaan, dan keinginan kita tersebut, sejak saat itu kita harus percaya diri dengan apa yang kita miliki dan kita inginkan. “Percaya pada kemampuan yang Kau miliki untuk bisa menjadi seperti apa yang Kau inginkan, untuk bisa menciptakan kelebihanmu sendiri dan bisa mengubah hidupmu sendiri” (hlm 7).

Mengelola Ego

Namun, kepercayaan diri saja belum cukup. Sebab, kepercayaan diri yang terlalu tinggi (overconfidence ) kadang justru menghambat langkah menuju kesuksesan, sebab bisa membuat kita menjadi egois. Untuk itulah, penulis mengajak kita melangkah ke pembahasan tentang bagaimana mengelola ego. Ego adalah bagian dari diri kita yang selalu merasa paling spesial, paling benar, dan paling baik. Anthony Robbins (2003), mengatakan bahwa “Ego tidak dapat dihilangkan, tetapi ia dapat dikelola dan disalurkan dengan baik”. Setiap pencapaian atau keberhasilan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita bisa mengelola ego dan mendialogkannya dengan sudut pandang atau perspektif lain. Kuncinya adalah, jangan sampai kita dikuasai ego.

Sebaliknya, kita yang harus bisa mengendalikan atau menguasai ego. Di buku ini, kita diajak mengenali ciri-ciri ketika seseorang dikendalikan egonya. Seperti terlalu sibuk memikirkan pengakuan orang lain, gengsi meminta bantuan, ogah meminta maaf, agresif, selalu bermain menjadi korban (playing victim ), mudah tersinggung, dan enggan mengucapkan terima kasih.

Mindset Sukses

Setelah mengenal diri sendiri dan mampu mengendalikan ego, hal yang harus ada pada diri seseorang adalah adanya mindset (cara berpikir) sukses. Orang yang ingin sukses harus membangun mindset yang dapat mengarahkannya menuju kesuksesan. Mindset sukses terbentuk dari berbagai cara pandang kita dalam menyikapi berbagai hal dalam hidup. Di buku ini, dipaparkan berbagai cara membangun mindset sukses secara sistematis.

Dimulai dari penentuan kriteria sukses yang kita inginkan, target yang hendak kita capai, menentukan perilaku-perilaku yang dapat mendukung kesuksesan, mencatat setiap kegagalan dan menganalisis penyebabnya, dan keberanian untuk terus mencoba. Pada dasarnya, mendset sukses adalah tentang bagaimana kita bisa tetap konsisten mengejar impian meski diterjang cobaan atau kegagalan. Contoh prinsip yang mencerminkan mindset sukses adalah keberanian berpikir besar dan konsisten melakukan langkah-langkah meski kecil. Contohnya, kesuksesan Google yang awalnya disangka karena target-target besar yang mereka canangkan.

Namun, mantan wakil presiden senior Google Divisi Adwords and Adsense Susan Wojcicki mengatakan bahwa semua proses diawali dengan delapan pilar inovasi perusahaan. Salah satu pilarnya menyebutkan, berpikir besar, tetapi berindaklah kecil (hlm 185).

Persoalan dan Gagasan Pendidikan Nasional

Surel Cetak PDF

Resensi buku Calak Edu 3 karya Ahmad baedowi

Malang Pos | Minggu, 27 Desember 2015 | Muhammad Khambali


Buku Calak Edu 3 ini menguraikan berbagai persoalan sekaligus gagasan untuk pendidikan nasional di Indonesia. Ahmad Baedowi dalam tulisan esai mengenai pendidikannya tidak hanya berisi kritik, namun juga menawarkan solusi alternatif guna perbaikan dunia pendidikan.

Menurut Ahmad Baedowi potret pendidikan kita adalah sebuah paradoks. Ketika hasil PISA mengatakan para siswa di Indonesia termasuk dalam kategori siswa paling bahagia. Sementara hasil pemeringkatan PISA menunjukkan para siswa Indonesia berada pada level terendah dalam penguasaan matematika, sains, dan literasi.

Sebuah ironi, ketidaktahuan menjadi sebuah kebahagiaan. Maka jangan-jangan selama ini pendidikan nasional tidak melakukan pekerjaan pendidikan (education), tetapi lebih memilih mengurusi aspek edu-tainment, Yang penting bagaimana membuat anak-anak bahagia, meskipun mereka bodoh (hlm 39).

Secara psikologis, jelas sekali ada paradoks yang besar antara capaian akademik yang rendah dan rasa bahagia ini. Ada yang salah dengan sistem persekolahan. Orientasi pendidikan yang selama ini berfokus pada hasil membuat proses belajar tak lagi penting. Siswa bersenang-senang di sekolah, tetapi tidak sungguh belajar.

Rendahnya hasrat belajar berbanding lurus dengan rendahnya tradisi literasi di sekolah. Setali tiga uang dengan minimnya budaya membaca. Bagi Ahmad Baedowi hal itu disebabkan oleh kebijakan Ujian Nasional. Tradisi membaca tak tumbuh karena dalam proses belajar mengajar di sekolah, anak-anak lebih banyak diajarkan untuk menghafal, terutama menghafal jenis soal yang akan keluar dalam Ujian Nasional (hlm 68). Kebiasaan menghafal, membuat membaca menjadi aktivitas yang membosankan.

Ahmad Baedowi menyesali generasi pembaca tak tumbuh dengan baik karena belenggu kebijakan pendidikan memang sengaja tak menciptakan kecintaan terhadap membaca. Orientasi terhadap hasil berupa kelulusan dan ijazah semata melahirkan frustrasi belajar. Menciptakan minimnya minat baca dalam mengarungi fantasi belajar yang menyenangkan.

Gejala-gejala rendahnya budaya membaca dan hasrat belajar juga banyak disebabkan oleh politik pendidikan yang hanya berorientasi kepada dunia kerja. Dalam pandangan demokrasi liberal dan kapitalisme, pendidikan selalu diarahkan untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai human capital. Pendidikan nasional terjerumus ideologi yang memandang para siswa semata human capital milik industri dan negara, dan karenanya sekolah harus dikelola dengan cara-cara produksi (hlm 92-94).

Selanjutnya buku ini membahas mengenai politik pendidikan nasional. Pendidikan tak terlepas dengan politik, dan politik adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Politik pendidikan kita semestinya mengacu pada nilai identitas bangsa ini. Salah satunya adalah mengenai politik bahasa.

Bahasa menjadi kata kunci teramat penting yang tidak bisa dilepaskan dari politik bahasa dan kebijakan sebuah bangsa. Pentingnya bahasa sebagai alat pemersatu, bukan pemecah-belah keragaman, adalah distingsi yang harus terus dipelihara sebagai sebuah kebijakan negara yang tidak bisa ditawar, termasuk di sekolah (hlm 130).

Bagi para murid di pedesaan, bahasa ibu mereka bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa daerah. Hal ini yang menjadikan politik bahasa menjadi sangat penting. Ahmad Baedowi melihat pentingnya menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di TK sampai tahun-tahun awal di SD. Dan juga menyarankan adanya otonomi pendidikan agar pemerintah daerah mendesain sendiri buku-buku berbahasa lokal (hlm 131).

Ahmad Baedowi mengutarakan bahwa mengurusi pendidikan adalah proses yang tiada akhir (hlm 224). Ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan kritis, Ahmad Baedowi mempersoalkan berbagai paradoks yang terjadi dalam dunia pendidikan nasional. Komarudin Hidayat memberikan apresiasi terhadap buku Calak Edu 3 ini sebagai bagian dari proses belajar bersama untuk perbaikan pendidikan. Berharap menginspirasi para guru, kepala sekolah, dan praktisi pendidikan dalam membangun budaya dan lingkungan pendidikan yang positif dan lebih baik.

Kisah Penakhlukan Setelah Delapan Abad

Surel Cetak PDF

Resensi buku 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim karya Roger Crowley

Radar Surabaya | Minggu, 13 Desember 2015 | Al Mahfud

 

Kota Konstantinopel, (sekarang Istanbul) menyimpan sejarah besar penakhlukan pasukan Islam atas kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Kota ini menjadi kota Kristen selama 400 tahun dan memiliki kelebihan alamiah dari segi geografis. Pada abad ke-5, tembok-tembok tanah dibangun dan membuat kota yang tumbuh di atas perbukitan ini nyaris tak bisa diserang jika hanya mengandalkan kekuatan ketapel tempur waktu itu. Tembok sepanjang 12 mil melindungi kota ini.

Merunut sejarahnya, Byzantium atau Konstantinopel berulangkali mendapat serangan bangsa pengembara Turki. Dan serangan umat muslim pada 1453 M merupakan puncak dari sejarah panjang penyerangan yang dikisahkan Roger Crowley dalam buku ini. Peristiwa tersebut menjadi titik tumpu Abad Tengah yang kemudian beritanya menyebar ke seluruh penjuru dunia Muslim dan Kristen.

Pada tahun 630, pasukan Muslim tiba di Byzantium. Mereka mengepung banyak kota dan akhirnya Damaskus jatuh, disusul Yerusalem. Pada 641, Mesir menyerah, dan Armedia pada 653. Dalam jangka dua puluh tahun, kerajaan Persia runtuh dan beralih masuk Islam. Namun, Konstantinopel yang menjadi dambaan selama berabad-abad belum ditakhlukkan. Pada 669, Khalifah Muawiyah melepaskan pasukan amfibi besar untuk menyerang Konstantinopel. Namun, Muawiyah akhirnya terpaksa menyepakati genjatan senjata tanpa syarat selama 40 tahun pada 679 karena pasukan Arab diserang mendadak dan dihancurkan di Pantai Asia.

Roger mengisahkan penyerangan demi penyerangan antara armada Muslim dengan Byzantium dengan teliti dan cermat, terutama dalam memandang sumber sejarah yang ada. Misalnya, pada episode kekalahan besar yang dialami pasukan Muawiyah tahun 679 tersebut. Menurutnya, penulis sejarah mengetengahkan episode ini sebagai bukti bahwa “kekaisaran Romawi dilindungi Tuhan”. Namun, bagi Roger, hal itu lebih karena kekaisaran Romawi waktu itu dijaga teknologi baru: pengembangan bom api Yunani (hlm 13).

Sang Penakhluk

Momentum kemenangan pasukan Muslim baru terjadi beratus-ratus tahun kemudian. Tepatnya pada 1453, dalam pimpinan Sultan Mehmet II. Roger menggambarkan momen ketika Sultan Mehmet memasuki kota Konstantinopel dengan segala kebesaran dan kemenangan, yang kemudian menyebabkan ia dikenang dalam bahasa Turki dengan gelar Al-Fatih (Sang Penakhluk). “Sultan masuk melalui gerbang Charisian dengan menunggang kuda, diiringi para wazir, ulama, panglima perang, prajurit, yang semuanya berjalan kaki. Bendera Islam yang berwarna hijau dan bendera kesultanan yang berwarna merah dikibarkan ketika arak-arakan itu berderap memasuki lengkung gerbang”.

Menurut Roger, setelah potret-potret Kemal Ataturk, momen tersebut bisa dikatakan sebagai citra paling banyak dikenang yang terekam dalam puisi dan lukisan-lukisan sejarah Turki. Referensi yang kaya dan ketekunan mencermati data-data dari sumber sejarah yang beragam menjadikan kisah yang dihadirkan Roger dalam buku ini menjadi begitu memikat. Narasi sejarah menjadi hidup dan karakter setiap tokoh di dalamnya digambarkan dengan kuat. Maka tak berlebihan jika Noel Malcom (Sunday Telegraph) menyebut apa yang disuguhkan buku ini sebagai salah satu cerita paling menarik dalam sejarah dunia.

Kisah Kekayaan Nusantara

Surel Cetak PDF

Resensi buku Pulau Run karya Giles Milton

Koran Sindo | 06 Desember 2015 | Lusiana Dewi


Kolonialisme yang dialami oleh Indonesia pada era dahulu memang tidak lepas dari sumber daya alamnya yang aduhai.
Bangsa-bangsa kolonial melirik potensi alam Indonesia yang bagai surga dunia lantaran kekayaan alam yang luar biasa. Salah satu daya tarik tersendiri bagi bangsa-bangsa kolonial adalah rempahrempah yang tidak ada duanya. Nusantara adalah gudang rempah-rempah yang menggiurkan, bahkan ketika itu jauh lebih mahal dari emas. Salah satu tempat yang kaya akan rempah-rempah, terutama pala, di Nusantara adalah Pulau Run.
Karena itu, pulau ini menjadi magnet yang sangat memikat bangsa-bangsa penjajah untuk merebut ”tanah surga” tersebut. Hal itulah yang dikisahkan secara naratif oleh Giles Milton dalam buku yang dalam edisi bahasa Indonesianya bertajuk Pulau Run ini. Pulau Run terbentang di perairan yang tenang di Hindia Belanda, sebuah titik karang yang terpencil dan retak yang terpisah dari kumpulan daratan terdekat, Australia, dengan jarak lebih dari enam ratus mil di lautan.
Pada masa kini, itu merupakan tempat yang begitu tak penting sehingga bahkan tidak bisa masuk dalam peta; The Times Atlas of The World abai untuk mencatat keberadaannya dan para kartografer Atlas of South East Asia terbitan Macmillan telah menguranginya menjadi hanya sebuah catatan kaki. Tak ada yang peduli, Run barangkali telah tenggelam di bawah perairan tropis Hindia (hlm. 3).
Meski kondisi sekarang sebegitu terabaikan, pada zaman dulu Run adalah magnet rempah- rempah yang banyak diincar oleh orang-orang Barat. Bukan tanpa alasan pula rempahrempah, khususnya pala, banyak dicari. Selain harganya mahal lantaran susah didapatkan dan menjadi komoditas yang rahasia di pasaran dunia, para dokter juga merekomendasikan pala dan jenis rempah-rempah lain untuk kesehatan dan mempunyai serentetan manfaat.
Para doktor fisika terkemuka di London makin sering membuat klaim-klaim yang keterlaluan tentang kemanjuran pala, menganggap rempah tersebut bisa menyembuhkan segalanya mulai dari wabah sampar hingga berak darah. Bukan hanya penyakitpenyakit pengancam nyawa yang dikabarkan bisa disembuhkan pala.
Minat yang meningkat dalam nilai pengobatan pada tanaman tersebut telah menyebabkan meledaknya jumlah buku-buku diet dan herbal, dan semua mengklaim bahwa pala serta rempah-rempah lain bermanfaat dalam melawan penyakit-penyakit sepele (halaman 24-25). Wajar saja jika Pulau Run yang di atasnya ditumbuhi hutan pala menjadi rebutan beberapa bangsa: Portugis, Belanda, Spanyol, dan Inggris. Hanya, beberapa pulau yang kini membentuk Kepulauan Maluku itu telah dikuasai oleh Belanda, khususnya Banda.
Tersisalah Pulau Run yang belum terjangkau Belanda karena selain masyarakat lokal di Pulau Run yang gemar mengoleksi kepala manusia, rute ke pulau tersebut juga disulitkan oleh tebing, bebatuan, dan kondisi alam lainnya yang menyulitkan kapal berlabuh. Adalah Nathaniel Courthope, seorang komandan yang dalam buku ini dijadikan sebagai tokoh utama dalam perebutan Pulau Run. Dia komandan utusan dari Inggris yang perjalanannya menentukan sejarah besar Pulau Run.
Dia ditunjuk sebagai komandan pada Oktober 1616 oleh John Jourdain yang telah lama mengenali kemampuan Courthope dan kini mengirim temannya pada sebuah misi yang sangat penting. Courthope berlayar dengan kapal-kapalnya ke Makassar untuk membeli beras dan perbekalan, kemudian langsung pergi ke Run, di mana diperkirakan orang-orang pribumi mengharapkannya dan akan siap menerimanya.
Penting bahwa ia harus berhasil menguasai pulau itu karena dari enam pulau utama Banda, hanya Run yang masih berada di luar cengkeraman Belanda (halaman 355). Dengan segenap keyakinan dan sikap antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi, Courthope tiba di Run. Benar saja, hanya menguasai Pulau Run suplai pala dunia berada di genggaman tangan.
Tidak berlebihan karena pala memang dibutuhkan oleh orang-orang di dunia, baik mereka yang tinggal di Barat, Arab, maupun Konstantinopel– jauh sebelum kejatuhannya di tangan Sultan Mehmet II (1453). Ternyata, reaksi Belanda yang menguasai wilayah Banda kecuali Run sungguh kejam. Belanda membantai orang-orang Inggris di Banda dengan begitu keji dan kejamnya.
Terutama di Ambon, Belanda banyak menumpahkan darah orang-orang Inggris. Inggris pun tersulut. Mereka kemudian menyerang Manhattan yang dikuasai Belanda dan berhasil merebutnya. Manhattan merupakan daratan subur, ketika itu diduduki oleh Belanda namun berhasil dikuasai Inggris dengan segera setelah Belanda membantai orang-orang Inggris di Banda.
Kesepakatan besar pun terjadi. Akhirnya, Pulau Run yang kecil itu ditukar dengan Manhattan (kini membentuk New York) yang bertanah subur, berharga, dan menjadi banyak destinasi orang-orang Eropa. Dengan demikian, tidak berlebihan jika Andrew Roberts (The Wall Street Journal) mengungkapkan sebuah catatan (endorsement) pada buku ini bahwa New York akan memakai bahasa Belanda hingga hari ini, bukan bahasa Inggris, jika peristiwa dalam buku ini tidak terjadi.
Hal itu pun mengubah jalannya sejarah yang menyertakan kesepakatan besar untuk masa kini dan masa depan yang terbentuk oleh sejarah. Buku setebal 512 halaman ini mengajak para pembaca untuk melihat sejarah lebih dalam, terutama wilayah Run yang diperebutkan oleh dunia.
Hal itu mengindikasikan bahwa Nusantara adalah wilayah subur dan sangat kaya lantaran berlimpah sumber daya alamnya. Akan menjadi hal yang lucu jika rakyat Indonesia di masa kini tidak menyadari kekayaannya sehingga membiarkan orangorang asing menjamahnya.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL