You are here Info Buku

Resensi Buku

Karena Kehidupan Adalah Impian

Surel Cetak PDF

Resensi  buku Keajaiban Mimpi karya Ace Starry

Kilas Fakta | Jumat, 1 Mei 2015 | Niam At-Majha

 

Manusia telah terjebak dalam ruang dan waktu tanpa kompas, justru ketika kebanyakan orang sudah mengenyam pendidikan dan sebagian menjadi tokoh dengan ke unggulan dan kecerdasan untuk menjadi pemandu posisi. Namun, mereka menunjukkan kontradiksi dalam bangunan karakter yang rapuh.

Dan manusia tidak bisa hanya menonjol dalam salah satu bagian saja. Keempatnya harus bisa seimbang, sehingga manusia tersebut bisa disebut manusia utuh. Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana manusia sebenarnya masih bisa mengembangkan kemampuan otaknya dengan lebih baik. Buku disajikan secara sistematis, basis data aktual, dan banyak penelitian yang sudah disajikan secara luas. Ilustrasi yang ada juga sudah cocok dengan materi yang disampaikan.

Penulis buku, yaitu Semuel S.Lusi. menjelaskan bahwa SEIP bisa berjalan ketika paradigma berubah. Paradigma mempengaruhi cara pandang masyarakat untuk melihat sesuatu. Misalnya masyarakat melihat tolok ukur sebuah kesuksesan dari nilai uang yang dihasilkan seseorang. Buku ini ditulis dengan dasar pemikiran, bahwa sarjana yang dihasilkan saat ini hanyalah sarjana yang pintar secara kurikulum, namun dalam hal emosi, spiritual, dan tindakan nyata di tengah masyarakat masih sangat kurang. Padahal para muda inilah yang diharapkan dapat mengubah Indonesia.

Hal senada juga di dukung oleh buku Keajaiban Mimpi, bahwa sebetulnya manusia terbentuk dari harpan mimpi-mimpinya. Karena setiap orang mempunyai mimpi yang harus di wujudkan. Keajaiban Mimpi adalah misteri metafisik dan kisah cinta yang memukau, juga sarat renungan filosofis.

James tersayang, belajar dan mengajar adalah dua dari tiga hal paling penting dalam kehidupan. Mencintai kehidupan dengan tulus adalah yang paling penting. Persiapkan dirimu untuk sebuah perjalanan yang luar biasa, ambilah sebuah langkah dengan penuh semangat.

Buku Keajaiban Mimpi dan SEIP INTELLIGENCE, Spiritual Emotional Intellectual & Physique adalah kedua buku yang saling menopang untuk meraih sebuah impian yang kita cita-citakan. Bagi siapa saja yang berani bermimpi maka buku ini bagus sekali untuk di jadikan referensi.

Mimpi dan Keajaiban Hidup

Surel Cetak PDF

Resensi buku Keajaiban Mimpi karya Ace Starry

Radar Indonesia | Senin, 4 Mei 2015 | Al Mahfud

 

Perjalanan hidup seringkali membuat kita melupakan impian yang pernah dimiliki. Apa yang terjadi saat seseorang telah dewasa sering tak menggambarkan impian di kala muda. Kehidupan yang bergulir dengan sistemnya, membuat banyak orang larut dan hanyut. Impian masa muda menjadi sulit diwujudkan saat dihadapkan pada realitas kehidupan.

Ace Starry lewat novelnya yang berjudul asli The Magic Life dan hadir dalam bahasa Indonesia dengan judul Keajaiban Mimpi ini menghadirkan kisah tersebut. Seorang James Carpenter, akuntan muda yang sebenarnya sewaktu kecil memiliki kenangan indah tentang sulap. Ya, dia pernah bercita-cita menjadi seorang pesulap hebat dan terkenal.

Banyak kejadian-kejadian aneh yang dialami James. Berkali-kali ia merasa ditemui Maximillion Vi, pesulap hebat yang membuat James teringat kembali dengan kenangan sewaktu kecilnya tentang permainan sulap. Dalam setiap pertemuan dengan James, Max tak hanya menunjukkan keahliannya bermain sulap, namun ia juga banyak memberikan kata-kata filosifis berisi pesan penting tentang kehidupan. Misalnya kalimat, “kamu yang memilih, untuk menjadi apa dirimu (hlm 129). Kalimat tersebut seakan menjadi jantung cerita novel ini.

Kalimat itu muncul, awalnya saat James memikirkan pertanyaan Max, yakni “Apakah aku?”. Pertanyaan ini membuat James gelisah. Ia berfikir bahwa jika seseorang ditanya seorang apakah dirinya, pasti mereka akan menjawab pekerjaannya. Maka James berfikir bahwa ia adalah akuntan, karena pekerjaannya adalah akuntan. Namun, James kembali gelisah mengingat perkataan Max lainnya, bahwa untuk mempelajari dan meyakini apa saja yang ia inginkan, adalah pilihannya.

Berbeda dengan pertanyaan “Siapa Aku?” yang tak punya pilihan terhadapnya. Karena hanya perlu menyebutkan nama. Nama yang diberikan orang tua. Tapi pertanyaan “Apakah Aku” mengisyaratkan sikap dan pilihan hidup. Di titik inilah James merasa ragu bahwa ia hanya sekadar seorang akuntan. “Sungguh aku, seperti halnya Max, adalah juga seorang pesulap! Setidaknya aku bisa menampilkan beberapa trik,” kata James (hlm 139). Sejak saat itu, hari-hari James terus dibayangi Max, pesulap yang kerap muncul tiba-tiba, baik melalui mimpi maupun hadir di hadapannya.

Kata-kata yang paling ia ingat saat terbayang Max adalah “Kamulah orangnya!”. Kata-kata itu, dirasakan James menimbulkan semacam gelenyar dingin yang menjalar di sekujur tubuh. Gelenyar yang membuatnya merasakan energi positif, semangat hidup, kegirangan, ingatan-ingatan tentang cita-cita semasa kecil, namun di saat yang bersamaan juga terus memunculkan rasa penasaran. Rasa penasaran akan sosok Maxmillion Vi, pesulap misterius itu.

Tak hanya mengisahkan kegelisahan James akan sosok Maxmillion Vi. Di saat bersamaan, novel ini juga mengisahkan perasaan James yang mengidam-idamkan Gina, perempuan yang merupakan anak bosnya di kantor. Namun, bertahun-tahun mengenal Gina, James tak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Ia tahu, mendekati Gina hanya akan membuat masalah dengan perusahaan, bahkan kemungkinan terburuk ia bisa saja kehilangan pekerjaan. Hal ini karena Pak Lee, bosnya, teramat menyayangi Gina, anaknya.

Cerita terus bergerak sampai akhirnya James “membebaskan” diri dan menjadi seorang pesulap. Seperti halnya prolognya, novel ini diakhiri dengan adegan menegangkan saat James melakukan beraksi memainkan trik sulap di hadapan para penonton. Ia memeragakan trik melepaskan diri dari jaket pengekang dengan digantung di udara (hlm 399-409). Meski menegangkan dan membuat penonton panik, akhirnya ia bisa melepaskan diri, tidak seperti yang terjadi di prolog, di mana James terjatuh dan gagal—meski itu hanya mimpi.

Ace Starry menghadirkan ending yang “mengena”. Ia menyuguhkan perkataan James di akhir kisah, bahwa “aku” atau James, tidak akan menggantung cerita sampai di adegan pelepasan diri dari jaket pengekang tersebut. Ace Starry seperti sengaja membuat pembaca menyadari sendiri apa yang hendak disampaikan. Ia menghadirkan adegan membahagiakan saat James berhasil terbebas dari jaket pengekang, disambut gemuruh tepuk tangan penonton, dan mendapatkan ucapan selamat dari orang-orang sekeliling yang ia sayangi dan menyayanginya; ibunya, istrinya, dan Carl adiknya. Adegan itu sudah cukup membuat pembaca tahu, bahwa keberanian dan kesungguhan mengejar impian akan menghadirkan kebahagiaan, baik bagi diri sendiri maupun orang sekitar.

Kisah penuh fantasi tokoh James, ditambah dengan kata-kata bijak yang beterbaran dalam halaman-halaman novel ini memberi kesimpulan pada pembaca akan pentingnya selalu menumbuhkan impian. Meski misalnya, sekarang kita sudah dalam keadaan yang nyaman (comfort zone), namun tetap menghidupkan impian yang pernah tumbuh di masa silam tetaplah penting untuk kebahagiaan yang lebih sempurna. Namun sungguh, dibutuhkan keberanian, tekat kuat untuk melakukannya, karena keluar dari zona nyaman bukanlah pekerjaan gampang.

Membuka Ruang Baca di Mancanegara

Surel Cetak PDF

Resensi buku Membangun Ruang Baca karya John Wood

Koran Jakarta |Rabu, 24 Desember 2014 | Al Mahfud


Membaca adalah jalan membuka jendela dunia. Karena itu, menjadi penting bagi manusia di belahan Bumi mana pun untuk memiliki akses yang cukup pada buku, untuk membaca.

Ruang baca yang representatif dibutuhkan di berbagai wilayah. Hal itulah yang menjadi penggerak bagi John Wood untuk berupaya menyediakan ruang baca di berbagai tempat di dunia.

Melalui buku ini, mantan pejabat Microsoft itu mengisahkan perjalanan jatuh-bangun dalam menyediakan perpustakaan-perpustakaan di pelosok- pelosok desa dan sekolah-sekolah di pedalaman. Menyediakan ruang baca di tempat-tempat tertinggal tentu bukan hal yang mudah.

Dibutuhkan tekad yang kuat dan konsistensi menghadapi berbagai kesulitan dan risiko. Ini disadari sepenuhnya oleh John Wood. Dalam sebuah wawancara, ketika ditanya mengenai apa yang sebenarnya ia inginkan ketika merintis Room to Read, ia menyatakan, “Tujuan saya, agar anak-anak di mana pun punya akses terhadap literasi dalam bahasa ibu mereka sejak usia dini” (halaman 2).

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa tujuan jangka panjangnya adalah mematahkan anggapan bahwa anak-anak yang mana pun dapat diberi tahu bahwa mereka “lahir di tempat yang salah, dari orang tua yang salah” dan karenanya tidak akan mendapatkan pendidikan (halaman 11). Niat yang kuat tersebut kemudian terlihat dari kisah-kisah selanjutnya yang dijelaskan dalam buku ini.

Salah satu hal yang menjadi strategi Room to Read dalam mendorong orang-orang untuk mau membaca adalah model hibah-tantangan (halaman 51). Di sekolah, misalnya, hal tersebut dilakukan dengan model investasi bersama. Dalam arti pihak sekolah yang dibantu coba dipahamkan bahwa upaya itu adalah untuk mereka, dan oleh karena itu mereka harus peduli dengan keberlanjutannya.

Strategi ini terbukti ampuh, bahwa dengan komunikasi yang mengedepankan kebersamaan dan saling pengertian, pihak-pihak mana pun akan menjadi terbuka dengan apa-apa yang datang padanya, asal itu jelas demi kebaikan mereka sendiri. Upaya mengembangkan ruang baca tak hanya soal bagaimana “membujuk” pihak-pihak sekolah, pemerintah, atau berbagai lembaga untuk diajak bekerja sama.

Yang jauh lebih urgen dan menjadi inti dari upaya itu adalah bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak-anak yang menjadi sasaran utamanya. Dalam salah satu bab, disinggung mengenai sebuah strategi tentang hal tersebut. Strategi itu bernama “Baca dan Lari” (halaman 352).

Kegiatan “baca dan lari” yang diaplikasikan di suatu daerah di Bangladesh dengan menggabungkan energi yang dimiliki oleh anak-anak untuk bermain di luar rumah dengan kesenangan membaca. Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh John Wood dan kelompoknya di Room to Read seharusnya dapat menginspirasi dan memotivasi kita.

Paling tidak, untuk lebih peduli pada budaya membaca di kalangan anak-anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan halhal sederhana di sekitar kita. Misalnya dengan membuka perpustakaan di rumah untuk anak-anak di lingkungan sekitar. Bagaimanapun, hal-hal besar selalu berawal dari hal kecil.

Ide Pemikiran Pluralisme Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Radar Surabaya | Minggu, 7 Desember 2014 | Abdul Aziz Musaihi


Pada 1765, sebelas tahun menjelang deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (AS), Thomas Jefferson membeli sebuah al-Quran. Rupanya, ini menandai awal dari minatnya yang panjang terhadap Islam. Setelah itu, ia terus mencari sejumlah buku tentang bahasa, sejarah, dan perkembangan Timur Tengah. Jefferson pun intensif memahami Islam meskipun hal itu dinilai menghina keimanannya, sebuah sentimen umum yang berlaku di kalangan Protestan kala itu di Inggris dan Amerika.

Tak disangka sejak 1776, Jefferson telah membayangkan kaum Muslim hidup dan tinggal sebagai warga negara Amerika di masa depan negerinya yang baru. Sebuah pandangan baru Jefferson yang menyajikan rumusan traktat toleransi dan kebebasan beragama.

Buku karya Denise A. Spellberg ini, menjadi bukti bahwa dulu para pendiri Amerika telah memiliki gagasan-gagasan toleransi agama, terutama pandangan tentang agama Islam. Di tengah kekerasan antar sekte Kristen di Eropa, beberapa penganut Kristen pada abad 16 menganggap Islam bukan sebagai agama melainkan paham palsu yang dibawa oleh Muhammad.

Meski pendiri Amerika sebagian besarnya adalah penganut Kristen protestan, namun ada segelintir pemimpin yang punya pemikiran plural. Tak dimungkiri, banyak orang sekarang akan merasa kaget gagasan tersebut muncul pada saat itu, namun telah banyak bukti menguatkan hal itu, sebagaimana ditulis Denise dalam catatan pribadinya Jefferson; “Tidak seorang pun dari kalangan Pagan maupun Muslim atau warga Yahudi boleh dikecualikan dari hak-hak sipil persemakmuran karena agamanya.” Di sinilah catatan Jefferson upaya pertama dalam negara baru tersebut untuk memikirkan hak-hak sipil Muslim maupun Yahudi.

Jefferson, karena pandangannya yang luas tentang kebebasan beragama dan kesetaraan politik, mengalami serangan berulang kali sebagai "kafir". Kata yang pada masanya berarti bukan sekadar tidak beriman, melainkan juga seorang Muslim.

Kendati demikian, meskipun Jefferson gigih memperjuangkan kesamaan hak sipil Muslim, dalam anggapan penulis, ia tak pernah tahu bahwa Muslim pertama Amerika adalah para budak dari Afrika Barat. Mereka tidak memperoleh kebebasan yang dikiranya berlaku universal. Pendiri negara Amerika itu mungkin saja memiliki budak Muslim, meski tak ada bukti pasti tentang hal itu. Namun tak diragukan lagi, bahwa Jefferson sejak awal membayangkan Muslim sebagai sesama tetangga di masa depan negaranya, sebuah ramalan yang sudah dapat dipastikan kebenarannya saat ini.

Selain Jefferson, ada beberapa dari mereka yang andil dalam menyuarakan hak-hak muslim, yaitu para pemrotes Presbiterian dan Baptis yang menentang penetapan agama resmi di Virginia; pengacara Anglikan James Iredell dan Samuel Johnston di Carolina Utara yang menuntut hak-hak muslim dalam konvensi ratifikasi konstitusi negara bagian; dan John Leland, pengkhotbah Baptis Evangelis sekaligus sekutu Jefferson dan Madison di Virginia yang mendukung kesetaraan muslim.

Ironisnya, hanya muslim yang sampai sekarang tetap menjadi objek dari wacana penghinaan dan marjinalisasi sipil, muslim masih dianggap di banyak wilayah sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya khas Amerika.

Buku ini mengungkapkan cerita penting yang sedikit diketahui tentang riwayat kebebasan agama di Amerika, sebuah drama di mana Islam memainkan peran mengejutkan. Denise menceritakan bagaimana para pendiri Amerika Serikat, terutama Jefferson, tertarik pada ide-ide pencerahan perihal toleransi Muslim untuk menciptakan landasan praktis pemerintahan Amerika yang tengah sengit diperdebatkan. Dalam hal ini, kaum Muslim, yang kala itu bahkan tak diketahui eksistensinya di koloni itu, menjadi batas imajinasi terjauh bagi pluralisme keagamaan Amerika, yang juga mencakup kaum Yahudi dan Katolik sebagai minoritas sebenarnya.

Kini, selagi kecurigaan Barat terhadap Islam terus hidup dan jumlah warga Muslim di Amerika kian tumbuh menjadi jutaan, cerita Denise yang mengungkap gagasan revolusioner para pendiri Amerika menjadi sangat penting diketahui. Di tengah menguatnya keyakinan tentang benturan peradaban antara Islam dan Barat, buku ini menjadi bacaan yang tepat untuk merajut kembali harapan akan perdamaian dunia.

Al-Quran Jefferson

Surel Cetak PDF

Resensi buku Kontroversi al-Quran Thomas Jefferson karya Denise A. Spellberg

Koran Tempo | Minggu, 7 Desember 2014 | Kurniawan ( Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya )

 

Spellberg berusaha mengungkap mengapa Thomas Jefferson membeli Al-Quran dan memasukkan kemungkinan seorang muslim menjadi Presiden Amerika Serikat.

Kontroversi meledak pada 3 Januari 2007, ketika Keith Ellison, orang muslim pertama yang terpilih sebagai anggota kongres Amerika Serikat, mengangkat sumpah jabatan dengan dua Al-Quran berbahasa Inggris terjemahan George Sale. Kitab suci umat Islam itu milik Thomas Jefferson, salah seorang bapak bangsa dan presiden ketiga negara itu.

Ellison ingin menunjukkan bahwa seorang visioner seperti Jefferson tak takut terhadap sistem kepercayaan yang berbeda. “Ini menunjukkan bahwa toleransi beragama adalah pijakan dasar negara ini. dan perbedaan agama tak perlu ditakutkan.” kata dia, kepada kantor berita Associated Press.

Empat tahun kemudian, Denise A. Spellberg, guru besar Sejarah dan Studi Timur Tengah di University of Texas. Austin, Amerika Serikat, mulai membuka Al-Quran Jefferson yang tersimpan di Perpustakaan Kongres. Dengan semangat Ellison, Spellberg menyelidiki mengapa Jefferson membeli kitab itu dan bagaimana dia, bersama bapak bangsa Amerika lainnya, mema­sukkan kemungkinan seorang muslim menjadi warga negara dan Presiden Amerika Serikat, suatu pandangan yang melampaui zamannya.

Dalam bab-bab awal buku berjudul Kontroversi Al-Quran Thomas Jefferson ini, Spellberg memberi konteks atas munculnya prasangka buruk di kalangan umat Kristen terhadap Islam. Prasangka itu lahir dari sejarah kelam Eropa.

Pada abad ke-14, kekuasaan Turki Ustmani meluas dan menekan Kristen. Pada 1453, Konstantinopel, benteng terakhir Kekaisaran Byzantium Kristen, jatuh ke tangan Turki yang terus memperluas kekuasaannya ke Eropa dan menjadi momok bagi negara-negara yang berpenduduk mayoritas Kristen.

Turki tak hanya dipandang sebagai sebuah negara, tapi juga diidentikkan dengan Islam. Bahkan, meski keliru, Sultan Turki dianggap sebagai pemimpin spiritual tertinggi Islam, seperti Paus bagi Katolik.

Pada saat yang sama, gerakan Pembaharu Protestan muncul dan menyerang paham Katolik, yang dianggap bertentangan dengan agama Kristen sejati versi mereka. Tokoh Protestan, seper­ti Martin Luther, menganggap Katolik sebagai anti-Kristus. Ia juga memasukkan Islam dalam barisan anti-Kristus. Namun, di sisi lain, para tokoh Katolik pun menyerang Islam dan Protestan sebagai penghancur agama Kristen. Permusuhan ini terbawa ke Amerika.

Di tengah pandangan yang menyesatkan seperti itulah Jefferson membeli Al-Quran ter­jemahan Sale seharga 16 shilling pada 1765. Menurut Spellberg, pembelian itu menunjukkan minat Jefferson untuk memahami Islam dengan melihat langsung dari sumbernya. Bahkan, Jefferson berusaha mendapatkan banyak buku tentang bahasa, sejarah, dan perjalanan Timur Tengah. Upaya itu terus berlanjut sepanjang hidupnya.

Tak ada yang tahu persis pen­dapat Jefferson tentang Al-Quran karena tak ada catatan soal itu. Spellberg memilih jalan memutar dengan melacak berbagai artikel dan catatan Jefferson mengenai Islam, toleransi, dan undang- undang tentang agama. Ia mencontohkan upaya Jefferson mengakhiri penetapan Anglikanisme di Virginia.

Pada masa itu, Negara bagian Virginia diperkirakan secara eksklusif dihuni oleh penganut Kristen. Penganut agama lain menjadi minoritas, dan penganut Islam bisa jadi tak ada sama sekali di sana. Negara tersebut menerapkan aturan agar semua orang, meski bukan penganut Anglikan, wajib membayar pajak untuk mendukung keuangan gereja dan pendeta Anglikang. Jefferson mempertanyakan pemaksaan itu. Pada 1776, ia mengusulkan rancangan undang-undang penghapusan hokum yang bertentangan dengan kebebasan beribadah.

Hal paling maju dalam pergulatan pemikiran Jefferson mengenai toleransi beragama adalah jawaban atas pertanyaan berikut ini: mungkinkah seorang muslim menjadi presiden? Pada masa itu, negara-negara bagian Amerika Serikat mewajibkan religious test bagi calon pejabat publik.

Religious test, yang dapat diterjemahkan sebagai “sumpah agama”, merupakan ketentuan bahwa seseorang pantas menduduki jabatan publik bila menganut agama tertentu (dalam hal ini Protestan). Penerbit Alvabet secara keliru menerjemahkan istilah penting ini sebagai “uji agama” dan “sumpah ujian”. Dengan berlakunya sumpah agama, tak mungkin bagi umat Islam (juga penganut Katolik, Yahudi, dan non-Protestan lainnya) menduduki jabatan publik.

Sebagai anggota Dewan Perwakilan Virginia, Jefferson mengajukan Rancangan Undang-undang Kebebasan Beragama yang menggariskan “bahwa semua orang bebas memegang dan berargumen untuk mempertahankan pendapat mereka mengenai agama, dan hal serupa sama sekali tak akan mengurangi, memperbesar; atau berdampak pada kapasitas sipil mereka”.

Meski mendapat protes keras dari berbagai kelompok, Jefferson maju terus dan rancangan itu pun akhirnya disahkan pada 1786, yang menandai pemisahan tegas antara negara dan agama di Virginia.

Sebetulnya Konstitusi Amerika Serikat sudah menghapus sum­pah agama dan hanya mewajib­kan calon pejabat untuk meng- angkat sumpah atas Konstitusi, sebuah sumpah sipil. Namun hal itu dapat berlaku bila diratifikasi oleh sembilan dari 13 negara bagian. Perbedaan mengenai kemungkinan seorang muslim menjadi presiden pun berpindah ke masing-masing Negara bagian. Perbedaan itu panas, tapi pada akhirnya mereka menerima kemungkinan tersebut.

Buku Spellberg ini memang member tantangan yang menarik dalam menafsirkan pergulatan pemikiran para pendiri Negara Amerika Serikat mengenai toleransi beragama dan Islam. Sayangnya, banyak banyak bagian dari buku ini yang kurang tepat-terkadang hanya secara harfiah-sehingga uraian Spellberg menjadi sukar dipahami, bahkan bisa menyesatkan pembaca.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL