You are here Info Buku Resensi Buku

Resensi Buku

Berebut Potongan Surga Nusantara

Surel Cetak PDF

Resensi buku Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan karya Giles Milton

Majalah Gatra | Februari 2016 | Supriyadi

 

Pulau Run merupakan salah satu kepulauan kecil Indonesia yang membentuk gugusan Kepulauan Banda. Secara geografis, pulau tersebut terletak di Indonesia bagian timur yang secara administratif masuk dalam wilayah kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Pulau Run memang kurang familiar bagi masyarakat pada umumnya, padahal ia mempunyai sejarah yang begitu besar.

Pulau Run bahkan bisa dikatakan sebagai potongan surga dalam sejarahnya, meskipun hari ini tidak ada yang menyebutnya demikian. Ia adalah pulau dengan rempah-rempah jenis pala berkualitas tinggi dan berkuantitas banyak. Dalam sejarahnya, ia menjadi ajang perebutan di antara negara-negara kolonial Eropa meskipun kini diabaikan.

Kisah tentang sejarah Pulau Run dituliskan oleh Giles Milton yang dalam edisi bahasa Indonesia berjudul “Pulau Run”. Mengutip referensi dari catatan tentang perjuagan Nathaniel Courthope mengambil pulau tersebut, pengisahan sejarah pun memikat karena dari alurnya saja mengaitkan pertumpahan darah, adu kekuatan militer, intrik politik, pamer strategi perang, dan romansa harga diri.

Pulau Run yang merupakan potongan surga tersebut menjadi magnet rempah-rempah. Negara-negara kolonial berusaha mencapai pulau tersebut untuk menguasai pala yang menggiurkan. Ketika itu, pala merupakan komoditas yang sangat berharga. Bahkan di pasaran dunia, harga pala jauh lebih tinggi daripada emas dan perak. Pala lebih mewah dari sekadar emas dan perak yang menyilaukan mata.

Hal itu bukan tanpa alasan, mengingat sederet manfaat pala. Para doktor fisika terkemuka di London makin sering membuat klaim-klaim yang keterlaluan tentang kemanjuran pala, menganggap rempah tersebut bisa menyembuhkan segalanya mulai dari wabah sampar hingga berak darah. Bukan hanya penyakit-penyakit pengancam nyawa yang dikabarkan bisa disembuhkan pala. Minat yang meningkat dalam nilai pengobatan pada tanaman tersebut telah menyebabkan meledaknya jumlah buku-buku diet dan herbal, dan semua mengklaim bahwa pala serta rempah-rempah lain bermanfaat dalam melawan penyakit-penyakit sepele. (hlm. 24-25).

Sebegitu pentingnya kebutuhan akan pala, maka rempah-rempah tersebut menjadi barang yang sangat dicari dalam pasaran dunia. Tidak hanya itu, bahkan palalah yang menjadi komoditas terpenting saat itu di Barat sehingga orang yang mempunyai sejumput pala saja bisa menjadi orang kaya. Hanya saja, peredaran pala di Barat sangat minim dan terbatas.

Pulau Run adalah satu-satunya pulau yang menyediakan suplai pala terbesar di dunia meskipun pulau tersebut hanya mempunyai panjang sekitar 3 km dan lebar sekitar 1 km. Keberadaan Pulau itu pun diburu oleh negara-negara kolonial macam Portugis, Belanda, dan Inggris.

Pulau kecil yang membentuk gugusan Kepulauan Banda tersebut ternyata mempunyai medan yang tidak mudah. Karangnya yang tajam di pantainya membuat kapal-kapal yang datang susah dilabuhkan. Belum lagi penduduk setempat yang gemar mengoleksi kepala manusia.

Bagi Nathaniel Couthope yang diutus Inggris untuk menguasai pulau tersebut, menundukkan Pulau Run memang tidak mudah meskipun pada akhirnya berhasil. Portugis tidak berkutik setelah kedatangan Belanda. Dengan demikian, perang antara Belanda dan Inggris (dipimpin oleh Nathaniel Courthope) pun tidak terelakkan demi memperebutkan sebuah potongan kecil surga tersebut.

Perjanjian pun dibuat antara Inggris dan Belanda. Perang antara Inggris dan Belanda pada 1652-1654 pun berakhir dengan Perjanjian Westminster yang menegaskan bahwa Pulau Run harus dikembalikan kepada Inggris.

Hanya saja, Belanda membuat ulah sehingga pecahlah perang dan perseteruan antara kedua negara kolonial tersebut terkait Pulau Run. Pihak militer Belanda membumihanguskan pohon-pohon pala di Pulau Run dan membuat beberapa kekejian terhadap tentara Inggris. Belanda membantai orang-orang Inggris dan mengusir mereka keluar dari Pulau Run. Pertempuran sengit demi pulau kecil itu pun bergejolak dan memanas lagi.

Pada akhirnya, Perjanjian pun dibuat lagi untuk kali kedua. Perjanjian Breda pun mengakhiri perseteruan kedua negara tersebut (1665-1667) dengan menegaskan bahwa Pulau Run dikuasai Belanda. Sebagai gantinya, Pulau Manhattan (kini New York), pulau subur yang menjadi taklukan Belanda diserahkan kepada Inggris. Begitu menggemparkan, Manhattan yang kini menjadi kota penting justru ditukar hanya dengan sebuah pulau kecil yang kini terabaikan dan tidak dilirik.

Jika dilihat menggunakan dimensi waktu sekarang, pernjanjian tersebut terkesan bodoh. Akan tetapi, masa lalu Pulau Run adalah potongan surga yang sangat kaya yang pernah dimiliki oleh Nusantara. Sejarah memang menyisakan cerita indah di masa lalu, tetapi terkadang keindahan itu memang tinggal sejarah yang tidak bisa diulangi lagi.

Buku dengan ketebalan 512 halaman ini mengajak para pembaca untuk melihat sejarah lebih dalam, terutama Pulau Run yang diincar oleh banyak negara. Kenyataan tersebut menjadi tanda bahwa Nusantara (Indonesia) adalah wilayah subur dan sangat kaya lantaran berlimpah sumber daya alamnya. Menjadi hal yang aneh jika rakyat Indonesia di masa sekarang tidak menyadari kekayaannya sehingga membiarkan orang-orang asing menjarahnya dengan leluasa.

Pulau Run

Surel Cetak PDF

Resensi buku Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan karya Giles Milton

Majalah Monday | Januari 2016 | Eva Rohilah

 

Pulau Run adalah sebuah pulau kecil yang terpencil, sepi, dan terabaikan di tengah ribuan pulau-pulau Indonesia lainnya. Namun, siapa sangka bahwa ternyata pulau ini pernah ditukar dengan Manhattan, sebuah pulau yang terletak di sebelah selatan ujung Sungai Hudson, satu dari lima kota bagian yang membentuk Kota New York.

Pada awal abad ke-17 M, panen rempah-rempah mengubah Pulau Run menjadi pulau yang paling berharga dari kepulauan rempah-rempah lainnya di Nusantara. Hal ini mendorong perebutan sengit dan berdarah-darah antara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sekelompok tentara Inggris yang dipimpin oleh seorang kapten pemberani, Nathaniel Courthope. Hasil dari perebutan tersebut adalah satu penawaran paling spektakuler dalam sejarah: Inggris menyerahkan Pulau Run ke Belanda, dan sebagai imbalannya Inggris diberi sebuah pulau lain, yakni Manhattan.

Buku ini mengisahkan petualangan brilian, perangdan kebiadaban, navigasi yang belum terpetakan, dan sebuah eksploitasi dunia baru yang menggiurkan. Pulau Run adalah cerita menakjubkan ihwal magnet rempah-rempah Nusantara dalam sejarah kekuasaan kolonial.

Pulau Run adalah sebuah pulau kecil yang terpencil, sepi, dan terabaikan di tengah ribuan pulau-pulau Indonesia lainnya. Namun, siapa sangka bahwa ternyata pulau ini pernah ditukar dengan Manhattan, sebuah pulau yang terletak di sebelah selatan ujung Sungai Hudson, satu dari lima kota bagian yang membentuk Kota New York.

Pada awal abad ke-17 M, panen rempah-rempah mengubah Pulau Run menjadi pulau yang paling berharga dari kepulauan rempah-rempah lainnya di Nusantara. Hal ini mendorong perebutan sengit dan berdarah-darah antara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sekelompok tentara Inggris yang dipimpin oleh seorang kapten pemberani, Nathaniel Courthope. Hasil dari perebutan tersebut adalah satu penawaran paling spektakuler dalam sejarah: Inggris menyerahkan Pulau Run ke Belanda, dan sebagai imbalannya Inggris diberi sebuah pulau lain, yakni Manhattan.

Buku ini mengisahkan petualangan brilian, perangdan kebiadaban, navigasi yang belum terpetakan, dan sebuah eksploitasi dunia baru yang menggiurkan. Pulau Run adalah cerita menakjubkan ihwal magnet rempah-rempah Nusantara dalam sejarah kekuasaan kolonial.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Ketika Pernikahan Tak Seindah Dongeng

Surel Cetak PDF

Resensi buku Setegar Ebony: Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati karya Asih Karina

Malang Post | Sabtu, 30 Januari 2016 | Muhammad Khambali

 

Setiap perempuan selalu mengharapkan indahnya sebuah pernikahan. Memimpikan hari-hari bahagia bersama suami dan membesarkan anak. Membayangkan pernikahan adalah gerbang kehidupan penuh cinta dan kebahagiaan. Namun ketika angan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan, maka pernikahan justru menyisakan luka hati dan duka yang mendalam.

Novel Setegar Ebony adalah kisah nyata tentang catatan hati seorang istri yang mendambakan indahnya pernikahan, namun harapan itu hancur setelah suaminya mengkhianati dirinya. Suami yang sangat dicintainya pergi meninggalkan dirinya demi perempuan lain. Luka hatinya semakin dalam ketika saat itu usia pernikahannya baru menginjak lima bulan dan kondisi hamil muda.

Memoar tersebut ditulis oleh Asih Karina. Dia lahir sebagai perempuan desa di Ngadilangkung, Malang. Semenjak kecil, Karina terbiasa hidup dengan ibunya saja. Tak lama setelah ia masuk SD, kedua orang tuanya bercerai. Ia menulis, “Saat itu, aku belum tahu apa arti perceraian dan aku sungguh tidak mengerti mengapa orang dewasa suka sekali pergi pergi meninggalkan istri dan anaknya “ (hlm.138).

Semasa kuliah, Karin, begitu sapaan akrabnya, mencurahkan segala waktunya untuk belajar. Ia memang sangat skeptis dengan pacaran. Sampai saat itu, Karin berpegang tidak suka dengan prinsip pacaran. Menurutnya pacaran itu sangat merugikan dan mengganggu jadwal belajar. “Aku lebih suka belajar saja di kosku sampai aku benar-benar sangat bosan saat itu” ( hlm. 208-209).

Karin mengaku ada kesunyian di dalam hati. Hingga dia mengenal, Ardhan Hasyim, lelaki yang menambat hatinya. Membuat hari-harinya semakin indah. Karin membaca keseriusan lelaki tersebut ketika Ardan meminta untuk datang di acara wisuda dan mengenalkan dengan orang tuanya.

Sampai akhirnya Karin meyakini bahwa Ardan adalah sosok tepat yang dia pilih menjadi suami. Karin teramat bahagia ketika pernikahan itu akan segera datang, “Dia adalah pria impianku. Lima tahun bukan waktu yang singkat dan aku sudah sangat mengenal dia, mengenal dia…” (hlm. 5).

Pernah pada suatu malam menjelang pernikahan tiba-tiba hati Karin ragu akan langkah untuk menikah. Tetapi di saat itu pula kata-kata manis dari Ardan menguatkan hatinya kembali. “Jangan takut, aku engga akan jadi suami biasa, aku pingin bikin Sayang bahagia. Aku mau jadi suami baik setiap hari. Biar semua orang tahu kalau sampean sangat disayangi suaminya” (hlm. 28).

Namun kata-kata itu pula yang membuat hati Karin tersayat ketika mengingatnya. Ketika Karin menyadari semua kata-kata manis dan sikap baik Ardan sebelum mereka menikah ternyata penuh dusta. Ketika sadar bahwa dia tidak benar-benar tahu siapa dan bagaimana suaminya sebenarnya. Ternyata Ardan, suaminya itu sebelumnya pernah menikah dengan seorang perempuan bernama Kadek. Ardan tega menceraikan dirinya dan memilih kembali kepada mantan istri yang memicu kehancuran rumah tangganya.

Suaminya seakan tidak memiliki hati dan rasa tanggung jawab meninggalkan dirinya ketika tengah mengandung benih anaknya. Dalam kesedihannya, Karin berusaha untuk menjaga janin yang sedang dikandungnya. Semangat hidup dan ketegaran Karin tumbuh setelah lahir anak perempuannya yang diberi nama, Ebony yang berarti kuat.

Buku ini ditulis seperti curahan hati yang jujur dan puitis. Membacanya, kita akan mendapati kedalaman isi hati seorang perempuan. Ada kesepian dan rasa malu, kebencian dan dendam, serta harapan untuk terus melanjutkan hidup.

Bagi sebagian banyak orang bukan hal yang mudah untuk menceritakan pengalaman pahit diri sendiri. Apalagi menuangkannya dalam sebuah buku, lalu menerbitkannya. Namun, bagi Asih Karini, ia terdorong untuk membagikan kisah pilunya ini untuk menunjukkan bahwa dia bukanlah perempuan biasa. Dia berharap, “Kesedihanku selama mengandung dan mengharap cintaku kembali akan menjadi inspirasi tak hanya bagi perempuan pemimpi tapi juga bagi para sesama korban lelaki,” (hlm. 330).

Kiat Menuju Keluarga Bahagia

Surel Cetak PDF
Resensi Buku 30 Cara dalam 30 Hari Menyelamatkan Keluarga Anda karya Rebbeca Hagelin
Koran Sindo | Minggu, 24 Januari 2016 | Lusiana Dewi

Dalam membangun bahtera rumah tangga, setiap orang pasti menginginkan keluarga yang bahagia. Kebahagiaan keluarga bahkan menjadi prioritas bagi banyak orang. Mereka enggan mempunyai keluarga yang di dalamnya hanya ada saling benci atau malah hancur.

Dengan demikian, setiap kali ada masalah, baik itu sumbernya internal maupun eksternal, pasti berusaha untuk dibenahi dan diselamatkan dari kehancuran. Menyelamatkan keluarga dari kehancuran merupakan hal yang ingin dilakukan oleh setiap orang.

Rebecca Halin dalam bukunya, 30 Cara dalam 30 Hari Menyelamatkan Keluarga Anda, mengurai tips-tips untuk menyelamatkan keluarga. Dari 30 cara tersebut, Hagelin memulainya dengan etape pertama; bertekad menghadapi pertarungan sehari-hari. Di dalam kehidupan, ada banyak sekali pertarungan untuk melawan ihwal negatif yang tidak kita inginkan. Terkadang masalah kesehatan, pengaruh budaya, dan sebagainya menjadi batu sandungan dalam membangun keluarga yang bahagia.

Terutama dalam pengasuhan anak. Pengaruh budaya dari luar (keluarga) yang cenderung negatif begitu memprihatinkan. Memerangi budaya modern setiap hari bukan hal yang mudah. Keluarga masa kini lebih sibuk dari sebelumnya dan ketika seseorang sudah letih dan tidak berdaya lagi, mudah sekali untuk menyerah dan mengesampingkan nilai-nilai kita (hal. 15).

Dengan demikian, perang pun harus dikobarkan untuk melawan ihwal yang tidak kita inginkan. Jika kalah, lain waktu harus menang. Jika menang, harus menjadi benteng pertahanan bagi perang kita selanjutnya. Sebuah keluarga minimal terdiri atas sebuah pasangan (suami-istri). Jika pasangan tersebut mempunyai anak, anak pun menjadi anggota keluarga juga.

Anak adalah idaman dari setiap pasangan. Anak adalah curahan kasih sayang. Kendati demikian, mengasuh anak juga bukan perkara yang mudah. Hagelin pernah melakukan perjalanan ke berbagai negeri untuk berbicara dengan organisasi kemasyarakatan, keagamaan, dan pengasuhan anak tentang kenikmatan serta tantangan di dalam mengasuh. Hagelin bertemu banyak orang tua yang hampir semuanya merasa putus asa, yang sudah bosan dan letih karena harus selalu berjuang menghadapi perasan, pikiran, dan jiwa anak-anak mereka (hal 27).

Persoalan inilah yang merupakan etape kedua dari 30 cara yang ditawarkan oleh Hagelin: memimpikan masa kecil yang diidamkan untuk anak-anak, dan sosok dewasa yang diinginkan tumbuh dalam diri anakanak tersebut. Memelihara anak agar tumbuh menjadi orang baik yang diinginkan oleh orang tua adalah hal yang penting dan mendesak dilakukan secara rutin.

Bukan berarti mengekang anak, melainkan mengarahkan anak pada suatu kebaikan. Etape-etape selanjutnya selain kepengasuhan anak, Hagelin menawarkan kenyamanan dalam keluarga. Di antara etape yang diuraikan adalah membuat rumah nyaman, hangat, dan menyenangkan. Tentu hal itu dimaknai secara fisik dan dalam bentuk penghayatan kehidupan. Secara fisik, rumah yang nyaman adalah bentuk rumah yang sesuai dengan kenyamanan dan kadar kesehatan.

Nyaman tidak harus mewah, tetapi memenuhi beberapa pokok yang primer sebagai kebutuhan keluarga. Sementara itu, secara penghayatan, rumah yang nyaman adalah jika para penghuninya saling menghargai dan berbaik hati. Karena itu, suasana hening terkadang dibutuhkan untuk meredupkan berbagai huru-hara yang bisa memicu keributan yang tidak perlu.

Pada saat-saat hening dalam kehidupan itulah Tuhan menyatakan diri-Nya kepada kitadengancara yangpaling intim. Menjadikan saat hening setiap hari sebagai bagian dari rumah kita bisa memberikan manfaat, baik bagi kesehatan jasmani maupun rohani setiap orang (hal 284). Bisa juga bahwa hening tersebut dimaknai sebagai ibadah kepada Tuhan. Ibadah adalah saat hening, yang saat tersebut manusia sebagai makhluk yang papa melakukan komunikasi dengan Tuhannya.

Kita semua pun paham bahwa Tuhan senantiasa mengajarkan kebajikan. Saat hening (baca: ibadah) itulah hati kita merasakan aliran kebaikan dari Tuhan untuk kita praktikkan dan tebarkan dalam keluarga dan sesama. Sebanyak 30 cara versi Hagelin tersebut berisi tips-tips yang ringan, tetapi banyak dilalaikan. Karena itu, etape yang terakhir dari 30 cara yang diuraikan Hagelin tersebut berupa saran untuk membuat daftar kita sendiri.

Daftar yang dimaksudkan adalah bahwa tidak selamanya 30 cara ini mencakup permasalahan semua keluarga. Terkadang, ada persoalan dan problem lain yang menimpa. Dengan demikian, kita pun hendaknya membuat daftar sendiri untuk mengatasinya. Setiap keluarga akan mengalami berbagai tantangan juga kesempatan yang unik.

Mungkin kita pernah tergoda untuk tidak memedulikan beberapa bidang permasalahan dan kesempatan yang paling sulit dalam keluarga kita. Karena itu, hendaknya masing-masing dari keluarga tidaklah boleh menyerah (hal 422).

Buah Pala, Kolonialisme, dan Korporasi Transnasional

Surel Cetak PDF

Resensi buku Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan karya Giles Milton

Koran Kompas | Minggu, 10 Januari 2016 | Siti Maimunah

 

Mengapa rempah-rempah sejenis pala, buah yang tampak kering, keriput, dan tidak jauh lebih besar daripada sebutir kacang, menjadi rebutan bangsa Eropa?

Pala (Myristica fragrans) adalah buah yang membuat bangsa Spanyol, Inggris, Portugis, dan Belanda menghabiskan waktu puluhan tahun, melarung armada-armada terkuat, mengorbankan ribuan pelaut terbaik, serta pendanaan yang tak terbatas, untuk mencapai pulau-pulau gudang rempah di timur jauh: Maluku, Banda, Neira, Ai, dan yang paling diimpikan, Pulau Run.

Padahal, Pulau Run tidak istimewa. Run sebuah pulau karang kecil di bagian luar gugusan kepulauan Banda dengan pelabuhannya yang kecil dikelilingi batu karang di bawah laut dan telah menghancurkan banyak kapal yang mencoba mendarat di sana. Tetapi, tebing dan gunung-gunungnya begitu kusut dengan pepohonan pala dan tiap tahun menghasilkan sepertiga juta pon rempah-rempah!

Gugusan pulau ”gudang rempah” itu diburu karena memproduksi komoditas pasar, seperti pala, kayu manis, cengkeh, lada, dan bunga lawang. Buah pala rempah yang paling dicari. Ia dipercaya bisa menyembuhkan wabah sampar, disentri, hingga berak darah— penyebab kematian paling ditakuti kala itu. Pala melahirkan berbagai pengetahuan medis dan diet, bahkan klaim-klaim tentang khasiatnya sebagai zat perangsang berahi. Harga pala melambung dan hanya orang kaya yang mampu membelinya.

Perburuan rempah

Buku yang judul aslinya Nathaniel’s Nutmeg ini menceritakan sejarah kolonialisme melalui perburuan dan perang antarbangsa demi monopoli perdagangan pala di kepulauan Nusantara. Permintaan pasar dan harga yang tinggi kala itu membuat kerajaan-kerajaan Eropa bernafsu mendapatkan rempah-rempah langsung dari tempat tumbuhnya. Wilayah yang tak mereka ketahui dengan rute sangat berbahaya karena iklimnya yang berbeda serta jarak tempuhnya menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun. Itu pun jika mereka kembali dengan selamat.

Hal terbaik dari buku ini adalah cara Giles Milton menuturkan dan meramu jurnal, catatan harian, dan surat-surat para petualang dari masa perburuan rempah-rempah. Kita diajak mengenal peristiwa dan peran yang dilakukan tiap-tiap petualang dan latar saat kejadian itu berlangsung. Termasuk gaya hidup bangsawan kerajaan Eropa hingga Asia yang tidak jauh dari koleksi barang mewah, pesta-pesta, dan alkohol.

Tentu saja tutur utama buku ini dimiliki para saudagar dan petualang Inggris dan Belanda yang berkompetisi memburu rempah, dengan sifatnya yang keras, pemarah, eksentrik, hingga pembangkang. Inilah kelemahan buku ini. Milton hanya menceritakan kehebatan dan kegigihan perburuan rempah dari kacamata bangsa Eropa. Perampokan kekayaan bangsa-bangsa kepulauan di Nusantara menjadi heroik dan berharga. Kesan yang berbeda terhadap cara pandang Eropa pada penduduk asli yang dianggap primitif, barbar, dan licik. Misalnya, dalam persinggahannya di Table Bay Afrika Selatan (1601), orang Inggris menggambarkan penduduk asli sebagai orang barbar liar yang mudah dieksploitasi. Mereka juga menggambarkan kota Banten dikenal karena perempuan-perempuannya yang murahan dan lemahnya moral serta aura kecabulan yang menggantung di atas kota itu. Orang Belanda menggambarkan penduduk asli Banda sebagai begitu licik dan kurang ajar sehingga nyaris tak bisa dipercaya, sekaligus menggelikan karena menawarkan palanya dengan harga sangat rendah.

Buku ini juga miskin cerita perempuan, seolah mengamini kolonialisme yang berwajah laki-laki, maskulin, patriarki. Tentu ada sosok perempuan yang disebut Ratu Elizabeth. Perempuan paling berkuasa di Inggris yang memiliki 3.000 koleksi gaun terkenal, mewakili kehidupan bangsawan yang bergelimang kemewahan. Akan tetapi, ini juga kekuatan buku Milton. Jika di bangku SD kita membaca heroisme pahlawan Nusantara mengusir penjajah, kali ini heroisme versi sang penjajah.

Intrik, kekerasan, penyiksaan, dan perang mewarnai hubungan antara Inggris, Belanda, dan penduduk asli. Pulau Banda salah satu saksi peristiwa biadab, pembantaian 44 orang Banda dalam kurungan bambu, hingga pemindahan sedikitnya 900 orang Banda ke Jawa untuk dijual sebagai budak, yang seperempatnya mati di perjalanan. Mungkin inilah awal bangsa Indonesia mengenal kekerasan sebagai cara penaklukan, termasuk metode penyiksaan yang dipaparkan dengan gambar, saat orang Inggris menyiksa orang China ataupun orang Belanda menyiksa orang Inggris.

Hal berharga setelah membaca buku ini bukan perasaan bangga sebagai bangsa pemilik Pulau Run, yang pernah ditukar dengan Manhattan, salah satu kota utama di Amerika Serikat, seperti tertera dalam sampul buku ini. Lebih penting memaknai buku ini dalam memahami posisi penting Indonesia di masa lalu sebagai wilayah penghasil komoditas global, yaitu rempah-rempah—yang menjadi pintu akumulasi kapital bangsa Eropa.

Kongsi Inggris-Belanda

Perburuan rempah-rempah menjadi penanda penting menguatnya relasi pemerintahan dan pebisnis Eropa, serta tonggak lahirnya korporasi modern transnasional: kongsi dagang Inggris, The East India Company (1599), pesaingnya kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada 1602. The East India Company hampir bangkrut lebih setengah abad kemudian, tapi diselamatkan oleh suntikan dana menjadi korporasi modern, permanen dengan saham gabungan. Ini mengingatkan kejadian yang dipraktikkan korporasi masa kini.

Perseteruan bangsa Eropa atas pulau-pulau rempah, yang melibatkan Pulau Run, melahirkan perjanjian damai antara Inggris-Belanda: Pakta Westminster pada 1654, yang memasukkan tuntutan biaya restorasi Pulau Run. Namun, perjanjian ini belum mengakhiri siksaan terhadap Run. Pada 1664, Pulau Run kembali mengalami penghancuran besar-besaran, rumpun pala ditebang dan tumbuhan dibakar hingga ke akar-akarnya oleh Belanda. Run menjadi karang tandus dan tidak ramah. Inilah yang menjadi alasan Inggris menuntut pertukaran Pulau Run dengan Manhattan. Namun, akhirnya, di balik semua dinamika pertukaran tersebut, yang paling menderita adalah penduduk Pulau Run. Inilah makna pertukaran itu.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL