You are here Info Buku Resensi Buku

Resensi Buku

Proyek Manusia Ilahiah

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia Karya Yoval Noah Harari

Jawa Pos | Minggu, 24 Juni 2018 |  Royyan Julian


Homo Deus merupakan gabungan rumit berbagai disiplin. Tapi, Yuval Noah Harari bisa menarasikannya dengan sistematis, menggunakan bahasa yang segar.

APA yang terjadi pada manusia di masa yang akan datang? Apakah manusia bisa hidup selamanya? Apakah manusia bakal memiliki kekuatan dewata? Atau sebaliknya, apakah Homo sapiens akan mengalami kejatuhan?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dijawab buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia karya sejarawan yang sedang hit, Yuval Noah Harari. Buku tersebut dibuka dengan eksplanasi tentang agenda baru umat manusia: imortalitas, kebahagiaan, dan keilahian.

Proyek ambisius tersebut dipicu karakter asali manusia yang tak pernah puas. Hipotesis Harari bukan dugaan-dugaan kosong. Asumsinya dilandasi situasi faktual manusia yang mendambakan kesempurnaan dan secara intensif berikhtiar mewujudkannya. Sayang, obsesi tersebut akan menggiring manusia ke tubir ”kepunahan”.

Memang tidak bisa disangkal bahwa manusia saat ini tengah menguasai dunia. Rezim antroposen dimulai sekitar dua belas ribu tahun yang lalu, saat era berburu-meramu memasuki senjakala dan dadu waktu bergulir ke zaman revolusi agrikultur.

Saat itulah ekualitas antarkomunitas biotik lenyap. Diganti hierarki-hierarki. Manusia tak lagi merasa sejajar dengan mamut, karibu, dan pohonpohon. Domestifikasi binatang buruan menjadi hewan ternak mengubah makhluk-makhluk tersebut sekadar properti.

Namun, pada saat itu manusia belum menduduki puncak piramida. Mereka masih tunduk kepada patron yang posisinya lebih tinggi: Tuhan dan dewa-dewa. Kelak, ketika fajar humanisme bersinar, tuan-tuan adimanusia tersebut terkikis perlahan- lahan dan ditaklukkan oleh sapiens.

Keberhasilan manusia mewujudkan impian-impiannya dipaparkan melalui argumentasi tentang perbedaan ontologis antara manusia dan binatang lainnya. Menurut Harari, yang membedakan manusia dengan hewan lainnya bukanlah morfologi dan fisiologi.

Bukan pula kemampuan berpikir dan kesadaran. Bagi dia, yang membuat manusia sukses menguasai dunia adalah kemampuan bekerja sama secara masif-global untuk menyepakati imajinasi tentang Tuhan, negara, uang, dan lain-lain.

Risalah Harari tentang masa depan manusia tidak bisa dilepaskan dari teori algoritma. Algoritma adalah seperangkat langkah metodis yang bisa digunakan untuk melakukan kalkulasi, pemecahan masalah, dan mencapai keputusan-keputusan.

Proyek imortalitas, kebahagiaan, dan keilahian melibatkan alat-alat biometrik yang ditanam ke dalam jasad, organ-organ bionik yang dicangkokkan pada tubuh, dan robotrobot nano yang merasuk ke pembuluh darah.

Visi teknohuman tersebut dirancang untuk meningkatkan kesehatan, ketahanan, kemampuan seks, mutasi, dan rekayasa genetika; memperbarui sel-sel mati; bertempur melawan penyakit yang menyerang tubuh; serta pada akhirnya menjadikan manusia sekekal Ilahi.

Di sisi lain, kecerdasan artifisial dalam program-program komputer juga kian ditingkatkan. Di sinilah terancamnya spesies sapiens. Pada masa revolusi teknologi, manusia tidak lagi memiliki nilai militer dan ekonomi. Seluruh peran manusia akan digantikan oleh algoritma komputer.

Celakanya, kecerdasan artifisial tersebut akan lebih unggul daripada manusia dari segi kemampuan, presisi, dan pengurangan dampak buruk. Pendekatan algoritmik pada seluruh aspek kehidupan membuat Homo sapiens kehilangan kontrol dan tersingkir. Sebagaimana Nietzsche telah membunuh Tuhan –yang menciptakan manusia–, algoritma komputer akan melenyapkan manusia yang telah menciptakannya. Masa depan bumi berada dalam genggaman imperium algoritma komputer yang telah bermutasi dan memanipulasi manusia.

Harari telah menarasikan Homo Deus dengan sistematis, menggunakan bahasa yang segar, dan humor –hal yang jarang dimiliki akademisi cum penulis. Magnum opus tersebut merupakan gabungan rumit berbagai disiplin.

Harari bisa berbicara neurologi sebaik ketika menulis tentang perang, politik, saham, saraf sensoris kelelawar, dan teknologi informasi. Kemampuannya memprediksi masa depan secara ilmiah, agak apokaliptik, dan disertai refleksi filosofis membuat kita bertanya, akankah masa itu bakal terjadi? Apakah takdir scientific tersebut bisa dibelokkan? (*)

Cermin Jiwa; Politik dan Jagat Pesantren

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Cermin Jiwa Karya S. Prasetyo Utomo

Suara Merdeka | Minggu, 06 Mei 2018 | Setia Naka Andrian


Jagat pesantren, dewasa ini begitu rupa menjadi sorotan bagi elite politik. Santri, ulama, kiai seakan lahir sebagai magnet tersendiri bagi mereka yang hendak menampilkan diri dalam panggung politik. Pesantren setidaknya telah mengambil salah satu posisi (sasaran utama) untuk memperoleh kemenangan yang diidam-idamkan.

Sudah jelas, pesantren diyakini masyarakat sebagai jagat sunyi yang tak henti-hentinya memproduksi makna, identitas, hingga segala hal tentang pembentukan akhlak mulia bagi umat beragama. Rumah bagi para pengeja ilmu agama tersebut pun hingga kini masih begitu kuat menempa ingatan publik. Pesantren dengan segenap isinya, selalu diberi tempat di mata dan batin masyarakat kita.

Untuk itu, tak sedikit calon pemimpin kita yang kerap sowan kepada segenap pesantren seantero tanah Jawa ini. Dari mulai sekadar minta doa restu, hingga menggandeng putra kiai, atau salah seorang insan terbaiknya untuk maju bersama dalam panggung politik.

Seolah-olah pesantren menjadi sebuah tameng, rumah berlindung jika barangkali didapati beragam anggapan buruk yang bertebaran di telinga masyarakat. Atau setidaknya mampu menanam kepercayaan lebih dan yang pasti, mendongkrak ‘suara’. Sebab, sampai kapan pun pesantren tetaplah menjadi rujukan, segala mula dan muara, rumah berteduh bagi insan beragama, atau bagi siapa saja yang berhasrat menanam citra baik dalam tubuhnya.

Melalui novel Cermin Jiwa (Alvabet, Juli 2017), S. Prasetyo Utomo mengisahkan sebuah keluarga yang dihuni sepasang suami-istri setengah baya dan seorang anak perempuan belia. Merekalah Abah, Umi, dan Zahra. Abah mengalami kekalahan dalam pemilihan wakil rakyat. Abah, seorang pemilik ladang dan toko bunga. Suatu ketika ia mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Namun ia gagal, meski segalanya telah dipertaruhkan. Termasuk tanah, mobil, dan tabungan.

Selepas itu, Abah berniat menenangkan diri, kembali berguru di sebuah pesantren yang sempat ia tinggali semasa muda. “Aku ingin kembali berguru pada kiai di pesantren Lembah Bayang-Bayang, seperti pada masa mudaku. Melupakan keguncangan hatiku.” (hlm. 12).

Abah berniat menepikan diri. Ia telah tersadar, bahwa ia tak berjodoh menjadi wakil rakyat. Meski awalnya ia belum bisa sepenuhnya menerima. Selepas Umi, istrinya, mampu menyadarkan, maka Abah berniat kembali berguru ke pesantren. Abah memilih jalan sunyi, selepas persoalan berat menimpa hidupnya. Menapaki kembali jalan yang dikehendaki nuraninya, selepas diterpa kehancuran bertubi-tubi.

Gelagat Elite Politik

Prasetyo dalam novel ini memberikan tawaran lain pula, yakni didapati tokoh yang menyabung nasibnya dalam pemilihan wakil rakyat. Tokoh tersebut menang, namun tidak lama kemudian ia tak mampu mengendalikan nafsu. Maka segala itu menjerumuskannya ke penjara, akibat terbelit kasus korupsi.

Didapati pula kisah lain, seorang tokoh yang hendak maju dalam pemilihan Bupati. Ia berkunjung dan hendak meminta restu kepada Kiai Sepuh, pengasuh Pesantren Lembah Bayang-Bayang, tempat Abah berguru dan menenangkan batin.

Calon bupati tersebut mengumbar janji kepada Kiai Sepuh, termasuk ingin membangun jalan menuju pesantren. Akhirnya, Kiai Sepuh mengizinkan, memberi restu kepada calon bupati. Abah pun sempat heran, kenapa Kiai Sepuh memberikan restu.

Calon bupati tersebut pun menang dan sudah berkuasa, namun jalan menuju pesantren masih tetap belum dibangun seperti yang dijanjikan. Kiai Sepuh tetap tenang, tak mengaharap apa-apa. Abah begitu heran, pasti akan terjadi sesuatu.

Akhirnya terdengar kabar, bahwa bupati yang berkuasa tersebut ditangkap, ditahan, dan dibawa ke pengadilan. Semua orang pun tahu maksud Kiai Sepuh mendukungnya, hanya untuk menggiringnya ke penjara. “Aku baru sadar, Kiai Sepuh mendukung bupati itu untuk menemukan takdirnya di penjara,” kata Kiai Maksum, sebelum menghentak tali kendali kudanya. (hlm. 33).

Dari beberapa penggalan kisah tersebut menunjukkan, betapa Prasetyo menampakkan gelagat elite politik di sekitar kita. Keberadaan pesantren yang kerap kali diperhitungkan dalam melancarkan gerak roda kelompoknya demi mencapai kekuasaan yang mutlak.

Bumbu-bumbu lain pun dihadirkan oleh Prasetyo, yakni terkait persoalan tarik-ulur pembangunan pabrik semen di Lembah Gunung Bokong. Perlawanan, kecaman, pengkhianatan menjadi putaran gerak politik tersendiri. Negara pun turut serta dalam peristiwa daerah tersebut, selepas persoalan berlarut-larut dan memanjang hingga menjadi isu nasional.

Dalam novel ini, Prasetyo seakan menggarap sebuah dunia dengan segala kemungkinan yang kokoh, melalui kejernihan jiwa beberapa tokoh yang dihadirkan. Segalanya seakan rush-essays menyelinap dalam benak dan batin kita. Menggelinding dalam roda keseharian yang tentu akan begitu mudah kita tunjuk di koran, televisi, dan segala media massa yang beterbangan di sekitar kita.

Prinsip Sukses dengan Berkontribusi dan Melayani

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Samurai Pengasih Karya Brian Klemmer

Koran Jakarta | Jumat, 27 April 2018 | Al Mahfud


Penulis buku ini mengelola perusahaan “Klemmer & Associates”. Buku ini secara tersirat berisi perluasan aspek melayani. Arti dari kata “samurai” adalah anggota ksatria Jepang yang berkuasa mulai abad ke-12. Mereka paling ditakuti dan dihormat. Mereka hidup berdasarkan nilai-nilai ketat yang disebut Bushido yang mengutamakan keberanian, kehormatan, dan kesetiaan pribadi. “Istilah samurai pengasih (SP) untuk menunjuk seseorang yang memiliki nilai-nilai kuat yang dapat mewujudkan apa pun sekaligus mengabdikan hidupnya untuk melayani,” jelas Klemmer (hlm xii).

Buku ini mendaftar 10 aturan pedoman SP. Mereka adalah komitmen, tanggung jawab pribadi, kontribusi, fokus, kejujuran, kehormatan, kepercayaan, kelimpahan, keberanian, dan pengetahuan. Tiap pedoman dikupas mendalam dengan argumen-argumen reflektif, kutipan-kutipan, dan menggugah. Ada contoh-contoh di dalamnya.

Komitmen menjadi aturan pertama. Samurai memiliki komitmen menegakkan tradisi kehormatan. Bahkan dalam sejarah, samurai lebih memilih mati daripada mencemarkan namanya serta profesinya. Kini, kita melihat orang semakin tak peduli dengan komitmen, gampang bohong, berkhianat, sehingga nilai ucapannya menjadi begitu rendah. Padahal, komitmen adalah dasar dari kepercayaan yang merupakan fondasi semua hubungan dengan sesama (hlm 3).

Komitmen berhubungan dengan prinsip kejujuran dan kehormatan. SP berlaku jujur tak hanya bila menguntungkan, namun setiap saat. Meski begitu, mereka tahu selalu berkata jujur tanpa melukai orang lain. Sebab, mereka berprinsip menjaga kehormatan orang lain. Dewasa ini, di media sosial, misalnya, banyak orang saling membenci dan menjatuhkan kehormatan. Orang memaksakan kehendak, tanpa mau mendengarkan orang lain.

“Ketika samurai pengasih berkomunikasi dengan orang lain, tujuan utama menjadi pendengar,” tulis Klemmer (hlm 127).

SP juga memiliki “kelimpahan” dan “keberanian.” Kelimpahan adalah keadaan merasa keutuhan dan kesempurnaan tidak bergantung pada keadaan di luar diri. “Anda menerima keutuhan dan kesempurnaan sejak lahir karena sifat spiritual dan hubungan dengan Tuhan. Tuhan tak terbatas. Anda pun utuh karena terhubung dengan-Nya,” jelas Klemmer (hm 184). Ini bisa dimaknai sebagai syukur atas milik. Sekarang, banyak orang terus memeras tenaga untuk mendapatkan keinginan. Namun ketika telah mendapatkannya, mereka tetap tak bahagia. Ketika orang sadar atas “kelimpahan” akan percaya diri yang kemudian memunculkan keberanian.

Selain komitmen, jujur, bersyukur, dan berani, SP juga perlu fokus. Kekuatan luar biasa fokus mampu mengumpil. SP dapat memilih fokus pada apa saja dan dengan itu berkonsentrasi untuk mendapatkannya. Namun, mereka tetap fokus pada hal yang lebih besar ketimbang ambisi pribadi, yakni pelayanan atau kontribusi.

SP bersedia menyerahkan hidup demi tujuan lebih besar. Seorang pengusaha yang berjiwa SP, selain sangat sukses, juga memilih untuk memberi kontribusi besar bagi lingkungan dan masyarakat luas. Meski begitu, SP bukan seorang martir yang selalu memberi sampai tak punya apa pun. Perbedaan SP dengan martir, yang dipertaruhkan. “SP menjaga diri sambil memelihara gaya hidup melayani,” tegas Klemmer (hlm 56).

Buku berjudul asli The Compassionate Samurai ini menyuguhkan paket lengkap. Ini tak sekadar buku motivasi kesuksesan karena kaya akan nilai dan prinsip penting dalam kehidupan. Uraian buku tentang prinsip-prinsip samurai membentangkan jalan menuju kehidupan yang tak sekadar sukses, namun juga terhormat dan berguna bagi sesama.

Berpikir Positif Amat Menentukan dalam Memperbaiki Hidup

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Cara Cepat Melatih Kebiasaan Positif Sehari-hari Karya Marc Reklau

Koran Jakarta | Kamis, 03 Mei 2018 | Arinhi Nursecha


Mengapa sebagian orang tampak memiliki segalanya, sedangkan orang lain tidak? Banyak orang bermimpi memperbaiki hidup agar menjadi lebih bahagia dan kaya. Namun, menurut hanya mau menanti keajaiban. Kadang, mereka bahkan tidak tahu keinginannya. Marc Reklau, praktisi self healing asal Jerman, telah mempelajari prinsip-prinsip kesuksesan dan cara meraih kebahagiaan selama hampir 25 tahun. Buku ini memperlihatkan, kesuksesan dapat direncanakan dan diciptakan. Buku berisi tips, trik, dan latihan untuk memperbaiki hidup selama dipraktikkan secara konstan dan persisten. Di setiap bab terdapat kutipan dan kisah inspiratif tokoh-tokoh populer yang menggugah motivasi.

Pada 2008, pelatih FC Barcelona, Josep “Pep” Guardiola, mengambil alih tim dalam keadaan menyedihkan. Dalam pidato inagurasinya di depan 73.000 penonton Catalunya, dia berkata, “Kami tidak dapat menjanjikan gelar Anda. Yang kami janjikan usaha dan kami akan bertahan, bertahan, bertahan sampai akhir. Kencangkan sabuk Anda--kita akan bersenangsenang.” Pidato ini memulai periode paling sukses dalam sejarah 115 tahun klub itu dan hanya sedikit orang yang berpikir hal ini dapat terulang. Barcelona memenangkan tiga kompetisi nasional, dua piala nasional, tiga Piala Super Spanyol, dua Piala Super Eropa, dua Liga Champion, dua Piala Dunia Antar-Klub dalam empat tahun dominasi mereka di sepak bola dunia.

Sekarang giliran Anda. Berusahalah, lalu bertahan, bertahan, bertahan! Jangan menyerah! Kencangkan sabuk Anda dan bersenangsenanglah! (Halaman 8). Pada hari kita berhenti menyalahkan orang lain atas kejadian dalam hidup, semua akan berubah. Bertanggung jawab atas hidup berarti mengambil alih dan menjadi tokoh utamanya. Ketakutan akan kegagalan adalah pembunuh mimpi nomor satu. Kita harus melihatnya sebagai pengalaman belajar untuk tumbuh dan jadi informasi serta motivasi.

Thomas Alfa Edison bertaka, “Saya belum gagal. Saya baru saja menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil.” Hal ini memungkinkannya membawa banyak penemuan. Orang ini tidak pernah menyerah! (Halaman 36). Untuk mencapai tujuan, pembaca harus belajar cara menghadapi penolakan. Penolakan bukanlah masalahnya. Dialog dalam diri setelah ditolaklah yang menjadi masalah. Bersiap saja untuk ditolak berkali-kali dalam perjalanan menuju kesuksesan. Rahasianya, jangan menyerah!

Naskah Sylverster Stallone untuk film Rocky ditolak 70 kali. Buku Chicken Soup for The Soul Jack Canfield dan Mark Victor Hansen ditolak 130 kali. Kemudian, Canfield ditertawakan saat berkata ingin menjual 1 juta eksemplar. Editornya berkata, dia sudah beruntung bisa menjual 20.000. Akhirnya, buku pertama Chicken Soup for The Soul terjual 8 juta eksemplar, dan 500 juta eksemplar untuk keseluruhan seri! Bahkan JK Rowlings “Harry Potter” ditolak 12 kali! (Halaman 70).

Rasa syukur akan mengisi ulang energi dan mendorong harga diri, juga terkait langsung dengan kesehatan fisik dan mental. Pikiran menciptakan realitas. Berpikir positif sangat penting dalam upaya memperbaiki hidup. Teknik yang bagus untuk membangunnya adalah menggunakan afirmasi.

Dengan mengulang pernyataan positif berkali-kali setiap hari, meyakinkan pikiran bawah sadar untuk mempercayai dan mulai bertindak “menarik” hal-hal yang diinginkan dalam hidup. Penerapan program neurolinguistik dan mengimplementasikan kebiasaan baru ini selama 30 hari secara konsisten, bukan tidak mungkin segera menempatkan kita di posisi yang lebih baik.

Zaman Now Edan, Perlu Teladan

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Samudra Keteladanan Muhammad Karya Nurul H. Maarif

Kedaulatan Rakyat | Minggu, 01 April 2018 | Fatoni Prabowo Habibi

 

Pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873 M) pernah bilang, zaman ini adalah zaman edan. Yang tidak ikutan edan, tidak akan kebagian. Aturan mana yang baik dan mana yang buruk, sudah tidak jelas, atau setidaknya telah samar garis demarkasinya. Dalam hal mengais rezekipun umpamanya, orang tak peduli lagi mana yang jalan yang hakak dan mana jalan yang haram.

Benar belaka ungkapan yang menyatakan 1001 macam cara mencari makan. Para pemimpin, bukannya meneladankan kejujuran dan kesederhanan, melainkan malah mempertontonkan perilaku korupsi dan hedonisme di depan mata rakyatnya. Dalam hal sikap keberagamaanpun, para pemimpin juga banyak yang tidak layak menjadi panutan, melainkan lebih pantas menjadi referensi keburukan. Ringkasinya, tak salah jika dikatakan, hari ini kita miskin keteladanan.

Di zaman ini, keteladanan ibarat barang mewah yang mahal harganya, karena tidak banyak lagi yang memilikinya. Karena itu, jika kita hendak merunut ke belakang mencari sosok yang paling pantas dan paling layak dijadikan teladan dalam segala aspek kehidupan, maka tak ada alasan lain kecuali kita harus kembali ada sosok Muhammad Saw. yang tanpa cela. Keteladanan begitu melekat dalam dirinya. Sosok insan kamil (manusia sempurna) yang menampakkan karakter ilahiah tersirat jelas dalam tuturan kata dan tingkah polahnya. Muhammad Saw.-lah yang paling layak dijuluki teladan sepanjang masa dan khalifah ma’nawiyah (wakil Allah SWT di bumi dalam arti sesungguhnya), yang mencerminkan dualisme sikap positif sekaligus; sikap agung kemanusiaan dan sikap luhur ketuhanan. Itu sebabnya, al-Qur’an melabelinya dengan uswah hasanah (teladan kebaikan), selain Ibrahim a.s. (hlm. 131)

Banyak kisah keteladanan luhur yang dengan gamblang menunjukkan sifat keagungan Muhammad Saw. Misalnya, ketika Muhammad Saw. hijrah dari Mekkah menuju Yatsrib  (yang kemudian disebut Madinah). Kala itu, beliau bersama Abu Bakar ash-Shiddiq, dikawal sahaya Abu Bakar bernama Amr bin Fuhairah, dan Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi, seorang pemuda pagan alias musyrik yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Di tengah perjalanan, Muhammad Saw. hendak membeli makanan dan minuman. Lantas beliau mampir di sebuah kemah kepunyaan Ummu Ma’bad al-Khuzaiyyah. Sayangnya, saat itu tiada minuman dan makanan.

Muhammad Saw. lantas melihat seekor kambing betina di sekitar kemah. Muhammad Saw. pun kemudian memegang susu kambing tiada berair itu seraya berdoa: Ya Allah, berkahilah Ummu Ma’bad melalui kambingnya. Maka, tiba-tiba, kambing yang air susunya kering kerontang itu memancarkan air susu dengan derasnya. (hlm. 148)

Muhammad Saw. meminta wadah guna menampung air susu yang melimpah itu. Beliau mempersilakan tiga rekan hijrahnya, yang dengan setia menyertai perjalanan beliau, untuk meminumnya satu per satu, hingga semuanya merasa segar kembali dan hilang dahaganya. Setelah semuanya kebagian, barulah Muhammad Saw. meminumnya paling akhir.

Dalam sabda Nabi menyatakan: Orang yang memberikan minuman kepada kaum itu dia minum yang paling akhir. Inilah pemimpin sesungguhnya, yang bertanggungjawab untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Ini pulalah tipe pemimpin yang tidak egois, yang tidak mendahulukan kepentingan pribadi, keluarga atau golongannya dengan mengabaikan kepentingan dan kemaslahatan rakyatnya. Pemimpin ini bahkan rela mendapatkan sisa-sisa dari rakyatnya.

Buku ini menyajikan setitik informasi tentang hayah (sisi historis kehidupan) Muhammad Saw. Kitab klasik pun menjadi sumber informasi terkait, disamping aneka teladan kebaikan terus menyembur dari dirinya, tiada habis-habisnya. Ibarat mata air, tak sebutir keburukan pun yang muncul darinya.

Semua ini menunjukkan betapa akhlak adalah mahkota bagi manusia. Karena itu, sebagai umatnya, sudah seharusnya kita semua menimba dan berusaha meniru sebanyak-banyak mata air akhlak itu dari Muhammad Saw., untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Peniruan atas keteladanannya ini, menjadikan pengharapan menjadi orang yang saleh mudah diraih dan kita pun akan menjadi manusia sukses fi ad-darain, dunia-akhirat. Amin!

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL