You are here Info Buku Resensi Buku

Resensi Buku

Kisah Para Taipan Asia Tenggara Pasca-Perang Dunia Kedua

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Asian Godfather Karya Joe Studwell

Koran Jakarta | Rabu, 9 Agustus 2017 | Arinhi Nursech

 

Buku ini menceritakan orang-orang yang sangat kaya di Asia pasca-Perang Dunia Kedua. Asia Tenggara semula terdiri dari lima negara: Singapura, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Hong Kong Menjadi kontributor tenggara. Pada 1996, setahun sebelum permulaan ‘krisis finansial Asia’ mengubah wajah ekonomi kawasan, majalah Forbes merilis orang terkaya. Ada delapan pengusaha Asia Tenggara di antara 25 teratas dunia dan 13 di antara lima puluh teratas.

Inilah barisan terdepan para godfathers Asia yang memiliki harta pribadi lebih dari empat miliar dollar AS. Mereka adalah Li Ka Shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanont, Lim Sieo Liong, Tan Yu, dan Kwek Leng Beng. Di belakang mereka ada taipan-taipan lebih kecil, dengan harta bersih satu sampai tiga miliar dollar AS (halaman xii).

Sebagian godfathers Asia memang terlibat dalam penyelundupan komoditas-komoditas lunak dan keras. Yang agak jarang, obat bius dan senjata. Aktivitas-aktivitas ini sering melibatkan dunia bawah tanah kriminal Asia, triad Tiongkok, preman Indonesia, dan seterusnya. Inilah fakta kehidupan para taipan. Penggunaan istilah godfathers dalam buku ini bertujuan merefleksikan tradisi-tradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian, dan mistik yang benar-benar menjadi bagian dari kisah para taipan Asia.

Judul itu juga lebih dari sindiran kecil, sebagaimana Mario Puzo, sang pengarang asli Godfather bermaksud menunjukkan bahwa ada mitologi lain yang besar tumbuh di antara para taipan Asia. Sementara itu, untuk para godfathers, dikemukakan, mereka elite yang tidak khas. Mereka aristokrat ekonomi bekerja sama setengah hati dengan elite lokal.

Secara kultural, para godfathers adalah bunglon berpendidikan bagus, kosmopolitan, menguasai lebih dari satu bahasa. Pemerintahan yang tersentralisasi kurang meregulasi kompetisi. Namun, terlalu meregulasi akses pasar melalui lisensi yang restriktif dan tender nonkompetitif. Ini dengan sendirinya akan membuat para kapitalis pedagang berhasil naik ke puncak dengan mengarbitrase inefisiensi-inefisiensi yang diciptakan politisi.

Kecenderungan itu diperkuat di Asia Tenggara oleh meluasnya keberadaan ‘demokrasi yang dimanipulasi.’ Seperti terjadi di Singapura, Malaysia, dan Indonesia di bawah Soeharto. Lanskap ekonomi kontemporer Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura, dan Hong Kong dibentuk oleh interaksi dua kekuatan sejarah: migrasi dan kolonialisme.

Meski para sejarawan telah memberi perhatian besar pada dampak budaya Tiongkok di Asia, migrasi ke kawasan tenggara dari orang Tiongkok, Persia, Arab, dan India benar-benar mengambil pelajaran berbeda. Kaum migrant bersedia mendekati bentuk-bentuk lokal yang dominan (halaman 5).

Buku dibagi ke dalam tiga segmen besar. Bagian satu berisi tentang godfather zaman dulu. Bagian dua tentang menjadi godfather, yang kemudian dibagi lagi menjadi empat bab. Bagian ketiga berisi tentang godfather masa kini. Mereka mempertahankan yang berharga. Ini dibagi dalam dua bab.

Buku juga menyajikan sepak terjang dan sisi gelap para tokoh godfather dari Thailand, Malaysia, Indonesia, Hong Kong, Macau, hingga Singapura. Tak hanya itu, buku juga melampirkan catatan referensi.

UU Pernikahan Beda Agama Perlu Diperbaiki

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Nikah Beda Agama: Kenapa ke Luar Negeri? Karya Sri Wahyuni

Koran Jakarta | Senin, 07 Agustus 2017 | Abdul Manan

 

Islam mengistilahkan pernikahan dengan mistaqan galizha, ikatan yang sangat kuat karena tidak hanya diikat dengan akad nikah di depan penghulu, namun juga komitmen di hadapan Allah. Kesucian pernikahan setara dengan kesucian para rasul dan ajaran kitab suci. Dalam Kristen Katolik, suami-istri dipersatukan oleh Allah sendiri sehingga keduanya menjadi satu daging. Dalam Efesus Bab 5, Paulus membandingkan hubungan suami-istri seperti hubungan Kristus dengan umat-Nya. Dalam Hindu, Buddha, dan agama-agama lain juga terdapat seperangkat nilai yang secara ritual berbeda, namun menjunjung pernikahan pada taraf sakralitas serupa (hlm 48–49).

Secara hukum, dia diatur UU Perkawinan Pasal 1 Nomer 1 Tahun 1974. Pernikahan adalah ikatan lahir dan batin. Ikatan lahir berkaitan dengan hukum formal, sedangkan ikatan batin berdasarkan ajaran agama (hlm 2). Dengan kata lain, hukum formal sah jika didukung ajaran agama.

Jika agama salah satu calon mempelai tidak mengizinkan, secara hukum pernikahan tidak sah. Hal demikian secara tegas dijabarkan UU Perkawinan Pasal 2 Ayat 1. Ajaran agama dijadikan pijakan hukum perkawinan karena berhubungan kuat dengan Pancasila, sila Pertama.

Sebab setiap ajaran agama cenderung melarang umatnya menikah dengan penganut agama lain dan hukum tidak bisa menerima prosesi pernikahan yang dilarang agama. Maka, pernikahan beda agama tidak memiliki tempat dalam hukum. Selama ini, pasangan yang berbeda agama melakukan dua cara agar tetap bisa menikah. Mereka pura-pura masuk agama pasangannya, habis itu, kembali kepada agamanya semula. Cara yang lain, menikah di luar negeri.

Mereka memilih negara yang menerapkan model perkawinan berdasarkan UU sipil, bukan agama, seperti Australia, Singapura, Hong Kong, dan beberapa negara Barat. Selesai menikah, mereka segera kembali ke Tanah Air dan mendaftarkan diri ke kantor Catatan Sipil dengan mengajukan akta nikah. Gaya pernikahan seperti ini cukup diminati. Berdasarkan data Capil DKI Jakarta pada bulan Mei 2011, terdapat 79 pernikahan beda agama di luar negeri (hlm 16).

Secara hukum pernikahan demikian tetap tidak sah karena jelas-jelas bertentangan dengan UU Perkawinan Indonesian Pasal 56 UU. Hukum Perdata Internasional (HPI) juga menjelaskan, keputusan hukum negara asing bisa ditolak jika mengganggu ketertiban umum negara lain. Masalahnya, apakah pernikahan beda agama di luar negeri mengganggu ketertiban umum masyarakat Indonesia?

Jika didasarkan kepada fakta selama ini, tidak ada komplain masyarakat akan fenomena tersebut. Ini berarti pernikahan beda agama dari sisi sosiologis diterima. Agar tidak menjadi aturan ambigu, buku yang awalnya disertasi ini menawarkan beragam usulan filosofis, kultural, dan sosiologis. Dengan begitu UU Pernikahan di Indonesia bisa diterapkan secara utuh.

Kerangka pemikiran disertasi ini berasaskan aksioma, hukum berasal dari dan untuk rakyat. Jika masyarakat siap menerima pernikahan beda agama, selayaknya hukum juga diarahkan ke situ. Penerimaan masyarakat tersebut juga harus dipadukan dengan Pancasila yang terdiri atas unsur negara, adat, budaya, dan religius (hlm 56). Tiga unsur tersebut tidak boleh tidak harus dieksplorasi agar kemudian ada satu platform nilai yang bisa diakurkan untuk menjadi UU Perkawinan yang ideal.

Sebagai buku yang berasal dari disertasi, tentu data hasil riset dan referensi sebagai perbandingan dan pengayaan tentang pembahasan pernikahan beda agama sangat mumpuni. Ini mencakup fenomena di negara-negara Timur dan Barat. Dengan demikian, pembaca diajak memikirkan pula secara komparatif UU yang pas untuk pernikahan beda agama di negeri ini.

Kiat Memotivasi Diri Membangun Mental Sukses

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kuasai Dirimu Karya Ahmad Dzikran

Kabar Madura | Senin, 24 Juli 2017 | Arinhi Nursecha

 

Semua individu memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan dan menemukan kebahagiaan abadi. Dalam mencapai keberhasilan, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Buku ini hadir memaparkan sejumlah kiat meraih sukses dengan memulainya dari diri sendiri. Langkah pertama yang dapat ditempuh adalah mengenali siapa kita sebenarnya. Dimulai dengan membuat daftar baik dan buruk kemudian mengelola semua yang ada dalam daftar tersebut, mengetahui nilai inti diri, memahami apa yang disukai dan tidak disukai, mencari hal yang membuat kita merasa unik, dan menemukan apa yang penting dalam hidup. Sesekali, menyendiri juga diperlukan untuk menjaga jarak dari semua harapan, media, bahkan teknologi.

Setiap orang perlu waktu untuk sendirian, tua-muda, kaya-miskin, jomblo atau tidak. Kesendirian adalah waktu untuk melakukan peremajaan dan berdialog dengan hatimu, untuk meraih kedamaian dan menyadari bahwa “menyepi” bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi sebaliknya, membebaskan dirimu dari hal-hal yang membelenggu. (Halaman 13)

Hal apa yang kamu syukuri? Jika kamu perlu berpikir atau lambat menjawab pertanyaan ini, maka kamu harus mengembangkan sikap bersyukur. Syukur akan membuat kita selalu realistis tanpa mengurangi semangat mencari penghidupan yang lebih baik. Bersyukur juga ciri kita selalu ingat pada kemurahan-Nya yang akan dibalas dengan tambahan nikmat-Nya. Keluarga yang selalu mencintaimu tanpa ada batasannya merupakan unsur kebahagiaan nomor satu yang wajib ada. Memiliki sahabat yang selalu sedia menyemangati merupakan kebahagiaan yang tak ada tandingannya di dunia. Memiliki kebijaksanaan tentu lebih berguna daripada harta. Bisa melihat dunia akan membuka matamu sekaligus membuatmu makin kaya sebagai manusia.

Apakah kamu jadi penyebab kesedihan orang lain? Hidup ini terlalu pendek, layakkah ia diisi dengan menjadi penyebab rasa sakit bagi orang lain? Orang yang selalu berusaha meminta maaf posisinya lebih mulia dibandingkan yang gengsi tidak mau memaafkan. Cobalah buat grafik dari beberapa tahun ke belakang hingga sekarang. Jika kamu merasa biasa-biasa saja dalam hidup, jangan sesali jika kebahagiaan, kesuksesan, atau rezeki tidak kunjung menghampiri karena tidak ada yang berubah dalam dirimu sekadar tumbuh besar. Jangan pernah remehkan kebaikan atau keburukan kecil yang kita lakukan, karena kita takkan pernah tahu kapan amalan itu akan menjadi penyelamat atau malapetaka kelak. (Halaman 29)

Kelola egomu sebelum mengelola cita-citamu. Ego turut memainkan perasaan bahwa kita lebih superior dari orang lain, begitu pun ego turut terlibat dalam menimbulkan perasaan rendah diri. Ciri seseorang dikendalikan ego di antaranya terlalu sibuk memikirkan pengakuan orang lain, gengsi meminta bantuan, ogah meminta maaf, enggan mengucapkan terima kasih, selalu membandingkan diri dan bersaing, selalu ingin lebih, bermain jadi korban (playing victim), agresif, mudah tersinggung, tidak pernah menerima kenyataan, dan selalu merasa benar sendiri.

Dalam buku ini kita dapat belajar cara menggapai cita-cita dari Anthony Robin, seorang pembicara sukses. Beliau dijuluki pembicara termahal di dunia, karena sekali bicara Tony bisa dibayar $1 juta dolar lebih. Banyak orang mengalami perubahan hidup yang drastis setelah menghadiri seminarnya. Kita juga akan menemukan kisah jatuh bangun Sylverster Stallone, sang aktor laga terkenal dalam upaya meraih mimpi.

“Jika saya mendapatkan pekerjaan lain, saya akan kehilangan satu-satunya hal penting dalam hidup saya. Bila saya berhenti berusaha dan bekerja di bidang lain, berarti saya menjual mimpi saya.” (Halaman 82)

Selain itu, buku ini juga dijabarkan tentang success mindset, membedakan seorang visioner dengan pemimpi, cara membangun serta hal-hal yang harus dihindari dalam mewujudkan success mindset. Kita juga dapat menemukan kutipan dari tokoh-tokoh ternama yang memompa semangat. Sayangnya, banyak typo bertebaran cukup mengganggu. Namun bagaimana pun, Kuasai Dirimu ini sangat layak dibaca oleh mereka yang ingin meraih kesuksesan, terutama bagi para generasi muda.

Dialah Pahlawan dan Pemersatu Islam

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Shalahuddin Al-Ayyubi Karya John Man

Lampung Pos | Minggu, 23 Juli 2017 | Teguh Afandi

 

John Man membuka buku ini dengan sebuah hipotesa megah, tanyakan pada siapa saja di Mediterania Timur, siapa pahlawan terhebat mereka dan jawaban hampir pasti yang didapatkan adalah Shalahuddin. (hal.1) Atau oleh dunia Barat disebut sebagai Saladin. Pertanyaan ini kemudian membuka halaman demi halaman kisah yang diakui oleh dunia Islam dan Barat tersebut.

Shalahuddin lahir di Tikrit, Iraq dan di usia  tahun dibawa Ayyub, ayahnya pindah ke Baalbek, Lebanon. Ia hidup di tengah dua kontradiksi Islam di kala itu. Di satu sisi, Islam sedang mengepakkan kegemilangan dalam berbagai bidang. Ilmu pengetahuan, sastra, teknologi, bahkan dunia kesenian. Namun di satu sisi, bibit perpecahan Islam diam-diam tersimpan. Semasa Shalahuddin muda, perpecahan Syiah-Sunni memiliki dimensi politik, di Kairo dan Baghdad, masing-masing dengan khilafah sendiri, dan masing-masing meyakini kebenaran sendiri. (hal.20) Di tengah ironi demikian, kecerdasan dan pikiran kritis Shalahuddin terasah.

Konflik antara Syiah dan Sunni, kemudian diperkeruh oleh konflik antara Arab dan Barat, membuat suasana Shalahuddin sedikit runyam. Hal ini pula yang kemudian membuat ia menolak saat diminta sang paman, Syirkuh, untuk menjadi ajudannya. Sifat sang paman yang bertolak belakang dengan ayahnya membuat Shalahuddin kecil enggan untuk ikut dalam barisannya. Ia tidak tertarik lantaran sudah melihat dan merasakan sendiri arti perang terutama perihal penderitaan orang lain dan kerugian yang dialami pribadinya sendiri.

Shalahuddin menjadi pemimpin Mesir pada Maret 1169. Kekuasaan tersebut disebut bukan merupakan ambisi Shalahuddin, sebagaimana yang dicontohkan oleh Ayyub ayahnya. Jabatan harus diterima dengan rendah hati, karena di setiap tindakan seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dan juga ada banyak kepentingan rakyat yang kudu dinaungi.

Shalahuddin al-Ayyubi menyatukan Suriah dengan Mesir, kemudian membangun Dinasti Al-Ayyubiyah dengan dirinya sendiri sebagai sultannya yang pertama. Tidak lama kemudian, ia dapat menggabungkan negeri An-Nubah, Sudan, Yaman, Maroko, Mosul, dan Hijaz ke dalam kekuasaannya yang besar.

Prestasi terbesar Shalahuddin ialah bagaimana ia berhasil memimpin pasukan untuk merebut kembali Yerusalem. Pada 30 September 1183, Shalahuddin memimpin 30.000 pasukan muslim merebut Yerussalem. Pasukan Kristen dsebanyak 17.000 di bawah pimpinan Guy de Lusignan. (hal.199)

Salah satu taktik yang dipergunakan Shalahuddin ialah memancing pasukan Kristen untuk keluar dari benteng. Shalahuddin tahu betul kekuatannya akan lumpuh bila justru menyerang ke dalam. Maka Shalahuddin memancing mereka keluar. Dan perang tersebut menjadi perang salib besar yang dicatat sejarah dunia.

Shalahuddin sosok pahlawan dan pemersatu Islam, pemimpin yang menghancurkan Tentara Salib dan merebut kembali Yerusalem, dikagumi baik oleh pengikut maupn musuh. (hal.321)

Gaya kepemimpinan Shalahuddin dinilai para ahli sejarah sebagai leadership yang mitsaqon golidho, berada di pertengahan, yaitu menggabungkan keras sekaligus lembut. Shalahuddin bisa saja menerapkan pendekatan perang dan kekerasan terhadap kelompok syiah dan sunni kemudian secara terus menerus menyerang tentara salib. Namun itu tidak dilakukannya.

Kharisma Shalahuddin sebagai pemimpin yang cerdas dan lemah lembut membuat sosoknya semakin dikagumi. Terbukti ketika sang pemimpin menerapkan pelurusan soal zakat. Ia mulai menegakkan zakat yang merupakan salah satu rukun Islam dan menghapuskan pajak yang tidak populer bagi para saudagar, pedagang, perajin, serta produsen yang kemudian disambut dengan gembira.

Shalahuddin al-Ayyubi merevitalisasi perekonomian dan politik Mesir, mengorganisasi ulang kekuatan militer, serta menggalakkan pendidikan dengan meresmikan dan menjadikan Universitas Al-Azhar sebagai pusat pendidikan ahlussunnah wal jamaah.

Perekonomian tumbuh, begitu pula perdagangan dengan orang luar negeri terutama Italia. Barang-barang dari Eropa dan wilayah Timur mengalir masuk, seperti rempah-rempah, kain, dan kayu. Jaminan nyata terkait dengan toleransi yang dimiliki Shalahuddin juga dibuktikan dengan masuknya cendekiawan Maimonides yang menjadi dokter pribadi Shalahuddin meskipun berbeda keyakinan.

Selain sebagai sultan dan panglima perang, Shalahuddin juga sebagai ulama dan sufi. Ia banyak mensyarah kitab hadis Abu Dawud dan melaksanakan ritual kesufian. Pada masa remaja, Shalahuddin belajar Agama Islam 10 tahun di Damaskus. Sejak usia belasan tahun, ia selalu bersama ayahnya di berbagai medan pertempuran melawan tentara salib dan menumpas para pemberontak terhadap Sultan Nuruddin Mahmud, yang juga berperan sebagai mentor politik Shalahuddin.

Shalahuddin lebih dari sekadar pahlawan dalam sejarah. Sosoknya abadi sepanjang hayat dan menjadi simbol harapan bagi dunia Arab-Islam seusai terpecah belah. Berabad-abad setelah kematiannya, di berbagai kota, dari Damaskus sampai Kairo dan di luarnya, hingga Semenanjung Arab dan Teluk, Shalahuddin terus jadi simbol ampuh bagi perlawanan agama dan militer terhadap Barat. Sebagai pejuang, pembangun, pelindung kesusastraan, dan teolog, dialah pusat memori Arab dan tipe ideal bagi persatuan negara Islam.

Biografi ini menghadirkan sosok Shalahuddin dan dunianya begitu detail dan hidup. Menggambarkan sang tokoh menuju kekuasaan, perjuangannya menyatukan faksi-faksi muslim yang terus bertikai, dan pertempurannya merebut kembali Yerusalem dan mengusir pengaruh Kristen dari tanah Arab, John Man mengeksplorasi kehidupan, legenda, dan warisan abadi sang pemersatu Islam sambil menarik signifikansinya untuk dunia saat ini.

Maka tidak aneh bila sosok Shalahuddin populer di Barat maupun Timur. Di Italia legenda Shalahuddin mengakar dan dijadikan salah satu rujukan sikap seorang pemimpin. Dia meninggal tanpa sepeser pun harta atas namanya sendiri dan tidak meninggalkan apa-apa kecuali kain kafan di badan. (hal.351) Bahkan Dante dalam bukunya Divine Comedy menempatkan Shalahuddin sebagai orang-orang non-Kristen berbudi luhur.

Pengakuan di kedua belah pihak atas sosok Shalahuddin ini setidaknya meneguhkan bahwa Islam bukan ajaran agama yang menebar kebencian kepada yang selain Muslim, juga bahwa akhlak terpuji tidak pernah memandang agama. Selama menjunjung kemanusiaan dan mulia dalam bertindak, dunia akan mencatat kebaikannya. Sebagaimana Shalahuddin atau Saladin ini.[]

Di Balik Diamnya Seorang Introver

Surel Cetak PDF

Resensi buku Introver karya MF Hazim

Harian Blora | Kamis, 13 Juli 2017 | Al-Mahfud

 

Menurut sebuah riset, sekitar 25% dari total jumlah manusia di bumi memiliki kepribadian introver. Kepribadian tertutup dan sulit bersosialisasi dengan orang lain. Mereka menjadi “minoritas” di tengah kebanyakan manusia ekstrover. Mereka terdiam dan membisu di tengah riuh-rendah orang-orang ekstrover yang gemar berbicara dan berinteraksi dengan sesama. Namun, bukan berarti para introver tak memiliki perhatian pada sekelilingnya. Justru, mereka memiliki perhatian mendalam tentang banyak hal, namun tersimpan dalam pikiran mereka sendiri.

Orang introver juga memiliki potensi besar yang jika disalurkan dengan tepat akan membawa pada kesuksesan hidup dan kemanfaatan banyak orang. Banyak tokoh-tokoh besar yang ternyata berkepribadian introver. Sebut saja penulis kenamaan JK Rowling, triliuner Bill Gates, Warren Buffet, sampai mantan presiden AS Abraham Lincoln. Maka, mengenal dan mendalami kepribadian seorang introver menjadi penting. Dari sana, kita akan mengenal karakteristik mereka, sehingga jika diperlukan, bisa membantu mereka untuk aktualisasi diri dan keluar dari kurungan yang menyulitkan mereka dalam berinteraksi dengan orang lain.

Melalui novel karya MF. Hazim ini, kita diajak mengenal dan mendalami kepribadian dan kehidupan seorang introver. Adalah lelaki bernama Nawawi, anak pendiam yang nyaris tak punya teman di sekolah. Baik sejak SMP maupun setelah menginjak SMA. Di kelas, ia melihat siswa-siswa lain yang sering berisik dan gemar berbincang sebagai orang-orang yang hanya membuang-buang waktu untuk hal tak berguna. Terlebih, ketika mendengar teman perempuan yang sering membicarakan model pakaian, tas, atau sepatu terbaru, atau keranjingan berforo selfie. “Sesekali, seharusnya kalian membicarakan perdamaian dunia, global warming, masalah sosial, dan para koruptor itu,” batin Nawawi.

Kehidupan Nawawi hanya berkutat di rumah, sekolah, dan perpustakaan. Ia bahkan tak ingin keluar rumah di masa liburan sekolah seperti yang dilakukan kebanyakan teman-temannya. Ia gemar menghabiskan hari dengan membaca buku, mendengarkan musik, dan bermain game di rumah. Untuk refreshing, ia memilih bersepeda sendirian menyusuri jalan di sekitar daerahnya. Itu pun dilakukan pada malam hari agar terhindar dari tatapan orang-orang sepanjang jalan.

Seorang introver tak tertarik dengan kehidupan populer yang digemari remaja umumnya. Ia memiliki idealisme tinggi dan perhatian pada hal-hal besar. Nawawi bahkan memiliki gagasan tentang konsep dunia yang ideal. Menurutnya, dunia saat ini tak adil terhadap orang-orang introver seperti dirinya. Sebab, banyak sistem dan tata nilai yang dibuat berdasarkan standar orang-orang ekstrover. Orang pendiam dianggap “tidak normal” dan harus berubah menjadi seperti orang ekstrover. “Sistem yang mereka buat hanya akan memaksa orang-orang introver melakukan hal-hal menakutkan dan tertekan” (hlm 210).

Pemikiran besar dan perhatian pada pelbagai persoalan penting kehidupan yang didapatkan dari membaca buku dan berita-berita di media, membuat Nawawi memiliki semacam kebanggaan pada idealisme dalam dirinya. Hal yang tak dimiliki kebanyakan remaja yang lebih disibukkan oleh kesenangan dan hal-hal material. Namun, pada saat-saat tertentu Nawawai mengaku kesepian. Jauh dalam hatinya, ia berharap bisa mendapatkan teman yang mengerti dirinya dan bisa diajak berbicara. Ia kemudian bertekad untuk belajar berbicara dan ramah terhadap orang lain.

Ambiver Menjembatani
Pada kenyataannya, mendapatkan seorang teman bukan perkara mudah bagi seorang introver. Egoisme dan rasa sungkan beramah-tamah dan basa-basai pada orang lain mempersulit mendapatkan teman. Sampai kemudian, Nawawi bertemu seseorang yang berbeda. Seorang gadis yang mengerti pemikirannya, sehingga memancingnya untuk berbicara panjang lebar—hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidup. Gadis itu bertanya padanya soal hal-hal filosofis yang mendalam; arti kehidupan, penderitaan, sampai buku-buku karya penulis besar. “Seolah ia bisa menjadi pemintal benang. Ia menarik bagian dari diriku yang menggumpal, lalu menata dan menggulungnya ulang dengan lebih rapi,” batin Nawawi (hlm 244).

Gadis tersebut ternyata seorang ambiver, campuran antara introver dan ekstrover. Kepribadian yang membuat seseorang bisa menempatkan diri menjadi introver maupun ekstrover. Gadis tersebut kemudian menjadi teman dekat Nawawi. Tak sekadar menerima kapribadiannya, ia juga telah membuat Nawawi bisa membuka pintu-pintu dalam dirinya yang selama ini tertutup, sehingga bisa lebih ramah terhadap dunia di sekitarnya. “Dia menjadi jembatan bagiku untuk mengenal dunia. Membawaku dari satu titik ke titik lainnya” (hlm 251)

Membaca kisah ini membuat kita menyadari bahwa tak ada seorang pun yang bisa hidup sendiri. Meskipun memiliki gagasan besar dan pengetahuan yang luas, seorang introver tetap membutuhkan orang lian. Orang yang bisa menghubungkan alam ide dan gagasan-gagasan dalam pikirannya dengan realistis kehidupan, agar ide tersebut bisa tertuang, terwujud, dan berbuah kemanfaatan. Orang diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal dan melengkapi satu sama lain, untuk bersama-sama mengupayakan kehidupan yang lebih baik. 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL