Menelusuri Kejatuhan Konstantinopel

Cetak

Resensi buku 1453; Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel Ke Tangan Muslim karya Roger Crowley

Koran Tempo | Minggu, 4 Oktober 2015 | Lusiana Dewi


Kota Istanbul saat ini begitu megah memikat hati para pelancong. Bangunan-bangunan modern menghiasi di setiap sudutnya. Namun demikian, bangunan-bangunan klasik bersejarah masih juga tersisa di kota yang dulu bernama Konstantinopel tersebut. Bangunan-bangunan peninggalan sejarah masa lalu tersebut menjadi saksi bisu sekaligus bukti bahwa kota Istanbul merupakan kota yang sarat akan sejarah besar.

Sejarah kota tersebut merentangi waktu hingga lebih dari seribu tahun. Peralihan kekuasaan, pertumpahan darah, spirit religiusitas, arus sekularisasi, dan kebanggaan bercampur-baur mewarnai sejarahnya. Seiring berjalannya waktu, kota tersebut tetap tidak diabaikan oleh Turki meskipun kini negara tersebut beribukota di Ankara.

Salah satu bagian yang sangat menarik dari sejarah Konstantinopel adalah kejatuhannya ke tangan umat Islam pada 1453. Menjadi kota yang memiliki pertahanan kuat dari umat Islam, kota tersebut berhasil menjadikan Byzantium tetap terlindungi meskipun harus jatuh juga setelah ratusan tahun bertahan.

Secara indah, sejarah kejatuhan kota Konstantinopel ke tangan umat Islam pada 1453 tersebut diceritakan oleh Roger Crowley dalam bukunya yang berjudul “1453; Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim”. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan bukti-bukti sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan, Crowley menceritakan secara kronologis kejatuhan kota tersebut.

Konstantinopel merupakan ibukota dari kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium yang menganut Kristen. Lebih dari itu, Byzantium terus meluaskan kekuasaannya hingga mencapai kawasan-kawasan yang jauh dengan pusat kepemerintahannya berada di Konstantinopel. Kota tersebut memegang kendali wilayah-wilayah taklukan Byzantium. Meskipun Romawi Barat runtuh, Romawi Timur atau Byzantium tetap bertahan dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.

Pada 629, Heraclius yang merupakan kaisar Byzantium ke-28, berziarah ke kota Yerusalem. Saat itu, dia berada di era keesaman hidupnya. Dia telah mengalahkan kerajaan Persia dalam serangkaian kemenangan dan merebut kembali benda paling suci dalam kekristenan, Salib Suci, yang berhasil dia kembalikan ke Gereja Makam Suci.

Dia pun menerima surat dari Nabi Muhammad Saw yang berisi ajakan untuk memeluk Islam. Hanya saja, Heraclius sama sekali tidak mengenal penulis surat tersebut. Konon, dia segera menyeledikinya dan tidak menganggap enteng isi surat itu. Surat itu justru dirobek. Tanggapan Nabi Muhammad Saw terhadap perlakuan itu keras: “Katakan kepadanya, agama dan kekuasaanku akan menjangkau daerah yang tidak pernah dicapai Qisra.” (hlm. 4-5).

Perkataan Nabi Muhammad Saw tersebut mengindikasikan bahwa suatu saat Konstantinopel akan jatuh ke tangan umat Islam. Ketika masa itu datang, umat Islam dipimpin oleh pemimpin yang luar biasa, berani, cerdas, dan saleh. Hal itulah yang diramalkan oleh sang Nabi Saw.

Ramalan itulah yang memicu para pemimpin Islam—pasca-Nabi Muhammad Saw wafat—untuk melakukan penaklukan Konstantinopel yang merupakan benteng terkuat umat Kristen saat itu. Dimulai dari Umar bin Khatthab, dia memerintahkan penaklukkan ke berbagai wilayah. Hanya saja, sebelum sampai Konstantinopel, usia Umar wafat.

Usaha demi usaha pun dilakukan oleh umat Islam untuk menaklukkan Konstantinopel. Para pemimpin dari masa ke masa berusaha menjadi orang yang diramalkan oleh nabi mereka. Begitu pula yang dilakukan oleh Muawiyah dari Dinasti Umayyah. Hanya saja, Muawiyah mengalami kegagalan sehingga Konstantinopel masih tidak terjangkau.

Padahal, umat Islam kala itu melakukan pergerakan yang sangat cepat dan mengejutkan dunia. Pasca-Nabi Muhammad Saw wafat, kawasan demi kawasan pun takluk secara sangat cepat sehingga agama samawi terbaru tersebut berkembang dengan begitu luar biasa.

Damaskus jatuh, lalu Yerusalem. Mesir menyerah pada 641, Armenia pada 653. Dalam jangka dua puluh tahun, Kerajaan Persia runtuh dan beralih masuk Islam. Proses penaklukan yang cepat ini sangat mengejutkan, sedangkan kemampuan adaptasi umat Islam-Arab sangat luar biasa. (hlm. 11).

Penaklukan demi penaklukan oleh umat Islam tersebut begitu cepat sehingga dunia terkejut, bahwa agama yang lahir di padang pasir tersebut berkembang sangat pesat. Tidak ada sebelumnya yang bisa sepesat umat Islam dalam berbagai penaklukkan yang jangkauannya sangat luas tersebut.

Hanya saja, Konstantinopel belum kunjung takluk. Padahal, jika merunut pada usaha, awal umat Islam hendak menaklukkan Konstantinopel adalah pada tahun 629, ketika Nabi Muhammad Saw mengirim surat ajakan memeluk Islam kepada Heraclius. Setelah itu, usaha demi usaha dilakukan oleh umat Islam untuk menaklukkan Konstantinopel, tetapi selalu gagal.

Hingga pada Mei 1453, Sultan Mehmet II berhasil merebut kota tersebut secara gemilang. Dengan begitu, Sultan Mehmet II itulah yang diramalkan sebagai seorang pemimpin yang luar biasa, berani, cerdas, dan saleh.

Ketika itu, Sultan Mehmet II bersyukur dan mengucapkan selamat kepada ribuan pahlawan muslimnya. Peristiwa itu menjadi momen ikonik yang menyebabkan dia selalu dikenang dalam bahasa Turki dengan gelar Al-Fatih (Sang Penakluk). Saat itu Sultan Mehmet II baru berusia 21 tahun. (hlm. 302).

Jika menilik waktu, usaha umat Islam merebut kota tersebut itu merentangi waktu yang sangat lama. Dari tahun 629, cita-cita tersebut baru terealisasi pada 1453. Rentang waktu tersebut lebih lama daripada rentang waktu jatuhnya Konstantinopel hingga sekarang.

Membaca buku setebal 408 ini, para pembaca diajak untuk menelusuri memoar kejatuhan Konstantinopel sekaligus menziarahi sejarah kota tersebut. Roger Crowley tidak malas dalam mengungkap data dan memilih serta memilah di antara dokumen yang terserak. Buku ini layak menjadi referensi penting bagi siapa saja yang mencintai kajian sejarah.