You are here Info Buku Resensi Buku
JA slide show

Resensi Buku

Belajar Kesuksesan dari Permainan Bola

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Inspirasi Sukses dari Sepak Bola Karya Iwel Sastra

Wasathon.com | Senin, 27 Februari 2017 | Al Mahfud

Sepak bola bisa dikatakan sebagai jenis olahraga paling populer di dunia. Jutaan orang mencintai olahraga ini. Banyak orang rela membayar tiket yang mahal demi menonton tim kesayangannya bertanding. Orang rela begadang semalam suntuk hanya untuk menonton bola di televisi. Namun, sepak bola tak hanya narasi tentang kepopuleran dan animo masyarakat yang besar. Sepak bola juga menyimpan folosofi dan inspirasi penting untuk meraih kesuksesan dalam hal apa pun. Seperti yang diulas Iwel Sastra dalam buku ini.

Komedian yang juga seorang motivator ini menarasikan sepak bola dari sudut pandang yang unik dan beragam. Dengan bahasa yang renyah dan cenderung jenaka, Iwel mengajak kita memandang dan memahami sepak bola secara lebih luas dan mendalam. Kegemaran pada sepak bola tak hanya terlihat dari keluasan pengetahuan penulis tentang sepak bola. Nuansa sepak bola juga terasa dari konsep sajian pembahasan buku yang terasa seperti dalam sebuah pertandingan sepak bola. Pembahasan dimulai dengan bab berjudul “Babak Pertama” , kemudian “Turun Minum”, “Babak Kedua”, “Perpanjangan Waktu”, sampai “Adu Penalti”.

Di awal, Iwel menarasikan sejarah, perkembangan, dan serba-serbi seputar sepak bola sebagai pengetahuan awal. Kita disuguhi pengetahuan tetang cikal-bakal munculnya olahraga sepak bola sejak abad ke-2 dan ke-3 sebelum Masehi di China. Konon, semasa dinasti Han, orang sudah menggiring bola kulit serta menendangnya ke jaring kecil. Kemudian, pada tahun 1820-an, cikal bakal sepak bola modern mulai terlihat di sekolah umum di Inggris.

Kita juga disuguhi berbagai perkembangan penting tentang olahraga ini. Seperti peraturan baku dalam pertandingan bola yang baru dibuat pada tahun 1863. Salah satu aturan yang baru ditetapkan di tahun tersebut adalah offside. Aturan ini dibuat karena banyak pemain saat itu yang malas menggiring bola dan lebih senang menunggu bola di depan gawang lawan (hlm 11). Di samping itu, ada pula ulasan berbagai kompetisi bola bergengsi di dunia, bisnis sepak bola, gaji pemain bintang, pemain termahal, seputar jersey, fans club, budaya nonton bareng, sampai berbagai kontroversi yang pernah terjadi dalam sejarah sepak bola.

Setelah ulasan tersebut, kita sampai pada ulasan tentang inspirasi dari sepak bola. Di bagian ini, penulis mengajak kita melihat berbagai hal dalam sepak bola yang bisa dijadikan inspirasi atau diadopsi dalam kehidupan, terutama tentang kesuksesan karier dan bisnis. Penulis melihat, sepak bola memuat inspirasi tentang menejemen tim, kemampuan individu, komunikasi, mental juara, dan lain sebagainya. Kita mungkin sudah biasa mendengar motivasi-motivasi sukses semacam kerja keras, disiplin, bermimpi besar, dll.

Inspirasi sukses dari sepak bola tak sekadar berbicara hal-hal tersebut. Hal yang paling menonjol yang bisa dipelajari dari sepak bola adalah pentingnya kerja tim sekaligus kemampuan individu yang baik. Keduanya sama-sama penting dan sangat memengaruhi kualitas sebuah tim. Sebuah tim sepak bola akan kuat apabila setiap pemain memiliki kemampuan individu mumpuni, dan–dengan kemampuan tersebut, bisa bekerja sama secara tim untuk memenangkan pertandingan.

Penulis memberi contoh, pertandingan antara Real Madrid vs Valencia pada 5 Mei 2014, di mana kerja tim Real Madrid sedang tidak baik. Christiano Ronaldo kesal karena tak mendapat operan bola dari Alvaro Morata, padahal Ronaldo dalam kondisi babas. Morata malah melakukan tendangan langsung yang melambung jauh dari sasaran. Meskipun kemampuan individu Ronaldo baik, ia tetap butuh dukungan dari rekan yang lain (hlm 170). Kemampuan individu yang bagus tak membantu jika antar pemain tak ada kerja sama. Begitu juga dalam sebuah perusahaan. Perusahaan yang kuat adalah perusahaan yang berisi karyawan-karyawan dengan kemampuan terbaik di bidang masing-masing dan bekerja sama dalam satu tujuan untuk memajukan perusahaan.

Buku ini menyajikan ulasan tentang sepak bola dengan ringan dan menghibur, namun tetap berisi karena sarat dengan inspirasi dan motivasi kesuksesan. Sepak bola memang tak sekadar perebutan dua kesebelasan untuk menendang bola ke gawang dan mencetak gol paling banyak. Lebih dari itu, dalam membangun tim, latihan, menjalani pertandingan, dan kompetisi, tersimpan hal-hal berharga yang sangat inspiratif untuk dipelajari bersama dan dijadikan pelajaran dalam meniti jalan kesuksesan.

Senjata Perang Kimiawi yang Terkuak

Surel Cetak PDF

Resensi Buku The 731 Legacy Karya Lynn Sholes dan Joe Moore

Radar Surabaya | Minggu, 26 Februari 2017 | Imron Mustofa


Diserang penyakit mengerikan, seorang pria sekarat terhuyung-huyung ke Satellite News Network. Sebelum pria tersebut menghembuskan nafas terakhir, ia menyampaikan pesan misterius kepada wartawan senior Cotten Stone: “Jarum Hitam”, nama sandi untuk eksperimen ultra-rahasia semasa Perang Dunia II.

Beberapa hari setelah pria tersebut sekarat dengan darah keluar dari seluruh lubang yang ada di tubuh, warga kota mulai menurun kesehatannya. Hingga salah satu rumah sakit melaporkan, setiap jamnya menerima pasien dengan gejala yang sama seperti pria tersebut. Hanya dalam waktu 24 jam, ratusan warga dari usia enam sampai enam puluh dua tahun, meninggal mengenaskan.

Novel karya penulis best seller Lynn Sholes & Joe Moore, mengisahkan perjuangan seorang perempuan dalam mengungkap misteri di balik wabah flu mematikan. Perempuan itu bernama Cotten Stone. Instingnya yang kuat mendorong Cotten untuk menyelidiki wabah ini sampai tuntas.

Cotten Stone, sebagai wartawan di Satellite News Network merasakan ada yang aneh dengan penyebaran wabah mematikan ini. Wabah flu yang mirip Ebola, tapi sulit untuk diidentifikasi virus jenis apa. Ia kemudian melakukan observasi kepada mayat pria yang sekarat di kantor kerjanya, Calderon. Namun anehnya, mayat Calderon hilang secara misterius. Pun, ketika Cotton hendak melakukan penyelidikan pada mayat seorang ibu di Virginia Barat, yang menurut laporan mengalami gejala yang sama.

Kecurigaan Cotten kian meningkat. Ia kemudian melibatkan Ted, atasannya, untuk melakukan penyelidikan ini. Ia juga melibatkan John Tyler, seorang Pendeta yang amat disayanginya. Dari hasil pengamatan Cotten, dibantu dengan dua rekannya, menemukan ada keterlibatan Korea Utara atas kasus wabah flu mematikan tersebut.

Berbagai pihak dihubungi, untuk membantu penyelidikan ini. Namun sayangnya, tidak satupun yang percaya, karena Cotten belum memiliki bukti yang kuat. Yang ia bawa hanyalah dugaan dari hasil observasi, yang mengarahkan pada keterlibatan Korea Utara, sebagai negara yang anti Amerika.

Hingga ia bersama John menemui Presiden Amerika, David Brennan. Namun tidak ada hasilnya. David hanya mengatakan, “Jika kau benar, pemikiran itu menakutkan. Tapi, mana buktinya? Aku tidak bisa bertindak berdasarkan dugaan.” (halaman 288).

Keputusasaan mulai menjalar dalam diri Cotten. Terlebih, ketika Pendeta John Tyler, orang yang paling disayangi, terkena wabah tersebut. Ia hanya menatap John terkulai lemas dan pucat di atas ranjang rumah sakit. “Semua ini gara-gara aku,” kara Cotten. “Semua hal buruk yang terjadi dalam hidupmu adalah gara-gara aku.” (halaman 321)

Di sisi lain, Moon, dalang di balik wabah flu mematikan ini, telah mempersiapkan serangan lanjutan untuk memusnahkan Amerika dan sekutunya.

Sementara Cotten, tidak bisa melepaskan diri dari perhatiannya kepada John. Ia tidak ingin orang yang disayangi meninggal mengenaskan. Di saat Cotten putus asa, ia mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Namun, suaranya tidak asing baginya. Dia adalah Nephilim Sang Putra Fajar, musuh bebuyutan Cotten. Dialah yang membuat John sekarat dengan menggunakan tangan terampil Moon.

Di sinilah terlihat kualitas penulis, dalam memadukan ilmu pengetahuan, mitos, sejarah, dan imajinasi menjadi rangkaian cerita menarik. Sehingga, siapa saja yang membaca karya dua penulis bestseller versi Amazon, akan dibuat tenggelam dalam imajinasi.

Di akhir cerita, Cotten pun dengan terpaksa menuruti tawaran Sang Putra Fajar untuk bergabung, demi nyawa John terselamatkan. Dan, setelah John benar-benar terlepas dari jeratan maut, barulah Cotten menceritakan semuanya.

“Aku mendapat kunjungan dari seseorang yang kau kenal betul, Sang Putra Fajar. Dia mengatakan bahwa jika aku pasrah pada warisanku (Nephilim) dan merengkuh sosok diriku yang sebenarnya, nyawamu akan diampuni.”

Dan dari sinilah, dalang di balik wabah flu mematikan terbongkar!

Sukses Berawal dari Diri Sendiri

Surel Cetak PDF

Resensi Buku Kuasai Dirimu Karya Ahmad Dzikran

Koran Seputar Indonesia | Minggu, 26 Februari 2017 | Al Mahfud

 

Setiap orang ingin sukses. Namun, tak semua orang bisa mewujudkannya. Kadang orang sudah berusaha keras untuk mengejar apa yang dia cita-citakan, tapi selalu berakhir dengan kegagalan. Apa yang salah?

Apakah karena usahanya kurang keras? Atau pilihan cita-cita yang dia kejar kurang tepat? Sebelum berbicara lebih jauh tentang usaha mengejar kesuksesan, sebenarnya ada hal mendasar yang harus dijawab setiap orang, yakni sejauh mana dia mengenal diri sendiri. Buku ini memandu meraih kesuksesan bagi siapa pun dengan dasar mengenal diri sendiri. Sebab, sejauh mana orang bisa mengenal dirinya sendiri akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana ia menentukan langkah terbaik dalam mewujudkan impiannya. Filsuf Yunani Aristoteles pernah mengatakan, “Mengenali dirimu sendiri adalah awal dari kebijaksanaan”. Lantas bagaimana cara mengenal diri sendiri?

Dalam hal ini, penulis memaparkan pembahasan dengan sistematis, runtut, dan detail. Di awal, kita diajak mengenal diri kita sendiri dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Seperti dengan mencari sifat baik dan sifat buruk kita. Menariknya, diajukan pula pertanyaan-pertanyaan unik seperti film dan buku apa yang kita tonton dan baca berkalikali, hal-hal apa yang kita takuti di hari tua, sampai hal menarik dalam kisah hidup kita. Pertanyaan-pertanyaan itu akan merangsang kita untuk terus menggali dan mengenal kepribadian diri kita sendiri secara lebih dalam.

Kita diajak lebih memahami kelebihan dan keinginan kita, sebagai modal awal menentukan target kesuksesan. Apa yang pernah kita lakukan dan mendapatkan respons dan apresiasi positif dari orang lain. Jika belum ada, kita harus mengupayakannya. Sebab, kelebihan tak hanya berasal dari bakat alamiah, tapi juga melalui upaya yang tak mudah. Ketika sudah dapat gambaran siapa diri kita, lewat kelebihan, keistimewaan, dan keinginan kita tersebut, sejak saat itu kita harus percaya diri dengan apa yang kita miliki dan kita inginkan. “Percaya pada kemampuan yang Kau miliki untuk bisa menjadi seperti apa yang Kau inginkan, untuk bisa menciptakan kelebihanmu sendiri dan bisa mengubah hidupmu sendiri” (hlm 7).

Mengelola Ego

Namun, kepercayaan diri saja belum cukup. Sebab, kepercayaan diri yang terlalu tinggi (overconfidence ) kadang justru menghambat langkah menuju kesuksesan, sebab bisa membuat kita menjadi egois. Untuk itulah, penulis mengajak kita melangkah ke pembahasan tentang bagaimana mengelola ego. Ego adalah bagian dari diri kita yang selalu merasa paling spesial, paling benar, dan paling baik. Anthony Robbins (2003), mengatakan bahwa “Ego tidak dapat dihilangkan, tetapi ia dapat dikelola dan disalurkan dengan baik”. Setiap pencapaian atau keberhasilan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita bisa mengelola ego dan mendialogkannya dengan sudut pandang atau perspektif lain. Kuncinya adalah, jangan sampai kita dikuasai ego.

Sebaliknya, kita yang harus bisa mengendalikan atau menguasai ego. Di buku ini, kita diajak mengenali ciri-ciri ketika seseorang dikendalikan egonya. Seperti terlalu sibuk memikirkan pengakuan orang lain, gengsi meminta bantuan, ogah meminta maaf, agresif, selalu bermain menjadi korban (playing victim ), mudah tersinggung, dan enggan mengucapkan terima kasih.

Mindset Sukses

Setelah mengenal diri sendiri dan mampu mengendalikan ego, hal yang harus ada pada diri seseorang adalah adanya mindset (cara berpikir) sukses. Orang yang ingin sukses harus membangun mindset yang dapat mengarahkannya menuju kesuksesan. Mindset sukses terbentuk dari berbagai cara pandang kita dalam menyikapi berbagai hal dalam hidup. Di buku ini, dipaparkan berbagai cara membangun mindset sukses secara sistematis.

Dimulai dari penentuan kriteria sukses yang kita inginkan, target yang hendak kita capai, menentukan perilaku-perilaku yang dapat mendukung kesuksesan, mencatat setiap kegagalan dan menganalisis penyebabnya, dan keberanian untuk terus mencoba. Pada dasarnya, mendset sukses adalah tentang bagaimana kita bisa tetap konsisten mengejar impian meski diterjang cobaan atau kegagalan. Contoh prinsip yang mencerminkan mindset sukses adalah keberanian berpikir besar dan konsisten melakukan langkah-langkah meski kecil. Contohnya, kesuksesan Google yang awalnya disangka karena target-target besar yang mereka canangkan.

Namun, mantan wakil presiden senior Google Divisi Adwords and Adsense Susan Wojcicki mengatakan bahwa semua proses diawali dengan delapan pilar inovasi perusahaan. Salah satu pilarnya menyebutkan, berpikir besar, tetapi berindaklah kecil (hlm 185).

Persoalan dan Gagasan Pendidikan Nasional

Surel Cetak PDF

Resensi buku Calak Edu 3 karya Ahmad baedowi

Malang Pos | Minggu, 27 Desember 2015 | Muhammad Khambali


Buku Calak Edu 3 ini menguraikan berbagai persoalan sekaligus gagasan untuk pendidikan nasional di Indonesia. Ahmad Baedowi dalam tulisan esai mengenai pendidikannya tidak hanya berisi kritik, namun juga menawarkan solusi alternatif guna perbaikan dunia pendidikan.

Menurut Ahmad Baedowi potret pendidikan kita adalah sebuah paradoks. Ketika hasil PISA mengatakan para siswa di Indonesia termasuk dalam kategori siswa paling bahagia. Sementara hasil pemeringkatan PISA menunjukkan para siswa Indonesia berada pada level terendah dalam penguasaan matematika, sains, dan literasi.

Sebuah ironi, ketidaktahuan menjadi sebuah kebahagiaan. Maka jangan-jangan selama ini pendidikan nasional tidak melakukan pekerjaan pendidikan (education), tetapi lebih memilih mengurusi aspek edu-tainment, Yang penting bagaimana membuat anak-anak bahagia, meskipun mereka bodoh (hlm 39).

Secara psikologis, jelas sekali ada paradoks yang besar antara capaian akademik yang rendah dan rasa bahagia ini. Ada yang salah dengan sistem persekolahan. Orientasi pendidikan yang selama ini berfokus pada hasil membuat proses belajar tak lagi penting. Siswa bersenang-senang di sekolah, tetapi tidak sungguh belajar.

Rendahnya hasrat belajar berbanding lurus dengan rendahnya tradisi literasi di sekolah. Setali tiga uang dengan minimnya budaya membaca. Bagi Ahmad Baedowi hal itu disebabkan oleh kebijakan Ujian Nasional. Tradisi membaca tak tumbuh karena dalam proses belajar mengajar di sekolah, anak-anak lebih banyak diajarkan untuk menghafal, terutama menghafal jenis soal yang akan keluar dalam Ujian Nasional (hlm 68). Kebiasaan menghafal, membuat membaca menjadi aktivitas yang membosankan.

Ahmad Baedowi menyesali generasi pembaca tak tumbuh dengan baik karena belenggu kebijakan pendidikan memang sengaja tak menciptakan kecintaan terhadap membaca. Orientasi terhadap hasil berupa kelulusan dan ijazah semata melahirkan frustrasi belajar. Menciptakan minimnya minat baca dalam mengarungi fantasi belajar yang menyenangkan.

Gejala-gejala rendahnya budaya membaca dan hasrat belajar juga banyak disebabkan oleh politik pendidikan yang hanya berorientasi kepada dunia kerja. Dalam pandangan demokrasi liberal dan kapitalisme, pendidikan selalu diarahkan untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai human capital. Pendidikan nasional terjerumus ideologi yang memandang para siswa semata human capital milik industri dan negara, dan karenanya sekolah harus dikelola dengan cara-cara produksi (hlm 92-94).

Selanjutnya buku ini membahas mengenai politik pendidikan nasional. Pendidikan tak terlepas dengan politik, dan politik adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Politik pendidikan kita semestinya mengacu pada nilai identitas bangsa ini. Salah satunya adalah mengenai politik bahasa.

Bahasa menjadi kata kunci teramat penting yang tidak bisa dilepaskan dari politik bahasa dan kebijakan sebuah bangsa. Pentingnya bahasa sebagai alat pemersatu, bukan pemecah-belah keragaman, adalah distingsi yang harus terus dipelihara sebagai sebuah kebijakan negara yang tidak bisa ditawar, termasuk di sekolah (hlm 130).

Bagi para murid di pedesaan, bahasa ibu mereka bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa daerah. Hal ini yang menjadikan politik bahasa menjadi sangat penting. Ahmad Baedowi melihat pentingnya menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di TK sampai tahun-tahun awal di SD. Dan juga menyarankan adanya otonomi pendidikan agar pemerintah daerah mendesain sendiri buku-buku berbahasa lokal (hlm 131).

Ahmad Baedowi mengutarakan bahwa mengurusi pendidikan adalah proses yang tiada akhir (hlm 224). Ditulis dengan gaya bahasa yang lugas dan kritis, Ahmad Baedowi mempersoalkan berbagai paradoks yang terjadi dalam dunia pendidikan nasional. Komarudin Hidayat memberikan apresiasi terhadap buku Calak Edu 3 ini sebagai bagian dari proses belajar bersama untuk perbaikan pendidikan. Berharap menginspirasi para guru, kepala sekolah, dan praktisi pendidikan dalam membangun budaya dan lingkungan pendidikan yang positif dan lebih baik.

Kisah Penakhlukan Setelah Delapan Abad

Surel Cetak PDF

Resensi buku 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim karya Roger Crowley

Radar Surabaya | Minggu, 13 Desember 2015 | Al Mahfud

 

Kota Konstantinopel, (sekarang Istanbul) menyimpan sejarah besar penakhlukan pasukan Islam atas kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Kota ini menjadi kota Kristen selama 400 tahun dan memiliki kelebihan alamiah dari segi geografis. Pada abad ke-5, tembok-tembok tanah dibangun dan membuat kota yang tumbuh di atas perbukitan ini nyaris tak bisa diserang jika hanya mengandalkan kekuatan ketapel tempur waktu itu. Tembok sepanjang 12 mil melindungi kota ini.

Merunut sejarahnya, Byzantium atau Konstantinopel berulangkali mendapat serangan bangsa pengembara Turki. Dan serangan umat muslim pada 1453 M merupakan puncak dari sejarah panjang penyerangan yang dikisahkan Roger Crowley dalam buku ini. Peristiwa tersebut menjadi titik tumpu Abad Tengah yang kemudian beritanya menyebar ke seluruh penjuru dunia Muslim dan Kristen.

Pada tahun 630, pasukan Muslim tiba di Byzantium. Mereka mengepung banyak kota dan akhirnya Damaskus jatuh, disusul Yerusalem. Pada 641, Mesir menyerah, dan Armedia pada 653. Dalam jangka dua puluh tahun, kerajaan Persia runtuh dan beralih masuk Islam. Namun, Konstantinopel yang menjadi dambaan selama berabad-abad belum ditakhlukkan. Pada 669, Khalifah Muawiyah melepaskan pasukan amfibi besar untuk menyerang Konstantinopel. Namun, Muawiyah akhirnya terpaksa menyepakati genjatan senjata tanpa syarat selama 40 tahun pada 679 karena pasukan Arab diserang mendadak dan dihancurkan di Pantai Asia.

Roger mengisahkan penyerangan demi penyerangan antara armada Muslim dengan Byzantium dengan teliti dan cermat, terutama dalam memandang sumber sejarah yang ada. Misalnya, pada episode kekalahan besar yang dialami pasukan Muawiyah tahun 679 tersebut. Menurutnya, penulis sejarah mengetengahkan episode ini sebagai bukti bahwa “kekaisaran Romawi dilindungi Tuhan”. Namun, bagi Roger, hal itu lebih karena kekaisaran Romawi waktu itu dijaga teknologi baru: pengembangan bom api Yunani (hlm 13).

Sang Penakhluk

Momentum kemenangan pasukan Muslim baru terjadi beratus-ratus tahun kemudian. Tepatnya pada 1453, dalam pimpinan Sultan Mehmet II. Roger menggambarkan momen ketika Sultan Mehmet memasuki kota Konstantinopel dengan segala kebesaran dan kemenangan, yang kemudian menyebabkan ia dikenang dalam bahasa Turki dengan gelar Al-Fatih (Sang Penakhluk). “Sultan masuk melalui gerbang Charisian dengan menunggang kuda, diiringi para wazir, ulama, panglima perang, prajurit, yang semuanya berjalan kaki. Bendera Islam yang berwarna hijau dan bendera kesultanan yang berwarna merah dikibarkan ketika arak-arakan itu berderap memasuki lengkung gerbang”.

Menurut Roger, setelah potret-potret Kemal Ataturk, momen tersebut bisa dikatakan sebagai citra paling banyak dikenang yang terekam dalam puisi dan lukisan-lukisan sejarah Turki. Referensi yang kaya dan ketekunan mencermati data-data dari sumber sejarah yang beragam menjadikan kisah yang dihadirkan Roger dalam buku ini menjadi begitu memikat. Narasi sejarah menjadi hidup dan karakter setiap tokoh di dalamnya digambarkan dengan kuat. Maka tak berlebihan jika Noel Malcom (Sunday Telegraph) menyebut apa yang disuguhkan buku ini sebagai salah satu cerita paling menarik dalam sejarah dunia.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL