You are here Info Buku Resensi Buku

Resensi Buku

Senjata Perang Kimiawi yang Terkuak

Surel Cetak PDF

Resensi Buku The 731 Legacy Karya Lynn Sholes dan Joe Moore

Radar Surabaya | Minggu, 26 Februari 2017 | Imron Mustofa


Diserang penyakit mengerikan, seorang pria sekarat terhuyung-huyung ke Satellite News Network. Sebelum pria tersebut menghembuskan nafas terakhir, ia menyampaikan pesan misterius kepada wartawan senior Cotten Stone: “Jarum Hitam”, nama sandi untuk eksperimen ultra-rahasia semasa Perang Dunia II.

Beberapa hari setelah pria tersebut sekarat dengan darah keluar dari seluruh lubang yang ada di tubuh, warga kota mulai menurun kesehatannya. Hingga salah satu rumah sakit melaporkan, setiap jamnya menerima pasien dengan gejala yang sama seperti pria tersebut. Hanya dalam waktu 24 jam, ratusan warga dari usia enam sampai enam puluh dua tahun, meninggal mengenaskan.

Novel karya penulis best seller Lynn Sholes & Joe Moore, mengisahkan perjuangan seorang perempuan dalam mengungkap misteri di balik wabah flu mematikan. Perempuan itu bernama Cotten Stone. Instingnya yang kuat mendorong Cotten untuk menyelidiki wabah ini sampai tuntas.

Cotten Stone, sebagai wartawan di Satellite News Network merasakan ada yang aneh dengan penyebaran wabah mematikan ini. Wabah flu yang mirip Ebola, tapi sulit untuk diidentifikasi virus jenis apa. Ia kemudian melakukan observasi kepada mayat pria yang sekarat di kantor kerjanya, Calderon. Namun anehnya, mayat Calderon hilang secara misterius. Pun, ketika Cotton hendak melakukan penyelidikan pada mayat seorang ibu di Virginia Barat, yang menurut laporan mengalami gejala yang sama.

Kecurigaan Cotten kian meningkat. Ia kemudian melibatkan Ted, atasannya, untuk melakukan penyelidikan ini. Ia juga melibatkan John Tyler, seorang Pendeta yang amat disayanginya. Dari hasil pengamatan Cotten, dibantu dengan dua rekannya, menemukan ada keterlibatan Korea Utara atas kasus wabah flu mematikan tersebut.

Berbagai pihak dihubungi, untuk membantu penyelidikan ini. Namun sayangnya, tidak satupun yang percaya, karena Cotten belum memiliki bukti yang kuat. Yang ia bawa hanyalah dugaan dari hasil observasi, yang mengarahkan pada keterlibatan Korea Utara, sebagai negara yang anti Amerika.

Hingga ia bersama John menemui Presiden Amerika, David Brennan. Namun tidak ada hasilnya. David hanya mengatakan, “Jika kau benar, pemikiran itu menakutkan. Tapi, mana buktinya? Aku tidak bisa bertindak berdasarkan dugaan.” (halaman 288).

Keputusasaan mulai menjalar dalam diri Cotten. Terlebih, ketika Pendeta John Tyler, orang yang paling disayangi, terkena wabah tersebut. Ia hanya menatap John terkulai lemas dan pucat di atas ranjang rumah sakit. “Semua ini gara-gara aku,” kara Cotten. “Semua hal buruk yang terjadi dalam hidupmu adalah gara-gara aku.” (halaman 321)

Di sisi lain, Moon, dalang di balik wabah flu mematikan ini, telah mempersiapkan serangan lanjutan untuk memusnahkan Amerika dan sekutunya.

Sementara Cotten, tidak bisa melepaskan diri dari perhatiannya kepada John. Ia tidak ingin orang yang disayangi meninggal mengenaskan. Di saat Cotten putus asa, ia mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Namun, suaranya tidak asing baginya. Dia adalah Nephilim Sang Putra Fajar, musuh bebuyutan Cotten. Dialah yang membuat John sekarat dengan menggunakan tangan terampil Moon.

Di sinilah terlihat kualitas penulis, dalam memadukan ilmu pengetahuan, mitos, sejarah, dan imajinasi menjadi rangkaian cerita menarik. Sehingga, siapa saja yang membaca karya dua penulis bestseller versi Amazon, akan dibuat tenggelam dalam imajinasi.

Di akhir cerita, Cotten pun dengan terpaksa menuruti tawaran Sang Putra Fajar untuk bergabung, demi nyawa John terselamatkan. Dan, setelah John benar-benar terlepas dari jeratan maut, barulah Cotten menceritakan semuanya.

“Aku mendapat kunjungan dari seseorang yang kau kenal betul, Sang Putra Fajar. Dia mengatakan bahwa jika aku pasrah pada warisanku (Nephilim) dan merengkuh sosok diriku yang sebenarnya, nyawamu akan diampuni.”

Dan dari sinilah, dalang di balik wabah flu mematikan terbongkar!

Sukses Berawal dari Diri Sendiri

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kuasai Dirimu Karya Ahmad Dzikran

Koran Seputar Indonesia | Minggu, 26 Februari 2017 | Al Mahfud

 

Setiap orang ingin sukses. Namun, tak semua orang bisa mewujudkannya. Kadang orang sudah berusaha keras untuk mengejar apa yang dia cita-citakan, tapi selalu berakhir dengan kegagalan. Apa yang salah?

Apakah karena usahanya kurang keras? Atau pilihan cita-cita yang dia kejar kurang tepat? Sebelum berbicara lebih jauh tentang usaha mengejar kesuksesan, sebenarnya ada hal mendasar yang harus dijawab setiap orang, yakni sejauh mana dia mengenal diri sendiri. Buku ini memandu meraih kesuksesan bagi siapa pun dengan dasar mengenal diri sendiri. Sebab, sejauh mana orang bisa mengenal dirinya sendiri akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana ia menentukan langkah terbaik dalam mewujudkan impiannya. Filsuf Yunani Aristoteles pernah mengatakan, “Mengenali dirimu sendiri adalah awal dari kebijaksanaan”. Lantas bagaimana cara mengenal diri sendiri?

Dalam hal ini, penulis memaparkan pembahasan dengan sistematis, runtut, dan detail. Di awal, kita diajak mengenal diri kita sendiri dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Seperti dengan mencari sifat baik dan sifat buruk kita. Menariknya, diajukan pula pertanyaan-pertanyaan unik seperti film dan buku apa yang kita tonton dan baca berkalikali, hal-hal apa yang kita takuti di hari tua, sampai hal menarik dalam kisah hidup kita. Pertanyaan-pertanyaan itu akan merangsang kita untuk terus menggali dan mengenal kepribadian diri kita sendiri secara lebih dalam.

Kita diajak lebih memahami kelebihan dan keinginan kita, sebagai modal awal menentukan target kesuksesan. Apa yang pernah kita lakukan dan mendapatkan respons dan apresiasi positif dari orang lain. Jika belum ada, kita harus mengupayakannya. Sebab, kelebihan tak hanya berasal dari bakat alamiah, tapi juga melalui upaya yang tak mudah. Ketika sudah dapat gambaran siapa diri kita, lewat kelebihan, keistimewaan, dan keinginan kita tersebut, sejak saat itu kita harus percaya diri dengan apa yang kita miliki dan kita inginkan. “Percaya pada kemampuan yang Kau miliki untuk bisa menjadi seperti apa yang Kau inginkan, untuk bisa menciptakan kelebihanmu sendiri dan bisa mengubah hidupmu sendiri” (hlm 7).

Mengelola Ego

Namun, kepercayaan diri saja belum cukup. Sebab, kepercayaan diri yang terlalu tinggi (overconfidence ) kadang justru menghambat langkah menuju kesuksesan, sebab bisa membuat kita menjadi egois. Untuk itulah, penulis mengajak kita melangkah ke pembahasan tentang bagaimana mengelola ego. Ego adalah bagian dari diri kita yang selalu merasa paling spesial, paling benar, dan paling baik. Anthony Robbins (2003), mengatakan bahwa “Ego tidak dapat dihilangkan, tetapi ia dapat dikelola dan disalurkan dengan baik”. Setiap pencapaian atau keberhasilan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita bisa mengelola ego dan mendialogkannya dengan sudut pandang atau perspektif lain. Kuncinya adalah, jangan sampai kita dikuasai ego.

Sebaliknya, kita yang harus bisa mengendalikan atau menguasai ego. Di buku ini, kita diajak mengenali ciri-ciri ketika seseorang dikendalikan egonya. Seperti terlalu sibuk memikirkan pengakuan orang lain, gengsi meminta bantuan, ogah meminta maaf, agresif, selalu bermain menjadi korban (playing victim ), mudah tersinggung, dan enggan mengucapkan terima kasih.

Mindset Sukses

Setelah mengenal diri sendiri dan mampu mengendalikan ego, hal yang harus ada pada diri seseorang adalah adanya mindset (cara berpikir) sukses. Orang yang ingin sukses harus membangun mindset yang dapat mengarahkannya menuju kesuksesan. Mindset sukses terbentuk dari berbagai cara pandang kita dalam menyikapi berbagai hal dalam hidup. Di buku ini, dipaparkan berbagai cara membangun mindset sukses secara sistematis.

Dimulai dari penentuan kriteria sukses yang kita inginkan, target yang hendak kita capai, menentukan perilaku-perilaku yang dapat mendukung kesuksesan, mencatat setiap kegagalan dan menganalisis penyebabnya, dan keberanian untuk terus mencoba. Pada dasarnya, mendset sukses adalah tentang bagaimana kita bisa tetap konsisten mengejar impian meski diterjang cobaan atau kegagalan. Contoh prinsip yang mencerminkan mindset sukses adalah keberanian berpikir besar dan konsisten melakukan langkah-langkah meski kecil. Contohnya, kesuksesan Google yang awalnya disangka karena target-target besar yang mereka canangkan.

Namun, mantan wakil presiden senior Google Divisi Adwords and Adsense Susan Wojcicki mengatakan bahwa semua proses diawali dengan delapan pilar inovasi perusahaan. Salah satu pilarnya menyebutkan, berpikir besar, tetapi berindaklah kecil (hlm 185).

Menyelesaikan Masalah dengan Kasih

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Maysuri Karya Nadjib kartapati Z.

Koran Seputar Indonesia | Minggu, 12 Februari 2017 | Al Mahfud

 

BENCI, amarah, dan dendam tak akan bisa mengatasi persoalan. Kita mesti memiliki kemampuan memandang setiap problem dengan pikiran jernih dan cinta.

Cinta membuat seseorang berpikir positif dan memandang setiap persoalan hidup sebagai tangga menuju kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut bisa dikatakan merupakan garis besar yang tersirat dari novel berjudul Maysuri karya Nadjib Kartapati. Nadjib, sastrawan sekaligus penulis skenario film yang telah memenangkan bermacam penghargaan ini menyuguhkan kisah menarik tentang pergulatan manusia dalam memandang persoalan hidupnya. Maysuri, gadis muslimah cerdas yang dihadapkan pada persoalan hidup rumit sekaligus menyakitkan.

Seorang perempuan paruh baya bernama Suryani tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ibunya. Pak Fandi, ayah Maysuri yang melihat kedatangan perempuan tersebut, segera mengusirnya. Itu membuat Maysuri makin penasaran, siapa perempuan paruh baya itu sebenarnya? Setelah terusmenerus didesak, Pak Fandi akhirnya mengaku jujur bahwa perempuan tersebut memang ibu kandung Maysuri. Namun, Pak Fandi melarang keras Maysuri berhubungan dengan Suryani.

Sebab, mantan istrinya tersebut dulu telah berkhianat padanya dan lebih memilih menjadi perempuan penghibur demi materi berlimpah—hal yang waktu itu belum bisa diberikan Pak Fandi sebagai seorang guru. Suryani lupa diri sebagai seorang istri dan memilih meninggalkan suami dan anaknya demi kesenangan dan kemewahan. Maysuri jelas terpukul mengetahui bahwa Asruni, ibu yang telah mengasuhnya sejak kecil sampai lulus kuliah, ternyata bukan ibu kandungnya. Ibu kandungnya adalah Suryani, wanita penghibur yang meninggalkannya sejak kecil.

Kegalauan Maysuri tak berhenti di sana. Ia sedang menjalin hubungan dengan Buroqi, pemuda yang berasal dari keluarga terhormat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana harus menjelaskan kepada Buroqi, terutama kepada keluarganya, tentang latar belakang ibu kandungnya tersebut. Tentu itu akan sangat memalukan bagi keluarga Buroqi yang menganggap Maysuri berasal dari keluarga baikbaik. Kisah kemudian bergulir ke bagian-bagian menegangkan ketika persoalan-persoalan yang mendera Maysuri mulai diketahui Buroqi dan kedua orang tuanya.

Cinta

Setelah perdebatan panjang dengan ayahnya, Maysuri dihadapkan pada pilihan dilematis; melupakan Suryani, ibu kandungnya, dan tetap tinggal bersama ayahnya (dan Asruni, ibu tirinya), atau mencari Suryani dan meninggalkan rumah. Dengan dorongan cinta dan kesadaran berbuat sesuatu untuk orang yang telah melahirkannya, Maysuri memilih mencari ibunya. Ia tak ingin ikut membenci ibu kandungnya seperti yang dilakukan sang ayah.

Meski sudah ditinggal seperempat abad oleh ibunya hanya untuk mengejar kesenangan dan harta, Maysuri tetap terdorong untuk menemuinya. Maysuri mengambil langkah berani. Setelah meyakinkan Suryani, ibu kandungnya, agar meninggalkan dunia hitam, ia meninggalkan ayahnya dan ibu tirinya, kemudian bekerja sebagai seorang tutor privat, utang dari yayasan tempatnya bekerja untuk menyewa rumah dan tinggal bersama ibu kandungnya tersebut. Maysuri tak sekadar mengajak Suryani meninggalkan kemaksiatan. Sebagai seorang gadis muslimah yang taat, ia juga menuntun ibu kandungnya tersebut ke jalan yang benar; mengajarinya salat, mengaji, memakai pakaian yang lebih sopan, dll. Keberanian tersebut membuka mata hati sang ayah.

Pak Fandi kagum dan sadar bahwa putrinya telah mengajarinya sesuatu. “Ayah menyadari bahwa orang tak boleh memandang sesuatu dengan kebencian” (hlm 298). Kisah berakhir bahagia (happy ending). Bersama Suryani, ibu kandungnya, Maysuri menerima kedatangan sang ayah dan Asruni, ibu angkatnya. Mereka saling memaafkan dan menerima satu sama lain. Kemudian, kedua orang tua Buroqi yang sempat melarang hubungan mereka— sebab tahu latar belakang kelam ibu kandung Maysuri, akhirnya merestui hubungan keduanya.

Novel ini seperti paket lengkap yang dipersembahkan penulis. Selain tentang pentingnya mengesampingkan ego dan kebencian serta mengedepankan cinta dan nurani kemanusiaan dalam memandang persoalan, kisah ini juga menyimpan berbagai pesan penting lain tentang kehidupan.

Menelusuri Penjelajahan China Menemukan Dunia

Surel Cetak PDF

Resensi Buku 1421: Saat China Menemukan Dunia Karya Gavin Menzies

Harian Bhirawa | Jumat, 23 Desember 2016 | Muhammad Khambali


Bermula dari keisengan Gavin Menzies menggumuli peta-peta kuno, secara kebetulan saat berkunjung ke Perpustakaan James Ford Bell di Universitas Minnesota, Amerika Serikat, menemukan sebuah peta bertuliskan tahun 1424 dan ditandatangani oleh seorang pembuat peta dari Venesia bernama Zuane Pizzigano. Peta tersebut memperlihatkan beberapa pulau yang setelah ia telisik merupakan pulau-pulau di kepulauan Karibia, Puerto Rico dan Guedepole. Hal itu mengejutkannya karena berarti seseorang telah menjelajah kepulauan tersebut sebelum Columbus singgah di Karibia. Tetapi siapakah yang telah melakukan penjelajahan sebelum Columbus?

China telah berlayar ke Amerika sekitar tujuh puluh tahun sebelum Columbus. Demikianlah sebuah klaim yang bukan saja mengundang kontroversi, tetapi tentu menjengkelkan para sejarawan dan akademisi. Bukan hanya Amerika, tetapi pada abad ke XV, tepatnya dalam rentang tahun 1421-1423, yang artinya jauh sebelum orang-orang Eropa, armada laut China telah berlayar selama dua tahun mengelilingi pantai Afrika, Australia, Selandia Baru dan Antartika. Bahkan, ketika Columbus dan para tokoh penjelajah Eropa lain datang ke dunia baru tersebut, dikatakan hanya mengekor jalur pelayaran berdasarkan salinan peta China.

Semua itu diutarakan Gavin Menzies lewat bukunya, 1421: Saat China Menemukan Dunia. Dalam pandangan Menzies, luputnya catatan sejarah mengenai penjelajahan China disebabkan pada pertengahan abad ke XV hampir semua peta dan dokumentasi China pada saat itu dengan sengaja dimusnahkan oleh pengadilan China karena perubahan politik luar negeri yang terjadi tiba-tiba. Jauh dari mengarungi dunia luar, setelah momen tersebut China berkonsentrasi dengan dirinya. Segala sesuatu untuk mengenang para penjelajah China terdahulu telah terlupakan dalam sejarah (hlm. 7).

Pada tahun 1421, China dipimpin seorang kaisar bernama Zhu Di. Ia adalah seorang megalomaniak yang ingin menjadikan China sebagai, “Kerajaan maritim, yang merentang samudra” (hlm. 22). Zhu Di memilih Zheng He atau yang dikenal sebagai Cheng Ho sebagai kepala komandan armada laut China. Untuk mewujudkan ambisinya, Zhu Di menyiapkan ribuan kapal baru. Ketika itu, nyaris dalam setiap hal, kapal-kapal China berada satu abad di depan Eropa.

Laksamana Cheng Ho tidak akan kesulitan untuk memusnahkan armada laut yang menghalangi jalannya. Peperangan armada China dengan armada lain di dunia bagaikan sekumpulan hiu menghadapi gerombolan ikan teri (hlm. 39). Bukan itu saja, China telah mempunyai pengalaman lebih dari enam abad dalam navigasi lautan. Pada abad ke XV, kapal paling kuat, bahkan terbesar, adalah kapal layar China (hlm. 56). Dibawah komando laksamana Cheng Ho, buku ini mengisahkan pelayaran Hong Bao, Zhou Man, Zhou Wen dan Yang Qing menjelajahi samudra dan benua.

Dalam buku ini diutarakan bahwa terbatasnya bukti-bukti kuat yang mendukung armada laut China telah menjelajahi bumi sebelum bangsa Eropa sempat membuat Menzies khawatir. Menzies menyatakan telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengelilingi dunia di jalur perjalanan eksplorasi bangsa China. Ia meneliti arsip, museum dan perpustakaan, mengunjungi monumen kuno dan pelabuhan tua, serta mengeksplorasi tanjung berbatu, karang koral, pantai dan pulau terpencil. Tak hanya itu, ia juga mendapati pelbagai bukti fisik seperti porselen China, sutera, artefak, batu pahatan, dan bangkai kapal China yang ditemukan di pesisir Amerika, Australia, dan Kepulauan Pasifik. Selain itu, bagi Menzies bukti yang paling nyata, bahwa hampir semua tanaman penting pertanian telah menyebar ke seluruh dunia sebelum Columbus memulai pelayaran pertamanya (hlm. 353).

Sayangnya buku ini banyak berupa klaim dan asumsi subjektif Menzies, serta terbatasnya catatan kaki dari sumber-sumber primer. Menzies sendiri tanpa sungkan mengakui pengetahuannya tentang sejarah dan budaya China sangat terbatas. Tetapi pengetahuan dan keterampilan yang ia peroleh bertahun-tahun sebagai navigator dan penjabat komando di laut menjadi berguna, yang menurutnya tidak dimiliki para akademisi dan sejarawan. Menzies berdalih, “Jika saya bisa menjelaskan dengan gamblang jalur yang telah dilalui oleh armada laut China, itu karena peta dan bagan yang masih ada dan pengetahuan saya tentang arah angin dan kondisi laut yang mereka hadapi menjelaskan rutenya dengan tepat kepada saya, seakan-akan ada petunjuk yang tertulis di sana” (hlm. 74).

Tidak kurang dari lima puluh tahun waktu yang Menzies habiskan untuk merampungkan buku ini. Barangkali semua klaim Menzies patut diperdebatkan dan untuk dapat dianggap sebagai kebenaran sejarah yang utuh masih membutuhkan bukti-bukti sahih. Tetapi setidaknya, buku ini adalah upaya mendobrak sejarah yang melulu sudut pandang Barat (Western). Melalui buku ini, Menzies mencoba menulis ulang sejarah, bahwa bukan Columbus, da Gama, Magellan dan Cook yang pertama kali menjelajah dunia. Dan seturut Menzies, jika mereka dapat melihat lebih jauh dari yang lain, itu karena mereka berdiri di atas pundak raksasa!

Mencintailah Sewajarnya

Surel Cetak PDF

Resensi buku Dua Wajah Dua Cinta karya Abhie Albahar

Koran Sindo | Minggu, 18 Desember 2016 | Al-Mahfud

 

Cinta bisa membawa seseorang pada kebahagiaan, namun tak jarang menjerumuskan ke lubang penderitaan. Karena cinta, orang bisa mendapatkan tenaga dan kekuatan lebih dalam menghadapi kesulitan apa pun.

Dengan cinta pula, orang bisa menjadi sangat lemah dan seakan tak berdaya. Abhie Albahar, penulis novel yang sudah menulis lebih dari 300 naskah FTV, lewat novel ini menghadirkan kisah yang bisa membuat kita lebih bijak dalam mencintai. Kita tak disuguhi perjuangan meraih cinta sejati atau haru-biru cinta yang tak bisa menyatu. Dengan kemampuannya merangkai alur kisah yang mengaduk-aduk perasaan, Abhie membawa kita pada kegalauan seorang lelaki yang terjebak di antara cinta ibundanya dan istrinya.

Adalah Haikal, seorang dokter berparas tampan. Ia sangat menyayangi ibundanya, Ibu Aminah. Ibu yang sudah merawatnya sejak kecil seorang diri sejak ayahnya meninggal. Ibu Aminah juga sangat mencintai Haikal dan tak pernah mau berpisah dengan putra yang sangat dicintainya tersebut. Ketika tiba saatnya Haikal menikah dan memiliki seorang istri, kecintaan sang ibu yang sangat besar mulai memunculkan persoalan. Naia, istri Haikal, mulai merasa aneh sejak hari pertama. Sebagai istri, ia ingin menunaikan kewajiban mengurus rumah tangga. Namun, mertuanya, Ibu Aminah, seperti tak mau kalah dan selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.

Bahkan, saat malam hari, ketika Naia bersiap melayani suami, Ibu Aminah sering tiba-tiba mengetuk pintu. ”Kalau boleh, izinkan ibu tidur bersama kalian. Ibu merasa kesepian. Lagian, ibu kurang enak badan. Kalian tak keberatan kan kalau ibu tidur beesama kalian?” (h 23). Haikal tak bisa berbuat banyak. Lagipula, ia sangat menyayangi ibunya. Keadaan tersebut terus berlangsung dan membuat Naia semakin gelisah. Naia awalnya mencoba memahami keadaan ibu mertuanya yang kesepian. Namun, semakin lama ia tak betah. Naia merasa disiasiakan oleh suaminya sendiri.

Puncaknya, saat para tetangga mulai menggunjingkan Naia yang tak kunjung hamil dengan dugaan-dugaan yang tak sedap didengar. ”Semua ini karena ibu! Kalau saja ibu tak terlalu posesif pada Mas Haikal, saya pasti sudah hamil. Sekarang bagaimana saya bisa hamil kalau Mas Haikal tak pernah menyentuh saya. Dan, itu semua gara-gara Ibu yang selalu hadir di kamar kami setiap malam,” ucap Naia tak tahan. Namun, Ibu Aminah tak mau kalah. Ia merasa sikapnya merupakan hal yang wajar sebagai ibu. Konflik tak bisa dihindari.

Akhirnya, Naia pergi dari rumah Haikal dan pulang ke rumah ibunya. Setelah mendapatkan nasihat dari dua orang tuanya, Naia akhirnya sadar dan kembali pulang, kemudian rujuk dengan ibu mertuanya. Haikal dan Naia bahkan kemudian berbulan madu dengan menyewa vila sehingga bisa menikmati masa indah berdua. Namun, cobaan seakan tak berhenti mendera rumah tangga Haikal dan Naia. Suatu malam, saat Haikal mendapat tugas jaga malam di rumah sakit, Naia mengalami kejadian memilukan saat tidur sendirian. Sesosok tak dikenal berhasil mencongkel jendela dan masuk ke kamarnya, kemudian menodainya. Musibah tersebut sempat tepergok Ibu Aminah. Naia merasa dirinya sangat kotor.

Meskipun mereka sepakat merahasiakan kejadian tersebut pada Haikal, Naia tetap merasa sangat bersalah sudah mengecewakan suaminya. Tak lama kemudian, Naia pun hamil. Naia dan Haikal bahagia mengetahuinya. Namun, tidak dengan Ibu Aminah. Ia merasa, janin yang dikandung menantunya bukan darah daging Haikal. Ibu Aminah masih sering terbayang kejadian suatu malam yang menimpa menantunya sehingga trauma dan mengganggu psikologisnya. Sampai-sampai Ibu Aminah sering berhalusinasi tentang ihwal buruk dalam rumah tangga putranya.

Keterpurukan membuat Ibu Aminah nekat pergi dari rumah, dan membuat Haikal marah besar karena menganggap Naia telah mengusirnya. Naia kemudian berhasil menemukan Ibu Aminah di sebuah panti jompo dan memohon agar menjelaskan semua kepada Haikal agar rumah tangganya bisa diselamatkan. Novel ini menguras emosi. Kita diajak melihat cinta seorang ibu kepada anaknya yang harus dibenturkan dengan cinta seorang istri kepada suaminya— yang membuat dilema seorang lelaki ketika ibunda dan istrinya bertikai. Tak ada yang sepenuhnya salah dan tak ada yang sepenuhnya benar.

Sebagai seorang ibu, Ibu Aminah wajar mencintai putra satu-satunya. Terlebih, ia membesarkannya sejak kecil seorang diri. Di sisi lain, sebagai istri, Naia memiliki kewajiban melayani suaminya dan mendapatkan kasih sayang darinya.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL