You are here Info Buku Resensi Buku

Resensi Buku

Cinta Over Protektif

Surel Cetak PDF

Resensi buku Dua Wajah Dua Cinta karya Abhie Albahar

Harian Pati | Senin, 22 Agustus 2016 | Niam At-Majha

 

Cintailah cinta dengan sewajarnya, karena cinta yang berlebihan akan membuatmu buta, tak bisa membedakan mana hitam dan mana putih. Bisa jadi pula berlebihan dalam urusan cinta akan berbalik menjadi benci tak terobati. Meskipun kita semua tahu, cinta adalah fitrah manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tanpa adanya cinta dalam diri manusia kita tak ubahnya mayat hidup sebelum dikuburkan. Maka sewajarnya dalam bercinta dan memaknai cinta.

Buku yang bertajuk dua wajah cinta ini, menceritakan kisah cinta yang berbeda. Jika dua perempuan rebutan satu laki-laki yang tidak ada hubungan kekeluargaan itu hal yang lumrah sekali, akan tetapi dalam novel ini seorang Ibu Aminah sangat mencintai anaknya Haikal sehingga berebut dengan menantunya. Naia istri Haikal.

Haikal berprofesi sebagai Dokter yang baik hati dan suka menolong terhadap pasien yang sedang kebingungan soal biaya. Dia selalu menjadi penolong pertama ketika ada pasien tidak punya uang untuk membayar biaya perawatan di rumah sakit. Bagi Haikal menolong seseorang yang sedang membutuhkan adalah soal kemanusiaan. Dia tidak bisa membiarkan orang-orang yang tidak mampu seperti mereka tidak mendapatkan tidak mendapat kesempatan mendapat perawatan yang layak di rumah sakit. (hal 42)

Dari budi pekerti seperti itulah, kemungkinan sang Ibu tidak dapat membedakan cinta terhadap anak dan cinta terhadap suami. Sehingga meskipun Haikal anaknya sudah menikah akan tetapi tidak dapat memberikan kebebasan terhadapnya untuk sekedar mengungkapkan cinta terhadap istrinya yang baru sebulan di nikahi Haikal.

Satu bulan telah berlalu, dan tak ada hal yang lebih menyakitkan dari pada merasa disia-siakan oleh suaminya sendiri. Selama satu bulan itu Naia belum pernah mendapatkan nafkah batin dari Haikal sejak kali pertama mereka menikah. Semua itu dipicu bukan lantaran keegoisan dan sikap dingin Haikal yang telah menelantarkan dirinya selaku istri yang sah dan berhak mendapatkan semuanya, termasuk cinta dan kasih sayang dari suami tercinta. Haikal sendiri juga merasa tersiksa dengan kondisi seperti itu dan Naia mengetahui semuanya.

Ketidaksempatan mereka untuk menjali kemesraan berdua karena sang Ibu yang selalu hadir di setiap malam-malamnya bersama Naia. Entah sampai kapan keadaan itu akan berakhir. Menunggu Ibu Aminah menghentikan sikap posesifnya kepada anak satu-satunya, atau melakukan tindakan tegas atas semua sikap yang ditunjukan sang Ibu selama ini.(hal 51)

Padahal sifat posesif itu sikap yang sering muncul dalam sebuah hubungan asmara. Dan sifat posesif merupakan kumpulan dari rasa tidak aman, tidak percaya diri, kesepian dan ketergantungan dan takut kehilangan karena rasa cinta yang berlebih. Novel ini menceritakan bagaimana cinta seharusnya, bagaimana cinta yang sebenarnya, cinta seorang Ibu terhadap anaknya berbeda dengan cinta seorang istri terhadap suaminya.

Novel tentang wanita Ibu dan Istri ini, berusaha mengungkapkan dengan penuh perbedaan, apabila cinta Over Protektif itu bukan ke bahagian yang didapatkan melainkan kesedihan yang tak berujung. Selamat membaca.

Muhammad: Sang Nabi Revolusioner Dunia

Surel Cetak PDF

Resensi buku Muhammad Nabi untuk Semua karya Maulana Wahiduddin Khan

Harian Pati | Kamis, 04 Agustus 2016 | Andi Syarqowi


Buku ini mengulas sejarah Nabi Muhammad dengan cara pendekatan yang kritis dan mampu mengungkap makna dari setiap peristiwa kenabiaan Muhammad SAW. Buku ini mengungkap secara kronologis tahun demi tahun perjalanan Nabi, mulai dari jejak awal kehidupan nabi, peristiwa penting dalam kehidupan nabi, seperti metode kerasulan dan perjalanan hijrah ke Madinah, masa-masa akhir kenabian dan kerasulan  dan manifestasi kenabian ditilik di masa sekarang ini. Dengan bahasa yang  lugas, dan mudah dipahami, Maulana Wahiduddin Khan menyajikan pembacaan sejarah dengan pendekatan dan analisis yang kritis dan mendalam, sehingga dari buku ini kita akan menemukan deretan fakta, latar belakang, konteks, hikmah yang mampu memberi inspirasi kehidupan yang mulia bagi siapa saja yang membacanya.

Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang diutus untuk semua umat manusia dari segala belahan penjuru dunia tanpa melihat latar belakang apa pun. Hal ini berbeda dengan nabi atau rasul sebelum beliau yang hanya diutus kepada kaumnya saja. Nabi Muhammad adalah penutup para rasul sehingga ia adalah sekaligus nabi untuk semua manusia.

Selama hidup dan diutus menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah berhasil membuat perubahan besar-besaran dalam kehidupan bangsa Arab dan sekitarnya. Perubahan itu hampir mencakup dalam semua demensi kehidupan, yaitu ketuhaanan, pendidikan, ekonomi, politik, budaya, militer dan sebagainya. Maka, Tidak heran jika prestasi cemerlang itu kemudian membuat kagum siapa pun.

Banyak sejarawan Nasrani atau orientalis yang mengakui kehebatan Nabi Muhammad, di antaranya adalah Michael Hart yang lahir serta dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristiani dalam buku The Hundred menulis mengatakan: "Dialah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil dalam bidang keagamaan maupun duniawi dengan sangat mengagumkan." Thomas Carcyle, ahli sejarah berkebangsaan Inggris juga menyampaikan pendapat yang senada, ia berkata "Muhammad adalah pahlawan para nabi."

Pengakuan atau pujian demikian tidaklah berlebihan, karena prestasi Nabi dalam mengubah dunia dapat dibyktikan dalam sejarah perjalan hidupnya. Dalam rentang waktu 23 tahun, nabi sukses mengibarkan bendera revolusi di tengah suku-bangsa Arab yang semula Jahiliyah. Dan kemudian perjuangan itu diteruskan oleh pengikutnya berekspansi ke berbagai penjuru dunia. Dengan demikian, Nabi telah mengubah jalannya sejarah, sebab dalam kurun 100 tahun kemudian telah berhasil ditaklukkannya kerajaan Bizantium dan Persia. Dengan jatuhnya kedua kerajaan besar di dunia saat itu, Islam mengembangkan wilayahnya sampai begitu luwas menyebar ke seluruh sudut dunia.

Semua itu merupakan hasil usaha yang dibimbing oleh Nabi Muhammad SAW di arab selama dua puluh tiga tahun. Dalam kurun waktu yang sangat pendek, revolusi umat islam telah mendapatkan tempat yang tetap dan kokoh dalam sejarah kemanusiaan. Keberhasilan nabi Muhammad SAW dalam mendakwahkan Islam tidak bisa lepas dari sosok keluhuran beliau dalam segala hal. Beliau adalah panutan dan teladan umat manusia, sehingga dalam waktu yang relatif singkat banyak masyarakat Arab waktu itu ingin dan mengingkuti ajakan dan ajarannya. Di masyarakatnya, beliau terkenal sebagai pribadi yang santun, jujur, penuh toleransi, adil, sabar, rendah hati, dapat dipercaya, bersikap baik dengan siapa saja, anti kekerasan, dan berbagai sifat-sifat mulia lainnya. Keluhuran budi Nabi Muhammad memberi kepada beliau kekuatan untuk mengambil hati umatnya. Semakin dekat seserang dengan beliau, semakin mereka kagum dengan sifat beliau yang mulia.

Disamping keluhuran budi pekerti beliau, keberhasilan dakwah nabi juga sukses disebabkan oleh metode dakwah yang beliau gunakan. Pertama, beriman dan memperkuat batin masyarakat dengan menanamkan kesadaran ketuhanan yang benar, yaitu tiada Tuhan di dunia ini yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah, dan setelah mati nanti kita akan kembali kepada-Nya. Kedua, kesabaran dan ketabahan, yaitu dengan senantiasa kebal dan tahan banting walaupun diterpa berbagai celaan, intimidasi, cobaan, musibah, rintangan dan berbagai penderitaan. Nabi tidak pernah putus sekalipun dalam memperjuangkan dan menyebarkan ajaran Tauhid walaupun serangan dan perlawanan dari kaum kafir tak pernah surut. Ketiga, dakwah dengan damai tanpa kekerasan. Dalam berdakwah beliau tidak suka memerangi musuh. Beliau lebih memperlihatkan pesona, sebab dengan pesona seseorang mampu mentaklukkan kebencian di dalam hati musuhnya. Keempat, kegiatan penyebaran agama adalah kegiatan menonjol dalam kehidupan Nabi Muhammad. Beliau tidak memusatkan perhatiannya kepada masalah politik, sosial dan ekonomi seperti layaknya pemimpin-pemimpin lain. Seluruh waktunya beliau curahkan untuk mengagungkan agama Allah.

Dengan membaca buku ini, siapapun akan memperoleh keyakinan dan kemantapan sekaligus keteladanan dari Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan, terutama keteladanan bagaimana cara menciptakan revolusi dalam kehidupan dewasa ini, dari kondisi terpuruk menuju kondisi sejahtera.

Makam Leluhur dan Kemuliaannya

Surel Cetak PDF

Resensi buku Tarian Dua Wajah karya S. Prasetyo Utomo

Jawa Pos | Minggu, 31 Juli 2016 | Setia Naka Andrian


Prasetyo memilih pengisahan novelnya ini dengan gaya realis-imajinatif. Membaca novel ini, sederhana memang, namun sadar atau tidak, pembaca akan disuguhi seabrek goncangan batin terkait bergelimang fenomena spiritual.

Novel diyakini menjadi cara ampuh bagi sebagian pengarang untuk lebih dalam menemui pembacanya, ketimbang melalui karya sastra lain termasuk puisi dan cerpen.

Itu disebabkan novel setidaknya lebih lantang menyuarakan pengisahannya, dengan tidak perlu banyak mengerutkan dahi pembaca. Seperti yang dapat pula kita rasakan ketika membaca novel S. Prasetyo Utomo, Tarian Dua Wajah (Alvabet, Juni 2016).

Prasetyo menggiring pembaca dengan suguhan persoalan makam leluhur di sebuah perkampungan dengan begitu bergejolak. Pertanyaan-pertanyaan di benak pembaca pelan-pelan menyambar tanpa henti, tatkala tokoh-tokoh mulai dihadirkan.

Termasuk tokoh Sukro yang begitu sentral sebagai salah satu keturunan Nyai Laras, leluhur kampung yang sudah meninggal. Nyai Laras adalah penari istana pada masa silam yang tenar seantero negeri. Yang kemudian diyakini terdapat titisannya, Dewi Laksmi, penari muda berbakat yang berkesempatan berkeliling dunia karena lenggok tubuhnya yang memukau.

Prasetyo memilih pengisahan novelnya ini dengan gaya realis-imajinatif. Sebuah ikhtiar tersendiri untuk lebih luas mencapai semua kalangan pembaca. Cerita awal dibuka dengan begitu getir, terkait kehidupan keluarga kecil Sukro yang tengah mempersiapkan proses melahirkan dari istrinya, Aya.

Masalah klise menghadang mereka, perihal kekurangan uang untuk biaya kelahiran. Akhirnya, Sukro, sang suami harus menagih kekurangan uang yang belum diberikan oleh pembeli. Seorang pengusaha yang membayar tanah Sukro, tanah bukit warisan leluhur yang terdapat makam leluhurnya, Nyai Laras.

Makam yang berangsur-angsur menjadi perdebatan bagi barga sekitar. Sebab, makam tersebut kerap digunakan sebagai tempat pemujaan bagi orang-orang di luar daerah yang setiap hari hilir-mudik berdatangan.

Membaca novel ini, sederhana memang, namun sadar atau tidak, pembaca akan disuguhi seabrek goncangan batin terkait gelimang fenomena spiritual. Prasetyo begitu pelan mengaduk-aduk batin pembaca, dengan nuansa realis-imajinatifnya, seakan menggiring keberhasilan dalam menguasai keyakinan pembaca.

Di situ, mulailah sejarah manusia baru diciptakan atas pergulatan persoalan yang sudah sangat sering kita jumpai dalam keseharian. Namun pengisahan-pengisahannya seakan diombang-ambing hingga menuju penyelesaikan yang tak terduga. Atau bahkan jawaban-jawaban atas segenap persoalan tersebut sangat sulit dipijaki dalam keseharian kita.

Misalnya saja, dalam pengisahan tokoh Aji, anak dari Sukro (dituduh merampok,  membunuh) dan seorang ibu bernama Aya (penyanyi kelab malam). Aji yang sejak lahir sudah ditinggal ayahnya mendekam di penjara, kemudian ketika usia satu tahun, ia dititipkan kepada pakde Rustam (kakak kandung Sukro).

Aji tumbuh dalam penuh tekanan. Hari-harinya yang sangat jauh dengan kasih sayang kedua orang tua. Ditambah kekerasan fisik dan mental yang terus dilakukan oleh bude dan anak-anak pakdenya.

Namun setelah beranjak dewasa, Aji memilih untuk meninggalkan rumah pakdenya. Dia meyakinkan diri untuk belajar di pesantren Kiai Sodik. Setelah berproses di pesantren, ternyata nampak kemuliaan-kemuliaan jiwa Aji. Hingga akhirnya, dia dinikahkan dengan Salma, anak Kiai Sodik yang jernih hatinya. Walaupun awalnya, hal tersebut kurang disetujui oleh istri Kiai Sodik, mengingat siapa Aji, siapa orangtuanya.

Prasetyo, dalam novel ini pun mengisahkan sosok Kiai Sodik dalam sisi kebimbangan-kebimbangannya. Menggambarkan betapa diri manusia, entah seberapa tinggi derajat dan kemuliaannya di mata masyarakat, tetap saja masih ada celah-celah kekurangannya.

Kerap dikisahkan Kiai Sodik mengadu kepada ibunya, ia meminta pendapat, atas kekhilafan yang dilakukan. Misalnya saja ketika dia sempat mampu menyembuhkan orang sakit keras, namun lain waktu dia gagal meski sempat begitu yakin mampu mengulangi keberhasilan sebelumnya.

Orang sakit kedua yang berusaha disembuhkannya meninggal. Proses persiapan pemakaman pun akhirnya dilakukan di lingkungan pesantren, masyarakat dan santri menyaksikan, menghadiri ritual pemakaman.

Hal itu seakan diciptakan Prasetyo untuk mengajak kita melihat bagaimana kondisi masyarakat saat ini. Biasanya segala sesuatu bermuara pada ruang-ruang santri, lingkaran-lingkaran kiai. Namun, tatkala waktu terus bergerak, masyarakat kita seakan bergerak pula kepandaian pemahamannya dalam menyikapi kehidupan.

Semua bisa goyah, semua memiliki celah kebimbangan jika dipertemukan dengan segenap peranti duniawi. Begitu kiranya sedikit kemuliaan yang dikisahkan dalam novel. Karya Prasetyo ini setidaknya memberi beberapa pandangan terhadap kita, mengajak kita menelusuri ruang-ruang kecil yang melimpah nilai.

Roh Spiritual di Jagat Fiksi

Surel Cetak PDF

Resensi buku Tarian Dua Wajah karya S. Prasetyo Utomo

Suara Merdeka | Minggu, 31 Juli 2016 | Setia Naka Andrian


Novel terbaru S Prasetyo Utomo, Tarian Dua Wajah (2016) seakan menyeret saya memaknai gelimang kisah manusia dari tokoh-tokoh yang dihadirkannya. Benak saya diguyur aroma spiritual yang memadukan seni dan moralitas, seperti ditegaskan sampul apik bergambar penari cantik dengan dua topeng di kedua tangannya. Nyai Laras, seorang penari istana, yang diyakini sebagai leluhur sebuah daerah dalam latar novel.

Prasetyo, membuka dengan kisah getir lelaki muda kekar bernama Sukro, keturunan Nyai Laras yang dihadapkan persoalan ekonomi. Sukro berupaya keras memenuhi biaya kelahiran istrinya. Ia harus menjual tanah warisan yang terdapat pekuburan leluhurnya yakni, makam Nyai Laras. Persoalan muncul, ketika tak semua uang pembayaran tanah diberikan. Sukro membunuh pengusaha yang membeli tanahnya, karena tidak melunasi kekurangan penjualan tanah tersebut.

Sukro dipenjara 15 tahun atas tuduhan perampokan dan pembunuhan. Keluarga kecil Sukro menjadi berantakan. Aya, istri Sukro, selepas melahirkan anaknya, Aji, kembali menjadi penyanyi di sebuah kelab malam. Aji dititipkan kepada kakak iparnya di kota. Aji tumbuh meremaja dengan penuh tekanan dari istri kakak ipar beserta anak-anaknya.

***

Prasetyo pelan-pelan menyuguhkan roh spiritual selebar-lebarnya dalam segenap pengisahannya. Spiritual di sini memberi arah serta melakukan kritik atas realitas yang ada. Pun terkait pengisahan nilai-nilai kemuliaan begitu leluasa disuguhkan melalui tokoh-tokohnya dengan lantang, panjang dan saling berkaitan. Gelimang gerak manusia ditawarkan melalui tema, karakter dan ideologi tertentu. Prasetyo seakan menekuri catatan keyakinan yang bertebaran dalam keseharian hidupnya. Aktivitas kemanusiaan yang luhur pun sedemikian rupa ditawarkan tanpa mengerutkan dahi pembaca. Siapa pun seolah tergerak untuk tak habis-habis menemukan diri sendiri dalam pengisahannya.

Misalnya Aji, santri muda yang merupakan anak Sukro (pembunuh, perampok) dan Aya (penyanyi kelab malam), kemudian menjadi menantu kiainya, Kiai Sodik. Ia dinikahkan dengan seorang anaknya yang cantik dan jernih hatinya. Dalam hal ini, Prasetyo mencoba mendobrak kelaziman yang barangkali sangat jarang ditemukan dalam kehidupan kita. Prasetyo mengupayakan keyakinan Barker (2013) dalam melaksanakan kerja empiris yang ditekankan dalam tradisi kulturalis, mengeksplorasi cara manusia menciptakan makna kultural.

Dikisahkan pula, sosok Kiai Sodik, yang tetap teguh tidak mengusik sarang lebah madu di pesantrennya. Ada pembeli yang berkali-kali datang namun tetap saja tidak diberikan. Hingga suatu ketika, Kiai Sodik jatuh sakit, istrinya menyarankan agar salah seorang santri mengambil sarang lebah madu untuk Kiai Sodik. Namun ia menolak, katanya masih banyak obat dari dokter yang belum diminum. Suatu saat, lebah ratu dan gerombolannya berterbangan memasuki kamar Kiai Sodik dan bersarang di usuk kamar sang kiai. Madu memenuhi tiap-tiap liang sarang, hingga madu leleh, menetes tepat di bibir Kiai Sodik yang terbaring di bawahnya. Kiai Sodik berangsur membaik, hingga akhirnya sembuh.

Kiai Sodik pun mampu menerawang gerak manusia. Termasuk Aji dan ayahnya, Sukro. Bahkan ia mampu menyembuhkan orang sakit. Namun, tidak semua yang dijalani dan kemampuan yang dimilikinya berjalan mulus. Suatu saat ia bisa menyembuhkan orang sakit, lain waktu tidak, ketika ia lalai dan takabur, seakan mendahului kehendak tuhannya.

***

Prasetyo seakan membangun realitasnya sendiri melalui persoalan-persoalan pelik yang belum tentu dapat diselesaikan dalam dunia nyata. Konflik dimunculkan dengan mengejutkan dan diselesaikan sedemikian panjang dan tak terduga. Ini menjadi kekuatan tersendiri, sebagaimana Kuntowijoyo (2013) menyatakan sastra menjadi sistem simbol yang fungsional, bukan sekadar trivialitas rutin sehari-hari dan biasa-biasa saja. Prasetyo mencoba melarikan pengisahannya jauh dari kedangkalan persoalan keseharian yang membosankan dan tidak terselesaikan, yang sering kita temui dalam kehidupan nyata.

Prasetyo menciptakan penjara apik antara diri pembaca, moralitas, dan dunia teksnya sendiri. Ia mencoba mengurai persoalan sederhana di sekitar kita yang diselesaikan dengan takjub. Walaupun, lagi-lagi ia mengulang kegetiran yang hampir sama dalam novel pertamanya, Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (2009).

Menyelusuri Kota Suci Penuh Konflik

Surel Cetak PDF

Resensi buku Jerusalem: The Biography karya Simon Sebag Montefiore

Radar Sampit | Minggu, 17 juli 2016 | Ngarjito Ardi Setyanto


Ketika membicarakan kota yang penuh meisteri di dunia, maka salah satu kota terlintas dalam benak kita adalah Yerusalem. Sebuah kota yang memiliki luas teritori hanya 100 x 150 mil, terbentang di antara sudut tenggara Mediterania dan Sungai Yordan. Kota yang melahirkan sebuah peradaban yang penting bagi dunia. Di kota inilah, ketiga agama yang menguasai dunia menyucikannya. Tetapi di satu sisi, Kota ini menimbulkan konflik yang menumpahkan darah-darah yang tidak bersalah.

Dari Raja Dawud hingga Barack Obama, dari kelahiran Yudaisme, Kristen, dan Islam hingga konflik Palestina-Israel, inilah epos sejarah 3.000 tahun ihwal kesucian, keimanan, fanatisme, identitas, nasionalisme, pembantaian, dan koeksistensi. Inilah kisah tentang bagaimana Yerusalem menjadi Yerusalem; satu-satunya kota yang hidup dua kali—di surga dan di bumi.

Buku berjudul lengkap Jerusalem: The Biography ini, menceritakan secara kronologis melalui kehidupan laki-laki dan perempuan, tentara dan nabi, penyair dan raja, petani dan musisi, dan keluarga-keluarga yang telah membentuk dan menjaga serta memelihara Yerusalem selama beberapa milenia. Ditulis berdasarkan sebuah sintesis hasil pembacaan luas terhadap sumber-sumber primer, kuno dan modern, melalui seminar-seminar pribadi dengan para spesialis, professor, arkeolog, serta berdasarkan pada kunjungan-kunjungan langsung Simon Sebag Montefiore, penulisnya, ke Yerusalem yang tak terhitung jumlahnya.

Harus diakui, Yerusalem ini memiliki pengaruh daya tarik yang luar biasa. Bahkan dalam literatur sakral Yahudi dijelaskan bagaimana kota ini. Kesucian kota ini tumbung dari eksepsioonalisme Yahuddi sebagai Umat Terpilih. Yerusalaem menjadi Kota Terpilih. Palestina menjadi Tanah Terpilih, dan eksepsionalisem ini diwariskan dan pipeluk oleh umat Kristen dan Musliam.

Kesucian tertinggi dari Yerusalem dan tanah Israel tercermin dalam peningkatan obsesi keagamaan akan pemulangan kaum Yahuddi ke Israel dan antusiasem barat padda Zionisme, yang menjadikan ekuivalen sekularnya, antara Reformasi abad ke-16 di Eropa dan tahun 1970-an. Sejak itu, narasi tragis Palestina, dengan Yerusalem sebagai Kota Suci mereka yang hilang, telah mengubah persepsi terhadap Israel.

Yerusalem memang kota suci, sayangnya ia selalu menjadi sarang takhayul dan kefanatikan; dambaan dan sasaran rebutan aneka kekaisaran, walau tak punya nilai startegis; rumah kosmopolitan bagi banyak sekte, dan masing-masing yakin kota itu hanya milik mereka, sebuah kota dengan banyak tradisi yang masing-masing begitu sektarian sehingga menihilkan yang lain.

Kematian selalu menjadi sahabat di Tanah Suci. Sejak lama, para peziarah berdatangan ke Yerusalem untuk mati dan dikunur di sekitara Bukit Kuil (Temple Mount) untuk siap bangkit kembali pada saat Apokalips, dan mereka masih terus berdatangan. Kota ini dikelilingi dan bangungan di atas kuburan-kuburan. Bahkan Aldaous Huxley, mengatakan rumah jagal agama-agama, dalam ungkapan Flaubert sebagai rumah kuburan. Melville menyebut kota itu sebuah “tengkorak” yang dikepung oleh “angkatan perang mati”; sementara Edward Said mengenang ayahnya memberikan Yerisalem karena ia “mengingatkannya kepada kematian.”

Buku setebal delapan ratus dua puluh dua halaman ini, berisi sejarah Yerusalem sebagai pusat dunia. Kendati demikian, tidak dimaksudkan sebagai ensiklopedia dari setiap aspek Yerusalem, atau buku panduan yang utuh. Dengan kata lain, buku ini tidak berisi tentang Yudaisme, Kristen atau Islam, juga bukan studi tentang sifat Tuhan. Melainkan sejarah Yerusalem dalam pengertian yang paling luas untuk pembaca umum, apakah mereka atheis, beriman, Yahudi, Kristen atau Muslim, tanpa satu agenda politis.

Dilengkapi dengan hampir seratus halaman catatan kaki, peta, serta pohon keluarga para penguasa Yerusalem yang terbentang mulai dari kisah Raja Daud sebagai pendiri Yerusalem, hingga keluarga-keluarga bangsawan yang masih eksis hingga kini, kuat dugaan bahwa buku ini merupakan hasil kerja sangat serius dan sangat panjang dari penulisnya.

Dikemas dengan detail yang menarik. Kisah mencekam tentang perang, pengkhianatan, pemerkosaan, pembantaian, penyiksaan sadis, fanatisme, permusuhan, korupsi, kemunafikan, sekaligus spiritualitas, memungkinkan pembaca untuk merasakan berbagai emosi; baik simpati maupun amarah, pada setiap penggalan kisahnya. Buku ini seolah mengajak pembaca untuk melakukan ziarah ke Yerusalem.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL