You are here Shop Alvabet Sosial/Politik Kebebasan, Negara, Pembangunan
PDFCetakE-mail
Kearifan IslamKejayaan Sang Khalifah Harun ar-Rasyid

Kebebasan, Negara, Pembangunan
Tampilkan Gambar Lebih Besar


Kebebasan, Negara, Pembangunan

Harga: Rp 75.000,00

Klik disini jika ada yg ingin ditanyakan

BELI ONLINE

DATA BUKU

Judul: KEBEBASAN, NEGARA, PEMBANGUNAN
Penulis: Arief Budiman
Editor : Luthfie Assyaukanie dan Stanley
Editor Bahasa: Eko Endarmoko
Halaman: 456 Halaman
Edisi: I, Agustus 2006
Harga: Rp.75.000,-
ISBN: 979-3064-33-1

 

SINOPSIS

Buku ini bercerita tentang tiga tema besar yang menjadi inti pemikiran Arief Budiman, yakni kebebasan, negara, dan pembangunan. Sejak memulai karirnya sebagai penulis, Arief telah menulis banyak sekali isu, dari persoalan-persoalan filsafat, budaya, sosial, politik, dan kejiwaan.

Namun, inti dari pemikiran Arief sesungguhnya berkisar pada tiga tema besar itu. Kebebasan diartikulasikan Arief dalam beragam tulisannya tentang budaya, sastra, dan seni yang muncul pada dekade 60-an dan 70-an. Baginya, kebebasan harus berorientasi kepada kemajuan dan perbaikan. Untuk itu, kebebasan harus berusaha terus-menerus menciptakan pilihan-pilihan, karena hanya dengan beragamnya pilihanlah kebebasan menjadi mungkin. Kita tidak bisa bicara tentang kebebasan jika kita tidak memiliki pilihan.

Pada dekade 80-an dan khususnya setelah kembali dari Amerika, pandangan-pandangan Arief lebih banyak terfokus pada persoalan sosial-ekonomi-politik yang berkisar pada hubungan negara dan masyarakat. Kritik-kritik Arief tentang pembangunan dibungkusnya dalam teori struktural. Pada mulanya, teori ini dipakai untuk mengkritisi pola dan proyek pembangunan Orde Baru, tapi belakangan, teori ini juga dipakai untuk membaca sastra.

Arief dikenal sebagai pencetus ide “sastra kontekstual.” Ini adalah gagasan tandingan terhadap kecenderungan universalitas sastra. Dalam buku ini, Arief berargumen bahwa sastra yang baik bukanlah sastra yang indah, tapi sastra yang bermakna. Dan sastra yang bermakna haruslah memperhatikan konteks di mana ia berada. Argumen perlawanan terhadap universalitas sastra berakar pada teori struktural yang juga menolak asumsi-asumsi yang bersifat universal, seperti gagasan modernisasi.