Kasih Ibu Sepanjang Masa

Cetak
Submit to Delicious Submit to Digg Submit to Facebook Submit to Google Bookmarks Submit to Twitter Submit to LinkedIn

Resensi buku Dua Wajah Dua Cinta karya Abhie Albahar

Radar Sampit | Minggu, 04 September 2016 | Novita Ayu Dewanti

 

Ibu merupakan salah satu sosok manusia yang merawat dan mengasihi tanpa batas. Ya, layaknya sang surya, menyinari dunia tanpa minta imbalan. Ia rela mengandung selama sembilan bulan lebih, nyawa menjadi taruhannya. Cintanya ia tuangkan kepada anaknya tanpa batas.

Novel Dua Wajah Dua Cinta ini menjelaskan bagaimana sosok ibu yang sangat mencintai anaknya. Ia tidak rela ditinggal hanya sekejap saja oleh anaknya. Perjuangan seorang ibu merawat hingga akhirnya anak tersebut menjadi seorang dokter. Dalam novel ini, ibu Aminah merawat seorang diri lantaran suaminya meninggal dunia.

Cinta yang amat besar kepada anaknya tersebut, kemudian ibu dan anaknya kehadiran orang ketiga; ia seorang menantu. Ibu ini harus menyesuaikan diri agar ia bisa menerima orang lain di sisi anaknya. Haikal, nama anaknya yang kemudian menikah dengan gadis pengusaha bernama Naia.

Haikal dan Naia kemudian memutuskan untuk menjalin rumah tangganya bersama ibu Aminah. Ia lakukan untuk menemani ibunya yang seorang diri. Prahara demi prahara kemudian melanda keluarga Haikal. Hal ini disebabkan antara seorang istri dan ibu ingin menyayangi anaknya dengan sepenuh hati.

Dalam perjalanannya, ibu Aminah selalu ingin tidur bareng antara Haikal dan Naia. Keadaan ini pada awalnya suatu kebiasaan yang wajar lantaran sang ibu merasa kesepian. Waktu berjalan, kebiasaan ibu yang menyayangi anaknya yang berlebihan kemudian mengundang cemburu pada istrinya.

Kecemburuan itu meledak tatkala Naia bercengkerama dengan tetangga sekitar rumah mertuanya. Salah satu tentang mempertanyakan Naia persoalan kehamilannya. Sudah berbulan-bulan Naia menjalin bahtera rumah tangga, tetapi belum ada tanda-tanda kehamilan. Ia merasa tidak ada gunanya, sebab puncak kehormatan wanita ketika ia bisa mengandung, melahirkan dan merawat anak dari pasangannya.

Gemuruh amarah, kemudian bawa Naia pulang, ia tidak bisa membendung rasa itu hingga akhirnya ia melontarkan semua amarahnya kepada mertuanya. Di sinilah, emosi pembaca dibawa. Kedua wanita yang memiliki cinta yang besar kepada lelaki. Satu sisi, ia seorang istri yang wajib melayani dan menyayangi suaminya. Begitu dengan Aminah, ia seorang ibu rela memberikan kasih sayang tanpa imbal balik.

Dari amarah yang diluapkan Aina, perseteruan antara menantu dan mertua kemudian pecah. Mereka tetap mempertahankan apa yang dilakukan, bahwa mereka tidak salah mencintai dan menyayangi Haikal. Karena amarah tersebut, akhirnya Naia memilih untuk kembali ke rumah orang tuanya.

Di titik ini kemudian, Haikal sebagai orang yang di sayangi merasa bingung. Ia memilih ibu atau istrinya. Singkat cerita, Haikal kemudian memutuskan untuk berbincang kepada ibunya. Di sinilah terlihat bagaimana kasih sayang seorang ibu begitu tulus. Begitu besarnya cinta tersebut. Setelah percakapan tersebut, Haikal membuka hati ibunya bahwa apa yang dilakukan Naia tidak akan menjauhkan anak kepada ibunya.

Haikal akhirnya membujuk Naia untuk kembali ke rumah, dengan rasa cinta akhirnya Haikal dapat meyakinkan Naia. Naia dapat kembali ke rumah. Haikal akhirnya dapat menyatukan kembali dua orang wanita yang begitu besar mencintainya. Berjalannya waktu, musibah melanda Naia. Musibah tersebut adalah pemerkosaan terhadap dirinya. Setelah pemerkosaan itu, Naia positif hamil.

Kehamilan Naia ini membuat keraguan Aminah, apakah yang dikandung itu anak dari Haikal atau anak dari pemerkosa. Dalam berjalannya waktu, Aminah tidak berani mengungkapkan keraguannya tersebut anaknya. Gemuruh kegelisahan tersebut, ia sembunyikan hingga akhirnya Aminah merasa sakit atas kegelisahannya. Demi mengurangi kegelisahan tersebut, Aminah memutuskan dirinya untuk pergi ke panti jompo agar tidak mengganggu keharmonisan rumah tangga anaknya.

Kepergian Aminah diam-diam mengundang amarah Haikal kepada Naia. Haikal menganggap bahwa kaburnya ibunya merupakan tidak becusan Naia mengurus ibunya. Amarah tersebut kemudian diluapkan dengan menggugat perceraian. Namun, perceraian itu tidak urung, lantaran Aminah menjelaskan kepergiannya ke panti jompo bukan gara-gara memantunya, melainkan keinginannya sendiri. Setelah beberapa hari di panti jompo, Haikal meyakinkan ke ibunya agar kembali ke rumah. Aminah pun luluh dengan rayuan anaknya, akhirnya ia memilih untuk pulang dari panti jompo.

Pada bagian akhir dari novel inilah kemudian pembaca dibuat emosi. Cerita yang mengaduk-ngaduk emosi itu hanya sebuah halusinasi seorang ibu yang takut kehilangan anaknya. Hal ini dipertegas dengan Aminah dibangunkan salah satu saudaranya, bahwa pernikahan Naia dan Haikal segera akan dimulai. Novel ini begitu mengaduk emosi, setiap akhir dari cerita sulit untuk ditebak. Dan novel ini sangat bagus, bahasa yang digunakan sederhana tetapi penuh dengan makna.