You are here Info Buku Resensi Buku

Resensi Buku

Menguak Peristiwa Sejarah Kelam Kota Mekkah

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kudeta Mekkah Karya Yaroslav Trofimov

Kabar Madura | Senin, 11 September 2017 | Izzatul Maula Shalehah


Dalam perspektif metodologi sejarah, sebagaimana diungkap oleh Kuntowijoyo, ciri-ciri suatu peristiwa dikatakan memenuhi sebagai sejarah an sich, apabila terdapat empat syarat ketat, yaitu mempunyai objek, empiris, mempunyai metode, dan mempunyai generalisasi. Keempat hal ini terkonsep dalam termenologi ‘sejarah sebagai ilmu’. Namun begitu, Kuntowijoyo menambah tiga konsep lagi, sebagai pondasi agar sejarah benar-benar disebut suatu disiplin tersendiri yang mandiri, yaitu 1). Sejarah sebagai peristiwa, 2). Sejarah sebagai kisah, dan 3). Sejarah sebagai seni. Ketiga hal ini pun bukan tambahan hanya sekedar tambahan saja, tapi suatu hal yang menjadi tulang punggung perkembangan sejarah menjadi ilmu yang mandiri, selaras dengan ilmu-ilmu lainnya di rumpun Humaniora maupun Eksakta. Semua hal di atas, jika salah satunya tidak ada, maka tidak akan disebut sebagai sejarah yang sebenarnya.

Suatu peristiwa sejarah akan sangat menarik untuk dinikmati kalangan bukan sejarawan, apabila kisahnya disampaikan dengan cara ‘seorang jurnalis menyampaikan berita’. Disadari atau tidak oleh kalangan sejarawan, bahwa selama ini buku-buku/historiografi yang ditulis mereka tentang suatu peristiwa besar sangat sulit dinikmati dan dipahami oleh pembaca umum, sebab tulisannya sangat kaku berkutat dengan syarat-syarat ketat keilmiahan sebuah karya sejarah. Andai kata para sejerawan itu mempunyai kemampuan mengolah historiografinya sampai kepada derajat berita yang investigatif, tak akan ada kebosanan dalam membaca karya-karya penting mereka. Namun syukurlah, tak semua sejarawan berpenampilan kaku dalam menyusun buku. Kita masih disuguhkan kisah-kisah menarik dalam karya-karya PK. Ojong, Kuntowojoyo, Taufik Abdullah, Ahmad Mansur Suryanegara, dan HAMKA. Serta yang terbaru, karya Yaroslav Trofimov ini.

Menelusuri Kisah Kelam Agar tak Terulang

Untuk menuju sejarah sebagai berita investigatif, penulis sejarah selanjutnya harus belajar pada Yaroslav Trofimov dalam karya terbarunya “Kudeta Makkah; Sejarah yang Tak Terkuak”. Buku yang merekam peristiwa 20 November 1979 itu disampaikan dalam kisah investigatif yang benar-benar sangat menarik.

Dalam peristiwa besar yang terjadi di kota suci Makkah, sekolompok orang bersenjata pimpinan Juhaiman al-Utaibi menguasai masjid al-Haram. Kelompok ini memprotes maraknya korupsi di pemerintahan Arab Saudi. Gejolak politik pun meledak. Lalu, tentara USA dan aliansinya di Eropa bersatu padu membantu pemerintah Arab Saudi memulihkan situasi di tanah paling saci umat Islam itu (halaman cover). Peristiwa itu menjadi bagian penting dari sejarah modern kota Makkah. Meski demikian, kebanyakan orang, terutama kaum muslimin sendiri tak paham apa yang terjadi saat itu. Para pengamat pelitik dan sejarawan menganggap peristiwa itu hanya kejadian atau insiden lokal semata, dan karena itu tak ada sangkut-pautnya dengan peristiwa internasional yang belakangan merebak. Tapi penulis buku ini berpendapat sebaliknya. Menurutnya, peristiwa itu merupakan akar sejarah gerakan terorisme global, terutama yang dimotori al-Qaidah.

Guna mengungkap detail peristiwa yang tak terkuak khalayak itu, Trofimov memburu sumber-sumber penting dan terpercaya, layaknya sumber-sumber dalam sejarah sebagai berita sejarah. Sumber-sumber itu antara lain: pelaku gerkan 1979; Paul Barril, kepala misi pasukan Perancis saat itu; Tentara Arab Saudi yang bertugas saat peristiwa berlangsung; Perpustakaan British, satu-satunya tempat di Eropa yang menyimpan pelbagai surat kabar Arab Saudi tahun 1979; Arsip pemerintah USA dan Inggris, yang berisi laporan rahasia dari diplomat dan mata-mata; serta CIA dan British Foreign Office.

Menariknya, Trofimov, yang merupakan koresponden Wall Street Journal sejak 1999 yang lahir di Kiev, Ukraina 1969 itu, merekam insiden  yang tak terpublikasi tentang kekerasan dengan begitu ahli merangkai cerita sejarah, memadukan teologi mesianistik (al-Mahdi) dengan kekerasan pada tempatnya, dan mengisahkan kebenaran fakta yang sebenarnya tidak pernah diketahui orang sebelum buku ini terbit, serta membongkar praktik korupsi yang amat para di kala itu, di suatu negeri dengan komplisitas institusi keagamaan. Bagi kita, ternyata butuh waktu 38 tahun untuk bisa memahami peristiwa ini dalam konteksnya, dan Trofimov bekerja sangat baik dalam memaparkannya secara gamblang (hal. i).

Namun, peresensi juga perlu menghimbau agar membaca karya ini dengan teliti sambil lalu membuat pembanding pada buku-buku sejenis atau bertemakan Sejarah Terorisme lainnya. Sepertinya, Trofimov masih bias dalam memandang akar masalah terorisme itu sendiri. Oleh karenanya, ia seakan menyimpulkan bahwa peristiwa Mekkah tahun 1979 tersebut adalah akar terorisme global yang di abad kita saat ini sedang marak-maraknya. Penulis tak pernah mengungkap penyebab-penyebab yang lainnya, seperti pendudukan Israel atas Palestina; standar ganda USA terhadap dunia Islam; atau ketimpangan ekonomi antara negara-negara Barat dan negara Islam. Akan tetapi, secara keseluruhan, apa-apa yang tersaji dalam buku ini adalah informasi terbaru untuk kita jadikan renungan bersama. Selamat menikmati@ Wallahu a’lam.

Kisah-Kisah Refleksi tentang Ibadah Haji

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Si Markum dan Kisah-Kisah Peneguh Iman Karya Zaenal Radar T.

harian Analisa | Jumat, 08 September 2017 | Al-Mahfud

 

Puncak ibadah haji sudah berlalu saat umat Muslim dari pelbagai penjuru dunia melakukan Wukuf di Padang Arafah beberapa waktu lalu. Bagi umat muslim, haji menjadi ibadah yang sangat berkesan. Sebab, haji membuat orang melakukan perjalanan jauh, bertemu jutaan umat muslim lain dari berbagai negara dan melakukan bermacam ritus haji di Tanah Suci. Ini membuat ibadah haji menyimpan banyak kesan tersendiri.

Orang umumnya akan menaruh rasa hormat yang lebih pada orang yang telah menjalankan ibadah haji. Namun, kita tahu inti ibadah haji itu sendiri bukanlah tentang status, nama, atau sekadar mengharap kehormatan dari yang lain. Sebagai ibadah, haji pada dasarnya adalah proses perjalanan spiritual yang mestinya membuat seseorang semakin dekat pada Allah Swt. Namun, tak jarang orang terjerumus dalam pikiran yang keliru. Berhaji sekadar untuk unjuk kemampuan, kekayaan, dan mengharapkan pelbagai status, kedudukan, dan sebagainya. Karenanya, tak jarang orang sampai berhaji beberapa kali. Seperti digambarkan Zaenal Radar dalam buku ini.

Cerita berjudul Haji Gusuran mengisahkan tentang Haji Markum yang sudah tiga kali naik haji, namun masih ingin pergi haji meski harus terus menjual tanahnya. Setiap hendak pergi haji, ia biasa meminjam uang di bank untuk melunasi ongkos haji. Kemudian, kelak ia melunasinya dengan cara menjual tanahnya. Meski begitu, Haji Markum tetap berbangga diri. Ia bahkan menyepelekan Mursalih, pedagang sayur yang berencana pergi haji bersamaan dengannya. “Mana bisa elo berangkat haji. Buat makan sehari-hari aja elo cengap-cengap! Ongkos haji itu mahal!” kata Haji Markum (hlm 118).

Tetapi, Mursalih adalah pedagang yang gigih. Bersama istrinya, setiap hari ia menyisihkan uang hasil dagangannya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya cukup untuk ongkos haji. Namun, harapan Mursalih untuk pergi ke Tanah Suci harus tertunda karena uang tabungan tersebut akhirya ia gunakan untuk membantu tetangganya yang butuh biaya operasi. Meski istrinya sempat memprotes, Mursalih tetap yakin dengan keputusannya. “Justru Abang merasa bahagia bisa menolong tetangga yang lagi kesusahan,” katanya. Mursalih merasa harus membantu karena tak ada lagi yang bisa dimintai tolong kecuali dirinya dan Haji Markum. Sedangkan, tetangga tersebut mengaku sudah menemui Haji Markum, namun tak mendapatkan pinjaman.

Haji Markum akhirnya memang berangkat haji, namun ia gelisah karena belakangan mendapat kabar jika pembeli tanah batal membeli. Haji Markum dan istrinya kebingungan bagaimana harus melunasi hutang di bank, sementara tanahnya belum laku. Mereka khawatir sepulang dari haji rumah mereka bakal disita. Sedangkan, Mursalih dan istrinya, meski harus menunda kepergian haji, hari-hari mereka terasa tentram, tenang, dan ibadah mereka terasa semakin giat.

Kisah tersebut menggambarkana perbandingan antara dua sosok dalam memandang ibadah haji. Meski sudah tiga kali haji, Haji Markum masih saja ingin pergi haji, meski harus selalu menjual tanah. Di sisi lain, ia malah menutup mata saat tetangga butuh bantuan. Padahal, ibadah haji hanya diwajibkan sekali, selebihnya bernilai sunnah. Sedangkan, Mursalih yang telah bertahun-tahun menabung, dengan ikhlas menyerahkan tabungannya untuk membantu tetangga, dan rela menunda kepergian hajinya. Dari tokoh Mursalih, kita belajar bagaimana hidup tentram dengan kekayaan hati dan kepedulian, tak seperti Haji Markum yang gelisah dalam belenggu keangkuhan.

Masih ada beberapa cerita lain di buku ini yang mengangkat tema seputar ibadah haji. Misalnya, cerita berjudul Haji Tanah Abang dan Hajar Aswad. Keduanya mengungkap beberapa sisi gelap perilaku manusia terkait pelaksanaan ibadah haji. Haji Tanah Abang mengisahkan nasib apes Markum yang menjadi korban penipuan calo haji gadungan.  Sedangkan, Hajar Aswad menceritakan seseorang yang memanfaatkan jamaah haji yang ingin mencium Hajar Aswad untuk mencari uang. Jamaah yang awalnya merasa sedang dibantu, pada akhirnya dipaksa membayar atas apa yang telah didapatkannya.

Zaenal Radar meramu setiap cerita dengan bahasa yang ringan dan kisah yang mengalir. Namun, di dalam kisah-kisah keseharian yang ringan itu, tersimpan pelbagai nilai, baik pesan-pesan spiritual agama maupun pesan moral kehidupan. Melalui cerita-cerita karangannya, Zaenal telah menghadirkan tokoh-tokoh dengan karakter yang seakan menjadi cerminan bermacam laku manusia dewasa ini. Dengan menyimak kisah-kisahnya, diharapkan kita bisa mengambil pelajaran dan meresapi setiap pesan yang ada, tanpa harus merasa digurui.

Cerita Rakyat yang Terlupakan

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Indonesia Bercerita Karya Yoana Dianika, Redy Kuswanto, Ruwi Meita dkk

Kedaulatan Rakyat | Senin, 14 Agustus 2017 | Sutono Adiwerna


Konon, di Simeulue, Aceh pada zaman dahulu ada seorang raja yang kaya raya. Selain kaya, ia dan permaisuri begitu dikagumi dan dicintai seluruh rakyat karena keduanya bijaksana, dermawan dan baik hati

Namun kebahagian tersebut terasa kurang lengkap karena raja dan permaisuri tidak dikaruniai seorang anak yang kelak akan meneruskan tampuk kepemimpinan

Karena ingin sekali memilik keturunan, raja dan permaisuri ke hulu sungai untuk menyucikan diri dan berdoa agar dikaruniai seorang anak

Ternyata, doa raja dan permasuri dikabulkan Yang Maha Kuasa. Raja dan permaisuri sangat bahagia dan tak kesepian lagi. Anak tersebut diberi nama Rohib

Saking bahagianya, Rohib sangat dimanja. Semua keinginan dipenuhi dan tak pernah membiarkan putra kesayangan mereka merengek meminta sesuatu

Ketika remaja, raja menyuruh Rohib ke kota untuk menuntut ilmu. Sayangnya, bertahun-tahun menuntut ilmu, Rohib tak bisa apa-apa dan tak pernah bisa menyelesaikan pelajaran karena terbiasa dimanja, Rohib tumbuh jadi remaja yang malas. Karena malu, raja berniat membunuh Rohib. Tentu saja permaisuri berusaha agar anak kesayangannya tetap hidup. Bagamana kisah selanjutnya?

Indonesia  kaya akan budaya termasuk dengan cerita rakyatnya. Setiap daerah memilik cerita rakyat yang berbeda. Tapi sayangnya, selama ini yang ter-ekspos di masyarakat luas cerita yang itu-itu saja. Sebut saja Malin Kundang, Timun Mas, Roro Jonggrang dan lainnya. Padahal di luar cerita yang tersebut diatas, masih banyak cerita rakyat negeri ini yang tak kalah menarik dan mengandung pesan moral yang kuat untuk diketahui masyarakat luas

Nah, kehadiran buku ini bisa menjadi pelengkap, yang memperkaya cerita-cerita rakyat yang sudah ada dan dikenal masyarakat luas

Ditulis oleh para penulis cerita yang telah berpengalaman sehingga buku ini enak dibaca. Catatan saya, ada satu cerita yang tidak fokus. Endingnya menceritakan asal mula mengapa tikus dikejar kucing-anjing, tapi yang lebih banyak ditampilkan kisah raja dan pangerannya yang pemalas

Di luar itu, 31 cerita rakyat  dari berbagai daerah ini, sayang untuk dilewatkan. Buku ini juga bisa dijadikan para guru, orang tua untuk memperkenalkan kekayaan cerita rakyat kita kepada k generasi penerus bangsa. Selamat membaca!

Kisah Para Taipan Asia Tenggara Pasca-Perang Dunia Kedua

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Asian Godfather Karya Joe Studwell

Koran Jakarta | Rabu, 9 Agustus 2017 | Arinhi Nursech

 

Buku ini menceritakan orang-orang yang sangat kaya di Asia pasca-Perang Dunia Kedua. Asia Tenggara semula terdiri dari lima negara: Singapura, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Hong Kong Menjadi kontributor tenggara. Pada 1996, setahun sebelum permulaan ‘krisis finansial Asia’ mengubah wajah ekonomi kawasan, majalah Forbes merilis orang terkaya. Ada delapan pengusaha Asia Tenggara di antara 25 teratas dunia dan 13 di antara lima puluh teratas.

Inilah barisan terdepan para godfathers Asia yang memiliki harta pribadi lebih dari empat miliar dollar AS. Mereka adalah Li Ka Shing, Robert Kuok, Dhanin Chearavanont, Lim Sieo Liong, Tan Yu, dan Kwek Leng Beng. Di belakang mereka ada taipan-taipan lebih kecil, dengan harta bersih satu sampai tiga miliar dollar AS (halaman xii).

Sebagian godfathers Asia memang terlibat dalam penyelundupan komoditas-komoditas lunak dan keras. Yang agak jarang, obat bius dan senjata. Aktivitas-aktivitas ini sering melibatkan dunia bawah tanah kriminal Asia, triad Tiongkok, preman Indonesia, dan seterusnya. Inilah fakta kehidupan para taipan. Penggunaan istilah godfathers dalam buku ini bertujuan merefleksikan tradisi-tradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian, dan mistik yang benar-benar menjadi bagian dari kisah para taipan Asia.

Judul itu juga lebih dari sindiran kecil, sebagaimana Mario Puzo, sang pengarang asli Godfather bermaksud menunjukkan bahwa ada mitologi lain yang besar tumbuh di antara para taipan Asia. Sementara itu, untuk para godfathers, dikemukakan, mereka elite yang tidak khas. Mereka aristokrat ekonomi bekerja sama setengah hati dengan elite lokal.

Secara kultural, para godfathers adalah bunglon berpendidikan bagus, kosmopolitan, menguasai lebih dari satu bahasa. Pemerintahan yang tersentralisasi kurang meregulasi kompetisi. Namun, terlalu meregulasi akses pasar melalui lisensi yang restriktif dan tender nonkompetitif. Ini dengan sendirinya akan membuat para kapitalis pedagang berhasil naik ke puncak dengan mengarbitrase inefisiensi-inefisiensi yang diciptakan politisi.

Kecenderungan itu diperkuat di Asia Tenggara oleh meluasnya keberadaan ‘demokrasi yang dimanipulasi.’ Seperti terjadi di Singapura, Malaysia, dan Indonesia di bawah Soeharto. Lanskap ekonomi kontemporer Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura, dan Hong Kong dibentuk oleh interaksi dua kekuatan sejarah: migrasi dan kolonialisme.

Meski para sejarawan telah memberi perhatian besar pada dampak budaya Tiongkok di Asia, migrasi ke kawasan tenggara dari orang Tiongkok, Persia, Arab, dan India benar-benar mengambil pelajaran berbeda. Kaum migrant bersedia mendekati bentuk-bentuk lokal yang dominan (halaman 5).

Buku dibagi ke dalam tiga segmen besar. Bagian satu berisi tentang godfather zaman dulu. Bagian dua tentang menjadi godfather, yang kemudian dibagi lagi menjadi empat bab. Bagian ketiga berisi tentang godfather masa kini. Mereka mempertahankan yang berharga. Ini dibagi dalam dua bab.

Buku juga menyajikan sepak terjang dan sisi gelap para tokoh godfather dari Thailand, Malaysia, Indonesia, Hong Kong, Macau, hingga Singapura. Tak hanya itu, buku juga melampirkan catatan referensi.

UU Pernikahan Beda Agama Perlu Diperbaiki

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Nikah Beda Agama: Kenapa ke Luar Negeri? Karya Sri Wahyuni

Koran Jakarta | Senin, 07 Agustus 2017 | Abdul Manan

 

Islam mengistilahkan pernikahan dengan mistaqan galizha, ikatan yang sangat kuat karena tidak hanya diikat dengan akad nikah di depan penghulu, namun juga komitmen di hadapan Allah. Kesucian pernikahan setara dengan kesucian para rasul dan ajaran kitab suci. Dalam Kristen Katolik, suami-istri dipersatukan oleh Allah sendiri sehingga keduanya menjadi satu daging. Dalam Efesus Bab 5, Paulus membandingkan hubungan suami-istri seperti hubungan Kristus dengan umat-Nya. Dalam Hindu, Buddha, dan agama-agama lain juga terdapat seperangkat nilai yang secara ritual berbeda, namun menjunjung pernikahan pada taraf sakralitas serupa (hlm 48–49).

Secara hukum, dia diatur UU Perkawinan Pasal 1 Nomer 1 Tahun 1974. Pernikahan adalah ikatan lahir dan batin. Ikatan lahir berkaitan dengan hukum formal, sedangkan ikatan batin berdasarkan ajaran agama (hlm 2). Dengan kata lain, hukum formal sah jika didukung ajaran agama.

Jika agama salah satu calon mempelai tidak mengizinkan, secara hukum pernikahan tidak sah. Hal demikian secara tegas dijabarkan UU Perkawinan Pasal 2 Ayat 1. Ajaran agama dijadikan pijakan hukum perkawinan karena berhubungan kuat dengan Pancasila, sila Pertama.

Sebab setiap ajaran agama cenderung melarang umatnya menikah dengan penganut agama lain dan hukum tidak bisa menerima prosesi pernikahan yang dilarang agama. Maka, pernikahan beda agama tidak memiliki tempat dalam hukum. Selama ini, pasangan yang berbeda agama melakukan dua cara agar tetap bisa menikah. Mereka pura-pura masuk agama pasangannya, habis itu, kembali kepada agamanya semula. Cara yang lain, menikah di luar negeri.

Mereka memilih negara yang menerapkan model perkawinan berdasarkan UU sipil, bukan agama, seperti Australia, Singapura, Hong Kong, dan beberapa negara Barat. Selesai menikah, mereka segera kembali ke Tanah Air dan mendaftarkan diri ke kantor Catatan Sipil dengan mengajukan akta nikah. Gaya pernikahan seperti ini cukup diminati. Berdasarkan data Capil DKI Jakarta pada bulan Mei 2011, terdapat 79 pernikahan beda agama di luar negeri (hlm 16).

Secara hukum pernikahan demikian tetap tidak sah karena jelas-jelas bertentangan dengan UU Perkawinan Indonesian Pasal 56 UU. Hukum Perdata Internasional (HPI) juga menjelaskan, keputusan hukum negara asing bisa ditolak jika mengganggu ketertiban umum negara lain. Masalahnya, apakah pernikahan beda agama di luar negeri mengganggu ketertiban umum masyarakat Indonesia?

Jika didasarkan kepada fakta selama ini, tidak ada komplain masyarakat akan fenomena tersebut. Ini berarti pernikahan beda agama dari sisi sosiologis diterima. Agar tidak menjadi aturan ambigu, buku yang awalnya disertasi ini menawarkan beragam usulan filosofis, kultural, dan sosiologis. Dengan begitu UU Pernikahan di Indonesia bisa diterapkan secara utuh.

Kerangka pemikiran disertasi ini berasaskan aksioma, hukum berasal dari dan untuk rakyat. Jika masyarakat siap menerima pernikahan beda agama, selayaknya hukum juga diarahkan ke situ. Penerimaan masyarakat tersebut juga harus dipadukan dengan Pancasila yang terdiri atas unsur negara, adat, budaya, dan religius (hlm 56). Tiga unsur tersebut tidak boleh tidak harus dieksplorasi agar kemudian ada satu platform nilai yang bisa diakurkan untuk menjadi UU Perkawinan yang ideal.

Sebagai buku yang berasal dari disertasi, tentu data hasil riset dan referensi sebagai perbandingan dan pengayaan tentang pembahasan pernikahan beda agama sangat mumpuni. Ini mencakup fenomena di negara-negara Timur dan Barat. Dengan demikian, pembaca diajak memikirkan pula secara komparatif UU yang pas untuk pernikahan beda agama di negeri ini.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL