Kisah-Kisah Refleksi tentang Ibadah Haji

Cetak

Resensi Buku Si Markum dan Kisah-Kisah Peneguh Iman Karya Zaenal Radar T.

harian Analisa | Jumat, 08 September 2017 | Al-Mahfud

 

Puncak ibadah haji sudah berlalu saat umat Muslim dari pelbagai penjuru dunia melakukan Wukuf di Padang Arafah beberapa waktu lalu. Bagi umat muslim, haji menjadi ibadah yang sangat berkesan. Sebab, haji membuat orang melakukan perjalanan jauh, bertemu jutaan umat muslim lain dari berbagai negara dan melakukan bermacam ritus haji di Tanah Suci. Ini membuat ibadah haji menyimpan banyak kesan tersendiri.

Orang umumnya akan menaruh rasa hormat yang lebih pada orang yang telah menjalankan ibadah haji. Namun, kita tahu inti ibadah haji itu sendiri bukanlah tentang status, nama, atau sekadar mengharap kehormatan dari yang lain. Sebagai ibadah, haji pada dasarnya adalah proses perjalanan spiritual yang mestinya membuat seseorang semakin dekat pada Allah Swt. Namun, tak jarang orang terjerumus dalam pikiran yang keliru. Berhaji sekadar untuk unjuk kemampuan, kekayaan, dan mengharapkan pelbagai status, kedudukan, dan sebagainya. Karenanya, tak jarang orang sampai berhaji beberapa kali. Seperti digambarkan Zaenal Radar dalam buku ini.

Cerita berjudul Haji Gusuran mengisahkan tentang Haji Markum yang sudah tiga kali naik haji, namun masih ingin pergi haji meski harus terus menjual tanahnya. Setiap hendak pergi haji, ia biasa meminjam uang di bank untuk melunasi ongkos haji. Kemudian, kelak ia melunasinya dengan cara menjual tanahnya. Meski begitu, Haji Markum tetap berbangga diri. Ia bahkan menyepelekan Mursalih, pedagang sayur yang berencana pergi haji bersamaan dengannya. “Mana bisa elo berangkat haji. Buat makan sehari-hari aja elo cengap-cengap! Ongkos haji itu mahal!” kata Haji Markum (hlm 118).

Tetapi, Mursalih adalah pedagang yang gigih. Bersama istrinya, setiap hari ia menyisihkan uang hasil dagangannya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya cukup untuk ongkos haji. Namun, harapan Mursalih untuk pergi ke Tanah Suci harus tertunda karena uang tabungan tersebut akhirya ia gunakan untuk membantu tetangganya yang butuh biaya operasi. Meski istrinya sempat memprotes, Mursalih tetap yakin dengan keputusannya. “Justru Abang merasa bahagia bisa menolong tetangga yang lagi kesusahan,” katanya. Mursalih merasa harus membantu karena tak ada lagi yang bisa dimintai tolong kecuali dirinya dan Haji Markum. Sedangkan, tetangga tersebut mengaku sudah menemui Haji Markum, namun tak mendapatkan pinjaman.

Haji Markum akhirnya memang berangkat haji, namun ia gelisah karena belakangan mendapat kabar jika pembeli tanah batal membeli. Haji Markum dan istrinya kebingungan bagaimana harus melunasi hutang di bank, sementara tanahnya belum laku. Mereka khawatir sepulang dari haji rumah mereka bakal disita. Sedangkan, Mursalih dan istrinya, meski harus menunda kepergian haji, hari-hari mereka terasa tentram, tenang, dan ibadah mereka terasa semakin giat.

Kisah tersebut menggambarkana perbandingan antara dua sosok dalam memandang ibadah haji. Meski sudah tiga kali haji, Haji Markum masih saja ingin pergi haji, meski harus selalu menjual tanah. Di sisi lain, ia malah menutup mata saat tetangga butuh bantuan. Padahal, ibadah haji hanya diwajibkan sekali, selebihnya bernilai sunnah. Sedangkan, Mursalih yang telah bertahun-tahun menabung, dengan ikhlas menyerahkan tabungannya untuk membantu tetangga, dan rela menunda kepergian hajinya. Dari tokoh Mursalih, kita belajar bagaimana hidup tentram dengan kekayaan hati dan kepedulian, tak seperti Haji Markum yang gelisah dalam belenggu keangkuhan.

Masih ada beberapa cerita lain di buku ini yang mengangkat tema seputar ibadah haji. Misalnya, cerita berjudul Haji Tanah Abang dan Hajar Aswad. Keduanya mengungkap beberapa sisi gelap perilaku manusia terkait pelaksanaan ibadah haji. Haji Tanah Abang mengisahkan nasib apes Markum yang menjadi korban penipuan calo haji gadungan.  Sedangkan, Hajar Aswad menceritakan seseorang yang memanfaatkan jamaah haji yang ingin mencium Hajar Aswad untuk mencari uang. Jamaah yang awalnya merasa sedang dibantu, pada akhirnya dipaksa membayar atas apa yang telah didapatkannya.

Zaenal Radar meramu setiap cerita dengan bahasa yang ringan dan kisah yang mengalir. Namun, di dalam kisah-kisah keseharian yang ringan itu, tersimpan pelbagai nilai, baik pesan-pesan spiritual agama maupun pesan moral kehidupan. Melalui cerita-cerita karangannya, Zaenal telah menghadirkan tokoh-tokoh dengan karakter yang seakan menjadi cerminan bermacam laku manusia dewasa ini. Dengan menyimak kisah-kisahnya, diharapkan kita bisa mengambil pelajaran dan meresapi setiap pesan yang ada, tanpa harus merasa digurui.