You are here Info Buku Resensi Buku

Resensi Buku

Cermin Jiwa; Politik dan Jagat Pesantren

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Cermin Jiwa Karya S. Prasetyo Utomo

Suara Merdeka | Minggu, 06 Mei 2018 | Setia Naka Andrian


Jagat pesantren, dewasa ini begitu rupa menjadi sorotan bagi elite politik. Santri, ulama, kiai seakan lahir sebagai magnet tersendiri bagi mereka yang hendak menampilkan diri dalam panggung politik. Pesantren setidaknya telah mengambil salah satu posisi (sasaran utama) untuk memperoleh kemenangan yang diidam-idamkan.

Sudah jelas, pesantren diyakini masyarakat sebagai jagat sunyi yang tak henti-hentinya memproduksi makna, identitas, hingga segala hal tentang pembentukan akhlak mulia bagi umat beragama. Rumah bagi para pengeja ilmu agama tersebut pun hingga kini masih begitu kuat menempa ingatan publik. Pesantren dengan segenap isinya, selalu diberi tempat di mata dan batin masyarakat kita.

Untuk itu, tak sedikit calon pemimpin kita yang kerap sowan kepada segenap pesantren seantero tanah Jawa ini. Dari mulai sekadar minta doa restu, hingga menggandeng putra kiai, atau salah seorang insan terbaiknya untuk maju bersama dalam panggung politik.

Seolah-olah pesantren menjadi sebuah tameng, rumah berlindung jika barangkali didapati beragam anggapan buruk yang bertebaran di telinga masyarakat. Atau setidaknya mampu menanam kepercayaan lebih dan yang pasti, mendongkrak ‘suara’. Sebab, sampai kapan pun pesantren tetaplah menjadi rujukan, segala mula dan muara, rumah berteduh bagi insan beragama, atau bagi siapa saja yang berhasrat menanam citra baik dalam tubuhnya.

Melalui novel Cermin Jiwa (Alvabet, Juli 2017), S. Prasetyo Utomo mengisahkan sebuah keluarga yang dihuni sepasang suami-istri setengah baya dan seorang anak perempuan belia. Merekalah Abah, Umi, dan Zahra. Abah mengalami kekalahan dalam pemilihan wakil rakyat. Abah, seorang pemilik ladang dan toko bunga. Suatu ketika ia mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Namun ia gagal, meski segalanya telah dipertaruhkan. Termasuk tanah, mobil, dan tabungan.

Selepas itu, Abah berniat menenangkan diri, kembali berguru di sebuah pesantren yang sempat ia tinggali semasa muda. “Aku ingin kembali berguru pada kiai di pesantren Lembah Bayang-Bayang, seperti pada masa mudaku. Melupakan keguncangan hatiku.” (hlm. 12).

Abah berniat menepikan diri. Ia telah tersadar, bahwa ia tak berjodoh menjadi wakil rakyat. Meski awalnya ia belum bisa sepenuhnya menerima. Selepas Umi, istrinya, mampu menyadarkan, maka Abah berniat kembali berguru ke pesantren. Abah memilih jalan sunyi, selepas persoalan berat menimpa hidupnya. Menapaki kembali jalan yang dikehendaki nuraninya, selepas diterpa kehancuran bertubi-tubi.

Gelagat Elite Politik

Prasetyo dalam novel ini memberikan tawaran lain pula, yakni didapati tokoh yang menyabung nasibnya dalam pemilihan wakil rakyat. Tokoh tersebut menang, namun tidak lama kemudian ia tak mampu mengendalikan nafsu. Maka segala itu menjerumuskannya ke penjara, akibat terbelit kasus korupsi.

Didapati pula kisah lain, seorang tokoh yang hendak maju dalam pemilihan Bupati. Ia berkunjung dan hendak meminta restu kepada Kiai Sepuh, pengasuh Pesantren Lembah Bayang-Bayang, tempat Abah berguru dan menenangkan batin.

Calon bupati tersebut mengumbar janji kepada Kiai Sepuh, termasuk ingin membangun jalan menuju pesantren. Akhirnya, Kiai Sepuh mengizinkan, memberi restu kepada calon bupati. Abah pun sempat heran, kenapa Kiai Sepuh memberikan restu.

Calon bupati tersebut pun menang dan sudah berkuasa, namun jalan menuju pesantren masih tetap belum dibangun seperti yang dijanjikan. Kiai Sepuh tetap tenang, tak mengaharap apa-apa. Abah begitu heran, pasti akan terjadi sesuatu.

Akhirnya terdengar kabar, bahwa bupati yang berkuasa tersebut ditangkap, ditahan, dan dibawa ke pengadilan. Semua orang pun tahu maksud Kiai Sepuh mendukungnya, hanya untuk menggiringnya ke penjara. “Aku baru sadar, Kiai Sepuh mendukung bupati itu untuk menemukan takdirnya di penjara,” kata Kiai Maksum, sebelum menghentak tali kendali kudanya. (hlm. 33).

Dari beberapa penggalan kisah tersebut menunjukkan, betapa Prasetyo menampakkan gelagat elite politik di sekitar kita. Keberadaan pesantren yang kerap kali diperhitungkan dalam melancarkan gerak roda kelompoknya demi mencapai kekuasaan yang mutlak.

Bumbu-bumbu lain pun dihadirkan oleh Prasetyo, yakni terkait persoalan tarik-ulur pembangunan pabrik semen di Lembah Gunung Bokong. Perlawanan, kecaman, pengkhianatan menjadi putaran gerak politik tersendiri. Negara pun turut serta dalam peristiwa daerah tersebut, selepas persoalan berlarut-larut dan memanjang hingga menjadi isu nasional.

Dalam novel ini, Prasetyo seakan menggarap sebuah dunia dengan segala kemungkinan yang kokoh, melalui kejernihan jiwa beberapa tokoh yang dihadirkan. Segalanya seakan menyelinap dalam benak dan batin kita. Menggelinding dalam roda keseharian yang tentu akan begitu mudah kita tunjuk di koran, televisi, dan segala media massa yang beterbangan di sekitar kita.

Prinsip Sukses dengan Berkontribusi dan Melayani

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Samurai Pengasih Karya Brian Klemmer

Koran Jakarta | Jumat, 27 April 2018 | Al Mahfud


Penulis buku ini mengelola perusahaan “Klemmer & Associates”. Buku ini secara tersirat berisi perluasan aspek melayani. Arti dari kata “samurai” adalah anggota ksatria Jepang yang berkuasa mulai abad ke-12. Mereka paling ditakuti dan dihormat. Mereka hidup berdasarkan nilai-nilai ketat yang disebut Bushido yang mengutamakan keberanian, kehormatan, dan kesetiaan pribadi. “Istilah samurai pengasih (SP) untuk menunjuk seseorang yang memiliki nilai-nilai kuat yang dapat mewujudkan apa pun sekaligus mengabdikan hidupnya untuk melayani,” jelas Klemmer (hlm xii).

Buku ini mendaftar 10 aturan pedoman SP. Mereka adalah komitmen, tanggung jawab pribadi, kontribusi, fokus, kejujuran, kehormatan, kepercayaan, kelimpahan, keberanian, dan pengetahuan. Tiap pedoman dikupas mendalam dengan argumen-argumen reflektif, kutipan-kutipan, dan menggugah. Ada contoh-contoh di dalamnya.

Komitmen menjadi aturan pertama. Samurai memiliki komitmen menegakkan tradisi kehormatan. Bahkan dalam sejarah, samurai lebih memilih mati daripada mencemarkan namanya serta profesinya. Kini, kita melihat orang semakin tak peduli dengan komitmen, gampang bohong, berkhianat, sehingga nilai ucapannya menjadi begitu rendah. Padahal, komitmen adalah dasar dari kepercayaan yang merupakan fondasi semua hubungan dengan sesama (hlm 3).

Komitmen berhubungan dengan prinsip kejujuran dan kehormatan. SP berlaku jujur tak hanya bila menguntungkan, namun setiap saat. Meski begitu, mereka tahu selalu berkata jujur tanpa melukai orang lain. Sebab, mereka berprinsip menjaga kehormatan orang lain. Dewasa ini, di media sosial, misalnya, banyak orang saling membenci dan menjatuhkan kehormatan. Orang memaksakan kehendak, tanpa mau mendengarkan orang lain.

“Ketika samurai pengasih berkomunikasi dengan orang lain, tujuan utama menjadi pendengar,” tulis Klemmer (hlm 127).

SP juga memiliki “kelimpahan” dan “keberanian.” Kelimpahan adalah keadaan merasa keutuhan dan kesempurnaan tidak bergantung pada keadaan di luar diri. “Anda menerima keutuhan dan kesempurnaan sejak lahir karena sifat spiritual dan hubungan dengan Tuhan. Tuhan tak terbatas. Anda pun utuh karena terhubung dengan-Nya,” jelas Klemmer (hm 184). Ini bisa dimaknai sebagai syukur atas milik. Sekarang, banyak orang terus memeras tenaga untuk mendapatkan keinginan. Namun ketika telah mendapatkannya, mereka tetap tak bahagia. Ketika orang sadar atas “kelimpahan” akan percaya diri yang kemudian memunculkan keberanian.

Selain komitmen, jujur, bersyukur, dan berani, SP juga perlu fokus. Kekuatan luar biasa fokus mampu mengumpil. SP dapat memilih fokus pada apa saja dan dengan itu berkonsentrasi untuk mendapatkannya. Namun, mereka tetap fokus pada hal yang lebih besar ketimbang ambisi pribadi, yakni pelayanan atau kontribusi.

SP bersedia menyerahkan hidup demi tujuan lebih besar. Seorang pengusaha yang berjiwa SP, selain sangat sukses, juga memilih untuk memberi kontribusi besar bagi lingkungan dan masyarakat luas. Meski begitu, SP bukan seorang martir yang selalu memberi sampai tak punya apa pun. Perbedaan SP dengan martir, yang dipertaruhkan. “SP menjaga diri sambil memelihara gaya hidup melayani,” tegas Klemmer (hlm 56).

Buku berjudul asli The Compassionate Samurai ini menyuguhkan paket lengkap. Ini tak sekadar buku motivasi kesuksesan karena kaya akan nilai dan prinsip penting dalam kehidupan. Uraian buku tentang prinsip-prinsip samurai membentangkan jalan menuju kehidupan yang tak sekadar sukses, namun juga terhormat dan berguna bagi sesama.

Berpikir Positif Amat Menentukan dalam Memperbaiki Hidup

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Cara Cepat Melatih Kebiasaan Positif Sehari-hari Karya Marc Reklau

Koran Jakarta | Kamis, 03 Mei 2018 | Arinhi Nursecha


Mengapa sebagian orang tampak memiliki segalanya, sedangkan orang lain tidak? Banyak orang bermimpi memperbaiki hidup agar menjadi lebih bahagia dan kaya. Namun, menurut hanya mau menanti keajaiban. Kadang, mereka bahkan tidak tahu keinginannya. Marc Reklau, praktisi self healing asal Jerman, telah mempelajari prinsip-prinsip kesuksesan dan cara meraih kebahagiaan selama hampir 25 tahun. Buku ini memperlihatkan, kesuksesan dapat direncanakan dan diciptakan. Buku berisi tips, trik, dan latihan untuk memperbaiki hidup selama dipraktikkan secara konstan dan persisten. Di setiap bab terdapat kutipan dan kisah inspiratif tokoh-tokoh populer yang menggugah motivasi.

Pada 2008, pelatih FC Barcelona, Josep “Pep” Guardiola, mengambil alih tim dalam keadaan menyedihkan. Dalam pidato inagurasinya di depan 73.000 penonton Catalunya, dia berkata, “Kami tidak dapat menjanjikan gelar Anda. Yang kami janjikan usaha dan kami akan bertahan, bertahan, bertahan sampai akhir. Kencangkan sabuk Anda--kita akan bersenangsenang.” Pidato ini memulai periode paling sukses dalam sejarah 115 tahun klub itu dan hanya sedikit orang yang berpikir hal ini dapat terulang. Barcelona memenangkan tiga kompetisi nasional, dua piala nasional, tiga Piala Super Spanyol, dua Piala Super Eropa, dua Liga Champion, dua Piala Dunia Antar-Klub dalam empat tahun dominasi mereka di sepak bola dunia.

Sekarang giliran Anda. Berusahalah, lalu bertahan, bertahan, bertahan! Jangan menyerah! Kencangkan sabuk Anda dan bersenangsenanglah! (Halaman 8). Pada hari kita berhenti menyalahkan orang lain atas kejadian dalam hidup, semua akan berubah. Bertanggung jawab atas hidup berarti mengambil alih dan menjadi tokoh utamanya. Ketakutan akan kegagalan adalah pembunuh mimpi nomor satu. Kita harus melihatnya sebagai pengalaman belajar untuk tumbuh dan jadi informasi serta motivasi.

Thomas Alfa Edison bertaka, “Saya belum gagal. Saya baru saja menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil.” Hal ini memungkinkannya membawa banyak penemuan. Orang ini tidak pernah menyerah! (Halaman 36). Untuk mencapai tujuan, pembaca harus belajar cara menghadapi penolakan. Penolakan bukanlah masalahnya. Dialog dalam diri setelah ditolaklah yang menjadi masalah. Bersiap saja untuk ditolak berkali-kali dalam perjalanan menuju kesuksesan. Rahasianya, jangan menyerah!

Naskah Sylverster Stallone untuk film Rocky ditolak 70 kali. Buku Chicken Soup for The Soul Jack Canfield dan Mark Victor Hansen ditolak 130 kali. Kemudian, Canfield ditertawakan saat berkata ingin menjual 1 juta eksemplar. Editornya berkata, dia sudah beruntung bisa menjual 20.000. Akhirnya, buku pertama Chicken Soup for The Soul terjual 8 juta eksemplar, dan 500 juta eksemplar untuk keseluruhan seri! Bahkan JK Rowlings “Harry Potter” ditolak 12 kali! (Halaman 70).

Rasa syukur akan mengisi ulang energi dan mendorong harga diri, juga terkait langsung dengan kesehatan fisik dan mental. Pikiran menciptakan realitas. Berpikir positif sangat penting dalam upaya memperbaiki hidup. Teknik yang bagus untuk membangunnya adalah menggunakan afirmasi.

Dengan mengulang pernyataan positif berkali-kali setiap hari, meyakinkan pikiran bawah sadar untuk mempercayai dan mulai bertindak “menarik” hal-hal yang diinginkan dalam hidup. Penerapan program neurolinguistik dan mengimplementasikan kebiasaan baru ini selama 30 hari secara konsisten, bukan tidak mungkin segera menempatkan kita di posisi yang lebih baik.

Zaman Now Edan, Perlu Teladan

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Samudra Keteladanan Muhammad Karya Nurul H. Maarif

Kedaulatan Rakyat | Minggu, 01 April 2018 | Fatoni Prabowo Habibi

 

Pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873 M) pernah bilang, zaman ini adalah zaman edan. Yang tidak ikutan edan, tidak akan kebagian. Aturan mana yang baik dan mana yang buruk, sudah tidak jelas, atau setidaknya telah samar garis demarkasinya. Dalam hal mengais rezekipun umpamanya, orang tak peduli lagi mana yang jalan yang hakak dan mana jalan yang haram.

Benar belaka ungkapan yang menyatakan 1001 macam cara mencari makan. Para pemimpin, bukannya meneladankan kejujuran dan kesederhanan, melainkan malah mempertontonkan perilaku korupsi dan hedonisme di depan mata rakyatnya. Dalam hal sikap keberagamaanpun, para pemimpin juga banyak yang tidak layak menjadi panutan, melainkan lebih pantas menjadi referensi keburukan. Ringkasinya, tak salah jika dikatakan, hari ini kita miskin keteladanan.

Di zaman ini, keteladanan ibarat barang mewah yang mahal harganya, karena tidak banyak lagi yang memilikinya. Karena itu, jika kita hendak merunut ke belakang mencari sosok yang paling pantas dan paling layak dijadikan teladan dalam segala aspek kehidupan, maka tak ada alasan lain kecuali kita harus kembali ada sosok Muhammad Saw. yang tanpa cela. Keteladanan begitu melekat dalam dirinya. Sosok insan kamil (manusia sempurna) yang menampakkan karakter ilahiah tersirat jelas dalam tuturan kata dan tingkah polahnya. Muhammad Saw.-lah yang paling layak dijuluki teladan sepanjang masa dan khalifah ma’nawiyah (wakil Allah SWT di bumi dalam arti sesungguhnya), yang mencerminkan dualisme sikap positif sekaligus; sikap agung kemanusiaan dan sikap luhur ketuhanan. Itu sebabnya, al-Qur’an melabelinya dengan uswah hasanah (teladan kebaikan), selain Ibrahim a.s. (hlm. 131)

Banyak kisah keteladanan luhur yang dengan gamblang menunjukkan sifat keagungan Muhammad Saw. Misalnya, ketika Muhammad Saw. hijrah dari Mekkah menuju Yatsrib  (yang kemudian disebut Madinah). Kala itu, beliau bersama Abu Bakar ash-Shiddiq, dikawal sahaya Abu Bakar bernama Amr bin Fuhairah, dan Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi, seorang pemuda pagan alias musyrik yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Di tengah perjalanan, Muhammad Saw. hendak membeli makanan dan minuman. Lantas beliau mampir di sebuah kemah kepunyaan Ummu Ma’bad al-Khuzaiyyah. Sayangnya, saat itu tiada minuman dan makanan.

Muhammad Saw. lantas melihat seekor kambing betina di sekitar kemah. Muhammad Saw. pun kemudian memegang susu kambing tiada berair itu seraya berdoa: Ya Allah, berkahilah Ummu Ma’bad melalui kambingnya. Maka, tiba-tiba, kambing yang air susunya kering kerontang itu memancarkan air susu dengan derasnya. (hlm. 148)

Muhammad Saw. meminta wadah guna menampung air susu yang melimpah itu. Beliau mempersilakan tiga rekan hijrahnya, yang dengan setia menyertai perjalanan beliau, untuk meminumnya satu per satu, hingga semuanya merasa segar kembali dan hilang dahaganya. Setelah semuanya kebagian, barulah Muhammad Saw. meminumnya paling akhir.

Dalam sabda Nabi menyatakan: Orang yang memberikan minuman kepada kaum itu dia minum yang paling akhir. Inilah pemimpin sesungguhnya, yang bertanggungjawab untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Ini pulalah tipe pemimpin yang tidak egois, yang tidak mendahulukan kepentingan pribadi, keluarga atau golongannya dengan mengabaikan kepentingan dan kemaslahatan rakyatnya. Pemimpin ini bahkan rela mendapatkan sisa-sisa dari rakyatnya.

Buku ini menyajikan setitik informasi tentang hayah (sisi historis kehidupan) Muhammad Saw. Kitab klasik pun menjadi sumber informasi terkait, disamping aneka teladan kebaikan terus menyembur dari dirinya, tiada habis-habisnya. Ibarat mata air, tak sebutir keburukan pun yang muncul darinya.

Semua ini menunjukkan betapa akhlak adalah mahkota bagi manusia. Karena itu, sebagai umatnya, sudah seharusnya kita semua menimba dan berusaha meniru sebanyak-banyak mata air akhlak itu dari Muhammad Saw., untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Peniruan atas keteladanannya ini, menjadikan pengharapan menjadi orang yang saleh mudah diraih dan kita pun akan menjadi manusia sukses fi ad-darain, dunia-akhirat. Amin!

Perjuangan Masyarakat Adat Melawan Kuasa Pemodal

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Cermin Jiwa Karya S. Prasetyo Utomo

Majalah Simalaba | Selasa, 20 Februari 2018 | Al-Mahfud


Pendirian pabrik di suatu wilayah sering kali menuai konfik. Terlebih, jika pabrik berpotensi besar merusak lingkungan. Selalu ada pro dan kontra. Hal inilah yang tergambar dalam karya S. Prasetyo Utomo ini. Pengarang peraih penghargaan Acarya Sastra tahun 2015 ini mengisahkan pergulatan kehidupan masyarakat adat di lembah Gunung Bokong di tengah upaya para pemodal yang hendak mendirikan pabrik semen di desa mereka.

Mula-mula, kisah digerakkan dua tokoh, yakni Aryo dan Zahra. Aryo seorang wartawan yang selalu meliput dan mengawal penduduk desa dalam memprotes pembangunan pabrik. Sedangkan Zahra, seorang dokter muda yang mendapat tugas mengabdi di lembah Gunung Bokong. Zahra pandai memetik harpa dan Aryo adalah wartawan yang mencintai alam. Keduanya merupakan pemuda idealis yang mendukung masyarakat adat dalam menolak pendirian pabrik semen yang akan mengeruk batu kapur di lembah Gunung Bokong.

Selanjutnya, kita dihadapkan pada pelbagai konflik yang tercipta di tengah kehidupan masyarakat Gunung Bokong. Kehidupan yang semula aman dan damai, mulai terusik sejak proyek pembangunan pabrik semen mulai berjalan. Masyarakat terbelah. Warga yang pro pendirian pabrik dipimpin Lurah Ngarso yang sudah menjadi kaki tangan para pemodal. Sedangkan, warga yang kontra berdiri satu barisan dengan Kodrat, sang tetua adat desa. Masyarakat adat yang kontra menyadari bahwa pabrik semen bisa merusak lingkungan kawasan Gunung Bokong tempat mereka hidup, bertani, dan mencari kehidupan.

Menariknya, penulis banyak mengeksplorasi nuansa lokal dengan pelbagai tradisi yang mewarnai kisah ini. Misalnya, suatu ketika masyarakat yang kontra berdemo di depan kantor Gubernur dengan menggelar pergelaran kuda lumping, dipimpin Kodrat. Namun, pihak yang pro pabrik tak mau kalah. Dengan disokong Lurah Ngarso, beberapa orang menggelar tari Barongan di sebelah pergelaran kuda lumping. Akhirnya, pergelaran keduanya berakhir ricuh karena dua kubu bertikai. Aryo yang meliput kejadian tersebut terluka, sedangkan Kodrat ditangkap pihak keamanan dan dimintai pertanggungjawaban.

Impian warga Gunung Bokong untuk menolak pabrik semen semakin berat ketika pada pemilihan lurah, yang terpilih adalah Gendon yang pro pabrik semen. Sementara itu, banyak warga yang sudah bersedia menjual tanahnya. “Ladang mereka ditambang dan digiling batu kapurnya, hingga menjadi cekukan danau,” keluh Kodrat pada Aryo ketika bebas dari tahanan (hlm 155). Namun, warga tak putus asa, mereka kembali melakukan demonstrasi dengan menggelar tarian Kuda Lumping. Kali ini langsung di depan istana negara dan menuntut untuk bertemu presiden.

Warga juga meminta bantuan pada Kiai Bisri, pengasuh pesantren di Lembah Bayang-bayang, sebelah desa Gunung Bokong. Kodrat meminta Kiai Bisri untuk berkenan hadir bersama warga yang berdemo di depan istana, agar presiden bersedia menemui mereka. Kiai Bistri pun hadir dan bergabung bersama para demonstran dan mengajak mereka berdzikir dan berdoa agar usaha mereka menemukan hasil. Tak lama kemudian, seorang ajudan presiden datang dan mempersilakan Kiai Bistri menghadap presiden.

Dukungan Kiai Bisri pada warga penolak pabrik semen membuat pihak pengembang gusar, termasuk Lurah Gendon. Ia juga iri karena banyak warga lebih menghargai Kodrat ketimbang ia sebagai lurah. Dalam sebuah pertemuan di rumah Kodrat, Lurah Gendon menunjukkan ketidaksukaannya pada Kiai Bisri. “Kenapa Kiai hadir di sini? Kiai selalu memihak Kodrat. Akulah lurah di desa ini. Apa Kiai tak tahu?” kata Gendon (hlm 195). Lurah Gendon bahkan mendorong Kiai Bisri, sehingga menciptakan kegaduhan. Lurah Gendon diusir warga dari rumah Kodrat, sampai akhirnya didemo ratusan santri di depan kantor Bupati. Namun, Kiai Bisri memaafkan Lurah Gendon.

Meski mendapat dukungan Kiai Bisri, pada kenyataannya warga masih melihat aktivitas pabrik semen di lereng Gunung Bokong. Pabrik itu terus beroperasi, sehingga warga kembali melakukan aksi penolakan. Dengan dipimpin Kodrat, kini warga berjalan kaki selama dua hari dari desa menuju kantor gubernur. Namun, usaha mereka kembali menemui jalan buntu. Mereka ditodong senapan aparat keamanan dan diusir kembai ke lembah Gunung Bokong, tanpa bertemu gubernur karena tengah dinas ke luar kota.

“Cermin Jiwa” menjadi judul yang pas. Sebab, novel ini mencerminkan pelbagai sifat manusia; mulai tentang ketamakan, keangkuhan, keserakahan, juga tentang kebeningan hati yang diekspresikan melalui cinta, pengorbanan, adat dan tradisi. Penulis menuturkan kisah dengan kata-kata sederhana yang lembut dan halus, sehingga mudah membuat pembaca terhanyut dalam pebagai belenggu jiwa para tokoh di dalamnya.

Perjuangan warga lembah Gunung Bokong menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Aryo dan Zahra. “Mereka tak bakal kulupakan. Kehidupan mereka serupa dongeng,” ucap Aryo pada Zahra (hlm 244). Di akhir kisah, mereka berdua menikah dan meninggalkan lembah Gunung Bokong. Namun mereka terus mengenang. Mereka menyaksikan bagaimana perjuangan masyarakat dalam membendung kuasa pemodal yang hendak mendirikan pabrik yang bisa merusak bumi tempat mereka menyambung hidup dan bertani.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL