You are here Info Buku

Resensi Buku

Kiat Memotivasi Diri Membangun Mental Sukses

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kuasai Dirimu Karya Ahmad Dzikran

Kabar Madura | Senin, 24 Juli 2017 | Arinhi Nursecha

 

Semua individu memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan dan menemukan kebahagiaan abadi. Dalam mencapai keberhasilan, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Buku ini hadir memaparkan sejumlah kiat meraih sukses dengan memulainya dari diri sendiri. Langkah pertama yang dapat ditempuh adalah mengenali siapa kita sebenarnya. Dimulai dengan membuat daftar baik dan buruk kemudian mengelola semua yang ada dalam daftar tersebut, mengetahui nilai inti diri, memahami apa yang disukai dan tidak disukai, mencari hal yang membuat kita merasa unik, dan menemukan apa yang penting dalam hidup. Sesekali, menyendiri juga diperlukan untuk menjaga jarak dari semua harapan, media, bahkan teknologi.

Setiap orang perlu waktu untuk sendirian, tua-muda, kaya-miskin, jomblo atau tidak. Kesendirian adalah waktu untuk melakukan peremajaan dan berdialog dengan hatimu, untuk meraih kedamaian dan menyadari bahwa “menyepi” bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi sebaliknya, membebaskan dirimu dari hal-hal yang membelenggu. (Halaman 13)

Hal apa yang kamu syukuri? Jika kamu perlu berpikir atau lambat menjawab pertanyaan ini, maka kamu harus mengembangkan sikap bersyukur. Syukur akan membuat kita selalu realistis tanpa mengurangi semangat mencari penghidupan yang lebih baik. Bersyukur juga ciri kita selalu ingat pada kemurahan-Nya yang akan dibalas dengan tambahan nikmat-Nya. Keluarga yang selalu mencintaimu tanpa ada batasannya merupakan unsur kebahagiaan nomor satu yang wajib ada. Memiliki sahabat yang selalu sedia menyemangati merupakan kebahagiaan yang tak ada tandingannya di dunia. Memiliki kebijaksanaan tentu lebih berguna daripada harta. Bisa melihat dunia akan membuka matamu sekaligus membuatmu makin kaya sebagai manusia.

Apakah kamu jadi penyebab kesedihan orang lain? Hidup ini terlalu pendek, layakkah ia diisi dengan menjadi penyebab rasa sakit bagi orang lain? Orang yang selalu berusaha meminta maaf posisinya lebih mulia dibandingkan yang gengsi tidak mau memaafkan. Cobalah buat grafik dari beberapa tahun ke belakang hingga sekarang. Jika kamu merasa biasa-biasa saja dalam hidup, jangan sesali jika kebahagiaan, kesuksesan, atau rezeki tidak kunjung menghampiri karena tidak ada yang berubah dalam dirimu sekadar tumbuh besar. Jangan pernah remehkan kebaikan atau keburukan kecil yang kita lakukan, karena kita takkan pernah tahu kapan amalan itu akan menjadi penyelamat atau malapetaka kelak. (Halaman 29)

Kelola egomu sebelum mengelola cita-citamu. Ego turut memainkan perasaan bahwa kita lebih superior dari orang lain, begitu pun ego turut terlibat dalam menimbulkan perasaan rendah diri. Ciri seseorang dikendalikan ego di antaranya terlalu sibuk memikirkan pengakuan orang lain, gengsi meminta bantuan, ogah meminta maaf, enggan mengucapkan terima kasih, selalu membandingkan diri dan bersaing, selalu ingin lebih, bermain jadi korban (playing victim), agresif, mudah tersinggung, tidak pernah menerima kenyataan, dan selalu merasa benar sendiri.

Dalam buku ini kita dapat belajar cara menggapai cita-cita dari Anthony Robin, seorang pembicara sukses. Beliau dijuluki pembicara termahal di dunia, karena sekali bicara Tony bisa dibayar $1 juta dolar lebih. Banyak orang mengalami perubahan hidup yang drastis setelah menghadiri seminarnya. Kita juga akan menemukan kisah jatuh bangun Sylverster Stallone, sang aktor laga terkenal dalam upaya meraih mimpi.

“Jika saya mendapatkan pekerjaan lain, saya akan kehilangan satu-satunya hal penting dalam hidup saya. Bila saya berhenti berusaha dan bekerja di bidang lain, berarti saya menjual mimpi saya.” (Halaman 82)

Selain itu, buku ini juga dijabarkan tentang success mindset, membedakan seorang visioner dengan pemimpi, cara membangun serta hal-hal yang harus dihindari dalam mewujudkan success mindset. Kita juga dapat menemukan kutipan dari tokoh-tokoh ternama yang memompa semangat. Sayangnya, banyak typo bertebaran cukup mengganggu. Namun bagaimana pun, Kuasai Dirimu ini sangat layak dibaca oleh mereka yang ingin meraih kesuksesan, terutama bagi para generasi muda.

Dialah Pahlawan dan Pemersatu Islam

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Shalahuddin Al-Ayyubi Karya John Man

Lampung Pos | Minggu, 23 Juli 2017 | Teguh Afandi

 

John Man membuka buku ini dengan sebuah hipotesa megah, tanyakan pada siapa saja di Mediterania Timur, siapa pahlawan terhebat mereka dan jawaban hampir pasti yang didapatkan adalah Shalahuddin. (hal.1) Atau oleh dunia Barat disebut sebagai Saladin. Pertanyaan ini kemudian membuka halaman demi halaman kisah yang diakui oleh dunia Islam dan Barat tersebut.

Shalahuddin lahir di Tikrit, Iraq dan di usia  tahun dibawa Ayyub, ayahnya pindah ke Baalbek, Lebanon. Ia hidup di tengah dua kontradiksi Islam di kala itu. Di satu sisi, Islam sedang mengepakkan kegemilangan dalam berbagai bidang. Ilmu pengetahuan, sastra, teknologi, bahkan dunia kesenian. Namun di satu sisi, bibit perpecahan Islam diam-diam tersimpan. Semasa Shalahuddin muda, perpecahan Syiah-Sunni memiliki dimensi politik, di Kairo dan Baghdad, masing-masing dengan khilafah sendiri, dan masing-masing meyakini kebenaran sendiri. (hal.20) Di tengah ironi demikian, kecerdasan dan pikiran kritis Shalahuddin terasah.

Konflik antara Syiah dan Sunni, kemudian diperkeruh oleh konflik antara Arab dan Barat, membuat suasana Shalahuddin sedikit runyam. Hal ini pula yang kemudian membuat ia menolak saat diminta sang paman, Syirkuh, untuk menjadi ajudannya. Sifat sang paman yang bertolak belakang dengan ayahnya membuat Shalahuddin kecil enggan untuk ikut dalam barisannya. Ia tidak tertarik lantaran sudah melihat dan merasakan sendiri arti perang terutama perihal penderitaan orang lain dan kerugian yang dialami pribadinya sendiri.

Shalahuddin menjadi pemimpin Mesir pada Maret 1169. Kekuasaan tersebut disebut bukan merupakan ambisi Shalahuddin, sebagaimana yang dicontohkan oleh Ayyub ayahnya. Jabatan harus diterima dengan rendah hati, karena di setiap tindakan seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dan juga ada banyak kepentingan rakyat yang kudu dinaungi.

Shalahuddin al-Ayyubi menyatukan Suriah dengan Mesir, kemudian membangun Dinasti Al-Ayyubiyah dengan dirinya sendiri sebagai sultannya yang pertama. Tidak lama kemudian, ia dapat menggabungkan negeri An-Nubah, Sudan, Yaman, Maroko, Mosul, dan Hijaz ke dalam kekuasaannya yang besar.

Prestasi terbesar Shalahuddin ialah bagaimana ia berhasil memimpin pasukan untuk merebut kembali Yerusalem. Pada 30 September 1183, Shalahuddin memimpin 30.000 pasukan muslim merebut Yerussalem. Pasukan Kristen dsebanyak 17.000 di bawah pimpinan Guy de Lusignan. (hal.199)

Salah satu taktik yang dipergunakan Shalahuddin ialah memancing pasukan Kristen untuk keluar dari benteng. Shalahuddin tahu betul kekuatannya akan lumpuh bila justru menyerang ke dalam. Maka Shalahuddin memancing mereka keluar. Dan perang tersebut menjadi perang salib besar yang dicatat sejarah dunia.

Shalahuddin sosok pahlawan dan pemersatu Islam, pemimpin yang menghancurkan Tentara Salib dan merebut kembali Yerusalem, dikagumi baik oleh pengikut maupn musuh. (hal.321)

Gaya kepemimpinan Shalahuddin dinilai para ahli sejarah sebagai leadership yang mitsaqon golidho, berada di pertengahan, yaitu menggabungkan keras sekaligus lembut. Shalahuddin bisa saja menerapkan pendekatan perang dan kekerasan terhadap kelompok syiah dan sunni kemudian secara terus menerus menyerang tentara salib. Namun itu tidak dilakukannya.

Kharisma Shalahuddin sebagai pemimpin yang cerdas dan lemah lembut membuat sosoknya semakin dikagumi. Terbukti ketika sang pemimpin menerapkan pelurusan soal zakat. Ia mulai menegakkan zakat yang merupakan salah satu rukun Islam dan menghapuskan pajak yang tidak populer bagi para saudagar, pedagang, perajin, serta produsen yang kemudian disambut dengan gembira.

Shalahuddin al-Ayyubi merevitalisasi perekonomian dan politik Mesir, mengorganisasi ulang kekuatan militer, serta menggalakkan pendidikan dengan meresmikan dan menjadikan Universitas Al-Azhar sebagai pusat pendidikan ahlussunnah wal jamaah.

Perekonomian tumbuh, begitu pula perdagangan dengan orang luar negeri terutama Italia. Barang-barang dari Eropa dan wilayah Timur mengalir masuk, seperti rempah-rempah, kain, dan kayu. Jaminan nyata terkait dengan toleransi yang dimiliki Shalahuddin juga dibuktikan dengan masuknya cendekiawan Maimonides yang menjadi dokter pribadi Shalahuddin meskipun berbeda keyakinan.

Selain sebagai sultan dan panglima perang, Shalahuddin juga sebagai ulama dan sufi. Ia banyak mensyarah kitab hadis Abu Dawud dan melaksanakan ritual kesufian. Pada masa remaja, Shalahuddin belajar Agama Islam 10 tahun di Damaskus. Sejak usia belasan tahun, ia selalu bersama ayahnya di berbagai medan pertempuran melawan tentara salib dan menumpas para pemberontak terhadap Sultan Nuruddin Mahmud, yang juga berperan sebagai mentor politik Shalahuddin.

Shalahuddin lebih dari sekadar pahlawan dalam sejarah. Sosoknya abadi sepanjang hayat dan menjadi simbol harapan bagi dunia Arab-Islam seusai terpecah belah. Berabad-abad setelah kematiannya, di berbagai kota, dari Damaskus sampai Kairo dan di luarnya, hingga Semenanjung Arab dan Teluk, Shalahuddin terus jadi simbol ampuh bagi perlawanan agama dan militer terhadap Barat. Sebagai pejuang, pembangun, pelindung kesusastraan, dan teolog, dialah pusat memori Arab dan tipe ideal bagi persatuan negara Islam.

Biografi ini menghadirkan sosok Shalahuddin dan dunianya begitu detail dan hidup. Menggambarkan sang tokoh menuju kekuasaan, perjuangannya menyatukan faksi-faksi muslim yang terus bertikai, dan pertempurannya merebut kembali Yerusalem dan mengusir pengaruh Kristen dari tanah Arab, John Man mengeksplorasi kehidupan, legenda, dan warisan abadi sang pemersatu Islam sambil menarik signifikansinya untuk dunia saat ini.

Maka tidak aneh bila sosok Shalahuddin populer di Barat maupun Timur. Di Italia legenda Shalahuddin mengakar dan dijadikan salah satu rujukan sikap seorang pemimpin. Dia meninggal tanpa sepeser pun harta atas namanya sendiri dan tidak meninggalkan apa-apa kecuali kain kafan di badan. (hal.351) Bahkan Dante dalam bukunya Divine Comedy menempatkan Shalahuddin sebagai orang-orang non-Kristen berbudi luhur.

Pengakuan di kedua belah pihak atas sosok Shalahuddin ini setidaknya meneguhkan bahwa Islam bukan ajaran agama yang menebar kebencian kepada yang selain Muslim, juga bahwa akhlak terpuji tidak pernah memandang agama. Selama menjunjung kemanusiaan dan mulia dalam bertindak, dunia akan mencatat kebaikannya. Sebagaimana Shalahuddin atau Saladin ini.[]

Di Balik Diamnya Seorang Introver

Surel Cetak PDF

Resensi buku Introver karya MF Hazim

Harian Blora | Kamis, 13 Juli 2017 | Al-Mahfud

 

Menurut sebuah riset, sekitar 25% dari total jumlah manusia di bumi memiliki kepribadian introver. Kepribadian tertutup dan sulit bersosialisasi dengan orang lain. Mereka menjadi “minoritas” di tengah kebanyakan manusia ekstrover. Mereka terdiam dan membisu di tengah riuh-rendah orang-orang ekstrover yang gemar berbicara dan berinteraksi dengan sesama. Namun, bukan berarti para introver tak memiliki perhatian pada sekelilingnya. Justru, mereka memiliki perhatian mendalam tentang banyak hal, namun tersimpan dalam pikiran mereka sendiri.

Orang introver juga memiliki potensi besar yang jika disalurkan dengan tepat akan membawa pada kesuksesan hidup dan kemanfaatan banyak orang. Banyak tokoh-tokoh besar yang ternyata berkepribadian introver. Sebut saja penulis kenamaan JK Rowling, triliuner Bill Gates, Warren Buffet, sampai mantan presiden AS Abraham Lincoln. Maka, mengenal dan mendalami kepribadian seorang introver menjadi penting. Dari sana, kita akan mengenal karakteristik mereka, sehingga jika diperlukan, bisa membantu mereka untuk aktualisasi diri dan keluar dari kurungan yang menyulitkan mereka dalam berinteraksi dengan orang lain.

Melalui novel karya MF. Hazim ini, kita diajak mengenal dan mendalami kepribadian dan kehidupan seorang introver. Adalah lelaki bernama Nawawi, anak pendiam yang nyaris tak punya teman di sekolah. Baik sejak SMP maupun setelah menginjak SMA. Di kelas, ia melihat siswa-siswa lain yang sering berisik dan gemar berbincang sebagai orang-orang yang hanya membuang-buang waktu untuk hal tak berguna. Terlebih, ketika mendengar teman perempuan yang sering membicarakan model pakaian, tas, atau sepatu terbaru, atau keranjingan berforo selfie. “Sesekali, seharusnya kalian membicarakan perdamaian dunia, global warming, masalah sosial, dan para koruptor itu,” batin Nawawi.

Kehidupan Nawawi hanya berkutat di rumah, sekolah, dan perpustakaan. Ia bahkan tak ingin keluar rumah di masa liburan sekolah seperti yang dilakukan kebanyakan teman-temannya. Ia gemar menghabiskan hari dengan membaca buku, mendengarkan musik, dan bermain game di rumah. Untuk refreshing, ia memilih bersepeda sendirian menyusuri jalan di sekitar daerahnya. Itu pun dilakukan pada malam hari agar terhindar dari tatapan orang-orang sepanjang jalan.

Seorang introver tak tertarik dengan kehidupan populer yang digemari remaja umumnya. Ia memiliki idealisme tinggi dan perhatian pada hal-hal besar. Nawawi bahkan memiliki gagasan tentang konsep dunia yang ideal. Menurutnya, dunia saat ini tak adil terhadap orang-orang introver seperti dirinya. Sebab, banyak sistem dan tata nilai yang dibuat berdasarkan standar orang-orang ekstrover. Orang pendiam dianggap “tidak normal” dan harus berubah menjadi seperti orang ekstrover. “Sistem yang mereka buat hanya akan memaksa orang-orang introver melakukan hal-hal menakutkan dan tertekan” (hlm 210).

Pemikiran besar dan perhatian pada pelbagai persoalan penting kehidupan yang didapatkan dari membaca buku dan berita-berita di media, membuat Nawawi memiliki semacam kebanggaan pada idealisme dalam dirinya. Hal yang tak dimiliki kebanyakan remaja yang lebih disibukkan oleh kesenangan dan hal-hal material. Namun, pada saat-saat tertentu Nawawai mengaku kesepian. Jauh dalam hatinya, ia berharap bisa mendapatkan teman yang mengerti dirinya dan bisa diajak berbicara. Ia kemudian bertekad untuk belajar berbicara dan ramah terhadap orang lain.

Ambiver Menjembatani
Pada kenyataannya, mendapatkan seorang teman bukan perkara mudah bagi seorang introver. Egoisme dan rasa sungkan beramah-tamah dan basa-basai pada orang lain mempersulit mendapatkan teman. Sampai kemudian, Nawawi bertemu seseorang yang berbeda. Seorang gadis yang mengerti pemikirannya, sehingga memancingnya untuk berbicara panjang lebar—hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidup. Gadis itu bertanya padanya soal hal-hal filosofis yang mendalam; arti kehidupan, penderitaan, sampai buku-buku karya penulis besar. “Seolah ia bisa menjadi pemintal benang. Ia menarik bagian dari diriku yang menggumpal, lalu menata dan menggulungnya ulang dengan lebih rapi,” batin Nawawi (hlm 244).

Gadis tersebut ternyata seorang ambiver, campuran antara introver dan ekstrover. Kepribadian yang membuat seseorang bisa menempatkan diri menjadi introver maupun ekstrover. Gadis tersebut kemudian menjadi teman dekat Nawawi. Tak sekadar menerima kapribadiannya, ia juga telah membuat Nawawi bisa membuka pintu-pintu dalam dirinya yang selama ini tertutup, sehingga bisa lebih ramah terhadap dunia di sekitarnya. “Dia menjadi jembatan bagiku untuk mengenal dunia. Membawaku dari satu titik ke titik lainnya” (hlm 251)

Membaca kisah ini membuat kita menyadari bahwa tak ada seorang pun yang bisa hidup sendiri. Meskipun memiliki gagasan besar dan pengetahuan yang luas, seorang introver tetap membutuhkan orang lian. Orang yang bisa menghubungkan alam ide dan gagasan-gagasan dalam pikirannya dengan realistis kehidupan, agar ide tersebut bisa tertuang, terwujud, dan berbuah kemanfaatan. Orang diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal dan melengkapi satu sama lain, untuk bersama-sama mengupayakan kehidupan yang lebih baik. 

Meneladani Laku Kehidupan Sang Nabi

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Samudra Keteladanan Muhammad Karya Nurul H. Maarif

Koran Jakarta | Jumat, 23 Juni 2017 | Fajar Kurnianto


Nabi Muhammad adalah sosok agung, gambaran ideal bagi manusia yang ingin menempuh jalan kebaikan dan kemuliaan di tengah problem modernitas yang hampa spiritualitas dan kosong sisi-sisi manusiawinya. Lahir di tanah tandus gersang Mekah, dalam keluarga terhormat, punya garis keturunan dengan orang-orang mulia di masa lalu, Muhammad punya kepekaan sosial yang tinggi terhadap problem-problem yang dihadapi masyarakatnya. Kepekaan yang muncul dari kebeningan batin dan kejernihan pikiran serta keberanian untuk melakukan perubahan secara radikal tata kehidupan sosial dan keagamaan yang telah jauh menyimpang dari nilai-nilai ilahiah dan insaniah.

Tidak ada yang menyangkal bahwa Muhammad adalah tokoh penting dalam sejarah yang mampu membuat perubahan besar di Jazirah Arab kala itu, bahkan dunia, hingga saat ini. Seperti halnya tokoh-tokoh besar agama sebelumnya.

Buku Samudra Keteladanan Muhammad yang ditulis oleh Nurul H. Maarif ini menjadi salah satu dari banyak buku yang memotret kehidupan seorang Muhammad dari sumber-sumber sejarah klasik. Namun, berbeda dengan sejumlah penulis sejarah pada umumnya yang memaparkan kajiannya berdasarkan kronologi, buku ini memotret sejarah Muhammad dari perspektif kemanusiaan atau sisi-sisi manusiawinya. Muhammad tidak semata dilihat sebagai seorang mulia dan suci utusan Tuhan, tetapi juga sosok manusia biasa seperti kita yang biasa bergaul dengan orang-orang di sekitarnya, punya istri, punya anak, punya sahabat, punya pekerjaan, bahkan punya musuh yang selalu mengganggu dan mem-bully-nya.

Di buku ini, Muhammad dilihat dari sisi karakter atau kepribadiannya, serta kebiasaan yang dilakukannya sehari-hari, juga dari sisi kesosokannya yang begitu dekat atau merakyat. Disebutkan, Muhammad dekat dengan orang tanpa membeda-bedakan keyakinan dan kepercayaannya. Dalam perjalanan hijrahnya ke Madinah, ia dituntun oleh seorang penunjuk jalan nonmuslim, bahkan seorang pagan, bernama Abdullah bin Uraiqit Al-Laitsi. Salah satu mertua Muhammad juga adalah seorang Yahudi Bani Quraizhah, bernama Huyay bin Akhtab, ayah Shafiyah, istri Muhammad. Hubungan dengan sang mertua yang nonmuslim ini terus berlanjut layaknya kekerabatan. Dikabarkan, sampai meninggal dunia, Huyay tetap memeluk Yahudi. Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani, adalah sepupu istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Dialah yang menjelaskan kepada Muhammad bahwa pengalaman spiritual Muhammad di gua Hira sama seperti pengalaman Musa yang ditemui Namus (Jibril) di masa lalu (hal. 159).

Karakter Muhammad yang menarik juga adalah kecintaan dan kasih-sayangnya terhadap anak yatim. Dikisahkan, ketika Muhammad ke luar rumah untuk mengerjakan salat Idul Fitri, ia melihat anak-anak kecil bermain. Namun, ada satu anak yang tampak memencil dan menyendiri, tidak ikut bermain, malah menangis sedih. Ia pun mendekati sang anak dan menanyainya. Sang anak menjawab bahwa ayahnya mati dalam peperangan, ibunya menikah lagi, rumah dan hartanya diambil-alih sang ibu. Akibatnya, ia tak punya pakaian, lapar dan hanya dapat menangis.

Membaca buku ini, kita seperti melihat wujud nyata seorang Muhammad yang punya karakter amat kuat yang layak diteladani. Kepribadiannya yang baik, jiwanya yang bersih, pemikirannya jernih, luas dan terbuka, membuatnya diakui sebagai manusia terhormat.

Sinar Keteladanan Nabi Muhammad

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Samudra Keteladanan Muhammad Karya Nurul H. Maarif

Lampung Pos | Jumat, 23 Juni 2017 | Teguh Afandi


Dalam buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia, Michael H. Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai orang paling berpengaruh dengan urutan nomor 1. Meski diakuinya, Heart akan menerima banyak kontroversi atas pemilihan sosok Muhammad tersebut. Namun dalam penjelasannya, bahwa Muhammad dianggap sebagai pemimpin agama yang bahkan ketika sudah wafat, masih ada jutaan ummatnya yang terus mencintai dan mengikuti ajarannya.

Buku Samudra Keteladanan Muhammad ini tidak sekadar merangkum sirah atau sejarah Nabi Muhammad. Namun penulis, merangkum petikan-petikan pelajaran yang bisa kita terapkan di kehidupan sehari-hari. Terlebih di tengah suasana keberagamaan di negeri ini yang mulai sering saling sikut dan sindir kepemahaman. Buku ini mengurai lengkap perjalanan hidup Rasulullah Muhammad SAW sekaligus mengungkap karakteristik dan kepribadiannya. Beliau mampu mengubah wajah dunia yang berperadaban dalam waktu sangat singkat.

Salah satu kisah yang menarik adalah bagaimana Muhammad berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik perebutan perihal siapa yang berhak meletakkan hajjar aswad. Kabilah dan suku di Arab merasa lebih unggul dan punya hak sepenuhnya untuk meletakkan batu penting dalam kakbah tersebut. Namun Muhammad memiliki cara lain untuk menyelesaikan konflik tersebut, yakni dengan meletakkan hajjar aswad dalam sebentang kain, dan meminta pemuka setiap kabilah memegang kain dan meletakkan bersama-sama. Dari sinilah, Muhammad kemudian mendapatkan gelar al-amin, Yang terpercaya bahkan sebelum didaulat sebagai Nabi dan oleh kabilah yang kemudian kelak memusuhinya.

Kisah keteladanan Muhammad yang menandakan kesantunan ialah saat Muhammad tentang hukuman bagi pezina yang berada di luar umatnya. Muhammad kembali dipercaya sebagai penengah situasi.

Tak serta-merta beliau bersikap egois karena dipilih sebagai pemutus masalah. Pada kasus pezina di kalangan umat lain, ia ditanya tentang hukuman apa yang layak diberikan. Muhammad SAW pun lantas minta diperdengarkan perihal hukum perilaku tersebut yang terkandung dalam Taurat.

Pribadinya yang bisa dipercaya membuat kaum mana pun tidak sungkan untuk meminta pertolongannya. Pun dengan sifat lainnya seperti lemah lembut dalam bertutur kata, juga selalu mengedepankan musyawarah untuk menyelesaikan persoalan. Karena itu, banyak sahabat dan masyarakat yang nyaman berada di sekeliling Muhammad SAW.

Buku yang ditulis Nurul H Maarif ini juga mengisahkan bagaimana Muhammad SAW tidak hanya menilai seseorang dari satu sisi, harus ada keseimbangan antara dunia dan akhirat yang menjadi tanggungan dari setiap orang. Hal itu disampaikan nabi saat menerima kedatangan rombongan tamu yang berasal dari pedalaman ke Madinah.

Mereka bercerita tentang salah seorang ahli ibadah di daerahnya, salatnya rajin dan khusyuk, iktikafnya tak mengenal waktu, pun dengan zikirnya yang tiada henti. Masyarakat pun menilai kegiatan ritual yang dilakukan orang tersebut sebagai kegiatan paling mulia.

Hal utama yang lantas ditanyakan Muhammad SAW ialah perihal kehidupan dunianya, bagaimana dengan kehidupan dan kecukupan nafkah bagi keluarganya. Mendengar pertanyaan tersebut, rombongan tersebut menjawab merekalah yang menanggung kecukupan hidup keluarga sang ahli ibadah.

Dengan santun dan lembut, Muhammad SAW justru mengucap bahwa mereka (kelompok yang datang kepada Muhammad SAW)-lah yang lebih baik daripada pria yang gemar beribadah tanpa lelah. Rupanya Rasulullah SAW memiliki alasan atas ucapannya. Bagi beliau, apakah jika pria yang selalu beribadah tersebut terbebani oleh urusan dunia seperti anak dan istri, lantas masih tetap bisa tekun beribadah. Selama ini, pria tersebut bisa beribadah dengan nyaman dan tekun karena masyarakatlah yang menciptakan kondisi demikian.

Bagi Rasulullah SAW, harus tetap ada keseimbangan antara dunia dan akhirat, dengan tetap memprioritaskan kepentingan akhirat. Seseorang yang fokus hanya mengejar dunia, otomatis akan melupakan akhirat, pun sebaliknya yang fokus mengejar akhirat telah menyalahi fitrahnya sebagai khalifah yang telah diberi mandat untuk mengelola bumi Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Apabila menjadi orang kaya, kekayaannya bisa berguna untuk kepentingan orang banyak. Dan, jika menjadi penguasa, hendaknya kekuasaannya untuk kemaslahatan rakyat.

Sinar Keteladanan

Dalam satu subbab yang berjudul ‘Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku’ diceritakan tentang pertemuan baik Rasulullah SAW dengan orang-orang yang berbeda agama. Mulai kabar kenabiannya yang justru didapat dari dua orang pendeta, yaitu Pendeta Buhaira dan Pendeta Waraqah, Muhammad SAW juga menjadikan sahabatnya seorang nonmuslim sebagai penunjuk jalan saat melakukan hijrah dari Mekah menuju Yatsrib (kemudian disebut Madinah). Hubungannya dengan umat lain berjalan layaknya hubungan kekerabatan, dan dilandasi dengan sikap saling percaya.

Pun dengan rambu-rambu agama Islam yang tidak membenarkan adanya pemaksaan dalam beragama, karena agama merupakan urusan individu. Jika sifat Rasulullah SAW ini bisa diteladani dan diterapkan, hubungan yang harmonis di antara masyarakat akan semakin menguat.

Nabi Muhammad dengan mudahnya membagi kasih sayang pada siapa pun tanpa memandang latar belakang, pun dengan dirinya yang tak pernah marah apabila pribadinya dicaci dan dihina kecuali Islam yang dihina, kerap mendahulukan musyawarah sebagai langkah utama penyelesaian masalah, bukan malah main hakim sendiri. Ia tak sungkan mendengar pendapat orang lain, bahkan yang berbeda keyakinan dengannya.

Buku ini menjadi kaca atas keadaan akhir-akhir ini, di mana orang beragama justru kerap menjatuhkan dan menjelekkan orang lain. Bila Muhammad SAW manusia dengan sinar keteladanan paling terang saja, tak sekali pun mencontohkan perbuatan keji. Lantas dari siapa kita mencontoh sikap kasar dan gemar memaki?

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL